Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 240


__ADS_3

Selama di dalam jet, Meriam menyandarkan kepalanya di pundak Hans. Sambil mendengarkan musik romantis, musik lawas yang begitu epik.


"Mas, kamu pernah lihat film nya ayat ayat cinta gak?'' tanya Meriam memulai percakapan.


"Aku gak terlalu suka nonton film, Sayang. Kerjaku ya seputar ngurusin masalah orang, padahal sebenarnya kita gak boleh ngurusin urusan orang." sahut Hans.


Meriam menegakkan badannya dan kini menatap Hans.


"Hidupmu membosankan ya, Mas," sindir Meriam, dia tertawa kecil dan membekap mulutnya.


Hans ikut tertawa disamping Meriam.


"Mas dari kecil itu gak suka nonton film. Lebih asyik mengulas berita di tv, atau suka ikut Papa ke majlis majlis, masih kecil tapi suka nimbrung yang sudah sepuh sepuh. Ya, mungkin buat kebanyakan orang pasti membosankan, tapi Mas menikmatinya." Hans mengecup pucuk kepala Meriam.


"Aku meski anak kyai, tapi ayah tidak terlalu membatasiku , yang penting aku menjaga sholat dan menutup aurat, itu sudah cukup. Aku boleh ikut kegiatan apapun." terang Meriam sembari memeluk Hans.


"Syukurlah, kamu bisa jadu penghias di hari hari Mas yabg suram." Hans menjewer hidung Meriam.


Beberapa menit kemudian ada pemberitahuan pesawat yang mereka tumpangi akan melakukan pendaratan. Meriam dan Hans bersiap siap.


Hari itu akan mungkin menjadi hari yang membahagiakan bagi mereka. Untuk mengadu cinta dan menumbuhkan benih dari buah cinta itu.


Dari bandara, Ada mobil khusus yang menjemput Meriam dan Hans, membawa mereka langsung ke pulau jeju. Hans sudah memesan resort mewah untuk mereka menginap beberapa hari ke depan. Meriam dengan gamisnya yang berwarna soft bermotif bunga kecil kecil yang manis, dengan jilbab polos senada, sedang menikmati hembusan angin pantai yang sejuk. Meriam berdiri di tepi pantai tanpa beralas kaki, merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


Hans datang dari arah belakang tubuh Meriam mengenakan celana selutut dan kemeja motif bunga dengan kancing terbuka, memamerkan dadanya yang bidang. Hans memeluk Meriam dari belakang.


"Kamu suka sayang?'' bisik Hans tepat ditelinga Meriam.


Meriam mengangguk. Dia membalas pelukan Hans setelah membalikkan badannya, kini mereka saling berhadapan. Dengan cepat kedua tangan Meriam sudah melingkar di leher Hans. Keduanya saling merapatkan tubuh. Kedua tangan Hans melingkar di pinggang Meriam yang ramping, dengan pinggul yabg indah.


"Pantai Woljeongri ini adalah impianku sejak dulu, Mas. Makasih sudah membawaku kesini. Laut biru zamrudnya begitu jernih disepanjang pantai."


Sebelah tangan Hans bergerak membelai pipi Meriam.


"Semakin lama aku menatap wajahmu, semakin aku tidak tahan untuk tidak bernafsu. Maafkan aku," gumam Hans, merasa sedikit bersalah karena pikirannya menjurus ke hubungan intim melulu.


Meriam semakin merapatkan tubuhnya, sedikit berjinjit dan mengecup bagian bawah bibir Hans, lalu Meriam memiringkan sedikit wajahnya, dia berbisik di telinga Hans.


"Semakin bernafsu? Mau aku bikin semakin bernafsu lagi enggak? Mumpung aku lagi haus akan pahala." Meriam terkekeh.


"Sebelum berangkat, Mama sudah pesan cucu, jadi aku harus bekerja ekstra kan?" sedikit canggung mengatakannya. Tapi, lagi lagi Meriam ingat Hans adalah suaminya, dan dalam berumah tangga ini perlu, bukan hal yang tabu.


Hans menyentuh dagu Meriam dengan telunjuk jarinya, sedikit mengangkat dagu Meriam ke atas, Hans sudah memajukan mukanya, siap merapatkan bibirnya ke bibir Meriam saat tiba tiba suara perut Meriam berbunyi. Hans terkekeh pelan, lalu melepaskan dagu Meriam dan membopong tubuh Meriam meninggalkan pantai.


"Kamu lapar? Kita makan dulu. Bagaimana kamu mau kerja ekstra kalo lapar begini?" goda Hans membuat Meriam tersipu.


Hans membopong Meriam masuk ke dalam resort yang sudah ia pesan, lokasinya dekat dengan pantai.

__ADS_1


Hans menurunkan tubuh Meriam, mereka berjalan bergandengan tangan. Hans membuka pintu, Meriam berlari kecil memasuki resort, disusul Hans di belakangnya. Setelah mengunci pintu Hans pun langsung ke dapur dan membuatkan Meriam makanan. Meriam menunggu dengan menopang dagu di kursi, matanya tak henti hentinya menatap Hans.


Tapi, entah kenapa melihat Hans memasak, jadi membuat Meriam ingin usil, dia bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar. Dia mengganti pakaian tertutupnya dengan pakaian yang lebih terbuka. Lingerie.


Meriam berjinjit, melangkah perlahan mendekati Hans, rambutnya dibiarkan tergerai dengan riasan sedikit menor dan wangi tubuhnya yang menggoda. Meriam mendekati Hans dan langsung memeluknya dari belakang.


Hans terkejut, tapi dia tetap melanjutkan membuat nasi goreng saat bibir Meriam tak henti menciumi tengkuknya.


"Kamu agresif juga ya?'' Hans terkekeh. Dia benar benar tidak konsen, mungkin jika iman nya tidak kuat, dia akan membiarkan nasi itu gosong dan lebih memilih berciuman dengan Meriam.


Hans menahan gejolak panas yang membakar seluruh tubuhnya. Sampai nasi goreng yang dibuat sudah matang, Hans langsung mematikan kompornya dan mengangkat tubuh Meriam ke atas pantry. Mereka berciuman di sana, saling menautkan bibir.


Hans dan Meriam terengah engah. Di sela sela ciuman mereka yang inten, perut Meriam kembali berbunyi membuat Mereka tertawa berbarengan.


"Kamu makan dulu ya? Habis itu kita sholat magrib. Kamu sore sore sudah nakal," goda Hans, Meriam tersipu malu.


"Hanya usaha agar cepat kasih Mama cucu," jawab Meriam sambil tersipu.


Meriam melompat turun dari pantry. "Aku ganti pakaian dulu ya, Mas." katanya kepada Hans.


Hans mengangguk. Dia membawa piring berisi nasi goreng tadi ke atas meja makan. Dia menunggu Meriam di sana.


Meriam datang sudah kembali menggunakan gamisnya tapi tanpa jilbab, jadi rambutnya tetap tergerai indah.

__ADS_1


Mereka menikmati nasi goreng sepiring berdua, lebih romantis kata Hans. Mata Hans tak henti melirik ke arah Meriam. Setiap memperhatikan Meriam meneguk air, dia ikut menelan salivanya, pikirannya mesum. Hans mengerjapkan matanya beberapa kali, mengusir pikiran pikiran itu.


Tunggu sampai sholat isya Hans.


__ADS_2