
Clara menggeliat di atas tempat tidur, di balik selimut tebal yang menutupi nyaris sekujur tubuhnya. Perlahan matanya terbuka dan dia mendapati Clinton yang masih tertidur pulas disampingnya. Clara tersenyum menatap wajah Clinton dengan rambut yang berantakan. Tangan Clara terangkat membelai pipi Clinton. Namun, pria itu begitu tenang. Setelah puas memandangi wajah Clinton, Clara bergerak, berusaha untuk tidak menginterupsi tidur Clinton. Dan seketika, Clara merasakan kalo tubuhnya tanpa pakaian.
Clara menghela nafasnya, dan tersenyum senyum seperti orang sinting. Dia melihat pakaiannya berceceran di lantai serta ********** terdampar disisi ranjang. Perkelahian semalam dengan Clinton memang sangat brutal, meninggalkan bekas yang masih nyeri di bagian bawah tubuhnya.
Wanita itu mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai, kemudian memungutnya satu persatu dan memakainya. Dia melihat Clinton menggeliat, kemudian tertidur lagi dengan posisi terlentang. Dia berniat untuk menghambur ke pelukan suaminya itu, tapi seketika Clara merasakan nyeri pada perutnya secara tiba tiba.
Dia meringis, kemudian memegangi perutnya sambil berjalan ke dalam kamar mandi. Setelah merasakan nyeri, perutnya terus bergejolak dan dia merasa kalo saat ini dia sangat mual, dia ingin memuntahkan semua isi perutnya. Dia bergegas ke tempat buang air besar dan memuntahkan isi perutnya ke dalam sana.
Tapi, rasa mual dan sakit di perutnya masih sangat terasa. Kemudian untuk kedua kalinya dia kembali muntah.
"Duh, kenapa nih? Masuk angin kayaknya." gumam Clara setelah dia membersihkan bibirnya lalu mencuci wajah.
Clara keluar dari kamar mandi, lalu menuju wastafel. Menyikat giginya, tanpa mandi. Dia tidak ada gairah untuk mandi pagi ini. Sambil menggosok giginya, Clara memijit pelan belakang lehernya. Berharap rasa mualnya segera hilang.
Di atas tempat tidur, Clinton yang masih terlelap mulai terganggu dengan suara aneh dari kamar mandi. Dia menggeliat, kemudian meraba raba sisi tubuhnya, memeriksa keberadaan Clara. Tapi wanita itu tidak ada disampingnya.
Clinton membuka matanya sepenuhnya, saat menyadari suara aneh yang berasal dari kamar mandi itu adalah istrinya.
Clinton bergegas bangun dan menuju kamar mandi untuk memastikan. Di sana, dia mendapati Clara sedang berkumur habis gosok gigi.
"Kamu kenapa?'' tanya Clinton mendekati Clara.
"Enggak tau, Nih. Kayaknya masuk angin deh. Semalam kan bajuku agak sedikit terbuka. Ditambah kita makan malam di restoran outdoor. Anginnya kan kenceng bangat."
__ADS_1
Clinton mendekati Clara, kemudian memijit punggung istrinya secara perlahan. Clara merasakan kondisi yang nyaman saat Clinton memijitnya.
"Aku ambilin sarapan dulu ya. Biar makan, terus habis makan minum obat." ucap Clinton memberi ide.
"Ya, udah." Clara mengangguk dengan badan yang lemas. "Tapi, pijitin bentar dong." pinta Clara, kemudian Clinton memapah Clara untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Clinton dengan sabar dan cekatan, memijit punggung Clara kemudian beralih ke belakang leher wanita itu. Sepertinya memang benar kalo saat ini dia sedang masuk angin.
"Aku ambilin sarapan dulu ya." pamit Clinton. Dia terburu buru mengambil sarapan di lantai bawah, fasilitas dan resort ini. Dan setelah dia mengambil makanan sesuai kebutuhan, Clinton kembali ke kamar mereka dan memberikan makanan itu pada Clara.
"Ini, dimakan ya," Clinton menyendokkan nasi goreng lengkap dengan telur.
Tapi, baru saja makanan itu mencapai mulut Clara, wanita itu langsung merasakan mual yang luar biasa dahsyat. Kemudian, Clara cepat cepat beringsut menuju kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya. Di bantu oleh Clinton, pria itu mengambil tissue, membersihkan bibir Clara. Kemudian kembali memapah Clara untuk duduk di sofa kamar. Tubuh Clara sudah seperti agar agar, lemas tidak berdaya. Setelah itu, Clinton memberikan Clara teh manis hangat, agar wanita itu sedikit mendapat energi dan Clara kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Jangan, Mas. Aku gak enak sama Meriam masih pagi gini ngerepotin dia takutnya ganggu Hans juga!'' cegah Clara.
"Biarin aja. Dia mah senang digangguin! Aku tinggal dulu ke kamar Hans ya, Sayang." imbuh Clinton yang pamit keluar untuk memanggil Hans. Clara hanya bisa menganggukkan kepalanya karena dia memang sudah lemas dan tidak bertenaga, apalagi kepalanya sangat pusing.
Clinton sedikit berlari keluar kamar dan panik
Menuju kamar Hans, di lorong resort Clinton bertemu Nicho yang baru saja keluar kamar. Nicho sedikit bingung melihat Clinton berlarian ke arah kamar Hans dan terlihat panik.
"Woy, kamu kenapa? Masih pagi udah lari lari? Ke kamar Hans lagi?" tegur Nicho sedikit berteriak.
__ADS_1
"Ada bahaya, Bro!" jawab Clinton sekenanya, mengabaikan Nicho dan fokus kepada Hans. Nicho hanya bisa kebingungan mendengar jawaban Clinton. Nicho pun memutuskan untuk ikut menghampiri Clinton ke kamar Hans karena penasaran bahaya apa yang dimaksud.
Tok.... Tok.... Tokkk....
"Hans....!!! Meriam.....!! Bangun, gawat ini gawat!!!" teriak Clinton rusuh.
Hans yang sedang menikmati olahraga ranjang di pagi hari atau dikenal dengan morning ****, terpaksa menghentikan kegiatannya dan mengeram kesal.
"Clinton kampret....!!!!'' teriak Hans kesal.
********
Pagi pagi sekali Clinton menggedor gedor kamar Hans, dia berniat meminta tolong kepada Meriam untuk memeriksa kondisi sang istri. Clinton tidak memikirkan hal apapun kecuali Clara yang membuatnya panik dengan keadaan dia yang memuntahkan semua isi perutnya. Clinton terus gelisah, Hans tak kunjung membukakan pintu. Nicho yang sudah penasaran dengan tingkah Clinton mulai menyenggol lengan Clinton.
"Kamu kenapa sih, Bro?" Nicho tak sabar lagi melihat Clinton yang sudah berlari sedari tadi meneriaki kamar Hans.
"Enggak tahu, Cho. Clara tiba tiba kurang sehat, Aku mau minta tolong Meriam mengecek kondisinya. Tapi, nih dasar pengantin baru sengaja gak bukain pintu. Kesal aku! " gerutu Clinton.
"Lagian kamu minta tolong gak tau waktu sih!'' bukan membela Clinton, Nicho sengaja menyalahkan sahabatnya itu. Dia yang pengantin kemarin sore aja paham dengan kesibukan pengantin baru yang masih semangat semangatnya, masa Clinton yang masih terbilang pengantin sedikit baru malah enggak ngerti!
Di dalam kamar, Hans dan Meriam masih melakukan olahraga panas mereka dengan mengabaikan suara Clinton yang memanggilnya di depan pintu kamar karena Hans merasa masih sangat tanggung dan tidak mau menyudahinya dengan begitu saja akibat ulah sahabat kampretnya itu. Dia terus melakukan adegan panas itu dengan penuh gairah walau Meriam sudah ingin menyudahi ya karena merasa tidak enak sama Clinton yang sudah menunggu dan memanggilnya sedari tadi. Dengan terpaksa dan gairah yang masih berada di ujung ubun ubun, akhirnya Hans dan Meriam menyudahi pergulatan manis mereka dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi bersama.
"Mas!!''
__ADS_1