Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 267


__ADS_3

"Mas!'' jerit Meriam dengan suara yang terhenti di tenggorokan saat tangan Hans jail masih menggerayangi tubuh sang istri. Meriam memutar tubuh untuk mengelak, tapi Hans terlalu cekatan menggerayangi tubuh istrinya dengan begitu jail.


"Mas, sudah ditunggu diluar sama Kak Clinton, siapa tau dia butuh bantuanku. Soalnya tadi aku dengar dia memanggil manggil nama aku. Geli ah, kalo diginiin." Meriam cekikikan menahan setiap sentuhan Hans yang malah membuatnya tertawa geli.


Hans menyerah, keadaan tidak membuatnya bisa leluasa bermain pagi ini.


"Iya, deh. "


Meriam tersenyum gemas melihat suaminya yang cemberut, pipinya mengembang terlihat cubby. Meriam segera memakai handuk yang dililitkan di tubuhnya. Dan bergegas memakai pakaian dan jilbabnya, lalu berlari ke pintu dan membukanya.


Clinton tidak gentar, dia masih menunggu di depan pintu, duduk melipat kedua kakinya. Sedangkan Nicho sudah kembali ke dalam kamarnya sedari tadi.


Pintu terbuka, karena Meriam tidak tahu kalo Clinton duduk bersandar pada pintu, tubuhnya otomatis terjengkang kebelakang saat pintu di buka.


"Ya Allah! Kak Clinton!" pekik Meriam sembari menarik kakinya mundur beberapa langkah jika tidak, kepala Clinton akan menyentuh kedua kakinya.


"Aw!!!''


"Kamu apa apan sih, Mer! Kepalaku sakit nih." Clinton bangkit sambil mengelus kepalanya. Dia datang masih memakai celana pendek selutut dan kaos polos tanpa kerah.


Meriam masih menutupi mulutnya dengan tangannya, dia kaget tapi lama kelamaan malah ngetawain Clinton yang terlihat sedikit konyol setelah insiden itu.


"Maaf ya, Kak Clinton. Meriam gak sengaja kok tadi. Meriam hanya sedang buru buru bukain pintu, eh malah kakaknya ngantuk deh kayaknya sampai tiduran di lantai tadi." balas Meriam merasa sedikit bersalah. Hans yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.


Hans menghampiri istrinya, sengaja pamer kemesraan dengan istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggang Meriam.


"Aku pinjam istri kamu ya, Hans. Bentar aja, oke?" gawar Clinton membuat Hans mengerutkan dahinya.


"Buat apa? Istri aku bukan barang jadi mana boleh di pinjam. Enggak! Enggak ada, apaan seperti itu!'' Hans sudah nyerocos aja tanpa jeda.


Meriam yang berdiri disamping Hans terkekeh melihat suaminya yang enggak mau ditinggal.


Setelah melewati perdebatan dan negosiasi panjang, akhirnya Meriam ikut Clinton ke kamarnya untuk memeriksa keadaan Clara.


Keadaan Clara baik baik saja, dia mungkin benar benar masuk angin. Meriam mengeluarkan obat dari dalam kotak obat yang selalu ia bawa kemana mana.


"Istirahat dulu ya, Clar. Nanti setelah makan obatnya bisa diminum."

__ADS_1


"Iya, Ibu dokter Meriam." Clara meng iyakan. Clinton menarik selimut menutupi sebagian tubuh Clara. Laki laki itu mulai tenang karena Clara hanya kelelahan saja.


Meriam kembali pamit ke kamarnya, dia tadi bahkan belum menyisir rambutnya.


*********


Cuplikan flashback semalam.


Wajah Gabriel hanya memerah padam menahan amarah dan malu. Sementara itu, dia jadi kehabisan kata kata. Dan membiarkan semua orang mengulas kejadian memalukan tadi. Setelah semua orang memesan makanan, termasuk Gabriel yang sudah kehilangan mood, tiba tiba Yesline menyela keheningan.


"Oh ya, kalian besok mau enggak shopping shopping ke pusat perbelanjaan terbesar di korea? Gede bangat tempatnya. Dijamin puas deh," ujar Yesline memprovokasi.


Yang membalas dengan manja duluan tak lain adalah Callista. Bahkan suaranya mendayu dayu seperti orang mendesah.


"Ahh, Mau! Apalagi aku lagi pengen bangat vas dan gucci baru buat hiasan di rumah. Boleh kan, Mas?'' tanya Callista dengan manja.


Tangannya sampai spontan bergelayut manja di lengan Nicho seperti kebanyakan perempuan manja lainnya. Kalo dari sudut pandang orang mesum, perilaku Callista pasti diartikan sebagai permintaan kurang lebih begini, ''Ayo dong, Mas. Izinin aku. Nanti Mas boleh minta jatah sepuasnya deh." itulah sebabnya Nicho tertawa. Sebab, dia sendiri juga sadar bahwa dirinya memang selalu tak puas untuk mesum dengan Callista.


Nicho segera mencubit pipi Callista dengan gemas. "Boleh, Sayang. Tapi jangan lupa jatahnya ya," balas Nicho genit.


"Ya, kamu juga boleh pergi, Sayang. Masa kalah sama cowok kampret modal dengkul gitu?'' ejek Al gak terima.


"Ye! Terima kasih, Sayang." teriak Yesline kegirangan. "Kak Leni, Clara sama Meriam mau kan?'' tawar Yesline.


Karena Clinton mengangguk, Clara otomatis setuju. Sementara itu, Meriam yang pada dasarnya pendiam dan tidak neko neko itu hanya tersenyum tanpa inisiatif meminta kepada Hans atau sejenisnya. Untung saja, Hans pria yang peka dan peduli terhadap keinginan Meriam.


"Kamu mau ikut kan, Sayang? Kalo mau, ikut aja. Sekali sekali belanja apa yang kamu suka gitu. Nanti aku temani, oke?'' tawar Hans.


Meriam tersenyum manis seraya menjawab, "Baik, Mas. Terima kasih."


"Iya. Sama sama, Sayang." balad Hans seraya merangkul Meriam sekaligus mengusap kepala Meriam dengan lembut.


Duh, semua orang tentu iri. Yang bapak bapak iri melihat Hans punya istri sebaik dan sehebat itu, sementara emak emak juga tak kalah iri melihat perhatian dan kasih sayang Hans sebesar itu. Kalo mereka mah, harus dipancing dulu baru dikasih!


Kali ini, Clara yang memecah keheningan, menyadari sosok Gabriel dan Leni sama sama terpaku seakan ragu untuk berkomentar. Ternyata, perputaran satu Gabriel dengan memakai bikini itu benar benar membuat mood Gabriel hancur sehingga menyebabkan Leni ikut tak enak sendiri.


"Kalo kak Leni gimana?''

__ADS_1


Leni nampak berpikir sebentar. Perempuan itu sungguh pengertian bahwa suaminya butuh waktu untuk menenangkan rasa malu.


"Em, lihat nanti deh, Clar. Kalo jadi, aku kabarin."


Al tersenyum riang. "Oke. Selain itu, biar gak pada bosan, besok kita mampir ke pemandian iar hangat deh. Lumayan buat rileksasi juga. Lagian tujuan kita ke korea kan buat habisin duit yang kebanyakan. Hahaha!'' ujar Al sombong.


Meski begitu, tentu saja para kampret yang saling tidak mau mengalah satu sama lain, tentu saja memutuskan untuk setuju. Lagian orang kaya mah bebas mau ngapain aja, Iya kan?


*******


Jarak beberapa saat kemudian, Clara lemas, merasa perutnya mual, dia langsung berlari ke kamar, seakan memuntahkan semua isi perutnya sehingga Clinton yang tidak tau harus berbuat apa hanya bisa membantu memegangi rambut Clara. Clinton khawatir sekali karena ini kali pertama dia melihat Clara seperti itu.


"Astaga, Sayang. Kamu kecapean pasti ya, kamu harus istirahat, Sayang." ujar Clinton terus menerus panik melihat Clara yang terus menerus mengeluarkan cairan putih tanpa henti.


Clara tidak sanggup menjawab, melainkan membiarkan tubuhnya terkulai lemas setelah puas memuntahkan semua isi perutnya. Sementara Clinton, dengan sigap segera meraih tubuh Clara lalu menggendongnya menuju ranjang. Clara terkulai tanpa daya seperti habis bercinta lima ronde. Padahal semalam saja, Clara tidak selemas ini.


Clinton buru buru mengambil minyak telon yang disediakan pihak resort. Karena tidak tahu titik mana saja yang harus diolesi, Clinton hanya mencoba mengolesi bagian leher, pelipis dan perut Clara demi memastikan istrinya itu sedikit hangat.


"Sayang, kamu disini dulu ya. Biar Mas buatkan sup hangat." ujar lelaki itu lembut.


Setelah demi kesabaran penuh memasakkan sup untuk Clara, Clinton segera kembali dengan membawa semangkok sup hangat dan ditemani oleh sepiring nasi. Clara terlihat sangat terharu akan perhatian suaminya sehingga hanya bisa tersenyum lemah. Memang, Clinton sendiri saja sampai takut karena Clara yang ceria sekaligus mandiri, pada waktu bersamaan itu ternyata bisa jatuh sakit.


Padahal, Clinton tentu saja tidak akan sanggup melihat istrinya kenapa napa, sehingga Clinton dengan telaten menyuapi istrinya sekalipun Clara besikukuh bisa makan sendiri.


"Sayang, sepertinya sekarang kondisimu kurang fit. Nanti siang, kamu tidak usah ikut untuk kegiatan para istri yang mau belanja ya, Sayang. Mas juga tidak akan ikut ke pemandian air hangat biar bisa menemani kamu. Maafkan Mas sudah mengecewakan kamu kali ini. Tapi Mas janji, sekalipun bukan disini, Mas akan ajak kamu jalan jalan dan belanja sepuasnya lain kali. Oke?" pinta Clinton lembut.


Dia sungguh yakut istrinya yang semalam sangat gembira karena diijinkan ikut berbelanja itu menjadi sedih. Untungnya, walaupun masih ada tatapan kesedihan, Clara tetap tersenyum dengan maklum. Bahkan tersenyum haru merasakan ketulusan suaminya yang sedemikian rupa.


"Iya, Mas. Tidak apa apa. Terima kasih sudah mau menemaniku. Aku sayang, Mas." ucap perempuan itu tulus.


Clinton yang merasa dicintai itu tak ayal ikut merasakan kegembiraan yang sama. Dia pun langsung merangkul sang istri seraya mencium keningnya dengan lembut.


"Sama sama, Sayang. Mas juga sayang bangat sama kamu. Mas kabari Al dulu ya."


Lelaki itu kemudian mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Lelaki itu mencari nomor Al dan menelpon hingga panggilan itu terhubung.


"Woy, Clinton? Ada apa?!''

__ADS_1


__ADS_2