
"Mas Clinton, tadi saat aku sama Leni sedang mengobrol dengan Ibunya Meriam. Kata Ibunya salah satu tujuan menikah bukan hanya ibadah, melainkan juga mendapatkan keturunan. Bagaimana menurutmu?'' tanya Clara disaat mereka sedang berbaring di ranjang sebelum tidur.
Clara dan Clinton memang sering pillow talk menceritakan hal hal yang mereka alami hari itu, karena bagi mereka hal itu bisa membuat rasa kepercayaan mereka semakin kuat. Clinton yang sedang menatap langit langit kamar, menoleh dan merubah posisinya menghadap wajah Clara.
"Hm, apa yang dikatakan ibunya Hans itu benar. Kalau boleh aku jujur, entah kenapa setiap melihat Azka dan Chloe, aku jadi membayangkan wajah anak anakku kelak. Apakah ganteng sepertiku atau cantik sepertimu. Tetapi, itu hanya sebatas membayangkan saja karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan kepadamu, akan menuruti keinginanmu menunda memiliki anak,'' jawab Clinton sambil tersenyum dan sebelah tangannya menarik dagu Clara lalu Clinton mengecup bibir Clara.
Clara tersenyum, namun di hatinya ada sedikit perasaan sedih karena ia jadi terlihat egois. Clinton lebih memilih memendam keinginannya demi dirinya.
"Mas, apa aku harus hamil dan memiliki anak seperti Leni dan Yesline? Dengan seketika Clinton membeliakkan kedua bola matanya saat mendengar ucapan Clara.
*******
"Mas, udah dong. Kamu tuh ya gak tahu tempat bangat sih?!'' keluh Leni saat Gabriel mulai meciumi lehernya.
"Ya ampun sayangku, cintaku, ini kan di kamar kalau aku gak tahu tempat aku cium kamu di luar tadi pas kamu lagi ngobrol sama Ibunya Hans.'' elak gabriel.
"Halah, Kamu.... Ngeles aja Mas kayak bajai. Udah deh kesana sedikit, sempit tau!'' tolak Leni berusaha mendorong tubuh Gabriel yang cukup besar dan gagah itu.
Gabriel menekukkan wajahnya hingga menampakkan wajah tampannya terlihat cemberut.
"Sayang, tadi tuh Mas sempat bicara sama Ayahnya Meriam, katanya sebagai suami itu kita harus bisa membimbing istrinya ke arah yang positif, loh.'' ucap Gabriel sambil menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Leni.
"Hmm, Terus?'' sahut Leni sambil mengusap perutnya.
"Terus, aku kan Dokter Kandungan. Aku itu tahu berhubungan suami - istri saat kehamilan kamu ini tuh hal yang positih. Jadi aku tuh, cuma----'' ucapan Gabriel seketika terhenti, karena segera dipotong oleh Leni.
"Cuma mau ngarahin aku ke hal positif, dengan isi otak kamu yanng negatif. Iya, begitu kan maksud kamu, Mas?'' sela Leni sambil menatap horor ke arah wajah Gabriel yang sudah sedikit memucat jika Leni sudah dalam mode marah.
"Ekhem--hm. e--enggak git juga konsepnya, sayang. Maksud aku tuh---'' lagi lagi ucapan gabriel terhenti karena disela oleh Leni.
__ADS_1
"Gak usah maksud - maksud, Mas. Aku ngantuk, besok pagi kita harus balik ke Jakarta. Dan satu lagi, kayaknya anak kita malam ini lagi gak pengen tidur sama Papanya, deh. Kamu sayang sama anak kamu kan, Mas. Jadi bi---,'' kali ini ucapan Leni yang terhenti karena mulutnya ditutup oleh telunjuk Gabriel.
"Gak usah diperjelas, aku udah paham dan aku akan tidur di sofa itu.'' sambung Gabriel masih menekuk wajahnya dan berjalan ke arah sofa yang di sebelah ranjang.
Leni hanya tersenyum manis, malihat tingkah suaminya yang sedag mode ngambek. Entah kenapa Leni sangat senang jika melihat wajah suaminya itu jika sedang marah.
**************
"Halo, iya Mam. Besok Nisa pulang, lagi pula juga Nisa udah ijin sama yang punya rumah sakitnya langsung.'' ucap Nisa dengan ponselnya.
Mamanya Nisa, menghubunginya karena Nisa yang mendadak mengirim pesan tidak bisa pulang karena sedang berada di Jogja menghadiri pernikahan Meriam.
"Ya sudah, titip salam buat Meriam dari Mama ya, Nis. Kamu juga infonya baru sekarang, coba kalau kamu info ke Mama tadi pagi, Pasti Mama udah terbang ke Jogja buat hadirin pernikahan Meriam.'' sahur Mamanya Nisa dari ponselnya.
"Iya, Mam. Besok Nisa sampein salam Mama. yaudah, Nisa tutup dulu teleponnya ya. Assalamualaikum.'' ucap Nisa kemudian memutuskan panggilannya.
"Kalau jodoh gak kemana!'' ucap Nisa bersemangat sambil melangkahkan kakinya dengan cepat agar segera bisa menyusul laki laki tersebut.
"Malam, calon imamku. Mau ke Mesjid ya?'' sapa Nisa kepada Rizky.
Rizky berhenti, lalu menatap Nisa dari atas sampai bawah.
Nisa mengerutkan dahinya, bingung dengan maksud dari Rizky. Saat ini memang yang dikenakan Nisa hanya memakai celana pendek di atas lutut.
"Kamu gak sadar, sekarang lagi dilingkungan pesantren? Kamu pintar, tapi etika kamu kurang! Harusnya kamu bisa, memposisikan diri kamu bagaimana cara kamu berpakaian kalau keluar di dalam pesantren!! Inu bukan Jakarta, yang aurat bebas diperlihatkan!!'' ucap Rizky dengan gaya sinisnya.
Glek!
"Kalau gitu, bimbing aku!!'' seru Nisa bersemangat sambil menatap ke dalam mata Rizky.
__ADS_1
"Hah!!'' Rizky sedikit bingung dan menatap aneh Nisa.
"Iya, kalau dimata kamu, Aku itu kurang bisa memposisikan diri pada tempat. Bimbing aku buat bisa lebih baik, dengan cara kita menikah!!'' jawab Nisa tersenyum memamerkan giginya.
Rizky hanya bisa terdiam dan sedikit terkejut dengan ucapan sekaligus merupakan tantangan dari Nisa.
**********
"Sayang, udah ya! Nanti Azka bangun nih,'' seru Yesline di sela sela aktivitasnya bersama Al.
"S-sebentar lagi, sayang. Anggap aja juga kita lagi malam pertama kayak Hans.'' jawab Al tersenggal senggal sambil fokus dengan kegiatan olahraga malamnya.
"Ah.... Udah ah Mas, cepetan! Kamu bilang sekali ini udah yang ketiga Mas. Aku sampe malu ini, tadi gak bantuin Ibunya Meriam.'' keluh Yesline.
"Ssstt.... Sa-sayang, kita nikmati dulu aja ya yang ini, fokus dulu pembuatan adik buat Azka. Ini aku udah pake gaya miring nih, biar nanti adiknya Azka cewek, sayang.'' seru Al pada Yesline, namun tubuhnya masih bergerak di sana. Walapun Al melihat Yesline kurang menikmati permainan ini karena takut, jika Azka terbangun karena ulahnya dan Al. Apalagi jika Azka terbangun dan melihat, kegiatan panas orang tuanya.
"Ah.... Ya udah cepet,''
"Iya, sayang. Ini udah di ujung, ah-----'' ******* Al terpaksa terhenti karena terkejut tiba tiba Yesline melepaskan tubuhnya dari penyatuan sang suami.
"Maaf, sayang, Aku gak kuat mau muntah!!''
"Appa?'' pekik Al terkejut, karena disaat sudah diujung tapi tidak tersalurkan pasti akan membuat pusing kepala.
Dengan berbalut selimut, Yesline berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya ke dalam wastafel. Al yang mendengar Yesline muntah muntah segera mengambil pakaiannya yang berserakan dan memakai asal, karena saking khawatirnya dengan keadaan sang istri hingga ia tidak sadar.
Al memijit pelan tengkuk leher Yesline.
"Sayang, mungkin kamu hamil?''
__ADS_1