
" Apa?! Ada yang datang menemui Papa kamu untuk melamar kamu? " pekik seorang dokter yang sedang berada di dalam ruangan Meriam. Hans mendekatkan kupingnya ke pintu. Mendengar itu membuatnya kesal.
" Hush! Jangan kencang kencang. Aku gak mau seluruh rumah sakit tahu. Nanti calon imamku dengar bagaimana? " itu suara Meriam.
" Jadi Papamu belum tahu soal Hans? Soal kamu yang mengajaknya taaruf duluan? " tanya seseorang lagi, kini ritme tangisannya lebih teratur.
Lama tak ada jawaban. Sepertinya Meriam menggelengkan kepalanya, dugaan Hans dari balik pintu.
" Aku belum memberi tahu Papa karena Hans mengabaikan permintaanku untuk mengajak taaruf. Aku tidak mungkin hanya mengandalkan rasa suka saja di depan papa, sedangkan Papaku itu tidak melihat itu untuk calon imamku. Cinta bisa dipupuk setelah menikah. " ucap Meriam getir.
Di balik pintu Hans bingung, Apa yang akan dia lakukan? Hatinya seperti tidak tega melihat Dokter Meriam harus menikah dengan orang lain. Tapi bagaimana caranya memberi tahu Meriam kalau setiap wanita boleh memilih calon suaminya sendiri. Masa dia mau sih dijodohkan?
" Kamu kan pintar dan cerdas, Ngomong dong sama papamu! " geram Hans dalam hatinya.
Hans benar benar tidak rela. Dia berdiri dengan menyenderkan punggungnya di pintu. Tangannya mengusap kasar mukanya. Saat dia sedang berpikir tiba tiba .....
Ceklek!!
Pintu ruangan Dokter Meriam terbuka, lebih tepatnya ada yang membukanya dari dalam. Membuat tubuh Hans terjengkang ke belakang. Reflek Melda menarik tubuhnya dengan cepat agar tidak menabrak tubuh Hans.
" Astaga! Ada pangeran jatuh dari langit! " pekiknya, terkejut.
Dua wanita yang berada di dalam ruangan itu beberapa detik hanya menatap Hans yang jatuh terjengkang, karena Melda yang tiba tiba membuka pintu kemudian mereka cekikikan saat menyadari Hans sedari tadi menguping di depan pintu.
Wajah Hans terlihat konyol, Dia segera bangkit dan berdiri. Meriam masih tertawa terpingkal pingkal. Tangannya menutup mulutnya yang sedang tertawa. Hans menatapnya tajam.
" Apa yang lucu?? " sergahnya kesal. Wajahnya merah padam menahan malu.
" Kamu! Ngapain disitu? Nyasar tadi? Lupa kamar Papa dan Mamamu dimana? Hm? Atau sengaja datang untuk mencari ku? Yang pasti bukan menguping kan tadi? " sindir Meriam sedikit menahan senyumannya. Menggoda laki laki di depannya.
Hans gelagapan. Dia ketangkap basah.
" Bapak lucu deh, Saya permisi dulu ya, Pak. Ada jadwal operasi. " kata Melda yang langsung melipir pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
" Siapa yang nguping? Enak aja! Aku cuma mau bilang Papa akan pulang siang ini. Tapi tiba tiba teman kamu buka pintu gak bilang bilang! " Hans berkelit.
Meriam masih tak percaya dengan tutur kata Hans, dia merasa laki laki itu sedang membohonginya. Tapi dia tetap ramah meladeni laki laki itu.
" Oh, syukurlah. Nanti aku kesana untuk mengucap salam."
Hans merasa semakin aneh dengan wanita yang duduk di kursi kerjanya. Dia nampak sedikit cuek dan tidak seperti beberapa hari yang lalu, apa karena dia akan dijodohkan??
" Aku mau keluar. " kata Hans canggung. Meriam masih fokus menatap layar ponselnya. Tidak memperhatikan Hans. Wanita itu sedang bingung dengan kemauan Papa dan Mamanya. Dia tidak pernah menolak keinginan orang tuanya, tapi??
Hans yang sedang diabaikan langsung mengambil kemoceng yang di gantung di dinding tak jauh dari tempatnya berdiri.
Menyentuhkan ujung kemoceng ke lengan Meriam, agar wanita itu menoleh ke arahnya.
" Eh, iya? Apa?? " Meriam tergagap. Dia menatap Hans.
" Ada apa? " tanyanya lagi.
" Aku mau keluar, Assalamualaikum. " dia masih canggung.
" Dokter aneh. Kemarin sok sok akrab, sekarang tiba tiba cuek. "
" Apa aku terima aja ya, ajakan ta'aruf nya? Kalau kelamaan mikir ntar diambil orang lagi. " Hans berbicara dengan dirinya sendiri.
" Nanti deh, aku telepon. Gabriel pasti punya nomornya. "
Hans masuk ke kamar rawat Papanya.
" Assalamualaikum Pa, Ma. " Menyalami punggung tanga Mereka. Mamanya sedang mengemas beberapa barang mereka.
" Walaikumsalam, Hans. Bagaimana? Sudah bilang doktor Meriam kalau kita mau pulang? " tanya Mamanya antusias.
" Sudah, Ma. katanya mau kesini nanti. "
__ADS_1
Pikiran Hans masih memikirkan Dokter Meriam yang tiba tiba cuek. Beberapa menit kemudian mamanya sudah selesai berkemas. Papanya sudah duduk di tepi brankar. Mereka sudah mau berangkat.
Baru dua detik kemudian, Dokter Meriam datang, dia menyalami mamanya Hans. Sedikit berbasa basi dengan ramah.
" Kapan kapan Dokter main ke rumah ya, Dok? " ajak Mamanya Hans, wanita paruh baya itu sudah ikhlas dan ridho jika dia menjadi menantunya. Meriam mengangguk sembari tersenyum dan melambaikan tangan. Senyum manisnya mengganggu mata Hans. Laki laki itu tak berkedip.
Laki laki itu masih penasaran sampai mereka masuk ke dalam mobil tidak ada yang ia tanyakan atau katakan termasuk niat hatinya mau mencoba menerima ajakan Meriam untuk taaruf.
****
Sementara malam harinya di rumah Al suasananya sangat ramai, Di dekat kolam ada Yesline, Leni, Callista, Clara, Clinton dan Gabriel. Hans datang belakangan. Sementara Nicho bertugas mengajak jalan jalan Azka dan Chloe, sementara yang lainnya menyiapkan pesta kejutan untuk Azka.
Clinton dan Gabriel sedang sibuk memasang dekorasi di setiap sudut. Al dan Yesline menata setiap lilin yang dibentuk sedemikian rupa di tengah tengah kolam, yang lainnya meniup sisa sisa balon dan menggunting beberapa kertas origami.
" Saya minggu depan mau nikah." celetuk Clinton tiba tiba membuat semua yang ada di sana tercengang. Clinton turun dari bangku dan berjalan menghampiri teman temannya.
" Serius, Bro? " tanya Gabriel, yanga mengejar langkah Clinton dan langsung merangkul temannya itu. Yesline langsung menyenggol lengan Clara yanga nampak malu.
" Iya. Saya serius. " Clinton memberi jawaban, sembari matanya melirik ke arah Al yang hanya tersenyum. Karena dia biang dari segala biang.
Di sudut, Hans yang sedang memasang pita balon balon yang sudah ditiup sedikit merubah ekspresinya. Meski dia sudah mengatakan ikhlas menerima hubungan mereka, tetap saja hatinya masih belum sepenuhnya bersikap biasa. Dan raut wajah Hans yang layu itu disadari oleh mereka semua.
" Cie ..... Ada yang belum ikhlas nih. " sindir Gabriel yang mulutnya lebih enteng dari Al.
" Hans wajahnya sudah seperti tomat di rebus. " imbuh Gabriel, membuat semuanya tertawa ngakak.
" Keburu jadi bujang lapuk deh kamu kalau gak buru buru nikah! " sergah Al yang berjalan mendekati Yesline dan merangkulnya. Bermanja manja di pundak istrinya.
Hans hanya menanggapi dengan senyuman kecut di bully seperti itu.
" Mas Hans, ayo kapan nyusul? Sudah ada yang ngajakin taaruf tuh? " Leni menimpali dengan senyum yang tertahan di ujung bibirnya.
" Eh, iya. Udah Hans, sama dokter Meriam aja. Clara udah sama Clinton nih. Nanti kita bisa piknik bareng. Rame! " Yesline ikut mengompori.
__ADS_1
" Kalau kamu nikah sama dokter Meriam, Nanti saya semua yang akan tanggung. Gimana?? "