Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 190


__ADS_3

Yesline masih menyusuri jalan itu hingga beberapa jam. Hatinya benar benar merindukan Suzan, tapi tidak tahu kenapa. Hatinya belum bisa tenang jika belum bisa menemukannya.


Tak jauh dari tempat mobil Yesline melaju, Yesline melihat banyak orang sedang berkerumun, dia ikut turun dan melihat apa yang terjadi di sana.


Ternyata terjadi sebuah kecelakaan. Dan korban terluka parah. Mata Yesline syok, saat melihat siapa korban tabrak lagi itu. Kakinya lemas dan matanya memburam.


"Oh, Tuhan. Ini tidak mungkin."


Yesline ikut berlarian mendorong brankar menuju ruang operasi. Di sampingnya juga ada perawat yang ikut membayar brankar. Pasien tabrak lari itu masih pingsan. Yesline sedari tadi tidak bisa menyembunyikan isak tangisnya. Dia masih tersedu, sampai Al datang dan memeluknya. Mendekapnya di dalam dada.


"Sayang, cup... cup.... tenang ya? Suzan akan baik baik aja." Al menenangkan, mengelus lembut kepala Yesline.


"Su--suzan kasihan, Mas. Makanya perasaanku hari ini gak enak. Tiba tiba pengen ketemu, tapi gak nyangka ketemunya seperti ini." tangis Yesline semakin menjadi di dada Al.


Pria itu semakin erat mendekap Yesline.


"Mungkin itu pertanda sayang. Tapi sudah ya, jangan nangis. Doakan aja, semoga Suzan baik baik aja." kata Al lagi, berusaha menenangkan Yesline yang masih terisak. Bajunya pun masih basah karena terkena darah dan bau anyir. Mungkin selama di dalam mobil, Yesline mendekap Suzan di dalam pangkuannya.


"Kamu ikut mas keruangan pribadi mas, ya? Kamu ganti baju." Al menggandengnya keruangan pribadinya. Dalam dekapan Al, tubuh Yesline masih berguncang, dia sesenggukan. Jika mengingat Suzan yang banyak mengeluarkan darah dan juga keadaannya yang begitu mengenaskan. Itu kali pertama Yesline melihat begitu banyak darah. Dia memang tidak suka darah.


Sementara itu, di dalam ruangan operasi.


"Pisau bedah." sembari menyodorkan tangannya. Dalam beberapa detik, sudah ada dokter yabg membantunya.


Sang dokter menerima pisau bedah dan mengucapkan bismillah. Tangannya mulai menyayat bagian tubuh yang akan di operasi.


Ada satu dokter yang membantu mengontrol detak jantung juga tekanan darah pasien.


Dengan sedikit kepanikan dokter itu berucap. "Tekanan darahnya turun.''


"Cepat lakukan transfusi." kata seorang dokter dengan mimik wajah tak kalah terkejutnya.


Yesline sudah kembali ke depan ruang operasi. Dia benar benar cemas. Al masih setia menemani disampingnya. Merangkul pundak Yesline dengan penuh kehangatan. Bisa terlihat dengan jelas, dia menyeka beberapa kali matanya yang basah.

__ADS_1


"Selamatkan dia Tuhan."


Sementara di sebuah kafe, seorang wanita berpenampilan glamor sedang duduk dengan gelisah, dia beberapa kali melihat ke arah jam tangannya dan meneguk minumannya dengan gusar.


"Kemana sih, Wanita jalan ****** itu? Sudah empat aku menunggu disini. Awas aja kalau sampai dia membohongiku." gerutunya.


"Aku harus berhasil dengan rencana ini. Tidak akan kubiarkan ini gagal lagi, Aku harus merebut kembali tempat itu lagi." Wanita itu masih duduk dan melempar pandangan ke ruangan pintu kafe, ia berharap wanita yang ditunggunya akan segera datang.


"Aku butuh surat itu secepatnya."


"Kamu disini?" suara seorang laki laki mengagetkannya. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


"Rizky?!" saking terkejutnya dia sampai bangkit dari kursi yang ia duduki.


Sedangkan laki laki itu, dengan santainya duduk di dekat wanita itu.


"Selamat atas pembebasan mu, Mami." katanya. Wanita itu tersenyum sinis.


Rizky menatap wanita itu dengan tatapan remeh, dia berujar. ''Aku tau apa yang kamu pikirkan. Hentikan. Sebelum semuanya akan kembali membuatmu kehilangan banyak hal lagi."


Mami melihat ke arah lain. Dia tidak berniat mendengarkan ceramah Rizky. Memang siapa dia?


"Tidak usah peduli. Kamu bukan siapa siapaku. Sudah sana pergilah, aku sedang menunggu seseorang."


"Baiklah, Aku juga mau pergi." Rizky bangkit dan berdiri membelakangi mami.


"Hei, laki laki jutek, Kamu disini juga?" sebuah suara mengagetkan Rizky. Dia sepertinya mengenali suara itu, dia menoleh dan melihat ke samping.


"Cewek kemarin, teman Meriam. Males aku ketemu dia. Lebih baik aku pergi aja deh."


Tanpa bicara Rizky pergi meninggalkan mami, Nisa mengekor di belakangnya.


"Kamu ditolak sama Meriam, sekarang langsung pindah haluan ngedekatin tante tante." Nisa cekikikan.

__ADS_1


Rizky tak menghiraukannya. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya. Mami tak terlalu memperhatikan Rizky. Dia masih menunggu, padahal dia tidak tahu bagaimana keadaan wanita itu. Wanita yabg ia ancam demi mau melakukan sesuatu agar sahabatnya tetap bahagia. Mami akan melakukan apapun untuk mendapatkan kembali klub itu.


"Rizky!!!!" Nisa berteriak memanggil Rizky dan langsung ikut masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu baru saja selesai makan siang juga.


*******


Di rumah Nicho.


Callista berdiam di kamarnya. Dia terlihat merapikan baju baju yang sudah ia lipat ke dalam lemari. Meski dalam otaknya masih memikirkan masalah yang sedang mengelilinginya kini, dia tetap berusaha menjalani kehidupan senormal mungkin.


Nicho memutuskan hari itu untuk di rumah aja, tidak bekerja. Dia takut jika Callista akan nekat atau setidaknya Nicho ada untuk menemaninya.


Laki laki itu berjalan dari dapur, dia sedari pagi sampai siang dan sore ini, sedang berusaha membuatkan Callista makanan kesukaannya. Istrinya itu sejak pagi masih belum nafsu makan apapun.


"Sayang, makan ya?"


Callista menggeleng.


"Aku tidak lapar, Nicho."


"Sedikit aja. Kamu gak kasihan, aku sudah capek capek bikin ini buat kamu?" rengek Nicho. Dia sudah menyendokkan nasi sama lauk untuk menyuapi Callista dengan tangannya.


Tapi wanita itu belum bergeming.


"Sayang, tiga sendok aja gimana?''


Callista menghembuskan nafas dengan berat. "Baiklah."


Callista menerima beberapa suapan Nicho, matanya menatap Nicho dengan kagum. Callista tahu, suaminya itu selalu bisa sabar menghadapi emosinya yang naik turun.


"Terima kasih." Callista memaksa bibirnya untuk senyum. Itu bukan salah Nicho, jadi seharusnya Callista tidak mendiamkannya.


"Kamu sabarlah, Aku akan menemukan cara agar mami tidak menganggu kita lagi." Nicho kembali meyakinkannya. Dia akan melakukan apapun untuk keluarganya. Meski dia belum tahu, apa yang akan dia lakukan. Dia sudah mencoba memberikan tawaran uang, tapi wanita itu tidak mau. Dia ingin Callista di penjara dan klub alexiz kembali ketangannya. Nicho harus bagaimana? Dia sudah menceritakan masalahnya kepada Rizky, Berharap Rizky yang mantan penjahat bisa kembali berpikir jahat untuk membuat mami jera, itu saja.

__ADS_1


__ADS_2