Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 250


__ADS_3

Senja sudah ingin datang saat Hans untuk mengajak Meriam jalan jalan agak jauh dari penginapan mereka. Tadi pagi, mereka sudah memanjakan mata ke Cara Biosfer sebagai ungkapan syukur Hans karena Meriam sudah bercinta dengannya semalaman. Dilanjut saat agak siang, mereka menghabiskan waktu di air terjun Cheonjiyeon, dimana suasana alamnya yang indah menghantarkan kenyamanan bagi keduanya.


Sekarang, mereka ke tempat ini. Tempat, dimana angin, pasir dan pantai saling berteman memanjakan mata. Kegiatan ini dilandasi keinginan Meriam yang ingin melihat suasana senja dan matahari terbenam dari pinggir pantai. Oleh sebab itu, Hans berinisiatif mengajak sang istri berjalan jalan di Loveland guna menikmati suasana alam yang di desain penuh cinta.


Awalnya mereka hanya berjalan seraya berpegangan tangan. Namun lambat laun, mata Meriam semakin terbelalak melihat berbagai jenis patung yang cenderung dibuat seperti alat alat kelamin sehingga membuatnya agak ngeri.


"Disini kok banyak patung patung eksotisnya ya, Mas?" tanya Meriam penasaran.


Wajah wanita mengisyaratkan malu. Padahal, mereka saja semalam hingga subuh sudah melakukan adegan yang jauh lebih eksotis dari patung patung ini. Menggemaskan sekali.


"Iya, sayang. Namanya juga Loveland, pulau cinta. Jadi ya begini. Pulau memang di desain buat pasangan yang lagi bulan madu kayak kita. Makanya patungnya agak agak. Memangnya kamu tergoda kah? Ingin bercinta disini sekalian?'' goda Hans yang dibalas Meriam dengan cemberut.


"Ih, Mas. Malu. Ini di tempat umum tahu. Kalo ada yang lihat gimana?'' protes Meriam.


Hans merangkul bahu sang istri dengan sayang lalu sedikit memaksa kepala Meriam untuk bersandar dengan nyaman.


"Hahaha, gak apa apa sayang. Ini Korea buka. Indonesia. Apalagi kita pasangan. Mana disini sepi pula. Sempurna bukan suasananya?''


Meriam hanya menoleh malu ke arah lain. Hans suka sekali menggodanya, membuat dia tidak tahan ingin bercinta kembali. Namun, bukan disini tempatnya. Meriam hanya ingin menikmatinya di tempat tertutup yang mengijinkan dirinya untuk berteriak dan mengerang sepuas hati. Oleh sebab itu, Meriam mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat lihat hal lain. Selain patung patung tadi, mata Meriam tertumbuk pada sebuah patung kembar yang membuat Meriam sedikit geli.


"Mas, ini patung apa kok bentuknya aneh kayak gitu?"


Netra Meriam terpaku akan sebuah patung berbentuk panjang yang memakai kupluk di kepala sedangkan wajahnya seperti pria tua. Tangannya relatif kecil tengah memegang perut. Memang agak aneh untuk orang awam. Tapi, patung ini adalah patung legendaris di Loveland.


"Itu namanya patung Dol Hareubang, sayang. Memang agak aneh ya. Tapi kamu tau enggak, kalo warga sekitar punya mitos soal patung ini?'' tanya Hans membangkitkan rasa penasarannya.

__ADS_1


Perempuan itu menatap Hans dengan penuh tanda tanya lalu berkata, "Memangnya apa, Mas?''


Hand balas tersenyum penuh arti, "Mitosnya, orang yang mengusap hidung patung ini, katanya bisa segera punya anak, sayang.''


Meriam seketika langsung kagum. Perempuan itu refleks mengusap hidung patung itu seraya berseloroh, ''Wah pantas bentuknya kayak----"


Ucapan Merima yang terhenti seketika membuat Hans tersenyum memicing. Seperti ya suasana pantai ini benar benar mampu membangkitkan gairah Meriam.


"Hayo, mirip kayak apa?'' tanya Hans menggoda.


"Ah, gak apa apa kok," elak Meriam terlihat malu.


"Ah, malu malu aja kamu, sayang. Gemesin bangat." puji Hans jujur.


Hans yang gak tahan akan sikap istrinya yang masih malu malu setelah berbagai percintaan panas mereka, mencium lembut sang istri dengan penuh gemas. Dia suka akan Meriam yang manis dan penuh cinta. Membuat Hans mabuk kepayang dan ingin selalu bersama.


"Mau segera punya anak kan, sayang?" tanya pria itu.


Meriam mengangguk dengan tatapan penuh harap. Sehingga, Hans juga ikut bahagia.


"Kalo begitu, kita juga harus lebih sering buat dedek ya, sayang. Soalnya mitos kayak yadi juga percuma kalo gak ada actionnya. Iya kan?"


Ucapan tersebut dia akhiri dengan tawa ringan. Karena melihat pipi Meriam yang semakin bersemu merah, semangat Hans untuk bercumbu menjadi menggebu gebu. Tidak peduli dia di tempat umum, toh tempat ini sepi.


Lelaki itu meraih kesempatan untuk ******* bibir sang istri. Mereka saling berbagi gairah yang menyengat seluruh saraf mereka. Suasana alam yang indah beserta eksotisme yang diciptakan benar benar berhasil menyulut keinginan mereka untuk memadu kasih. Pantas saja pulau ini disebut sebagai pulau cinta. Memang apa yang mereka lihat membuat mereka ingin semakin banyak memadu cinta.

__ADS_1


Dret! Dret!


Tiba tiba ponsel Hans yang berada di saku bergetar. Padahal ciuman mereka sedang enak enaknya hingga saling merengkuh dan memeluk dengan erat. Sayang sekali, panggilan sialan ini menggangu kenyamanan mereka. Bahkan dia bisa lihat, Meriam yang terlanjur bernafsu itu menjadi mengigit bibir dengan tatapan kecewa.


"Ah, sayang maafkan aku. Ini ada panggilan dari Clinton," ujar Hans menginterupsi.


Meriam mengangguk pasrah. ''Iya, Mas. Angkat aja."


Dia tahu, kesenangan Meriam merasa terganggu. Oleh sebab itu, sebagai gantinya agar kekecewaan Meriam tidak terlalu besar, Hans merengkuh pinggang Meriam sementara tangan kirinya mengangkat panggilan dari teman laknatnya yang hanya bisa mengganggu itu.


"Sialan kamu, Clinton! Lagi enak enaknya sama istri malah kamu ganggu!" gerutu Hans setelah panggilan itu terhubung.


Hans tidak peduli kalo Clinton ingin menertawakannya. Pasalnya dia terlanjur sebal setengah mati sehingga paling tidak, Clinton harus tahu kalo Hans sebal akan perilaku lelaki itu. Dan emang benar, pria laknat seperti Clinton jelas tertawa.


"Hahaha. Ya sorry, Hans. Aku juga pengen kali, enak enakan kayak kamu. Masa yang boleh enak enakkan cuma kamu? Kasih taulah, biar aku sama istri bisa nyusul,'' balas Clinton langsung pada intinya.


Hans memicingkan mata kesal. Ingin sekali dia menjitak kepala lelaki itu. "Dih, ogah ya. Aku sendiri juga udah mau balik ke Indonesia besok."


Clinton di seberang menghembuskan nafas panjang. Lelaki itu menggunakan nada memelas guna merayunya. "Hm, Ayolah Hans. Aku mumpung lagi program hamil sama istriku biar dia semangat. Masa kamu gak mau dukung sahabat kamu biar bisa segera punya anak juga?''


Mendengar permintaan Clinton yang terdengar tulus, Hans tidak bisa berkata kata lagi. Dia memandang sang istri seraya meminta pendapat. Tentu saja istrinya yang bijak itu mengangguk setuju. Lagipula, keinginan Clinton juga keinginan yang baik.


"Ya udah deh, Aku tunggu. Aku lagi di pulau Jeju."


"Oke. Thanks, Hans." balas Clinton gembira.

__ADS_1


Baik Hans maupun Meriam, kedua manusia itu kembali bertatapan mata seraya tersenyum. Tak banyak bicara, Hans langsung merengkuh kembali sang istri dalam ciuman yang memabukkan seluruh kesadaran.


__ADS_2