Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 212


__ADS_3

"Ish, hanya saran.'' Nicho mengelak.


"Woi!!! Berisik bangat sih, tuh sana bagian jendela masih ada apinya." Al menimpuk punggung mereka dengan selang. Habis, di situasi seperti ini malah berantem gak jelas.


Takut dengan omelan Al, mereka langsung berhambur kembali membantu.


Api sudah membakar pintu juga jendela kayu. Sayup sayup terdengar suara orang minta tolong.


"Tolong.... Tolong.... Saya di dalam!'' suara itu terdengar serak, tapi Hans yang berada di dekat pintu yang sudah gosong dan apinya sudah mulai berkurang, langsung menendang papan pintu dengan sekali tendangan belum juga roboh.


Hans yang memakai sarung merasa ribet, dan langsung melipat sarungnya sedikit ke atas mata kaki. Dia menendang pintu itu lagi dengan sekuat tenaga dan langsung ambruk ke dalam ketika tiba tiba Al membantu menendang dengan kakinya juga.


Abu berterbangan di udara bersamaan dengan jatuhnya pintu.


"Terima kasih, Al." Hans berlari masuk ke dalam, tanpa menggunakan pengaman apapun.


Meriam yang melihat suaminya masuk ke dalam asrama yang terbakar itu, membuatnya cemas. Meriam berlari mendekat ke lokasi.


"Meriam, kamu mau kemana?'' teriak Leni.


"Aish, penganten baru gak bisa lihat suaminya dalam kondisi mencengangkan seperti ini memang." Clara berkomentar.


"Kamu kan, pengantin baru juga, Clar. Sana ikutan ngejar Clinton juga." goda Yesline.


Clara hanya nyengir. "Aku mah pengantin sudah setengah jalan."


Azka dan Chloe sedang menempel pada ibu mereka masing masing.


"Kamu takut, kak Azka?" tanya Chloe tiba tiba.


Azka melirik Chloe sebentar baru menjawab.


"Enggak, cuma panik. Nanti papaku pasti bisa padamkan apinya. Dia itu jago menghalau api." Azka menjawab dengan sedikit panjang.


"Emang Om Al kerjanya jadi pemadam kebakaran ya?'' tanya Chloe lagi.


"Bukan, Papaku kan dokter. Kamu lupa ya?"

__ADS_1


"Lah, tadi kak Azka bilang Om Al pandai menghalau api, apa dong kalau bukan pemadam kebakaran."


Azka malah tersenyum lebar, menampakkan lesung pipinya yang membuatnya nampak semakin keren.


"Maksudku, Menghalau api kemarahan mamaku," balas Azka yang langsung membuat Chloe mengangguk mengerti, sambil tersenyum. Sesaat dia mulai melupakan ketakutan juga kepanikan yang sebelumnya ia rasakan karena candaan Azka barusan.


Ruangan dipenuhi asap dan sisa api yang masih menempel pada gorden, kursi dan benda benda yang bisa terbakar. Hans menutup hidung dengan lengannya.


"Siapa yang di dalam?'' teriak Hans dengan terus berjalan ke arah kamar dan dapur. Dia sedang mencari yang meminta tolong tadi.


UHUK!


UHUK!


"Siapa itu?'' teriak Hans lagi. Dia berlari ke kamar mandi, ada Wisnu yang terbaring di dalam kamar mandi dengan kondisi kakinya tertimpa pintu yang roboh karena ledakan tadi.


"Ya ampun, Wisnu!" pekik Hans terkejut. Dia segera mengangkat pintu kamar mandi dan meletakkannya di tempat lain. Kaki Wisnu berdarah, dia meringis kesakitan. Tapi tubuhnya selamat dari api karena terhalang pintu.


"Sini, Kubantu." Hans meraih tangan Wisnu dan memapahnya untuk berjalan keluar. Mata Hans mengedar ke sekeliling, memang penyebab dari kebakaran ini adalah ledakan tabung gas.


"Terima kasih." katanya dengan setengah hati.


"Sama sama. Kamu tenang aja, api sudah berhasil dipadamkan kok." Hans berusaha menenangkan Wisnu, siapa tahu karena berada di jarak dekat saat ledakan membuatnya jadi syok.


"Aku baik baik saja. Tidak perlu khawatir."


Hans berhasil membawa Wisnu keluar dari asrama.


Melihat Hans yang belepotan arang, Meriam langsung berhambur mendekatinya.


"Kamu tidak apa apa, Mas?" tanya Meriam menatap ke arah Hans dengan cemas. Hans mengusap pucuk kepala Meriam dengan lembut dan tersenyum haru, kini setiap harinya akan ada wanita yang mengkhawatirkan keselamatan hidupnya.


"Mas, baik baik aja kok. Kamu takut ya?" selidik Hans kepada Meriam yang tiba tiba memeluknya.


Wisnu tersenyum kecut, dia naik ke atas tandu. Tadi ada yang menelpon ambulance, jadi Wisnu akan dibawa ke rumah sakit, orang tuanya sudah dihubungi. Ada dua Ustad yang mengantar Wisnu. Beberapa pengurus pesantren sudah mengkondisikan kepanikan para santri. Hanya tinggal beberapa Ustad dan Santri yang masih memantau di depan asrama tamu. Untung api cepat ditangani, jadi tidak merembet kemana mana.


Laki laki itu sudah dua kali bikin heboh pesantren.

__ADS_1


"Kamu ternyata cengeng juga ya,'' tukas Hans saat melihat Meriam yang terisak di pelukannya. Meriam memukul dada Hans dengan pelan.


"Kamu jahat, masa aku yang khawatir dikatakan cengeng," protes Meriam.


Hans menangkup wajah Meriam dengan kedua tangannya.


"Sayangku... Cintaku..... Terima kasih sudah khawatir sama Mas, tapi Mas gak apa apa kok. Sudah ya jangan nangis, nanti di kira Ayahmu aku apa apain lagi." Meriam tersenyum senang, dia mengelap matanya yang basah.


"Nah, gitu kan cantik." Hans menoel hidung Meriam yang bangir.


"Aku kan memang cantik." kata Meriam senyum.


Netra Hans menatap istrinya yang cantik dan menggemaskan.


"Iya. Kamu memang cantik. Secantik bidadari. Aku tidak sedang berbohong, ini benar dan nyata. Akan kujaga dirimu kasih. Teruslah membuat aku mabuk cinta seperti ini."


Cup!


Hans mencium kening Meriam. Mata mereka saling menatap dan penuh cinta.


Sedangkan Al yang masih menunggu di depan asrama tamu menatap Hans dan Meriam yang saling menatap penuh cinta, Gabriel berdehem mengganggu keromantisan. mereka.


"Dunia serasa milik mereka berdua, kita hanya ngontrak. Dah deh, pulang aja yuk. Daripada dicuekin." sindir Gabriel.


Hans dan Meriam menoleh dan tersenyum malu.


"Mau langsung ke bandara? Muka kalian kucel, mandi dulu gih,'' ujar Hans.


"Ini bisa jadi bukti nanti di surga kalau kami sudah rela mengorbankan nyawa demi menolong banyak santri agar tidak ada yang terluka." Clinton yang menjawab dengan bangganya.


"Ya udah gak usah mandi, biar Clara gak mau deketin suaminya lagi karena baunya seperti kambing." cibir Nicho disambut gelak tawa dari Gabriel tapi juga tinju dari Clinton.


"Aw....sakit, jahat bangat sih kamu, Bro! Clara.... laki kamu nih, suka mukul!'' Nicho berteriak seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ibunya karena di jaili temannya yang nakal.


Sontak membuat Clinton menutup mukanya karena malu punya teman yang absurd seperti Nicho, Umur sudah bangkotan tapi masih kayak bocah!


Serah kamu deh, Cho.

__ADS_1


__ADS_2