
Sepuluh menit yang lalu, Hans tiba di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Hans segera memesan taksi menuju pondok pesantren milik Papanya Meriam. Hanya butuh waktu sekitar empat puluh menit, Hans tiba di depan gerbang pondok pesantren itu. Pagi itu pondok terlihat sepi, hanya beberapa santri yang lalu lalang di halaman pondok.
Ayo Hans, kamu pasti bisa!! Masa selamanya, di bully bujang lapuk terus sama geng kampret!!
Hand menyemangati dirinya sendiri dari dalam hati.
Hans pun dengan mantap, berjalan ke arah rumah Meriam yang persis berada di samping pandopo yang biasa digunakan para santri untuk acara.
"Assalamualaikum," salam Hans.
"Walaikumsalam, kamu...??'' jawab seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, dengan memakai gamis dan jilbab syari.
"Saya Hans, Ibu. Temannya dokter Meriam, dari Jakarta." Hans memperkenalkan dirinya kepada Mamanya Meriam.
Iya, Hans mengenal wajah Ibunya Meriam karena waktu itu ia pernah menemani mama dan papanya kesini. Hanya saja, Hans tidak turun dan hanya berdiam diri di mobil. Jadi, ibunya Meriam tidak mengenali Hans.
"Oh.... Temannya Meriam. Mari masuk, Nak. Tunggu di dalam ya, biar ibu panggilin Meriam sebentar." jawab ibunya Meriam dengan lembut.
"Iya ibu, terima kasih." jawab Hans. Hans pun masuk ke dalam dan menunggu di ruang tamu.
"Ibunya lembut, Anaknya barbar. Tapi saya suka sih..... hehehe." gumam Hans dalam hati sambil memandangi punggung ibunya Meriam yang akan segera menghilang dari balik tembok.
Sambil menunggu Meriam, kedua netra Hans mengelilingi desain ruang tamu rumah Meriam yang terlihat estetik menurut Hans. Kedua netranya tertuju pada sebuah foto keluarga yang terpajang di dinding tersebut. Foto dimana saat Meriam wisuda, di sana terlihat Meriam sangat cantik dengan senyum yang menawan hingga membuat Hans terpesona dan tidak sadar, jika ada sepasang mata yang tengah memperhatikan Hans sedang menatap foto tersebut.
"Ekhem... daripada pandingin fotonya, mending langsung aja dihalalin orangnya." ledek Meriam saat melihat Hans menatap foto dirinya saat wisuda tanpa mengedipkan matanya sama sekali.
Hans terkejut dan menoleh ke arah sumber suara tersebut. "Kamu? sejak kapan disitu?" tanya Hans sedikit malu karena kepergok sedang menatap foto Meriam.
__ADS_1
"Hm, sekitar lima belas menitan deh kayaknya. Pokoknya dari kamu mandangin foto aku aja." jawab Meriam.
"Aku hanya terpesona aja, di foto itu kamu terlihat cantik." ujar Hans malu malu kucing.
"Lebih cantik mana, foto atau aslinya?" tanya Meriam tersenyum lalu duduk di sofa persis di depan Hans.
"Hm, kalau aku bilang lebih cantik aslinya, apa kamu bahagia?" Hans bertanya balik kepada Meriam.
"Ck! Kamu bertanya yang sudah sangat jelas jawabannya. Tentu saja, aku sangat bahagia dibilang cantik oleh pria yang selalu kusebut namanya di sepertiga malamku." jawab Meriam.
Deg! Jawaban Meriam membuat hati Hans merasa sangat senang, setidaknya kali ini cintanya tidak akan bertepuk sebelah tangan lagi.
"Kamu terlalu jujur, tapi aku rasa doa doamu akan segera terjawab. Karena sesuai permintaanmu, kedatanganku kemari ingin menemui Ayahmu. Aku ingin memintamu secara baik baik kepada Ayahmu." ucap Hans.
"Apa?! Kamu gak lagi nge prank aku, kan?" Meriam sedikit tidak percaya.
Meriam terkekeh mendengar jawaban Hans, Ia baru tahu ternyata Hans juga memiliki sifat balak blakan. Karena selama ini yang Meriam lihat adalah Hans yang cool dan sedikit berbicara.
"Assalamualaikum," suara seseorang mengucapkan salam dan masuk kedalam ruang tamu tersebut.
"Walaikumsalam, Ayah." jawab Meriam sembari menghampiri ayahnya yang baru saja datang dan mencium punggung tangan ayahnya.
Hans langsung berdiri dari duduknya seketika mengetahui yang datang adalah ayahnya Meriam, Hans juga turut mencium punggung tangan ayahnya Meriam. Walau ayahnya hanya sedikit bingung dengan siapa Hans.
"Loh, ada tamu, Mer. Ini siapa?" tanya ayahnya Meriam.
"Iya, Yah. Ini Hans." jawab Meriam.
__ADS_1
"Perkenalkan, Yah. Saya Hans. Saya temannya Meriam dari jakarta dan kedatangan saya kesini ingin bertemu ayah." ucap Hans memperkenalkan dirinya sekaligus mengatakan tujuannya.
"Ketemu ayah? Wah.... Sepertinya ada hal penting ini, sampai kamu jauh jauh dari jakarta hanya ingin menemui ayah. Kalau gitu, ayo duduk kembali, Nak Hans." sahut ayahnya Meriam dan mempersilahkan Hans untuk duduk kembali.
"Ekhem-hm, Jadi begini, Yah. Sebelumnya kedatangan saya kesini ingin memberikan jawaban atas CV yang diberikan Meriam beberapa waktu lalu." ucap Hans dengan penuh keyakinan.
"Tunggu - tunggu, Meriam. Apa kamu mengirimkan CV untuk taaruf kepada Nak Hans?" tanya ayahnya Meriam.
"I-iya, Yah. Maaf Meriam belum bilang sama ayah.Tapi waktu itu, Meriam sudah sholat istikharah sampe tiga kali, Yah sebelum mengirimkan CV itu." jawab Meriam sedikit agak takut, namun dengan penuh pembelaan.
Ayahnya Meriam menghela nafasnya, "Hm, ya sudah. Nak Hans, sebelum Nak Hans memberikan jawabannya, ada yang saya ingin sampaikan. Sebenarnya Meriam ini sudah ada yang mengkhitbah, namun ternyata dia malah mengirimkan CV taaruf kepada Nak Hans, berarti ini sama saja Meriam sudah memberikan jawabannya untuk laki laki tersebut. Sekarang, apa jawaban Nak Hans?" jelas ayahnya dengan bijaksana.
"Jawaban saya adalah menerima CV Meriam, dan mau menjalankan taaruf dengan Meriam. Dan minggu depan, Insyaallah saya akan datang kesini lagi dengan membawa kedua orang tua saya." jawab Hans dengan sopan.
Meriam terkejut, Ia masih tidak percaya dengan jawaban Hans. Ternyata doa doanya selama ini terjawab sudah. Meriam sangat bahagia, penantiannya selama lima tahun tidak sia sia.
"Alhamdulillah, jika kamu menerima anak ayah. Dan ayah akan menunggu kedatangan keluargamu kesini. Biar bagaimanapun menikah adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh ditunda."
"Lalu kamu, Meriam. Apa kamu sudah siap di khitbah oleh Hans?" lanjut ayahnya Meriam bertanya kepada putrinya.
"Hah?! S-siap dong, Yah." Meriam sedikit terkejut dengan pertanyaan ayahnya. Meriam masih mengira ini adalah mimpi.
"Bagus, tapi kamu harus ingat Meriam, kamu masih harus memberikan jawaban juga kepada Wisnu. Agar lebih jelas dan tidak terjadi kesalahpahaman, mengerti." ucap ayahnya kembali.
"Iya, Yah. Meriam mengerti." jawab Meriam sambil melirik ke arah Hans yang sedang melirik Meriam juga, sehingga tatapan mereka saling bertemu.
"Ekhem--hm .... Kalau mau tatap tatapan yang lama, buru buru di sah kan." sindir ayahnya Meriam yang memergoki Hans dan Meriam saling memberikan tatapan menggoda.
__ADS_1