
" Kamu harus memikirkannya dengan cepat, Nak. Jangan sampai Dokter Meriam menikah dengan orang lain baru kamu menyesal. Ingat, menyesal itu datangnya diakhir!! Apalagi menikah itu ibadah, jadi jangan menunda nunda jika menyangkut ibadah. " nasihat papanya kepada Hans, yang dinilai terlalu lambat dalam hal percintaan.
" Hm .... Iya, Pa. "
*****
" Al, mana sih?! " tanya Clinton penasaran. Sore itu mereka berencana kumpul bertiga saja. Clinton, Gabriel dan Al. Hans tidak ikut karena masih di jogja.
" Mungkin masih sibuk sama si Yes. " Gabriel menimpali.
Al berjalan sangat pelan dari arah lobi.
" Kamu lama bangat sih, Al! " teriak Clinton mulai kesal. Hari pernikahannya tinggal menghitung hari, tapi malah membuatnya uring uringan terus sama Al.
Pasalnya dulu waktu Al mau menikahi Yesline, Clinton lah yang paling sibuk untuk menyiapkan semuanya. Tapi kini Al seolah olah tidak peduli. Walau memang Clinton sudah menyewa jasa WO handal, tetap saja ia ingin melihat kepedulian sahabatnya tersebut.
" Bawel bangat sih, kamu. Gak sabaran, gak tau apa jakarta macet? Ditambah lagi kamu ngajak ketemuannya sama dia, jadi tambah malas aku. " kilah Al, sambil menarik kursi dan duduk disebelah Clinton.
" Saya sebenarnya juga males bangat ketemu sama kamu. Tapi karena saya peduli dengan Clinton, makanya saya bela belain kesini. " timpal Gabriel.
" Sok benar ..... Sok peduli.... Sok paling baik. kalau saya misal baik ya baik, gam usah koar koar! "
Brak!
Brak!
" Udah, nanti aku teleponin istri kalian berdua baru tau rasa, amukannya bagaimana? Lebih menakutkan dari singa, kan!! " ancamnya dengan nada bercanda.
" Kamu belum tahu aja, bagaimana rasanya ingin keluar ngumpul bareng teman, tapi tiba tiba anak kamu merengek minta temani bermain. Kamu belum tahu bagaimana rasanya, ketika tiap malam kamu bisa olahraga. " Al tertawa lebar, menampakkan giginya yang putih.
__ADS_1
Clinton tersenyum kecut, dia lemas.
" Sabar bro, ngadepin sahabat kamu yang satu itu. Semoga kamu gak cepat tambah tua. " Gabriel mengompori.
Clinton meneguk minuman dinginnya hingga habis dalam satu kali tegukan.
*******
Di sebuah rumah sakit.
Meriam sedang berada di dalam ruangannya, dia melepas seragam scrubnya. Beberapa menit yang lalu dia baru saja selesai melakukan tindakan operasi. Kini tubuhnya merasa lelah, dia menyenderkan punggungnya ke kursi kerjanya. Sembari membuka ponselnya, ada beberapa pesan yang masuk.
Mata Meriam membulat syok saat tahu siapa yang mengirim pesan.
Meriam senyum senyum sendiri menahan gemuruh di dalam hatinya. Tangannya tiba tiba gugup dan otaknya bingung harus mengetikkan balasan apa.
Tulis Meriam.
Dari seberang sana Hans langsung membalasnya.
" Niatnya mau lama, tapi gak ada yang bikin betah disini. Jadi nanti aku mau langsung pulang. "
Meriam kembali senyum senyum sendiri. Dia tersipu.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
Meriam menoleh ke sumber suara saat ada Suster yang memanggil.
" Iya, Sus. Ada apa? " tanya Meriam yang berjalan keluar melewati pintu.
" Ini Dok, Laki Laki ini tangannya berdarah karena terkena goresan kaca. Lukanya cukup panjang dan dalam. " ucap Suster tersebut.
" Kenapa gak dibawa ke IGD? " tanya Meriam.
" Dia bilang, mau langsung ditangani sama Dokter. " jawab Suster itu.
Meriam menghela nafasnya. " Ikuti saya keruang tindakan! "
" Rizky. " suara pemuda itu menghentikan langkahnya.
" Hah? Apa? " Meriam sedikit bingung.
" Iya. Panggil Aku Rizky. " setelah mengatakan itu, Meriam kembali maju melangkahkan kakinya menuju ruang tindakan. Namun sedetik kemudian Meriam berhenti mendadak dan tidak sengaja menabrak punggung Rizky.
" Aduh! " keluh Rizky, yang sebenarnya tidak benar benar merasakan sakit di bagian tubuhnya manapun.
" Maaf. " sahut Meriam. Dia membalikkan badan dan memundurkan langkahnya beberapa langkah ketika Rizky tidak sengaja menabrak punggungnya karena ia tadi tiba tiba berhenti.
" Aku hanya mau bilang, apa sebelumnya kita pernah bertemu? Sepertinya wajahmu tidak asing? " tanya Meriam sambil otaknya mengingat ingat lagi kapan ia bertemu dengan Rizky.
Laki laki itu tersenyum simpul. Matanya menatap Meriam yang tidak sepenuhnya menatap wajahnya. Meriam selalu menghindari tatapannya. Mungkin wanita berjilbab seperti dia merasa risih untuk saling bersitatap dengan pria lain.
Semakin membuat Rizky penasaran. Membuatnya tertantang untuk mendekatinya.
" Ah! sayang sekali. Dokter melupakan awal pertemuan kita. " Rizky memasang wajah kecewa.
__ADS_1