Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 295


__ADS_3

"Kenapa Mas Al menolak untuk menemuiku, Hans?" tangisnya.


Hans ikut duduk di dekat Yesline. Ponselnya berdering, karena Yesline menangis dia tidak sempat melihat siapa yang menelpon dan langsung mematikan ponselnya. Hans ikut merasa iba dengan apa yang Yesline alami sekarang.


Keadaannya dan Yesline yang sudah berbeda itu membuat dia merasa canggung, bingung dan tidak tahu harus menghibur Yesline dengan cara apa.


"Yes, kamu harus sabar dan kuat. Kita ada buat bantu kamu dan Al. Sekarang kita lebih baik pulang terlebih dahulu," bujuk Hans. Awalnya Yesline tidak menoleh, dia masih membenamkan wajahnya di atas lutut. Sesenggukan, seperti anak kecil yang kehilangan boneka kesayangannya.


Hans menatap Yesline dan tidak menoleh ke arah lain sedikit pun. Dia menyadari dirinya harus bekerja lebih keras lagi untuk menemukan barang bukti itu.


Menciptakan bahagia lagi di bibir ranum itu. Hatinya masih bisa merasakan kepiluan yang Yesline rasakan.


Andai dia bisa memeluk Yesline dan menenangkannya, tapi Hans tau itu sebuah dosa dan juga tidak mungkin dilakukan. Meriam akan menderita, disisi lain hatinya juga menolak melakukan hal salah seperti itu.


Yesline masih belum mengangkat kepalanya, tapi dia berujar.


"Aku tidak tahu apa Mas Al baik baik saja di dalam sana, Hans?''


"Apa dia bisa makan dengan baik?''


"Tidur dengan baik? Kalo dia kedinginan bagaimana? Lantai penjara terlaku dingin, begitu juga penghuninya."


Hawa dingin menyeruak merasuki persendian mereka. Padahal itu masih siang. Entah dingin dari mana itu?


Hening.


Hans membisu bersama dengan kepala Yesline yang mulai diangkat, Hans masih terus menatap ke arah Yesline berada.


Matanya basah dan sembab.


Perlahan namun pasti hujan turun membasahi tanah kota mereka. Bagaikan anak manusia yang memiliki perasaan, hujan itu seperti menyanyikan kidung kedamaian pada hati Yesline yang panas dan perih.


Dia ingat di saat hujan seperti itu Al akan dengan senang hati menyelimuti tubuhnya dan mendekap tubuhnya dengan erat, mereka akan rebahan sambil menonton film kesukaan. Bermalas malasan sepanjang hari.


Yesline, kamu tahu Mas Al selalu damai setiap kita berpelukan seperti ini? Mas mau selamanya seperti ini, saling sayang, saling jaga satu sama lain, saling memiliki, setia sampai mati.

__ADS_1


Maaf, jika Mas sering buat kamu dan kecewa, maaf, Yes. Maaf jika Mas belum sempurna.


Yesline menggeleng dan tangisnya meledak lagi. Dia tahu Al adalah suami terbaik di dunia ini bagi Yesline. Yesline yang tiba tiba menggeleng seperti itu membuat Hans terkejut.


"Yes, kamu kenapa?'' suara Hans membuat Yesline sadar bahwa dia sedang melamunkan Al.


Yesline menghapus air matanya. Dia bangkit dan mengajak Hans untuk pulang.


"Tidak apa apa, Hans. Aku hanya mengingat Mas Al aja. Kita pulang sekarang."


Hans ikut bangkit dan melepas jas kerjanya lalu menutupi kepala Yesline, mereka berlari bersama menembus hujan siang itu.


######


Callista mewakili Al berada di rumah sakit, di sana sedang dilakukan penggeledahan paksa untuk mencari barang bukti lain yang menyatakan bahwa rumah sakit itu sudah tidak layak di pakai. Karena terlalu banyak kesalahan yang dilakukan oleh pihak dokter.


Rumah sakit itu yang membangun pertama kali adalah kakek Callista dan kakek Al. Jadi wajar jika saat Al tidak ada dia yang berada di sana. Dia tahu apa yang harus dia lakukan, dia dulu juga pernah menjadi direktur rumah sakit.


Callista sudah mengabari Leni kalo dirinya belum bisa ke rumah Yesline untuk memberikan dukungan, dia akan melakukan hal itu dengan berada di rumah sakit. Menyelamatkan tempat itu dengan caranya sendiri.


Ruangan penyimpanan dokumen begitu kacau, rak rak semua dirobohkan dan isinya berserakan dimana mana. Mereka membawa apa yang perlu mereka bawa. Dan Callista hanya bisa menonton.


Callista berusaha sekuat tenaga agar rumah sakit tidak jadi ditutup melainkan hanya ijin tugas Al sebagai dokter yang dicabut, karena dia yang bersalah jika barang bukti benar menunjukkan bahwa dia bersalah. Tapi jika Al terbukti tidak bersalah Callista akan berada di garda terdepan menyelamatkan laki laki yang dulu pernah menjadi suaminya itu.


Di depan sebuah ruangan, Wahyu memperhatikan Callista lalu dia masuk kemabli ke ruangannya dan mengeluarkan sebuah map yang sebelumnya ia sembunyikan di dalam jas dokternya.


"Ini akan berguna nanti," gumamnya.


***********


Nicho masih terjebak di luar kota, mobil yang dia pakai tiba tiba mogok dan ponselnya hilang dijambret orang setelah dia menghubungi Callista dan menanyakan apa yang terjadi, tiba tiba sinyal hilang dan ada laki laki tak bertanggung jawab yang mengambil ponselnya.


Hari itu dia benar benar sial. Dia ingat, dia selalu membawa buku jurnalnya di dalam dasboard mobil, Nicho mencari dan menemukannya lalu membuka buku jurnal itu, dan menemukan nomor Rizky. Ya, dia menyimpan nomor anggota keluarga di dalam buku itu. Dan nomor beberapa sahabatnya juga Callista.


Ada taksi yang kebetulan lewat di depan Nicho dan dalam keadaan kosong. Dengan naik taksi Nicho menuju ke toko hp dan membeli ponsel. Baru setelah itu dia akan menelpon mereka dan orang bengkel terdekat.

__ADS_1


Tapi tidak ada yang bisa dihubungi, tidak ada yang menjawab panggilan dari Nicho yang baru menggunakan nomor baru, jadi Nicho menghubungi Rizky, tentunya setelah membeli ponsel baru.


Setelah panggilan tersambung.


"Iya, siapa?'' tanya Rizky di seberang telepon, dia sedang berada di dalam kamarnya di rumah. Rizky bermalas malasan, dia bilang ke Nisa kalo dia sedang sakit jadi beristirahat di rumah. Niat Rizky hanya ingin tahu seberapa khawatirnya wanita itu kepada dia.


"Ini aku, dasa adek durhaka sama suara abangnya sendiri tidak ingat." Nicho mengumpat kesal.


"Ya salah kamu ganti nomor baru bukan salahku," jawab Rizky sedikit songong, sifatnya yang itu memang masih belum bisa dikendalikan.


"Ponselku di jambret jadi beli yang baru. Kamu bisa tolongin aku? Aku masih terjebak di luar kota, tapi aku mau kamu lihat ke lokasi langsung. Aku percaya sama kamu."


Rizky terdiam, tumben abangnya itu meminta bantuan dirinya yang biasa cuek cuek bebek.


Hubungan mereka memang tidak terlalu dekat. Tapi lumayan membaik semenjak Rizky keluar dari penjara.


"Apa? Tapi aku lagi sakit ini," dusta Rizky.


"Jangan bohong, suara kamu aja sehat gitu, sakit apaan. Sakit mala rindu? Iya?" canda Nicho.


"Aish! Abang sialan!!'' umpat Rizky kesal.


"Ya udah mau minta bantuan apa?'' lanjut Rizky.


"Nah gitu dong, baru adek yang enggak durhaka. Kamu datang ke rumah Al dan Yesline, aku mau tau apa yang terjadi dengan mereka, karena kata Gabriel sesuatu hal besar sedang terjadi tapi saat aku mau tanya Callista ponsel malah dijambret."


Rizky mulai memutar otaknya, dia sudah tahu berita itu, Nisa juga membahasnya kemarin. Tapi, entah berkaitan atau tidak.


Nisa bilang, ada satu pasien yang sarafnya sudah sekarat, lalu karena anggota keluarganya yang miskin mereka tidak bisa membayar semua pengobatan yang mereka telah habiskan selama ini. Akhirnya salah satu keluarga itu bilang ada yang mau membeli jantung sang anak yang sudah tidak ada kemungkinan tertolong itu. Salah satu keluarganya meminta ijin Nisa selaku dokter anaknya untuk melakukan hal itu. Nisa syok tapi pihak keluarga sudah ridho dan sudah memutuskannya.


Jantung memang anggota tubuh terpenting dalam manusia, dia menjadi alasan orang bisa hidup atau mati.


Yang paling Rizky ingat adalah saat Nisa bertanya kepada Rizky.


Pernahkah kamu menjual jantungmu hanya untuk bertahan hidup?

__ADS_1


__ADS_2