
" Apa tidak merepotkan Mama, Mas ??? " tanya Yesline setelah mematikan tv dengan remote yang Dia pegang setelah Dia memikirkannya.
Sementara Al meraih buah Apel yang ada di atas nakas dan menggigitnya.
" kalau Mama pasti tidak akan merasa terganggu, Sayang. tapi kalau Kamu merasa sungkan, nanti Aku suruh Clinton atau Leni gimana ??? " tanya Al sambil duduk di sofa dan menghabiskan buah apelnya. Yesline ikut turun dari ranjangnya.
" Yakin ???? Atau Aku nunggu Mas ajah deh. "
Al melirik jam tangannya.
" Sebentar lagi Aku mau Operasi, Sayang. Kalau mau menunggu Mas, nanti Kamu bisa nunggu di ruangan Mas ajah. Jika butuh bantuan, nanti minta tolong sama Suster ajah, ya ?? " jawab Al sambil mengecup kening Yesline dengan lembut dan cepat. Yesline mengangguk. Suaminya sudah mulai sibuk lagi. Setelah Al pergi meninggalkan kamarnya, Yesline langsung menuju kamar mandi. Dia mau mandi dan ganti pakaian.
Beberapa menit setelah Yesline berada dikamar mandi, ada seseorang masuk ke kamarnya dan menaruh paper bag diatas ranjangnya yang berisi pakaian. Orang itu kembali keluar ruangan ketika mendengar gagang pintu kamar mandi di putar Yesline. Dia keluar kamar mandi, dengan hanya memakai handuk dan rambut masih basah. Dia lupa membawa baju ganti. Dan lagi, saat matanya melihat paper bag yang di dalamnya berisi baju.
Yesline ingat, Dia lupa mengunci pintu kamarnya, sembari berpikir siapa kira kira yang menaruh paper bag itu. Yesline berjalan ke arah pintu lalu menguncinya.
" Siapa yang naruh ini, ya ??? " kata Yesline sambil mikir.
" Apa mungkin Mas Al ??? ''
" Iya. Mungkin Mas Al kali, ya ??? Kalau bukan Mas Al, gak mungkin ada yang tiba tiba ngasih begini … "
Pikiran Yesline berkecamuk. Tapi buru buru Dia tepis pikiran buruknya. Dia berpikir untuk mencobanya. Dress mini selutut kesukaannya dan sepasang flat shoes hitam. Semua itu adalah barang kesukaannya. Yesline semakin yakin bahwa itu dari Al.
Dengan perasaan senang, Dia langsung ke kamar mandi untuk mencobanya. Baju itu benar benar pas di badannya yang sudah berisi dengan perut buncitnya. Yesline membuka pintu kamar mandi, Dia benar benar suka dengan baju itu. Dengan perlahan Yesline menyisir rambutnya yang masih basah.
__ADS_1
Setelah selesai berdandan, Dia mengemas bajunya dan memasukkannya ke dalam koper kecil. Dia langsung pergi ke ruangan Al. Ada Seseorang yang memperhatikannya dari belakang. Orang itu berseringai, meraih ponselnya dan mengetikkan pesan dan mengirimnya ke nomor Yesline.
Yesline menaruh ponselnya di tas kecilnya, jadi Dia tidak sadar kalau ada Seseorang yang mengirim pesan untuknya. Dia berjalan dengan anggun menuju ruangan Al. Tanpa ada pikiran curiga sama sekali. Wanita polos itu tidak sadar jika ada yang memperhatikannya.
*****
Di dekat ruangan operasi ada Seorang Anak kecil yang tiba tiba menghampiri Al ketika Dia baru saja memasuki ruangan operasi.
" Apa Kamu Dokter yang akan mengoperasi Ayahku ??? " tanyanya dengan air mata yang menggenang di pelupuk kelopak matanya, Al merasa kasihan. Dia berlutut di dekat Gadis itu.
" Iya. " jawabnya dengan tersenyum. Sebelah tangannya menyentuh kepala Gadis kecil cantik yang di depannya itu dan menangis. Terlihat sebelah tangan Gadis itu mengeluarkan uang dari saku celananya. Beberapa uang koin dan puluhan ribuan. Sepertinya Dia baru saja membuka celengennya. Dengan tangan sedikit gemetar, Gadis itu menyerahkan semua uangnya sama Al.
" Aku ingin bisa makan bersama lagi dengan Ayahku. Apa uang ini cukup, untuk menyembuhkannya ??? " tanyanya parau.
Al menerima uang itu dan tersenyum getir.
Dia berlalu memasuki ruang operasi. Gadis itu menatap kepergian Al dengan sejuta Doa dan harapan untuk kesembuhan sang Ayah.
Al jadi teringat Yesline, saat Mamanya akan di operasi tapi Istrinya tidak memiliki cukup biaya untuk pengoperasiannya. Dia pasti akan melakukan yang terbaik, jika perlu Dia akan menggratiskan semua biaya Operasi Ayah Gadis kecil itu.
Al sudah mengganti pakaiannya dengan seragam khusus untuk melakukan tindakan Operasi dan juga sudah memakai masker. Dengan tenang, Dia memasuki ruang operasi dan menuju kamar mandi untuk mencuci kedua tangannya hingga benar benar bersih. Setelah itu, Dia dibantu oleh Seseorang untuk memakaikan jubah untuknya dan memakai sarung tangan hingga kacamata khusus.
Ada sekitar 6 Orang di ruang Operasi ktu dan operasi kali ini akan dipimpin oleh Al.
Pandangannya menatap layar monitor yang menampilkan katup jantung milik Pasien.
__ADS_1
" Kita mulai operasinya. " kata Al kepada beberapa Dokter yang membantunya.
" Pisau bedah. " katanya setelah semua yang ada diruangan itu mengangguk. Setelah beberapa jam diruang operasi, Al menghela nafasnya sejenak karena melihat dilayar monitor itu detak jantung Pasien sudah mulai berdenyut. Al sudah bersiap siap untuk proses selanjutnya.
Tapi tiba tiba diluat ada kedengaran suara gaduh walau ruang operasi jaraknya lumayan jauh. Suara alarm kebakaran menyala. Suara nyaring membuat semua Orang panik seisi rumah sakit itu.
Al langsung memikirkan Yesline. Tapi Dia langsung mengerjapkan matanya sejenak dan sangat cepat. Dia harus fokus. Dia harus menyelesaikan operasi ini secepat mungkin. Beberapa Tim medis disampingnya sudah mulai panik.
" Jangan panik. Kita harus fokus. Kita selesaikan Operasi ini. " kata Al membuat semuanya terdiam dan mulai mengabaikan suara kegaduhan di luar ruangan yang sungguh sangat mengganggu.
" Baik Dok.''
Al mengatur nafasnya yang sudah tidak menentu. Dia hanya berdoa semoga Yesline tidak kenapa napa. Dia menarik nafasnya dalam dalam dan mulai menyelesaikan operasinya itu yang hanya tinggal menyatukan dan menutup tulang dadanya saja dengan proses SOP Kedokteran.
Al menghela nafasnya lega, karena sekarang hanya tinggal menjahit saja dan proses terakhir itu dilanjutkan oleh Dokter bedah yang lain. Al langsung meninggalkan ruang operasi dengan tergesa gesa. Tapi saat Dia keluar, Dia masih melihat Anak kecil itu duduk dengan tenang di kursi ruang tunggu. Menunggu sang Ayah. Al berlari dengan cepat menuju kamar Yesline dan ternyata asap keluar dari kamar itu. Al ingin menerobos untuk masuk ke dalam tapi dihalangi oleh beberapa Petugas pemadam kebakaran yang sudah datang.
" Saya harus masuk !! Di dalam ada Istri Saya ! " Al berontak tapi petugas itu mencengkeram tangan dan lengan Al dengan kuat.
" Sialan, Lepasin Saya !!" teriaknya lagi.
" Pak, Tenang. Setau Kami di dalam sudah tidak ada siapa siapa lagi. " jawab salah satu Petugas. Lalu Al teringat akan jam tangan yang Dia berikan ke Yesline. Jika memang Yesline dalam bahaya, maka Dia pasti akan menerima sinyal.
Al langsung menepis kedua tangan Petugas yang memegangnya itu dan bergegas ke ruangannya. Disana Yesline sedang menunggu di ruangannya. Dia berbaring di kamar Al dengan memakai headset di kedua telinganya.
Disekitar ruangannya memang kondisinya lebih tenang karena suara alarm yang tadi sudah berhenti saat Al sudah berada di depan ruangannya. Jantung Al serasa sudah mau copot. Dia ngos ngosan dan langsung memeluk Yesline.
__ADS_1
" Kenapa Mas ??? " tanya Yesline yang kelihatan kebingungan.