
Tapi semua itu demi .......
" Lalu Kamu apa ??? Malaikat, Begitu ??? Atau Anak sholeh ??? yang membaktikan dirinya kepada Orang Tua dengan segenap jiwa dan raga ??? Hingga dengan bodohnya mau disuruh mau melakukan hal hal yang kotor ??? Oh ya, Kamu lebih hina bahkan dari penjahat !!! " hardik Leni. Matanya berkilat merah saking marah dan emosinya.
" Kamu !!! Jangan menyebutku seperti itu !!! " bentak Gabriel lagi
" Kamu lebih hina dari penjahat !!! " bentak Leni lagi begitu berani. Dia membusungkan dadanya, mendongak menatap Laki Laki itu.
Gabriel maju selangkah lagi, Dia geram, Dia tidak suka Leni menatapnya dengan benci. Dia raih dagu Leni, dan ******* bibir itu dengan lembut. Melampiaskan segalanya pada bibir Leni yang terasa kenyal dan manis. Gabriel menyukainya.
Sebelah tangannya merengkuh pinggang Leni, menarik tubuh Leni begitu dekat. Sedangkan Wanita yang bibirnya sedang terperangkap itu berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan diri. Tapi cengkeraman Gabriel semakin kuat.
Meski amarah dalam dirinya belum padam, tapi hati dan jantung Leni diterjang ombak badai yanga membingungkan. Dia merasa bibir Gabriel terlalu lembut dan manis, ciuman itu begitu intens.
Dengan cepat Leni berusaha cepat menepis pikirannya yang begitu lemah, dengan sekuat tenaga Leni mengangkat kakinya dan menginjak kaki Gabriel, membuat Laki Laki itu seketika meraung kesakitan.
Leni mengusap bibirnya yang masih basah, Dia masih bisa merasakan bibir lembut Gabriel, Lidahnya yang bermain main di dalam rongga mulutnya. Laki Laki itu terlalu lancang, Leni maju beberapa langkah untuk meninju perut Gabriel dan menendangnya berkali kali. Itu adalah ciuman pertamanya. Kenapa Laki Laki itu mengambilnya dengan paksa ???
" Kurang ajar Kamu, Gab !!! Kamu telah merampas ciuman pertamaku dengan paksa !!! Aku akan manghajar Kamu, Aku benci Kamu !!! " geram Leni. Dia sudah siap dengan kepalan tangannya. Namun Gabriel dengan sigap memutar tubuh Leni hingga Wanita itu jatuh lagi ke dalam pelukannya.
" Maaf, Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin Kamu terus memanggilku sebagai penjahat. Karena itu Aku menciummu, Agar bibirmu tidak lagi mengeluarkan kata kata itu. Kamu tau ??? Itu juga ciuman pertamaku. "
Leni membuang tatapannya ke arah lain.
" Aku tidak peduli !!! " Kelihatan sekali Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah. Gabriel perlahan melepas pelukannya. Leni berbalik arah memunggunginya.
" Jika Kamu tidak mau Aku menyebutmu sebagai penjahat, seharusnya Kamu menyelamatkan bayi yang tak berdosa itu. Katamu Kamu Dokter dan punya hati nurani kan ??? Buktikan padaku !! "
__ADS_1
" Kamu tidak mengerti, Aku mana bisa melawan Ayahku sendiri ??? " suara Gabriel terdengar parau.
" Berarti Kamu juga penjahat seperti Erwin !! Kamu tau kan ??? Sudah berapa nyawa yang Dia bunuh ?? Sudah berapa hidup Orang lain yang Dia hancurkan ??? Lalu Kamu datang dan menganggapnya sebagai malaikat dan ingin menolongnya ??? Cuih !! Dan Kamu tidak ingin disebut sebagai penjahat ??? Munafik Kamu !!! "
Leni mengungkapkan segala kekesalan yang sudah memuncak dalam hatinya dan berlalu meninggalkan Gabriel yang masih mematung berdiri.
" Kamu Laki Laki pengecut yang pernah Aku kenal!! "
Kata kata terakhir dari Leni mampu membuat Gabriel kelimpungan. Dia bingung, Tapi Dia sangat tau semua yang dikatakan Leni adalah benar. Mungkinkah dirinya memang pengecut ??
Menatap punggung Leni yang semakin menjauh membuat hati Gabriel semakin takut. Dia ingat, Dia pernah merasakan perasaan ini sebelumnya, saat Ibunya mengatakan akan bunuh diri didepannya, Saat Dia takut sendirian, takut akan kehilangan Orang yang mengasihinya lagi. Atau Dia takut kehilangan Leni karena Dia memiliki perasaan kepada Wanita itu ??? Entahlah.
******
" Kita lapor Polisi saja. " kata Clinton memberikan usul. Matanya menatap iba ke arah Yesline. Wanita itu duduk disofa dengan menekuk kedua lututnya. Menangis, memikirkan keadaan dan nasib bayinya yang pasti sedang menangis kelaparan karena sudah waktunya untuk menyusuinya.
" Polisi akan menerima laporan kehilangan setelah 24 jam dan ini belum ada sehari, ke kantor Polisi hanya akan membuang buang waktu. " jawab Hans.
" Lalu Kita harus bagaimana ??? Hanya menunggu disini ??? " cetus Clinton sedikit nyolot, menatap Hans dengan sinis.
" Aku masih menunggu Leni. " kata Al menengahi perdebatan.
Terlihat Al yang tetap fokus ke layar ponselnya. Berharap ada kabar dari Leni, atau minimal mungkin penculiknya akan menelpon ke nomornya untuk memberi petunjuk. Dia perlu memastikan apakah benar Gabriel yang menculik Azka. Atau Orang lai, Atau siapa ???
Hans dan Clinton merebahkan tubuhnya kembali ke sofa. Ponsel Al berdering, ada pesan masuk.
" Yang menculik Azka bukan Gabriel Pak. Saya sudah memastikannya. Maaf Pak, Saya belum bisa kesana sekarang, Saya yakin Gabriel tahu siapa pelakunya. Jadi Saya masih di depan rumahnya. Dan Saya berhasil mendapatkan tanda tangan Gabriel, Pak. "
__ADS_1
" Baik. Lanjutkan Len, Terima kasih infonya. " Al langsung membalas pesan Leni itu.
Al bangkit dan mulai mengatakan sesuatu.
" Hans, Tolong ikut Aku. Clint, Kamu tolong jagain Yesline disini ya. "
" Oke. " jawab Hans.
" Siap. " jawab Clinton.
Al kembali berjongkok dan menyentuh kedua pipi Yesline. Al benar benar tidak tega melihat Istrinya yang menangis terus hingga membuat matanya bengkak dan sembab.
" Sayang, Aku berjanji akan membawa Azka kembali apapun caranya. Kamu disini dulu dengan Clinton ya ??? " kata Al sembari mengecup kening Yesline agak lama. Yesline memejamkan matanya, Dia yakin Al mampu membawa putranya kembali. Tapi tetap saja hatinya tidak bisa diminta untuk tenang dan bersabar sebelum Azka ada dalam gendongannya lagi.
Dengan pelan Yesline mengangguk. Laki Laki itu pergi setelah memeluk Yesline dengan erat. Sejatinya Manusia hidup memang untuk menjalani dan melewati masalah, sekecil apapun itu.
Al beriringan berjalan dengan Hans, pikirannya terus memikirkan Anaknya itu sampai bunyi telepon membuyarkan pikirannya. Al langsung melihat layar ponselnya dan langsung menjawab panggilan itu. Itu panggilan masuk dari Nicho.
" Iya Cho, ada apa ??? " tanya Al.
" Aku dengar soal penculikan Azka dari Clinton. Aku ikut khawatir Al. Kamu sekarang dimana ??? Aku bantu ikut nyari Azka, Aku dan Callista sudah sepakat menunda pernikahan Kami sampai Azka ketemu. Kamu dimana ??? Aku susul sekarang. " kata Nicho dengan khawatir, Dia benar benar ikut panik.
Dia juga calon Ayah, Jadi Dia pun bisa merasakan bagaimana khawatirnya Al.
" Terima kasih karena sudah mau membantu, Cho. Tapi gak apa apa, Kamu tetap lanjutkan pernikahan Kami, Aku yakin tidak butuh waktu lama untuk menemukan Azka. Aku cuma mau minta, tolong jangan beritahu Mama dulu. Aku sudah cukup kewalahan melihat kepanikan Yesline, jadi biarkan Mama sibuk untuk urusan pernikahanmu. "
" Baiklah. Tolong sampaikan salam Callista untuk Yesline. Dia sangat khawatir memikirkan kondisi Yesline saat ini. "
__ADS_1
" Iya. Nanti Aku sampaikan. "