
Pernahkah kamu menjual jantungmu hanya untuk bertahan hidup?
Karena itu, Rizky berniat mencari tahu. Dia ingin tahu siapa yang membuat rekayasa kasus semenarik ini. Meski sekali lihat saja, dia tahu siapa pelakunya. Hanya perlu bukti berat saja.
"Baiklah, aku akan selidiki masalah ini, aku jadi tertarik." Rizky menjawab dengan antusias.
"Kamu udah tahu apa masalahnya?'' tanya Nicho sangat penasaran.
Rizky mencoba menyembunyikan semuanya terlebih dahulu dari Nicho. Jiwa jahatnya mulai menerka siapa siapa saja yang berkesempatan menjadi pelaku utamanya.
"Nanti aku kasih tahu kamu hasil penyelidikanku. Kamu hubungi hubungi istri kamu aja dulu agar khawatir," ledek Rizky disertai tawa ringan.
"Maksud kamu?''
Alih alih menjawab pertanyaan Nicho, Rizky malah menutup teleponnya.
Nicho yang kesal dan penasaran berusaha menghubungi Rizky lagi tapi adiknya itu sengaja mengabaikan panggilan teleponnya.
*********
Adi, malam itu berada di sebuah club, dia sedang bersantai sambil menenggak sebotol minuman beralkohol. Dia sedang melakukan pesta, di senang, hari itu dia mendapat banyak bonus.
Ada dua orang wanita yang duduk disebelahnya, mereka yang menemani dan menghiburnya malam itu.
"Kamu hebat, Adi. Kerja kamu rapih dan tidak terbaca. Kerahkan semua anak media kamu untuk membuat berita ini semakin viral. Aku akan kasih kamu bonus besar lagi, jika kamu bisa kasih aku kejutan dan bikin aku senang."
Suara itu tentu terdengar familiar, tentu saja Rizky yang berada di sebelah mereka tentu saja tahu dan mengenali siapa pemilik suara itu. Analisisnya tidak pernah salah.
Rizky dengan santainya hanya menenggak minumannya, sambil ditemani dua wanita malam sebagai pelengkap penyamarannya yang duduk disebelahnya. Dia bisa tenang mendengarkan tanpa ada yang menyadari keberadaannya.
Misi selesai!
Saat Rizky baru saja menoleh untuk memastikan siapa pemilik suara itu dan memotretnya sebagai bukti, tiba tiba datanglah seseorang.
__ADS_1
Sebuah suara yang memanggil Rizky membuyarkan semua rencananya. Wanita itu dengan kesal menarik paksa kumis palsu Rizky juga rambut palsunya.
"Kerjaan kamu ternyata suka main ke klub, ya! Dasar laki laki mesum!!'' teriak Nisa yang membuat semuanya menoleh, tak terkecuali orang yang Rizky sedang intai.
Tanpa berbicara apa apa, dan tanpa menoleh kebelakang. Rizky langsung membopong tubuh Nisa di atas pundaknya dan membawanya keluar dari klub.
Rizky mengabaikan Nisa yang terus memberontak memukuli punggungnya.
"Lepasin aku!!''
Dengan langkah yang semakin dipercepat, Rizky terus saja berjalan. Dia kesal, tapi sayangnya wanita pengacau itu adalah wanita yang sama, yang mengacaukan hatinya juga.
Lalu bagaimana dia akan marah?
"Seharusnya kamu tidak datang kesini," sentak Rizky sambil berjalan.
"Aku ke rumah kamu mau jenguk kamu tapi aku lihat kamu keluar rumah dan aku ngikutin kamu, terus karena kamu nyamar jadi aku semakin curiga dan ikut masuk buat mastiin. Ternyata kamu suka nyamar dan pergi ke klub hanya untuk melihat cewek seksi itu dan minum minum?'' cecar Nisa panjang lebar.
Mungkin jika itu dikatakan lima tahun lalu, ya. Rizky memang laki laki brengsek. Tapi, kini dia sudah berubah.
Setiap orang punya masa kelam, dan semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk berubah.
*********
Dari kejauhan Clinton dan Gabriel bisa melihat dengan jelas kalo Yesline masuk ke dalam mobil Hans. Saat itu juga Clinton mengirim pesan singkat ke Hans sebelum Hans menjalankan mobilnya.
Hans, kamu dan Yesline mau kemana? Kita diminta Al untuk menjaga dia.
Tak butuh waktu lama, Clinton sudah mendapatkan balasan pesan itu.
Yesline minta aku untuk menemaninya mengunjungi Al di penjara, Aku akan jaga dia. Kamu jaga yang lain di rumah dan kalo bisa suruh seseorang untuk memata matai Adi. Kita harus tahu dia hanya terlibat atau dia pelaku utamanya.
Setelah membaca pesan itu, Clinton langsung membalasnya dan mengatakan iya.
__ADS_1
Setelah mengirimkan pesan balasan, Clinton kembali menghadap Gabriel yang menyetir mobil.
"Kamu kembali ke rumah, jaga yang lain, pasti sebentar lagi akan ada banyak wartawan atau perusuh yang datang. Aku mau ngurus sesuatu dulu, kamu telepon beberapa bodyguard buat kamu, Gabr."
"Gampang, serahkan saja samaku. Kamu hati hati ya." Gabriel menepuk pundak Clinton.
Mereka berpisah di sana, Clinton memilih naik ojek online untuk lebih cepat ke tempat yang ingin ia tuju.
Gabriel mengangguk dan menuju ke rumah mereka.
*******
"Mama!''
"Papa!''
Tiba tiba Azka terbangun dan mencari keberadaan Yesline atau Al.
Perasaaan anak itu biasanya memang terhubung dengan orang tuanya. Mereka bisa merasakan hal baik atau hal buruk yang terjadi kepada orang tuanya.
Meriam yang sedang membaca buku di sofa di dalam kamar itu langsung mendekati Azka, begitu juga Clara dan Leni yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah mendengar suara Azka. Clara dan Leni sebelumnya menunggu di depan kamar.
"Halo jagoan, boleh Dokter periksa keadaan kamu lebih dulu ya?'' tanya Meriam sambil membenahi kabel infus.
"Dimana papa dan mama, Dok?" tanya Azka parau dan pelan, begitu pelan sampai Meriam perlu mendekatkan telinganya ke telinga Azka.
"Oh, papa kerja, Sayang." Meriam menjawab sesuai dengan hal umum yang biasa dilakukan oleh seseorang.
Meriam menyibukkan diri memeriksa Azka, berusaha menghindari pertanyaan Azka, dia bingung dan tidak tau mengatakannya.
Seharusnya tidak apa apa kan kalo dia sementara waktu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada Azka. Dia tidak mau melukai perasaannya.
Leni dan Clara saling tatap dan tersenyum saat Azka dengan lemah menatap ke arah mereka.
__ADS_1