
"Maksud kamu apa, Al?!''
"Nih, Yesline ngidam pengen ke Jogja lihatin wajah kamu! Kamu jampe jampe dia, ya? sampai ke bawa ke calon anakku. Parah kamu, Hans." Al masih mengomel tapi Hans malah tertawa keras.
Meriam bernafas lega. Dia tahu kalau orang ngidam memang tidak bisa ditebak, meski agak gimana gitu tahu ada istri orang yang ngidam lihatin wajah suaminya yang memang ganteng.
Hans yang menyadari Meriam terdiam, dia buru buru menghentikan tawanya dan mengelus pipi istrinya.
"Gimana, ya? Kamu pasti izinin kan?" balas Hans.
"Gimana gak ngizinin, kamu kayak gak tahu Yesline aja, Aku kan gak bisa kalau dia ngambek. Pokoknya pas Yesline lihatin wajah kamu, kamu harus merem, enggak boleh lihat balik. Kasihan Meriam juga tuh nanti kalau cemburu. Eh, tapi gak usah cemburu ya, Mer. Yesline gak suka dan bakalan gak suka kok sama si tukang caper, eh maksudnya suami kamu," teriak Al dari seberang.
Lagi lagi Yesline mencubit perut Al. Gemes.
"Kalau ngomong di jaga, Mas. Aku malu."
Hans melirik lagi ke arah Meriam berada. Sedang Meriam masih tertawa kecil karena omongan Al barusan. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Meriam bukan tipe yang akan langsung cemburu tanpa alasan dan marah marah. Hans lega mendengarnya.
"Okelah, Al. Bukan aku yang sengaja mau cari kesempatan dekat sama Yesline ya, cuma aku mau bantu kamu aja, biar anak kamu gak ileran. Hati aku sudah 100 persen sold dimiliki Meriam." Hans berkedip genit kepada Meriam, membuat wanita itu tersipu malu.
__ADS_1
"Yeileh, sok baik. Iya deh, aku kesana hari ini."
Al menutup teleponnya.
Hans menatap Meriam. "Maaf ya, kita harus tunda dulu honeymoon nya, Sayang." kata Hans penuh sesal.
Meriam tersenyum dan malah mencium bibir Hans. Mereka saling berpagutan dan menikmati pagi yabg gerimis itu dengan aktivitas panas. Mereka saling menikmati satu sama lain di dalam selimut tebal.
Terima kasih telah memberiku cinta yang indah ini. Aku akan pastikan, memberikan cinta kepadamu yang jauh lebih indah, Mas.
Tetaplah begitu, Manis dan baik.
Di rumah Nicho, Callista sedang sibuk menyiapkan sarapan, Hari ini Chloe harus sekolah karena sudah izin kemarin. Nicho juga ada beberapa pekerjaan yang menumpuk yang harus ia handle. Di rumah mereka, pagi hari sama dengan sibuk. Chloe melangkah mendekati Nicho yang sedang membaca koran di depan televisi, Mendengar suara Chloe, Nicho langsung mengangkat tubuh mungil Putrinya itu ke gendongannya.
Untuk sementara, Nicho dan keluarganya menetap di Indonesia. Karena Rizky yang sudah keluar dari penjara, jadi mereka berbagi tugas. Lagipula Mama dan Papanya Nicho juga meminta Nicho dan Callista di jakarta dengan alasan ingin lebih dekat dengan cucu mereka.
"Anak Papa yang cantik, manis, gemesin, sini cium papa," kata Nicho sambil mendekatkan pipinya ke bibir mungil Chloe itu. Chloe tersenyum. Tiba tiba datang Bik Darmi tukang bersih bersih yang membantu Callista membersihkan rumah. Untuk bersih bersih dan nyuci serta nyetrika memang Callista mengambil ART, tapi untuk urusan masak dan menjaga anaknya ia lakukan sendiri.
Bik Darmi mendekati Nicho menyerahkan sebuah bingkisan juga beberapa surat. Kata Bik Darmi ada yang mengirimkan paket itu kemarin ketika Nicho dan Keluarga di Jogja.
__ADS_1
"Kenapa Pam Pai gak ngantar kesini sendiri, Bik?'' tanya Nicho.
"Lupa katanya, Pak. Tadi saya ketemu dibawah sekalian dititipin." Bik Darmi mengatakan apa yang Pak Pai katakan padanya. Paket sudah menumpuk di pos satpam rumah.
"Baiklah, Bik. Taruh di meja kerja saya, ya. Nanti saya baca. Kalau disini nanti takutnya dipakai mainan sama Chloe." ucap Nicho.
"Baik, Pak."
Bik Darmi berjalan ke arah ruangan kerja Nicho, Callista yang mendekati Nicho untuk memberi tahunya bahwa makanan sudah siap dan melihat Bik Darmi ke tempat kerja Nicho sambil membawa sebuah paket, membuat Callista penasaran.
Tapi, sebelum ia bertanya, Chloe lebih dulu memberi tahunya bahwa dia mau pup. Callista tersenyum dan membawanya ke kamar mandi.
"Kamu sarapan dulu, Mas. Sarapan sudah siap. Aku mau nemanin Chloe dulu." kata Callista sambil berlalu.
"Iya, Sayang." jawab Nicho sembari bangkit dari duduknya dan menuju meja makan.
Sambil menemani Chloe, Callista masih kepikiran tentang paket yang dibicarakan Bik Darmi, ya Callista sempat mendengarnya.
Pikirannya melayang, mengingat ancaman beberapa hari lalu dari Mami.
__ADS_1
Semoga bukan dia yang ulah lagi, Aku capek Tuhan.