
" Sayang, Chloe demam. Aku sekarang bawa dia ke rumah sakit. Kamu kemana, Mas? Aku hubungi berkali kali tidak diangkat. Kalau kamu sudah membaca pesanku, cepat susul ya. Nanti kalau udah sampai rumah sakit aku kasih tau. "
Callista menyimpan kembali ponselnya dan langsung menghampiri Chloe. Dia memakaikan sweater ke tubuh putrinya lalu menggendongnya. Tak lupa ia membawa tas miliknya yang sudah ia isi beberapa uang cash.
Callista pamit ke Pembantunya untuk pergi dulu ke rumah sakit dan memberi tahunya bahwa Chloe lagi demam.
Callista berlari menuju parkiran apartemennya. Dia menyetir mobilnya dan menuju rumah sakit Healthy karena dia tidak tahu rumah sakit mana lagi selain itu.
Beberapa kali ia menoleh kesamping untuk mengecek keadaan Chloe, Putrinya itu hanya tersenyum kearahnya dengan mata sipit sudah mau menutup, dia nampak lemah sekali.
" Bentar lagi kita sampai, sayang. " Callista mengelus rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
Mobil berbelok ke arah kiri, dia sudah sampai di rumah sakit.
Callista memarkir mobilnya di parkiran, dan langsung menggendong Chloe, membawanya langsung ke ruang IGD. Di Sana ada dokter umum yang memeriksa lalu menyarankan kepada Callista agar anaknya di rawat dulu di rumah sakit. Sampai keadaanya lebih baik.
" Saya ikut apa kata dokter aja. "
" Baiklah, Bu. Nanti putri ibu akan dipindahkan ke kamar inap. "
Callista memilih kamar VVIP dan tak butuh waktu lama, ada beberapa perawat yang memindahkan Chloe ke kamar yang sudah dipesan. Callista selalu berada disamping putrinya. Menggenggam tangan Chloe sampai putrinya itu tertidur. Wanita itu selalu saja cepat gugup ketika anaknya yang sakit. Callista memeluk Chloe dalam tidurnya.
" Cepat sembuh ya, sayang. Mama khawatir kalau kamu sakit begini. Nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu boleh minta main kemana aja, Mama akan temani, Minta masakin apapun yang kamu mau, akan mama turutin. Tapi sembuh ya, jangan sakit sakit. "
__ADS_1
Callista mengambil ponselnya, dia penasaran sesibuk apa Nicho sampai sedari tadi belum membuka pesan darinya. Dia berusaha menghubungi Nicho lagi tapi tetap tidak ada jawaban.
" Kemana sih kamu, Mas? "
Callista kesal, dia memencet mencet layar ponselnya asal asalan dengan bibir maju kedepan.
" Awas ya kamu sampai di rumah bakalan aku cubit. Anak lagi sakit, tapi malah gak bisa dihubungi. "
Tiba tiba perut Callista bunyi, dia lapar. Callista mencondongkan tubuhnya untuk mencium pipi putrinya yang masih tidur.
'' Mama tinggal sebentar ke kantin untuk beli makan ya, sayang. "
Wanita itu berjalan keluar, menutup pintu dengan pelan. Saat dirinya sedang berjalan di koridor rumah sakit menuju kantin, dia tidak sengaja berpapasan dengan Al.
" Callista? "
Mereka saling memanggil bersamaan. Suasana berubah canggung. Mereka berhenti dan tidak melanjutkan langkah mereka, bingung mau memulai berkata apa.
" Kamu disini? " tanya Al akhirnya.
Callista tersenyum. Al tahu dan dia menyadari, entah kenapa hasutan Erwin atau dirinya yang tidak bisa mendidik Callista? Wanita yang dulu pernah menjadi Istrinya dan wanita yang kini menjadi istri Nicho adalah wanita yang sama, tapi memiliki kepribadian yang berbeda.
Nicho bisa membuat Callista sepenuhnya melupakan dirinya dan menjadikan ibu rumah tangga biasa yang terlihat bersahaja.
__ADS_1
" Iya, kebetulan Chloe sedang sakit. " jawab Callista.
Al mengangguk mengerti.
" Sudah ditangani dengan baik, kan? Nicho juga punya saham disini. Jadi kalau ada yang kurang bilang aja, nanti aku minta pegawai untuk menyiapkan semuanya. " Al pun tak tahu bersikap seperti apa.
Callista malah tersenyum. Dia menyadari, Al sama bingungnya dengan dirinya kini. Seharusnya tidak usah ada kecanggungan. Mereka akan berusaha bergaul seperti teman pada umumnya.
" Tidak usah khawatir, Semuanya sudah memberikan pelayanan yang baik kok. Kamu sudah makan belum? Aku mau ke kantin. Mungkin mau bareng? Kita sambil ngobrol. " usul Callista. Dia tidak berniat apa apa. Hanya ingin berusaha bersikap biasa aja.
Al terlihat berpikir sejenak.
" Baiklah. Sebentar saja, ya? " Al tertawa canggung.
" Iya, iya. Siapa juga yang mau ngobrol lama lama sama kamu. Yang ada malah bikin masalah. " kilah Callista disertai tawa kecil.
" Wuuu! Aku tuh laki laki baik, penyayang dan juga tampan. Satu lagi ya, kaya. " kelakar Al. Sontak Callista mengayunkan tangannya untuk memukul lengan Al. Lalu mereka tertawa bersama sama, berjalan melewati koridor rumah sakit berdua.
Hening.
Mereka sama sama terdiam lagi. Sibuk dengan pikiran masing masing. Mereka terus berjalan hingga sampai di kantin. Mereka duduk dan memesan makanan. Saat makanan tiba, mereka langsung menikmatinya begitu saja tanpa berbicara sepatah kata pun, sampai Al kembali membuka obrolan.
" Aku senang melihat perubahanmu yang semakin baik. Nicho ternyata pandai merubahmu atau karena kamu sudah tergila gila sama dia, sampai begitu berusaha menjadi istri yang baik untuknya? " Al bertanya pelan, dia penasaran sekali. Mulutnya gatal ingin bertanya.
__ADS_1