
Al masih fokus untuk mengecek kondisi Yesline. Mencatat semua perkembanganya karena habis operasi Yesline sempat sadar dan mengobrol dengannya tapi tidak lama kondisinya tiba tiba drop. Dan baru kali ini Dia menunjukkan tanda tanda yang signifikan.
Al berdiri disamping Yesline, mengganti tabung infus miliknya. Pandangannya fokus ke tabung infus yang baru saja Dia pasang.
Saat mata lentik itu mulai terbuka, Leni yang memperhatikan sedari tadi memberitahu ke Al.
Al tersenyum bahagia dan mengatur posisi duduknya disamping Yesline. Dia tau Pujaan hatinya itu telah sadar dan siuman. Al memberi isyarat ke Leni untuk menunggu di luar.
" Sayang .... " panggil Al setengah berbisik di telinga Yesline.
Yesline perlahan menggerakkan bola matanya itu ke sumber suara itu. Dia mendapati Al disana, Disampingnya. Tangan Al membelai lembut rambut Yesline.
Bibir Yesline menunjukkan senyum. Tangannya Dia gerakkan untuk melepas alat bantu pernapasannya itu. Dia sudah bisa bernafas normal. Al ingin menghentikan niat Yesline tapi Dia menyakinkan Al bahwa Dia sudah baik baik saja. Al pun membantunya melepasnya.
Beberapa saat lamanya, Mereka hanya saling tatap. Perasaan Al campur aduk antara lega, bahagiadan kagen. Sepertinya sudah begitu lama Mereka berpisah kini hanya memandanginya dari jarak dekat saja dengan senyuman di bibir Yesline membuat Al ingin benar benar menangis.
Beberapa hari yang lalu, Dia hanya melihat Yesline tertidur pulas, Sekarang Al mengusap butiran bening yabg hendak jatuh dari kelopak matanya.
" Kamu tau ??? Apa yang paling menyakitkan di dunia ini ????" gumam Al memegang erat tangan Yesline. Wanita didepannya itu masih sangat lemas tak mampu bergerak dengan bebas. Hanya sedikit menggelengkan kepala dan bibirnya mengulas senyum. Mata sayunya terlihat begitu teduh dan tidak menunjukkan kesakitan apapun selain rasa bersalah pada Al Suaminya itu karena membuatnya sudah begitu khawatir. Padahal luka tembakan itu belum kering.
" Melihat Orang yang Kita sayangi, Orang yang sudah mengambil hati dan jantung ini tak berdaya dan tidak ada yang bisa Kita lakukan kecuali melihat dan menunggu, itu lebih menyakitkan Sayang .... " gumam Al pelan membuat Yesline menyentuh pipinya dengan lembut.
Dia sedikit menahan sakit karena harus menggerakkan tangannya. Lukanya kembali sakit. Bagi Yesline rasanya tidak jauh lebih sakit jika dibandingkan Dia harus kehilangan Al dan Anaknya. Hal ini masih bisa Dia tahan.
Dia kembali teringat perkataan Papa Al dan keinginan Callista itu. Semuanya jadi begitu rumit.
" Maaf .... "
Al meraih jemari Yesline dengan pelan dan memciuminya satu persatu.
" Aku merindukanmu .... Sangat merindukanmu .... " gumamnya pelan kembali.
" Aku tau. " jawab Yesline tersenyum.
" Cepatlah membaik, Segera pulih. Kita akan menghabiskan lebih banyak waktu berdua lagi. " kata Al dan Yesline mengangguk.
Dia menunggu hari tenang dan damai itu, Dia, Yesline dan Anaknya. Entah kenapa Dia merasa begitu tidak yakin. Setelah apa yang bisa Mereka lakukan pada Dirinya. Dia mulai mengkhawatirkan keadaan bayinya nanti.
Wajah Yesline tiba tiba murung membuat Al kaget dan khawatir.
" Kenapa Sayang ???? Apa yang Kamu pikirkan ??? " tanya Al lembut.
Pandangan Yesline tertuju pada perutnya yang sudah mulai berubah walau masih kecil usia kandungannya. Masih ada berbulan bulan lamanya untuk Mereka bisa bertemu di dunia ini. Matanya tiba tiba berkaca kaca.
" Aku mengkhawatirkan keselamatan Bayi Kita. Seharusnya hidup bersama Papanya akan membuatnya menjadi lebih aman tapi kenyataannya ... Dia dan Mamanya akan aman jika hidup jauh dari Papanya. Aku bingung, Mas. Aku tidak bisa memilih salah satu dari Kalian. " kata Yesline terisak, Suara bergetar karena menangis. Bahunya sedikit terguncang dan itu membuatnya makin sakit.
Al bangkit dari duduknya dan perlahan memeluk Yesline dan menenangkannya.
" Jangan berpikir seperti itu, Yesline .... Karena Kami dan Anak Kita akan selalu bersamaku, Kalian akan aman. Aku pastikan itu. tidak akan ada lagi yang menyakiti Kalian. Aku bersumpah didepan Anak Kita. " jawab Al.
Tangannya diletakkan diatas perut Yesline. Dia ingin menyakinkan Istri dan Anaknya. Bahwa Orang orang jahat itu tidak akan bisa memisahkan Mereka meski dalam hati Al masih sangat kalut karena Dia masih belum tau siapa dibalik semua ini membuatnya sangat khawatir dan takut juga.
Jika yang diincar Dia, mungkin tidak akan setakut itu. Tapi Mereka malah menjadikan Yesline dan bayinya menjadi alat permainan untuk mencapai keinginan Mereka dan Al seperti Orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa apa.
Butiran air mata masih menetes diwajah Yesline. Al mengusap tiap tetesan itu lalu mengecup bibir Yesline lama, mengemutnya dengan lembut.
" Percayalah padaku. Jangan pernah menyerah sedikitpun. " kata Al memohon dengan sedikit menahan air matanya.
__ADS_1
Yesline terengah engah karena ciuman manis Al disaat Dia masih sesunggukan disisa sisa tangisnya. Yesline menghela nafasnya untuk menahan emosinya.
" Aku percaya. Aku percaya, Mas. Tolong lindungi Anak Kita. Aku akan bertahan sekuat yang Aku bisa."
" Terima kasih Sayang .... Terima kasih atas kepercayaan Kamu dan Terima kasoh atas pengorbanan Kamu untuk mempertahankan cinta dan calon Anak Kita ini. Terima kasih banyak Sayang .... " Al memeluk Yesline.
Dalam suasana sepi serta dinginnya pendingin ruangan Yesline, Tanpa Al sadari tetesan demi tetesan air mata berjatuhan menambah suasana kesedihan semakin mendalam.
Betapa tidak, Seorang Laki Laki yang gagah yang tidak pernah kekurangan satu apapun diduni ini, apalagi sampai menjatuhkan air matanya. Memang benar kata Mereka, Sekuat kuatnya Laki Laki yang punya hati pasti tidak akan mampu membendung air matanya disaat Orang yang dicintai terluka karenanya.
Al pun berbaring disamping Yesline, Memeluk Yesline Dengan erat. Memberikan sedikit kehangatan yang telah lama tak dirasakan. Meski baru hanya beberapa hari saja pasca operasi, Kerinduan Yesline akan pelukan Suaminya itu kelihatan begitu jelas diwajahnya.
Yesline diam memejamkan matanya. Mengharapkan sesuatu hal yang lebih dari sekedar pelukan. Meskipun Dia sadar kondisinya sangat tidak memungkinkan. Al sangat paham benar dengan wajah itu.
" Muuuachhh ... Sabar sayang ... Tunggu kondisi Kamu lebih sehat lagi. Aku akan melakukan servisan yang belum pernah Aku lakukan sebelumnya. Aku akan buat Kamu dipuncak kenikmatan yang tak terbayangkan. " bisik Al sambil mencium telinganya.
Sontak wajah putih pucat Yesline menjadi memerah mendengar godaan Al disertai dengan rasa malu karena perlakuan Al. Dia menahan agar bahunya tidak bergerak karena itu akan membuatnya mengaduh.
Ranjang yang Yesline yang lebar dan tubuh Al yang kekar tidak membuatnya menyentuh luka Yesline sedikit pun. Dengan tenang Al memejamkan mata dengan sedikit rasa tenang.
" Terima kasih Tuhan, telah Kau kembalikan Dia padaku. Aku berjanji akan menjaganya sepenuh hati. " gumam Al dalam hati.
Al meminta Yesline untuk memulihkan Dirinya. Al mengelus kepalanya hingga Dia benar benar tertidur. Al menutup pintu ruangan kamar Yesline dengan pelan. Dia memberi tahu Leni karena Dia akan pulang sebentar.
Al dapat info dari Art rumahnya bahwa Callista sudah pulang setelah beberapa hari kerja di luar kota. Al ingin menanyakan sesuatu sama Callista. Makanya Leni harus tetap standby di kamar Yesline.
Al memberi pesan ke Lena, Jika Yesline bangun dan menanyakannya, Leni akan bilang kalau Al sedang mengurus kerjaan bentar.
Dan Al juga tidak akan menyembunyikan status pekerjaan Leni lagi jika suatu nanti Dia sudah tau.
*******
Dia memasukkan kakinya kekolam renang dan mengayun ayunkannya menikmati dinginnya air sore itu. Dulu sebelum ada Yesline, hubungannya dengan Al tidak sejauh ini meski tidak saling mencintai. Mereka masih menjalankan peran satu sama lain. Callista sangat merindukan Al. Dia meraih botol minuman keras disampingnya itu lalu meneguknya berkali kali.
Bibirnya mengucapkan kata kata kerinduan ya sama Al. Dia sangat menahan rasa rindunya yang tidak terkatakan lagi.
" Aarrggghhh ...." Dia menjerit frustasi.
" Apakah Aku sangat jahat dimata Kamu, Al ???? Apa Aku tidak ber hak untuk mencintaimu ??? Aku sangat mencintaimu, Al. Aku bisa gila ..... Aku akan memberitahumu apapun. Kembalilah meski hanya satu malam ....." tangisnya semakin pecah.
Callista merancau dibawah pengaruh minuman keras itu. Dia mabuk. Kali ini Dia benar benar hancur. Karena Dia tau kalau Al sudah memutuskan sesuatu, Dia akan melakukannya.
Renacanya dengan Papa Al pun belum tentu akan berhasil. Dia hanya ingi. mengulur waktu. Mungkin Al yang sangat dicintainya akan mengurungkan niatnya untuk menceraikannya.
Menjadi Istri yang hanya diatas kertas pun tidak masalah bagi Callista. Dia hanya minta itu. Itu pun sulit untuk Al berikan. Apalagi saat ini Yesline dalam kondisi seperti ini pasti Al semakin membencinya. Callista meneguk isi botol minuman itu hingga habis.
" Callista .... !!! " panggil suara keras dari belakangnya.
Callista berdiri dan hendak menoleh kebelakangnya tapi kepalanya sangat pusing. Pandangannya berputar putar saat Dia melihat kebelakang. Seseorang berlari ke arahnya saat tubuhnya hendak terjatuh ke kolam. Dia masih bisa melihat meski samar samar. Bahwa Orang yang datang tadi ikut menceburkan dirinya ke kolam.
Menarik tubuh Callista dalam pelukannya dan membawanya kepermukaan. Setelah itu Callista tidak ingat apa apa.
Al membopobg Callista yabg basah kuyup, mendekapnya erat sambil memegang tangga saat ingin naik. Meski Dia membenci Wanita ini, Dia masih merasa kasihan juga melihat hidupnya yang begitu hancur.
Dia tidak tau bahwa Wanita seperti Callista bisa memiliki perasaan sedalam itu untuknya. Al menelan ludahnya melihat tubuh Callista yang hampir tanpa pakaian. baju piyama tipis jaring jaring menerawang yang Dia kenakan basah kuyup membuatnya hampir telanjang.
Karena posisinya yang tertarik kesana sini, Dua buah gunung kembar itu pun terlihat sangat jelas dan bagian sensitifnya itu pun sedikit terlihat.
__ADS_1
Lelaki manapun yang melihat itu akan tergoda. Tubuh indah dan mulusnya bagaikan hidangan mewah didepan mulut yang kelaparan. Al sempat melupakan niatnya datang kesitu hingga membuatnya gusar.
" Fokus, Al !!! " gumamnya pada dirinya sendiri.
Kedua tangan Al menekan perut dan dada Callista bergantian berusaha mengeluarkan air yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Beberapa kali Dia lakukan tapi Callista masih tidak ada pergerakan. Hingga cara terkahir Dia harus memberikan nafas bantuan. Tapi haruskan itu Dia lakukan ?????
" Bukankah bagus kalau Dia mati ??? "
Pikiran Al berkemcambuk. Al bukan Orang jahat. Dia langsung memberikan bantuan oksigen ke Callist. Beberapa kali Dia berikan tapi belum ada respon dari Callista membuatnya sedikit panik. Tubuh Callista mulai dingin. Dia bermaksud untuk membawanya ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Al meminta ART nya untuk menggantikan pakaiannya. Tapi Dia tidak menemukan ARTnya itu di rumah walau Dia sudah memanggilnya dan tidak ada jawaban juga.
Perlahan Al merebahkan tubuh Callista di kasur tidur Mereka. Bagaikan malam pertama, Diluar hujan turun dengan begitu deras dan AC di kamar juga begitu dingin membuat tubuh Al juga ikut kedinginan.
Dia juga harus berganti pakaian, Tapi itu bisa dilakukannya nanti. Sekarang Dia harus ngurus Callista dulu.
Al mengambil kemeja putih dan meletakkannya disamping Callista. Dada Al begetar hebat dan detak jantungnya bergetar tak karuan.
Seakan berbagai bisikan Dia terima untuk membuat Imannya lemah walau Dia melakukan itu juga bukan dosa sebenarnya karena Callista adalah Istrinya.
Tapi ada Istri lain yang akan terluka jika tau. Dan harga dirinya juga bisa hancur.
Tapi keselamatan Callista ???
Al sangat bingung.
Dengan tidak yakin Al melepas CD Callista, Seketika Al mengalihkan pandangannya. Ini bukan kali pertama Al melihat Callista tanpa busana. Hanya saja Dia tidak ingin malam ini terjadi sesuatu yang akan merugikannya.
Al sedikit berusaha untuk melebarkan kaki Callista agar bisaa memakaikan CD baru serta celana baru dan Dia tidak ingin melihat keindahan surgawi itu, yang mulus dan begitu merah muda merona itu.
Al beralih untuk melepas pakaian atasnya dan lagi lagi Dia menelan ludahnya karena harus melihat keindahan itu. Cepat cepat Dia melakukannya karena jika berlama lama tentu tidak akan baik bagi Laki Laki normal sepertinya.
Al kembali menekan dada Callista agar Dia sadar. Namun tidak juga.
Al langsung berganti pakaian terlebih dulu dan akan membawanya ke RS saja. Al bangkit berbalik arah dan mengambil baju serta melepas semua pakaiannya disana.
Karena Callista masih pingsan jadi Al tidak berpikir untuk berganti pakaian di kamar mandi.
Tiba tiba Seseorang memeluknya dari belakang, Itu pasti Callista. Al bisa merasakan kulit Callista yang dingin menempel ditubuhnya. Tapi entah kenapa kehangatan menjalar diseluruh tubuhnya.
Apakah dari tadi Callista hanya berpura pura ??? Bukankah tadi Dia sudah mengganti pakaiannya ??? Kenapa sekarang tidak memakai apa apa lagi ??? Dasar Licik !!!!
Al memejamkan matanya, menahan gejolak nafsunya yang sudah memuncak. Callista semakin erat memeluk Al dari belakang.
" Kamu datang disaat yang tepat, Aku merindukanmu, Al. " bisik Callista manja disertai ******* nafas Callista membelai leher belakang Al.
" Lepaskan Callista .... Aku datang bukan untuk ini !!! " cetus Al menolak.
Sekuat tenaga Al meolaknya. Tapi tidak satupun anggota tubuhnya yang protes saat Callista menciumi tubuhnya dari belakang.
" Ada apa denganku ????? " gumam Al.
*******
Leni yang dari tadi berusaha menghubungi Al karena ada sesuatu hal yang harus Dia laporkan. Karena di RS sudah ada Clinton dan Yesline yang sudah bangun yang menanyakan keberadaanya.
Tapi tidak ada jawaban dari Al dan hanya panggilan masuk saja.
__ADS_1