
Sepasang kekasih yang sedang melepas rindu dan bercerita cerita membahas masa depan. Lirih suar Mereka terdengar merdu menghiasi setiap sudut ruangan. Mereka terus bercengkerama dan mengabaikan setiap mata yang melirik Mereka.
Mareka menikmati makanan yang ada di atas meja. Mereka terkadang tertawa dan saling menatap dan menggenggam tangan hingga Pelanggan lain sangat iri melihatnya.
" Nanti Kita pergi menemui Orang tuaku. " kata Al dengan masih menggenggam erat tangan Yesline.
Yesline hampir kaget dan tersendak makanan karena ajakannya yang mendadak. Matanya sedikit sayu apakah waktunya sudah pas untuk bertemu Orang Tua Al.
" Tapi Mas .... "
" Tenang saja, Orang tuaku pasti akan menyambutmu dengan baik. " jawab Al langsung memotong perkataan Yesline dan langsung menyakinkannya.
Tidak peduli sebanyak apa yang terucap dari mulutnya, Karena Hati tidak akan pernah langsung bisa memahami. Bahkan secara logikanya pun menyakinkan bahwa tidak semuanya akan berakhir seperti apa yang diharapkan Manusia. Entah kenapa hatinya begitu tidak tenang, Antara senang atau tidak.
Yesline mengangguk pelan mengikuti perkataan Al walau sedikit masih kurang yakin dan masih ada keraguan yang terselubuk di hatinya.
" Sayang .... Keluargaku adalah Keluargamu juga. Aku ingin saat Anak Kita lahir nanti disambut bahagia oleh Kakek Neneknya. Aku ingin keluarga Kita menjadi keluarga yang paling bahagia, Begitu juga Anak Kita. " kata Al sambil memeluk erat Yesline untuk menenangkan kekhawatirannya.
Melihat Yesline yang sudag agak tenang dan siap, Al langsung mengajak ikut bersamanya bertemu dengan Keluarganya.
Rasa takut serta khawatir masih saja menghantui perasaan Yesline di sepanjang perjalanan.
Yesline berusaha tegar, Semua Dia lakukan demi Al dan Anaknya.
" Nanti Aku panggil apa kedua Orang Tuamu , Mas ??? " tanya Yesline gugup.
" Panggil Papa Mama saja Sayang ... " jawab Al singkat.
" Emang gak apa apa Mas ??? " tanya Yesline masih ragu.
" Gak lah. Mereka sudah tau semua Sayang. " jawab Al menyakinkan dan mengelus tangan Yesline.
Saat tiba dirumah Orang Tua Al, Wajah Yesline sedikit pucat. Jantungnya berdebar kencang dan sedikit gemetaran untuk melangkahkan kakinya. Al tertawa kecil melihat Yesline ketika ekspresi gugupnya dianggap lucu oleh Al.
Baru saja melangkah memasuki rumah, Dia telah disambut kedua Orang Tua Al dengan tatapan tajam dan terus memperhatikan Yesline.
" Selamat siang Ma .... "
Dengan menahan semua perasaanya saat ini, Dia menyapa, menyalam dan mencium tangan Mama Al.
Tanpa Dia duga, Mama Al menyambutnya Dengan baik. Senyuman lebar menghiasi wajah Mamanya itu dan langsung mengajak Yesline untuk duduk disebelahnya.
" Selamat siang Yesline ... Mari silahkan masuk. " ajak Mama Al.
Namun berbeda dengan Papanya, Ekspresinya masih datar dan terlihat bahwa Dia tidak setuju dengan hubungan Anaknya itu.
Al menjelaskan kepada Keluarganya secara perlahan. Meminta restu dari kedua Orang Tuanya agar bisa resmi memulai hubungan baru dengan Yesline.
" Pa, Ma .... Al ingin jujur. Al ingin menikahi Yesline secara sah. Al benar benar mencintainya dan ingin memulai hidup baru dengannya. " kata Al penuh harap.
" Mama setuju setuju ajah Sayang ... Karena yang menjalaninya kan Kamu. Mama hanya berharap hubungan Kalian selalu harmonis dan tetap bersama selamanya. " kata Mamanya dengan senyum bahagia dan matanya bersinar.
Papanya masih diam. Menatap calon menantunya enggan. Sikapnya sedikit angkuh, menolak kehadiran Yesline dengan penuh rasa sopan. Mama, Al dan Papanya memiliki pendapat yang berbeda.
" Papa ... ??? "
Papanya masih diam dan berpura pura tidak mendengar. Sikapnya membuat Yesline merasa sedikit sedih karena sadar mendapatkan penolakan dari Papanya.
Namun Dia masih berusaha untuk berpikir positif karena wajar jika Seorang Papa tidak bisa langsung merestui hubungan Anaknya.
Mereka bertiga melihat ke arah Papanya sehingga membuatnya sedikit merasa tidak nyaman.
Mama Al menarik pelan lengan baju Suaminya itu, mengajaknya untuk berbicara berdua. Dengan sopan, Mama Al meminta Yesline untuk menunggu sebentar.
" Pa .... ikut Aku bentar, Ada beberapa hal penting yang mau Aku sampaikan. "
" Hhmm .... "
Papanya mengikuti Mamanya kebelakang. Perasaan Yesline semakin tidak tenang. Al mendekapnya lembut serta membelai lembut rambut Yesline. Hangatnya pelukan Al sedikit memberikan rasa tenang untuk Yesline.
" Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Sayang ... Pasti Papa akan menerimanya. Dia hanya saja masih belum rela menerima kenyataan bahwa Aku akan berpisah sama Callista. Tapi tenang iya, Mama pasti akan bisa menyakinkan Papa."
Al menyatakan banyak hal berharap Yesline bisa tenang dan malah Dia makin tak karuan. Hatinya masih belum tenang dan masih kepeikiran. Dia hanya berusaha senyum di depan Al dan menunjukkan bahwa Dia tidak kenapa napa dan baik baik saja.
__ADS_1
Mama Al memberitahukan semuanya sama Suaminya itu tentang sifat Callista yang Dia ketahui
" Apa Papa tau kalau Callista berselingkuh dengan Nicho ??? "
" Memangnya tau dari mana Mama kalau Callista selingkuh ??? Bukannya hubungan Mereka baik baik saja selama ini ??? "
Suaminya itu pura pura kaget dan seakan akan tidak tau apa yang terjadi. Padahal Nicho mendekati Callista karena perintahnya.
" Bukannya Mama pernah bilang kalau Mama menyuruh seseorang untuk memata matai Callista ??? Makanya Mama tau kalau Callista itu berselingkuh. "
Istrinya itu mengatakan semua yang Dia ketahui bahkan dengan hal terkecil sekalipun.
" Jujur saja, Mama sangat membenci Callista dan Nicho. Karena berani beraninya bermain cinta dibelakang Al. " cetus Mamanya melotot.
Suaminya itu masih menentang hubungan Al dan Yesline. Dia masih tidak mau kehilangan saham atas RS yang dimiliki Callista.
" Tapi Ma, Kalau Al benar benar berpisah dengan Callista, Kita akan kehilangan aset berharga Kita. Kita tidak akan mendapatkan bagian apapun dari RS. " jawab Suaminya yang masih saja memikirkan itu.
Istrinya sangat kesal dengan perkataan suaminya itu dan tanpa ragu langsung memarahinya.
" Kamu pikir Anak Kita itu apa ??? Sebuah alat untuk memenuhi keinginan Kita ??? Jika dipikiranmu itu hanya tentang uang dan uang, Untuk apa Aku susah payah merawat Al ??? Pikirkan kembali jawabanmu, karena ini menyangkut kebahagiaan Anak Kita !!! " cetus Mamanya dan langsung meninggalkan Papa Al.
Hatinya dipenuhi rasa marah dengan sikap Suaminya itu begitu juga dengan Callista karena keduanya sama sama tidak memikirkan perasaan Al. Papa Al menyendarkan tubuhnya di sofa ruang tamu lainnya dan menatap dinding rumahnya itu.
Pikirannya kalut dan bimbang. Masih engga hatinya untuk melepaskan saham yang begitu bernilai tetapi disisi lain tidak juga bisa menjual Anaknya hanya untuk kepentingan pribadinya.
" Ini semua demi Keluarga !!! "
Papa Al menegaskan dalam dirinya bahwa semua yang Dia lakukan untuk kepentingan Keluarga. Namun perkataanya itu menimbulkan tanda tanya antara Putranya atau harta.
Yang jelas tidak semua yang Dia katakan itu benar.
Papa Al masih tetap dengan pendiriannya dan Mamanya menjadi lebih dekat dengan Yesline. Al senang melihat Mamanya yang menerima Yesline.
Namun sayangnya, bahkan saat kepergian Mereka pun, Papanya masih tidak memberi jawaban dan masih bungkam membuat Mamanya Al kesla dengan sikap Suaminya itu tapi tidak ditunjukkan secara langsung.
Senja yang indah sangat mempesona membuat luka pada hati Mereka terasa pudar. Mereka berhenti dan menikmati senja yang indah itu. Kecupan lembut mendarat di kening Yesline. Keduanya saling menatap, bergandengan tangan duduk sampingan di bangku tepi jalanan.
" Aku hanya ingin bersamamu. Seperti ini untuk setiap waktu. Sekalipun tidak ada yang merestuiku, Aku akan tetap bersamamu. Menua bersama hingga memutih rambut Kita. Menghilang dari dunia dan bersama kembali di surga. " kata Al sembari melekatkan bibirnya ke Istrinya itu.
Terlalu asyik dengan dunia hingga luap menyalakan ponsel kembali.
Keduanya masih disanan untuk menatap rembulan yang indah dimalam hari. Dilangitkan sebuah harap, berteman bintang malam. Kedua hati mengatakan hal yang sama.
" Ingin saling mencintai sampai mati. " Seolah sudah benar benar saling memahami.
" Aku mencintaimu Sayang .... "
Keduanya saling bergandengan tangan pulang dengan penuh kasih sayang. Terselip sebuah kerinduan pada sosok yang sudah hilang, dan hanya bisa meratap tanpa pernah bisa lagi salin menatap.
*
*
*
*
Disisi lain, Seorang Wanita menatap rembulan dari balik jendela kaca. Matanya dipenuhi airmata, Hatinya dipenuhi dengan rasa dendam yang membara. Semakin hari, Rasa bencinya semakin bertambah, Namu disaat yang bersamaan Dia benar benar sangat mencintao Al. Matanya sedikit terpejam ketika terpapar oleh sang surya.
Dipagi hari yang indah dengan sejuknya udara pagi, Seorang pria terbangun dari tidurnya menatap Callista dengan senyuman tipis di wajahnya. Dia melangkah pelan tanpa suara dan langsung mendekap tubuhnya dari belakang. Tanpa sebuah kata, Dia mendaratkan ciuman hangat di kening Callista.
" Pagi Sayang ... " sapa Nicho setelah menciumnya.
" Insomnia iya ??? " lanjutnya bertanya dan masih memeluk Callista.
" Plak .... "
Callista langsung menampar Nicho sekuat tenaganya.
" Apa Kamu??? pergi sana bersama Wanita ****** perebut suami Orang !!! " cetus Callista karena tidak terima dengan perlakuan Nicho sebelumnya.
" Kamu jahat !!! " cetis Callista dan hendak menampar Nicho lagi, Tapi dengan sigap tangan Nicho menahannya.
__ADS_1
" Masih Marah Sayang ??? " Sambil memutar tubuh Callista yang masih lemas karena kurang tidur dan perasaannya yang tak karuan. Nicho mencium rambut Callista yang masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
" Bagaimana mungkin, Aku membiarkanmu membunuh Yesline, Polisi pasti akan bisa menangkapmu. Mana mungkin Aku rela kalau Kamu dipenjara Sayang .... " rayu Nicho sambil terus menciumi Callista. Mulai dari rambut, leher hingga diangkatnya tangan Callista tinggi supaya bisa memegang keteknya walau masih memakai piyama.
Callista mencoba menolak perlakuan Nicho meski sebenarnya sudah mulai terbawa suasana.
" Benarkah ??? " tanya Callista masih belum bisa mempercayainya.
Nicho sudah mengerti bahasa tubuh Callista. Dia mulai permainan yang lebih berani.
" Percayalah Sayang .... Mana mungkin Aku menghianatimu. Kamu satu satunya Wanita yang menerima dan mengerti Aku apa adanya. "
Kini ciumannya semakin kedepan. Terasa lembut dan kenyal karena hanya kain tipis saja yang menutupi tubuhnya.
Callista yang terbiasa tidur dengan tanpa mengenakan pakaian mulai mendesah, Dia semakin tidak tahan apa yang dilakukan Nicho. Dia memainkannya dari luar dan tangannya yang satu menggenggam erat tangan Callista. Dia melepas beberapa kancing baju dengan mulutnya.
" Eemmhh .... " Callista menggigit bibirnya tepat ketika Nicho mengelus lembut tubuhnya dengan indra perasanya itu.
Inci demi inci terasa begitu kuat menumbuhkan kenikmatan yang tak terbendung. Sontak tubuhnya bergetar, mendatangkan hujan diarea terlarang.
" Kuharap Kamu menyukainya Sayang ... " kata Nicho sambil terus bermain.
Callista hanya mengangguk pelan, mencoba untuk tidak bersuara dan menggigit bibirnya. Wajahnya merona lantaran tersipu.
Pelan tapi pasti, Nicho memastikan tidak ada satu titik pun yang terlewat. Kini jemarinya sudah mulai bergerak memegang erat pinggang Callista hingga membuat Callista tak tahan lagi.
" Aaaaa .... " Callista sudah mulai mengeluarkan suaranya. tanah tandus itupun terkena banjir. Disaat yang bersamaan, Callista mengeluarkan suara sedikit dengan pinggang sesikit terangkat.
" Aaaaa ... Lakukanlah Nicho... " kata Callista penuh gairah.
*
*
*
*
Disisi lain, Al tertunduk dan menahan senyum disaat salah satu temannya memarahinya karena tingkah lakunya.
" Kamu kemana ajah sih ??? Udah tau Kita masih ada pekerjaan, Ingat ingat !!!! Kita masih ada pekerjaan !!! " cetus Clinton marah.
" Mmaaaff .... "
Bukannya merasa bersalah tapi Dia malah tertawa melihat tingkah Clinton karena baginya kemarahan Clinton hal yang lucu.
" Masih ketawa lagi !!!! Arrghh .... Kenapa sih Aku punya teman seperti Kamu !!! " cetus Clinton kesal.
" Iya ellahhh .... Kemarin ada sedikit masalah makanya Aku sengaja mematikan ponselku."
" Aku masih bisa terima kalau cuma ponselmj doang yang mati, Tapi kenapa ponsel Yesline juga gak bisa dihubungi ??? Apa Kamu tau seberapa khawatirnya Saya ??? " Clinton benar benar kesal dan marah.
" Hahahaha .... Maaf maaf, Aku lupa. Emang seberapa khawatirnya Kamu samaku ??? " kata Al dengan tertawa.
" Bodo Amat !!!! .. " jawab Clinton kesal.
" Sudahlah .... ini Leni yang akan menemani Yesline. " kata Clinton memperkenalkan Wanita yang berada disampingnya.
" Leni .... beladiri apa saja yang Kamu bisa ???"
" Karete dan boxing Pak. "
" Bagus .... Selain bela diri, Kamu bisa memasak dan beberes rumah kan ??? " tanya Al.
" Bisa Pak. "
" Oke. Saya akan bayar Kamu 2 kali lipat. Hanya cukup melindungi, menemani dan mengikuti kemapun Istriku pergi, Mengerti ??? "
" Mengerti Pak. "
Al langsung memanggil Yesline untuk mengenalkannya sama Leni.
" Sayang .... sini bentar, Ada kejutan buat Kamu. " panggil Al karena Yesline berada di kamar dari tadi.
__ADS_1