
"Bangsat!!!!'' umpat Al sambil melempar sebuah map ke atas meja kerjanya, dia menyentakkan bokongnya ke kursi dengan emosi. Kedua tangannya di taruh di atas meja, memijit pelipisnya. Kepalanya seketika terasa pusing.
Hari ini begitu tidak bersahabat. Banyak laporan ketidakpuasan pasien atas pelayanan di rumah sakitnya, padahal jika di cek satu persatu semua dokternya bekerja dengan baik. Lalu siapa yang memberikan keluhan dan laporan itu kepadanya? Siapa juga yang memberikan penilaian buruk tentang rumah sakit di web? Al tak habis pikir, bertahun tahun dia menjabat sebagai sebagai direktur di rumah sakit belum ada pun yang sekali komplain seperti hari ini.
"Apa ada yang sengaja melakukan itu semua dengan tujuan menjatuhkan pamor rumah sakitku? Tapi siapa? Bukannya musuh musuh saya semua sudah di penjara?'' cecar Al pada dirinya sendiri.
Dia tidak mungkin membiarkan semua ini terjadi. Rumah sakit ini adalah sesuatu yang sampai tidak boleh jatuh. Almarhum sang ayah sangat mewanti wanti dirinya untuk menjaga rumah sakit ini.
Al masih bingung dengan pikirannya sendiri, saat ada yang datang dan mengetuk pintu ruangannya.
Al mengangkat kepala dan melihat ke arah pintu.
"Masuk," katanya setelah tahu dari balik kaca pintunya kalo yang datang adalah sekretarisnya.
Gagang pintu di tekan dan pintu terbuka. Sang sekretaris mendorong pintu dengan menggunakan bagian belakang tubuhnya karena dia sedang membawa banyak map sehingga kedua tangannya begitu penuh, dia menumpuk map map itu hingga setinggi hidung. Wanita itu berjalan dengan hati hati mendekati meja Al lalu meletakkan semua map tadi di meja.
"Ini semua file pasien yang memberikan keluhan yang anda minta, Dok."
Al mengangguk dan menggerakkan tangannya, isyarat dia agar segera pergi.
Wanita itu pun membungkuk dan berjalan mundur dengan sopan meninggalkan ruangan Al. Sementara Al langsung mengambil map itu satu persatu dan membacanya, mengecek setiap detail isi dari map itu.
Setelah membaca dua sampai tiga map, Al bergumam, "Penyakit mereka rata rata sudah ditangani dengan baik, sesuai dengan standar rumah sakit ini. Tapi kenapa ada orang yang mengaku keluarga mereka dan mengatakan kalo keluarga mereka yang di rawat di rumah sakit ini tidak dilayani dengan baik? Ada apa ini sebenarnya?''
Dua minggu ditinggal Al berlibur, hari pertama kembali kerja langsing dikejutkan kenyataan yang menggemparkan seperti ini.
Dia termasuk jarang ke rumah sakit. Ya, memang. Karena semuanya berjalan dengan baik meski dia tidak monitor setiap hari.
Al mengambil gagang telepon dan menghubungi ruangan Wahyu.
__ADS_1
"Kesini segera ada yang mau saya diskusikan," Al langsung kepada seseorang yang mengangkat telepon di seberang.
"Baik, Dokter. Saya akan kesana segera." jawabnya yang langsung diangguki oleh Al dan menutup telepon kembali.
Al melanjutkan membuka map itu satu per satu. Dia tidak boleh melewatkan satu hal pun, tidak ada yang boleh mengusik rumah sakitnya.
Tak lama berselang, kembali ada yang mengetuk pintu. Al langsung mempersilahkan masuk dengan fokusnya yang masih ke map. Matanya tidak menoleh atau melihat ke arah yang datang yang ternyata adalah Dokter Wahyu.
Dokter Wahyu menutup pintu kembali, dia duduk di kursi di depan meja Al.
"Ada apa, Dok?'' tanya Wahyu.
Al menutup kembali mapnya, lalu pandangannya beralih ke Wahyu.
"Kamu tahu tentang semua keluhan ini sejak hari apa, Yu?" tanya Al dengan tenang dan santai tapi nampak dengan jelas matanya yabg menyiratkan kekhawatiran. Kabar buruk itu tingkat penyebarannya seratus persen lebih cepat daripada kabar baik pada umumnya.
Al terdiam, dia mencoba mencerna setiap kalimat yang Wahyu katakan, kesimpulannya hampir sama dengan apa yang Al pikirkan.
"Baiklah, Wahyu. Kita akan mengadakan rapat emergency, tolong kumpulkan semua dokter yang bersangkutan di ruang rapat sekarang," perintah Al.
Wahyu mengangguk dan mohon untuk undur diri. Tapi sebelum sampai keluar pintu, wahyu mengingat sesuatu. Ada yang ingin dia sampaikan ke Al.
Engan sedikit ragu, Wahyu berjalan menghampiri Al kembali. Al yang menyadari langkah Wahyu yang semakin mendekat, mendongak dan menanyakan kenapa dia tidak jadi keluar?
"Maaf, Dok. Apa dokter dengan pasien yang bernama Suzan? Teman ibu Yesline?" pertanyaan dari Wahyu menyedot perhatian Al.
"Astaga!'' pekiknya terkejut, dia menepuk jidatnya sendiri. Dia memang benar benar lupa. Dan Yesline pasti juga melupakannya.
"Bagaimana kondisinya? Apa kamu yang merawat dia selama saya dan Yesline ke luar negeri?"
__ADS_1
Jika Wahyu menanyakannya, pasti dia tahu soal keadaan Suzan sekarang.
"Iya, Dok. Saya yang merawatnya waktu itu. Tapi, sudah seminggu lalu dia pamit keluar dari rumah saya, katanya dia mau memulai hidup baru dan mencari pekerjaan baru. Tapi saya tidak berani bertanya kemana dia mau pergi setelahnya. Saya dan istri saya menganggap dia seperti keluarga sendiri saat merawat kemarin, kami tau dokter Al dan ibu Yesline sedang sibuk jadi kami tidak mengabarkan apa apa ke anda, Dok." Wahyu menjelaskan secara rinci.
Al menarik laci mejanya dan mengambil sebuah cek, dia menyerahkan cek itu ke Wahyu.
"Isi sesuai kebutuhanmu, Yu. Ini sebagai pengganti biaya yang telah kamu keluarkan selama ini, dan sebagai hadiah terima kasihku atas bantuanmu."
Wahyu mendorong cek itu kembali ke depan Al. Dia melakukan semuanya bukan untuk mendapatkan imbalan. Dia memang melakukannya atas rasa solidaritas sesama manusia.
"Maaf dokter Al, sebelumnya terima kasih, tapi saya ikhlas melakukannya, saya tidak mengharapkan imbalan apapun dari anda. Karena memang bukan karena uang saya melakukannya," tolak Wahyu.
Al tersenyum dan mengambil bolpoin lalu menuliskan angka fantastis pada kertas cek itu.
Al memberikan cek itu lagi kepada Wahyu.
"Terima ini, kalo kamu menolak lagi, aku tambahin jumlahnya, kalo kamu tolak lagi, aku anggap kamu memeras saya karena kamu terus saja mau ditambah jumlah nol pada cek ini," tandas Al.
Hah? Di mata Wahyu, Al memang rada sinting. Dia dengan begitu saja menulis nominal 50 juta di cek itu. Hanya sebagai tanda terima kasih? Wahyu masih belum bisa menguasai keterkejutannya.
Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bibirnya masih terbuka dan syok. Ini namanya rejeki nomplok, memang kalo rejeki tidak boleh di tolak kan?
Tidak malu maluin kan, kalo Wahyu terima, toh tadi dia sudah berusaha menolak. Wahyu menggerakkan kedua telunjuk jarinya seperti kaki yang berjalan, kedua telunjuknya itu menyeret cek yang Al berikan, Wahyu terpaksa menerima cek itu. Dia tidak mau dianggap ingin memeras Al.
"Terima kasih ya, Dok. Cek ini saya terima, hanya karena saya tidak mau dianggap memeras dokter," ucap Wahyu sambil terkekeh pelan.
Al yang kembali memfokuskan pandangannya ke map map tadi langsung sambil tersenyum kecut sambil melirik ke arah Wahyu. "Terserah kamu deh. Bilang aja dari tadi mau, sok jaim sekali anda, Wahyu!!'' cibir Al.
Wahyu cengengesan sambil keluar ruangan.
__ADS_1