
" Terima kasih. " lirihnya sangat pelan sampai Nicho tidak bisa mendengarnya.
Callista menopang dagunya, fokus menatap Nicho yang begitu seksi saat Dia lagi memasak. Tak butuh waktu lama, Nicho sudah berjalan menghampiri Callista dengan membawa sepiring omlet di tangannya. Menaruhnya diatas meja.
" Makanlah. "
" Wanginya enak. " Hidung Callista mencium bau enak itu.
Dia langsung menyantap hidangan di depannya dengan antusias. Sesekali menyuapi Nicho dengan tangannya. Nicho mengunyah makanan di mulutnya sambil memperhatikan Callista. Dia masih tidak menyangka jika dalam waktu dekat akan menikahi Callista.
" Kita mungkin perlu ke Indonesia untuk memberi tahu Mereka soal rencana pernikahan Kita dan kehamilan Kamu. "
Uhuk .... uhuk ....
Perkataan Nicho membuat Callista tersendak, Dia memukul mukul dadanya agar rasa perih yang masuk ke tenggorokannya segera keluar. Nicho dengan cekatan langsung mengambil minuman untuk Callista.
Callista menerimanya dan langsung meminumnya. Dia kaget, Dia masih belum siap jika harus memberi tahu Al tentang rencana pernikahan Mereka, apalagi tentang kehamilannya.
Meski mungkin Al tidak akan peduli. Tapi .... Callista memang belum berani, entah apa yang sedang dipikirkannya.
" Jika Kamu belum siap, tidak apa apa. Kapan kapan saja Kita memberi tahu Mereka. " pangkas Nicho seperti tau apa yang sedang dipikirkan Callista.
Callista benar benar terenyuh. Nicho bagai malaikat tak bersayap baginya. Lagi lagi dalam hatinya Dia hanya bisa berucap beribu ribu terima kasih kepada Nicho, calon Suaminya. Ayah dari Anaknya.
*******
Seorang Perawat tergopoh gopoh memberikan kursi roda untuk Al.
" Ini Dok. "
Al menerimanya dan mengatakan,
" Terima kasih. "
__ADS_1
Al langsung mendudukkan Yesline di kursi roda dan kembali memberikan perintah kepada Perawat yang stand by di sampingnya.
" Apa Dokter Gabriel sudah ada ??? " tanyanya.
Dengan sedikit takut, Perawat itu menjawabnya.
" Mungkin masih dalam perjalanan Dok. "
" Kamu hubungi Dokter Gabriel, Jika dalam 10 menit Dia belum ada, Kalian berdua akan Saya pecat !!! " gertak Al membuat Perawat itu tersentak kaget.
Tubuhnya sedikit gemetar, Jika Dia sampai dipecat, bagaimana nasib karirnya ??? Rumah Sakit ini adalah Rumah Sakit paling besar di kota ini dan yang mampu memberikan gaji besar pula. Dia tidak rela jika harus dipecat hanya karena Dokter baru itu.
" Baik Dok. " jawabnya ketakutan.
Mamanya Al melangkahkan kakinya mengikuti Al yang mendorong kursi roda Yesline.
Rasa panas dan dorongan serta tarikan yang begitu menyakitkan kembali Yesline rasakan. Yang beberapa menit sebelumnya ada sedikit jeda. Dia kembali merintih.
Jika Yesline masih ingat, Dia pasti akan mengatakan, Rasa sakit tembakan dulu yang langsung membuatnya pingsan tidak jauh lebih sakit daripada yang Dia rasakan sekarang. Kini Dia dituntut untuk menahan rasa sakitnya dan tidak boleh sampai pingsan. Karena jika boleh Dia ingin melahirkan secara normal.
Dia merebahkan tubuh Yesline diatas ranjang Rumah Sakit. Terlihat bibir Yesline yang menarik udara masuk ke dalam rongga perutnya lalu sedetik kemudian menghembuskannya lagi. Al berdiri tepat disamping Yesline yang terus mencengkeram lengan Al dengan kuat hingga menimbulkan bekas merah pada kulit Al.
Al meringis menahan rasa sakit pada lengannya, tapi Dia tau, rasa sakit yang Yesline rasakan jauh lebih sakit. Al tidak mengatakan apa apa, sementara Mamanya yang berdiri disamping Yesline mengusap punggung Yesline dengan pelan.
Bersama Mereka ada beberapa Perawat yang dengan sigap menyiapkan segalanya. Termasuk memeriksa tekanan darah Yesline dan memeriksa Yesline sudah bukaan berapa.
Dari arah pintu terlihat Gabriel memasuki ruangan dengan pakaian dinasnya. Dibelakangnya sudah ada Dua Orang Perawat yang mengikutinya. Gabriel menyuruh Mamanya Al untuk menunggu di luar dan meminta Perawat untuk menyiapkan semuanya dan mengganti pakaian Yesline dengan pakaian dari rumah sakit.
" Bagaimana kondisi Bu Yesline ??? " tanya Gabriel.
Seorang Perawat mendekati dan menunjukkan hasil laporan pemeriksaan yang sudah Dia lakukan.
" Mas, Aku udah gak kuat. " rintihnya. Giginya bertabrakan seperti menggigit sesuatu. Dia menahan rasa sakit yang kian menjalar diseluruh tubuhnya.
__ADS_1
" Kamu pasti kuat, demi Anak Kita, Sayang. Kamu tarik nafas lagi ya .... " Al berusaha memberikan semangat.
Dua Orang Perawat membuka kaki Yesline dan meletakkannya pada sebuah penyangga di kedua sisi tubuhnya dan menalinya dengan sebuah tali.
Gabriel kembali memeriksa jalan lahir untuk Anak Yesline, sesaat Dia mendongak ke arah Yesline dan berkata.
" Kalau mau mengedan, mengedan saja, Yes. Ini sudah waktunya. "
Al menatap Gabriel yang kelihatan berbeda. Kini Dia terlihat jauh lebih profesional.
Yesline mulai mengedan setelah Dia merasa dari dalam dirinya ada semacam dorongan kuat yang tidak bisa lagi Dia tahan. Al menatap Istrinya yang sedang berjuang dengan penuh haru, takut dan ngeri. Dia bisa mendengar jeritan Yesline. Suara geraman dari dalam mulutnya dan dari giginya yang bergetar karena ada gesekan.
Al bergidik ngeri, melihat mata Yesline yang terpejam tapi kembali terbuka dan membelalak lebar. Sementara Gabriel dan lara Perawat terus memberinya semangat.
" Ayo, Yes. Ambil nafas dan dorong lagi !! " perintahnya.
" Ayo sedikit lagi. Kepalanya sudah kelihatan, Ayo dorong lagi, Kamu pasti bisa. "
Gabriel terus berteriak dari bawah kaki Yesline, Melihat Yesline yang merasa kelelahan dan kesakitan. Dia sudah bisa melihat rambut rambut halus dikepala Bayi Yesline.
Yesline menuruti semua yang dikatakan Gabriel, meski Dia bisa merasakan perih bercampur panas terbakar pada bagian intimnya. Yang mungkin sobek atau terkoyak, Dia tetap harus bertahan.
Disampingnya Al benar benar hampir menangis. Dia tidak tega melihat Yesline berlinang air mata, tapi berusaha terus memberi dorongan agar bayinya keluar.
" Bertahanlah, Yes. Aku tidak kuat melihatmu seperti ini. Kamu harus kuat dan melahirkan Anak Kita. Kamu sudah mempertaruhkan hidupmu, Aku juga akan janji, mulai hari ini hidupku ada ditanganmu. " gumam Al. Tangannya terus menggenggam tangan Yesline yang masih mencengkeram tanganya.
" Iya, Yes. Betul. Terus. Dotong lagi, Dikit lagi, Kepalanya sudah keluar, Ayo dikit lagi. " rancau Gabriel. Sebelah tangannya sudah memegang kepala bayi Yesline yang sudah keluar. Sedangkan tangannya yang satu mencoba menekan jalan lahirnya agar tidak terlalu banyak sobek saat badan Bayi keluar.
Satu hentakan dan dorongan disertai geraman Yesline, Bayi berhasil keluar dengan sempurna. Suara tangisannya melengking, mengundang haru.
Al menangis, Dia benar benar meneteskan air mata. Dia kini sudah jadi Seorang Ayah. Yesline terkulai lemas, matanya menatap nanar Gabriel yang mengangkat bayi mungilnya dan meletakkannya diatas Dada Yesline.
Seorang Perawat langsung memotong saluran yang tersambung ke pusar bayi, Sedang setelah ari ari keluar dan memastikan tidak ada gumpalan darah yang tersisa di dalam rahim, Gabriel melanjutkan menjahit robekan tadi.
__ADS_1
Yesline meringis sembari matanya fokus menatap bayi mungilnya yang di baluti sebuah kain, Seorang Perawat memberikan bayi itu kepada Al untuk di adzani.
Dengan mata berkaca kaca dan bibir bergetar Al melafalkan adzan di telinga bayinya . Wajah bayinya benar benar mirip dirinya. Hati Al diliputi rasa bahagia yang tiada tara.