
" Dia cantik sekali. " gumamnya dalam hati. Pemuda itu langsung menghampiri Yesline.
" Permisi. " katanya dengan sopan kepada Yesline.
Yesline menoleh ke arah sumber suara.
" Iya? "
" Boleh saya duduk disini dan mengobrol sebentar? Saya seorang sutradara film. "
Yesline membaca kartu nama yang pemuda itu berikan kepadanya.
" Silahkan. " kata Yesline mempersilahkan. Dia akan meladeni jika pemuda itu tidak bertindak hal yang aneh aneh. Tapi jika sebaliknya, ia akan pergi dengan segera. Al akan menjemputnya 30 menit lagi.
Azka tidak mempedulikan orang yang disampingnya. Jika sudah makan es krim, perhatiannya tidak akan menatap atau memperhatikan yang lain.
" Saya langsung to the point aja ya, Bu? "
Yesline menganggukkan kepalanya.
" Maaf sebelumnya. Kamu cantik, jadi saya tertarik untuk mengajak kamu bermain di film saya. Apa kamu bersedia menjadi seorang artis? "
Yesline mendelik kaget, Menjadi Artis?? Pikirannya langsung mengingat Al, mana boleh sama dia?
Tidak semua wanita mendapat kesempatan besar seperti itu, mengingat Yesline tidak memiliki pengalaman apapun dalam hal itu.
" Maaf Pak, tapi saya tidak memiliki pengalaman sama sekali dalam hal itu, dan saya juga memiliki seorang anak kecil. Saya tidak bisa tiba tiba menyibukkan diri dengan dunia pekerjaan yang menyita banyak waktu itu. Sekali lagi maaf ya, Pak. " Yesline tahu seharusnya ini adalah kesempatan yang baik. Tapi kondisinya sekarang tidak memungkinkan untuk itu.
" Saya juga membutuhkan peran anak anak. Anak kamu lucu, kalau kamu mau, dia bisa ikut bergabung menjadi artis cilik juga. " Pemuda itu berusaha untuk meyakinkan Yesline. Namun ibu muda itu masih bungkam, dia tidak tahu harus menjawab bagaimana.
" Tanya papa saja, Ma. " tiba tiba Azka nyeletuk saat es krimnya sudah habis.
" Iya, Mama tetap tanya Papa dong. " Yesline membalas usulan dari Azka.
" Baiklah. Kami bisa menghubungi saya di nomor ini jika kamu sudah memutuskan. " kata Pemuda itu sembari berlalu pergi meninggalkan Yesline.
__ADS_1
" Apa mas Al ngizinin, ya? "
Yesline mulai penasaran.
Sepulang dari mall, Yesline tidak berniat untuk menceritakan perihal tawaran menjadi artis kepada Al, Dia sudah tahu bagaimana reaksi dan jawaban dari suaminya itu. Jadi daripada memicu konflik, lebih baik diam, bukan?
" Mas, lagi apa disini? " tanya Yesline saat melihat Al duduk di tepi kolam ikan di belakang rumah mereka. Dia memang santai memberi makan kepada ikan ikan itu. Al tersenyum dan merentangkan tangannya saat Yesline menghampirinya. Bayi besar yang selalu dimanja dan sedang ingin di peluk.
" Lagi bersantai aja, sambil nunggu kamu pulang. " jawab Al. Dirinya hari itu memang tidak ke rumah sakit, dia hanya melihat beberapa laporan saja, bisa dilakukan di rumah.
Yesline berlutut di depan suaminya, lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Al. Jemari Al memainkan surai hitam Yesline. Setelah pulang sekolah, Azka langsung mandi dan tidur siang di kamarnya.
" Kamu semakin cantik aja, Sayang. " puji Al kepada Yesline.
" Mas yang pandai merawat aku, jadi aku tambah awet muda. " sahur Yesline, terkekeh.
" Kamu memang sudah cantik dari sananya, sayang. Jadi tidak perlu melemparkan pujian itu kepadaku. Aku sudah biasa di puji orang.." Al menimpali sambil tertawa lebar. Dia menikmati suasana tenang itu.
" Ya, kalau aku gak cantik mana mau kamu, hm? " Yesline penasaran sudah lama ingin menanyakan hal konyol itu. Jemari Al menoel hidung Yesline.
" Mau gak, ya? " goda Al.
" Mama..... " panggilnya dengan suara serak. Yesline langsung bangkit, dan menggendong Azka dalam pangkuannya.
" Ada apa sayang?? Mama temani ke kamar lagi ya? "
Azka menggeleng.
Al tersenyum menatap Azka yang terlihat ngantuk tapi enggan kembali tidur.
" Mau papa gendong? " tawar Al dan sudah mengacungkan kedua tangannya.
Tanpa menjawab Azka langsung berjalan menghampiri Al dan bergelayut manja di dadanya.
" Pa? " panggil Azka.
__ADS_1
" Hm? " jawab Al singkat. Tangannya mengelus punggung Azka.
" Kalau ada yang ngajak Azka sama Mama untuk jadi artis, boleh gak, Pa ? Yang tampil di TV itu, Pa? " celetuk Azka tiba tiba masih dengan mata terpejam. Muka Al langsung berubah. Membuat Yesline terkejut. Padahal dia sudah melupakan hal itu dan tak ingin membahasnya dengan Al, malah dibuka sama Azka. Anak itu bisa bisanya baru bangun tidur dan langsung ngadu ke papanya.
" Hadeuh .... " Yesline menepuk jidatnya pelan.
" Mati aku. " lirihnya mulai khawatir saat mata Al sudah menatapnya dengan tajam.
" No! Papa gak ngizinin! " jawab Al, matanya masih mengintimidasi Yesline. Menunggu penjelasan dari dirinya yang sedari tadi tidak membahas soal itu.
" Hm, Azka juga gak tertarik sih, Pa. Cuma sepertinya mama tertarik, Pa. " Azka berulah lagi, suka sekali membuat jantung mamanya loncat loncat mau jatuh.
" Gak, Mas. Aku gak terima kok tawaran itu. Karena itu, Aku tidak membahasnya tadi dengan kamu, Mas. " Yesline berkelit, berusaha menyelamatkan dirinya dari terkaman singa.
" Kita bahas lagi nanti di kamar. Mau tidurin Azka dulu. " Setelah mengatakan itu, Al langsung bangkit dari duduknya, menggendong Azka yang sudah mulai tidur lagi. Dia berjalan ke kamar Azka. Sedang Yesline mengekor di belakangnya, Tapi dia berbelok masuk ke dalam kamarnya. Dia mau mandi dan tidur siang juga.
Saat Yesline masih di dalam kamar mandi, tiba tiba terdengar suara pintu kamarnya terbuka kemudian tertutup lagi, Lalu juga di kunci dari dalam.
Yesline mengusap rambutnya yang masih di penuhi dengan busa sampo di bawah guyuran air shower.
Al berjalan masuk ke dalam kamar mandi, melingkarkan kedua tangannya di perut Yesline. Membuat Yesline menoleh terkejut. Dia tersenyum lega saat tahu itu Al.
Lah, memang siapa itu kalau bukan Al? Tidak ada yang bisa masuk ke dalam rumah mereka tanpa seijin Al. Banyak jebakan batman yang sudah dipasang di sekitar rumah.
" Kamu beneran ditawari jadi Artis? " tanya Al tiba, yang bergelayut manja di pundak Istrinya.
" Iya, Mas. Kan anakmu gak pernah bohong. Cuma kurang lengkap aja tadi ceritanya. " Yesline membalikkan badan memeluk suaminya.
" Mas, gak ngizinin loh ya. Sudah cukup dulu kamu bekerja di klub, Aku gak mau punya istri artis. Sudah kapok sama kejadian dulu-dulu. "
" Sudah, gak usah ngada ngada, Mas. Gak usah jauh jauh ngomongnya. Lagian aku gak terima kok tawaran itu. " protes Yesline, merasa kesal dengan Al yang malah mengungkit ungkit masa lalu.
Dia kerja di klub pun ada alasannya. Dia tidak pernah melakukan apapun tanpa alasan yang jelas.
" Uang Mas itu sudah banyak, kamu pakai aja sepuas kamu. Gak usah kepikiran buat nyari uang, kayak kekurangan duit aja kamu ini! " semua perkataan Al masih menyudutkan Yesline, itulah kenapa tadi dia memilih diam.
__ADS_1
" Iya, tahu. Kamu memang kaya. Besok aku mau ngajak Leni shopping kalau gitu. Biar uang kamu yang banyak itu ada gunanya. " cetus Yesline, menyeringai lebar. Sedikit kesal dengan kesombongan suaminya yang sudah sampai tingkat dewa.
" Ish, mulai deh....... "