
Tak kunjung mendapati Nicho buka suara, hingga akhirnya Callista meraih kertas itu dari tangan Nicho, kemudian membacanya pelan hingga kedua sudut bibirnya ketarik keatas....
" Sudah Aku katakan bukan ??? Kalau ini Anak Kamu. " kata Callista.
Hasil dari tas DNA Mereka Positif jika itu Anak Nicho.
Tanpa berpikir panjang, Nicho menarik Callista ke dalam pelukannya. Memeluk Callista begitu erat.
" Maafkan Aku yang sempat meragukanmu. Aku berjanji akan selalu menemanimu, Aku akan bertanggung jawab dan akan menikahimu. Kamu mau kan ??? " tanya Nicho membuat Callista melepaskan pelukannya. Menatap Nicho dengan tatapan penuh tanya.
Melihat itu Nicho pun kembali buka suara.
" Aku janji gak akan pernah ninggalin Kamu. Aku mau menikahi Kamu biar kalau Anak ini lahir, Dia sudah memiliki status yang jelas dan Orang Tua yang lengkap. " kata Nicho mencoba meyakinkan.
Untuk beberapa saat, Callista terdiam sejenak. Seolah mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Nicho. Menatap Nicho dengan tatapan penuh arti, mencoba mempelajari setiap kata yang dilontarkan oleh Nicho.
Melihat tidak ada kebohongan sedikit pun dari raut wajah serta dari sorot mata yang dipancarkan Nicho, Akhirnya pun Callista mengangguk setuju. Membuat Nicho tersenyum dan segera menarik Callista kembali ke dalam pelukannya.
" Terima kasih. Maafkan Aku. "
*******
Yesline manatap Al yang sedari tadi sibuk mengupas buah apel ditangannya, sesekali Yesline terkekeh kala melihat Al yang sepertinya sangat kesulitan untuk mengupasnya, membuat Yesline pun buka suara.
" Kamu kenapa gak ke Rumah Sakit, Mas ??? Kamu kan Direktur loh!! Bukannya Aku ngelarang Mas untuk terus berada di rumah, Tapi Mas juga harus memprioritaskan Pasien. " kata Yesline seolah Dia mengkhawatirkan Al berada dirumah.
Walaupun Al berkali kali meyakinkan jika memang pada kenyataannya itu semua tidak akan jadi masalah.
Namun, Yesline pikir dirinya harus sesmdikit bersikap keras kepala disini, karena mau bagaimanapun juga Yesline menyadari satu hal jika peran Al di Rumah Sakit sangatlah penting.
Mendengar itu, Al menoleh masih dengan telaten mengupas buah apel di tangannya.
" Bukankah Kamu lebih penting ??? Mas ingin memperhatikan Kamu disini, jadi jangan larang Mas. Lagipula Mas sudah menyerahkan tugas Mas untuk sementara ini dengan alasan Mas ingin lebih fokus ke Kamu saja. " kata Al seolah merasa enggan hanya sekedar berdebat perihal Dirinya yang tidak pergi bekerja.
__ADS_1
Yesline akhirnya menganggukkan kepalanya setuju.
" Tapi Mas jangan lama lama memperhatikanku begini, Karena Mas harus pergi ke Rumah Sakit. " kata Yesline lagi hingga Al menganggukkan kepalanya.
Al memotong buah apel itu, lalu mulai menyuapi Yesline dengan tangannya dan tentu saja diterima baik oleh Yesline.
" Manis ??? " tanya Al dan Yesline mengangguk kecil mendengar pertanyaan Al itu.
" Kayak Kamu. " sambung Al mengecup tangan Yesline penuh perasaan.
Yesline terkekeh dibuatnya, Seolah Dirinya benar benar tersipu malu dengan apa yang dikatakan Al itu.
Al sendiri sudah kembali memotong buah apel yang sudah di kupas ditangannya.
" Aku gak mau Kamu kecapean. Kalau ada sesuatu hal yang Kamu butuhkan, bilang sama Aku. Hm ??? " kata Al memperingatkan.
" Kenapa ??? " tanya Yesline mengerutkan bibirnya sebal.
" Lagi pula buat hal hal kecil, Aku bisa .... "
Untuk beberapa saat, Yesline diam sejenak. Mencoba memahami apa yang dikatakan Al hingga akhirnya Yesline pun menganggukkan kepalanya lesu.
Al mengulurkan tangannya sembari mengusap rambut Yesline penuh kasih sayang.
" Nanti sore, Kita jalan jalan di taman. Sekalian bantu Kamu olahraga jalan santai. " kata Al.
Yesline menyadari jika memang pada kenyataannya Al akan selalu melakukan hal itu untuk Yesline. Apalagi Al sepertinya sangat posesif dan perhatian kepada Yesline, membuat Yesline seolah tidak boleh melakukan apapun itu, Namun yakinlah jika memang pada kenyataannya Yesline merasa bahagia akan hal itu.
" Terima kasih, Mas. " kata Yesline dengan tutur kata yang begitu lembut, nyaris tak terdengar.
Al menoleh dan menaikkan kedua alisnya sembari menatap Yesline dengan tatapan penuh tanya.
" Kenapa ?? Ini tugas Aku sebagai Suami Kamu. kenapa bilang terima kasih ??? " tanya Al seolah merasa heran dengan apa yang Yesline lakukan.
__ADS_1
Yesline membenarkan posisi duduknya, Dirinya mendekat ke arah Al, kemudian menarik diri ke dalam pelukan Al.
" Meski begitu, gak semua Suami bisa melakukan hal itu. Aku tau kalau Mas Suami terbaik di dunia ini, Aku beruntung karena Mas bisa memperhatikan Aku jauh lebih layak sampai Aku lupa rasa sakitku dan rasa lelahku menjadi Seorang Istri dan Calon Ibu. " kata Yesline dengan sangat lembut dan tutur katanya penuh kehangatan.
Al membalas pelukan Yesline tak kalah erat.
" Tak pernah sekalipun Aku merasa keberatan, jadi jangan pernah merasa bersalah atau merasa Aku melakukan hal yang berlebihan. Sudah sewajarnya Aku melakukan itu. Ngerti ??? " kata Al kemudian memberi jarak diantara Mereka. Satu tangannya Dia gunakan mengusap pipi Yesline dengan penuh perasaan, kemudian mengecup bibir Yesline sedikit lebih lama.
" Aku mencintaimu. "
*******
Sidang putusan atas kasus yang menjerat Erwin digelar hari ini dan semuanya sudah siap di ruang sidang, begitupun dengan Gabriel yang tampak melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang sidang dengan pakaian serba hitam, masker dan juga topi yang mampu menyamarkan identitasnya.
Gabriel datang tanpa sepengetahuan Hans, Entah apa yang Dirinya pikirkan, hanya saja mungkin untuk membuat semuanya lebih baik dirinya melakukan ini. Alhasil dirinya datang tanpa sepengetahuan Hans dan mungkin itu akan membantu.
Gabriel menoleh kearah dimana Hans dan Clinton berada. Raut wajah datar tanpa ekspresi yang ditutupi masker itu, tak dapat menghilangkan auranya yang pekat, juga sorot mata tajamnya.
Gabriel memang berniat mengamati proses persidangan hari ini. Dirinya duduk dengan angkuh, seolah tak peduli akan sekitar. Dirinya tidak tau apa hasilnya nanti, Namun cukup merasa kesal melihat Erwin ada disana. Seharusnya Erwin pergi melakukan banyak hal dengannya, bukan duduk sebagai terdakwa.
" Selamat pagi dan salam sejahtera untuk Kita semua. Pada hari ini, Akan dilaksanakan sidang putusan. " kata Seorang Panitera yang tak luput dari perhatian Gabriel.
" Majelis Hakim memasuki ruang sidang, Hadirin dimohon untuk berdiri. " sambungnya membuat seluruh Orang yang ada di ruang persidangan bangkit dari duduknya, mengikuti apa yang dikatakan oleh Panitera.
Seorang Majelis Hakim memasuki ruangan dan duduk di salah satu kursi yang tersedia disana, membuat Panitera kembali buka suara.
" Hadirin dipersilahkan duduk kembali. ''
Persidangan pun dilaksanakan .dengan tertib, tidak ada yang berbicara diantara Mereka. Mereka semua fokus pada persidangan kali ini. Melihat bagaimana proses panjang yang akan dilakukan di ruang sidang ini, mungkin jika Orang Orang hang tidak tertarik kepada sidang ini akan merasa sangat bosan dengan durasi persidangan. Namun tentu saja semua Orang yang ada disini memang berniat untuk ikut menghadiri dan melihat proses persidangan putusan atas kasus yang menjerat Erwin, Begitupun dengan Gabriel yang sangat amat menggebu gebu dalam sidang kali ini, menantikan hasil terbaik untuk Erwin.
Al sudah menyerahkan semuanya ke Hans dan Clinton, Jadi Dia tidak hadir untuk sidang kali ini. Al benar benar fokus ke Yesline hang semakin mendekati masa persalinan.
Waktu terus berjalan, semuanya tampak berjalan dengan lancar selama persidangan, begitupun Gabriel yang masih duduk sembari menikmati semuanya disini.
__ADS_1
Gabriel melipat kedua tangannya di dada kala Erwin dinyatakan mendapatkan hukuman seumur hidup, Dia memijit pelipisnya pelan, rahangnya mengeras, tak terima dengan semua itu.
" Apakah Saudara akan mengajukan upaya Hukum ??? " tanya Hakim ketua sembari menatap Erwin.