Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 218


__ADS_3

Hans sedang mengikuti pengajian Kyai di Mesjid pondok. Mendengarkan dengan takdzim. Belajar tentang ilmu agama lebih dalam lagi, dirinya yang bukan Gus, kini dipanggil Gus. Meriam menyematkan tanggung jawab abru di pundaknya. Tanggung jawab yang bukan terasa sebagai beban tapi lebih ke sesuatu yang membanggakan. Hans ikhlas dan bangga menjalankannya.


Sampai pengajian selesai, semua santri keluar dengan teratur dari Mesjid. Hans menunggu di dekat pintu keluar mesjid, dia berniat membantu Kyai untuk melangkah keluar.


"Terima kasih, Nak. Bagaimana Meriam, apa dia bandel?'' tanya Kyai kepada menantunya.


Hans yang berjalan beriringan sambil menundukkan kepalanya menjawab dengan pelan dan sopan. "Dek Meriam wanita yang spesial, Ayah. Dia tahu harus melakukan apa, tanpa Hans kasih tahu atau menunggu ditegur. Dia tahu harus bagaimana bersikap, bertutur kata, kapan harus senyum dan marah, dia benar benar membuat Hans diam tanpa kata, mengagumi dengan sebaik baiknya pengaguman kepada yang istimewa. Dia, laksana bidadari yang memang turun dari surga. Bukan mengada ngada, memang seperti itu adanya, Ayah. Hans berterima kasih, karena Ayah telah berhasil membesarkan dan menjaga Meriam sampai ke tangan Hans.'' Bibir Hans bergetar, dia berhenti melangkah karena langkah Kyai juga terhenti, tangan Kyai menepuk bahunya berkali kali, sekilas mata laki laki paruh baya itu juga berkaca kaca, dia senang, putri yang ia jaga mendapat penjaga baru yang insyaallah amanah. Hans membuat Kyai lebih tenang untuk tidak mengkhawatirkan putrinya lagi.


"Terima kasih, Nak. Ayah tenang sekarang.'' ucap Kyai.


Sedangkan di dalam dapur, Meriam sedang membantu Ibunya masak untuk makan siang.


"Kamu sudah tahu belum, Nak, apa masakan kesukaan Nak Hans?'' tanya ibunya ke Meriam.


Meriam menunduk malu, "Belum, Ma.''


"Loh, tanya toh, kamu ini gimana, masa masakan kesukaan suami sendiri gak tau.'' Ibunya Meriam masih sibuk mengiris bawang merah, sedangkan Meriam mengorek bumbu yang sedang ditumis. Bau wangi semerbak menusuk hidung Meriam.


"Nanti Meriam tanya ke Mas Hans, Ma. Lagian, kalau ditanya jawabnya juga apa aja mau, Ma. Jadi Meriam gak tanya lagi.'' Meriam nyengir, sambil mencicipi bumbu gudeg yang akan ia masak. Di Jogja makanan gudeg adalah makanan khas.


Masaknya yang lama menciptakan rasa dan tekstur yang berbeda jika di banding dengan bumbu masakan lainnya. Sayup sayup Meriam mendengar suara Hans dan Ayahnya sudah selesau mengisi pengajian. Raut wajahnya langsung berubah sumringah, seperti bulan bersinar cerah di malam hari. Meriam bergegas mencuci tangan dan melepas celemeknya. Dia berhambur ingin menghampiri Hans, " Meriam salim dulu ke Mas dan Ayah, Ma,'' katanya sambil berlalu keluar dapur.


Ibunya Meriam hanya terkekeh pelan.


Pengantin baru, wajar kalau masih semagat semangatnya, baru dua jam enggak ketemu, ya sudah berasa dua tahun enggak ketemu. Ndhok.... ndhok... Ibu doakan kamu langgeng, bahagia dunia akhirat sama suamimu, langgeng sampai ke surga ya, Ndhok..... Amin,


Doa seorang ibu itu memiliki jalur VVIP yang bisa langsung sampai ke Allah, tanpa belokan atau jeda dan tersangkut. Langsung sampai, dalam hal dan keadaan apapun, mintalah doa beliau, wanita yang Allah berikan gelar istimewa di dunia maupun di akhirat.


Ibu, jasanya tiada banding.


Namanya tak sirna, bahkan tak lekang oleh waktu.

__ADS_1


Meriam berjalan mendekati Hans dengan senyum mengembang di bibirnya, Hans sedang duduk di ruang tamu bercengkerama dengan Ayahnya. Meriam langsung salim kepada Ayahnya lalu baru ke Hans. Setelah itu, Meriam duduk di dekat Hans.


"Bau kamu enak bangat, sayang. Masak apa sama Ibu?'' celetuk Hans setelah mendekatkan hidungnya ke baju Meriam.


Meriam mendelik kaget, apa dia bau dapur? Meriam mengecek sendiri, dia mendekatkan hidngnya juga ke baju dan jilbabnya. Iya, dia mencium bau gudeg. Wanita cantik itu terkekeh pelan. Ketahuan baunya enggak wangi, padahal tadi sudah pakai parfum.


Meriam langsung nyengir menampakkan giginya yang putih dan berjajar rapih.


"Maaf, Mas. Apa ini mengganggumu? Aku mandi dulu kalau gitu, enggak baik kalau gini, seharusnya aku menjaga seluruh inderamu, Mas. Menjaga diriku agar apa yang kamu lihat, dengar dan rasa serta cium dari diriku semuanya yang baik baik saja, Meski tidak semua manusia tak luput dari salah. Maafkan aku ya, Mas? Tetap ridho sama aku ya, Mas.''


Hans semakin gemas, dia mengangguk dengan mantap, Tangannya mengelus pipi Meriam, dan hendak mencium keningnya, tapi tiba tiba Kyai berdehem. Mereka lupa, di ruang tamu bukan cuma ada mereka berdua. Hans dan Meriam saling tertunduk menahan malu.


Tiba tiba Hans dikejutkan getaran dari ponselnya yang ia simpan di saku kemejanya.


"Sebentar Ayah, Hans pamit undur diri dulu, ayo sayang.'' Hans menggandeng Meriam dan mengajaknya pergi setelah Kyai menganggukkan kepalanya.


"Ada apa, Mas?'' tanya Meriam setelah mereka sampai di dalam kamar.


Hans membaca pesan dari Al.


"Alhamdulillah, Hans. Yesline gak jadi ke Jogja karena dilarang sama Om dan Tante, wkwkwk, aku senang bangat. Moga gak dosa ya. xixixi.


SSTTT!!! Jangan bilang Yesline kalau aku senang, ya! awas kalau kamu sampai bilang. Meski gak tega juga lihat dia sedih gitu, cuma ini terbaik buat kandungan dia."


Hans menutup layar ponselnya, lalu termenung sejenak. Meski sempat tersenyum. Gak tega lihat Yesline sedih, tapi Hans bingung juga mau bagaimana.


Meriam melihat raut wajah Hans yang berubah. Seperti bisa membaca apa isi hati Hans. Meriam menangkup wajah Hans dengan kedua tangannya, netra Meriam menatap dalam mata Hans. Wajah Meriam begitu teduh.


"Apa kamu mau kita ke Jakarta? Kasihan kak Yesline kalau ngidamnya gak keturutan. Mereka begitu baik kepada kita, melakukan hal yang membahagiakan mereka akan membuatku senang, Mas. Gimana menurutmu?''


Hans tidak percaya mendengar kalimat itu keluar dari bibir Meriam, karena istrinya itu pasti tahu apa yang Yesline inginkan. Al aja bahagia Yesline gak jadi ke Jogja, ini kenapa malah Meriam kegirangan ngajak ke Jakarta.

__ADS_1


"Kamu gak cemburu, sayang?'' tanya Hans mencar jawaban.


"Cemburu? Kalau ada alasan yang jelas, aku bisa cemburu, tapi ini untuk Kak Yesline yang sudah punya suami dan begitu mencintai suaminya, pula kak Al yang begitu mencintai istrinya. Juga Allah yang menyatukan kita, dari yang awalnya tak memiliki perasaan apa apa jadi saling suka. Lalu, apa yang harus aku takutkan? Jika semua tetap terserah padaNYA, aku hanya perlu berdoa saja, kan?''


Hans terdiam.


Terpana.


Terpukau.


Terkesima.


Termehek - mehek.


Meriam selalu mampu membuatnya tak bisa membantah kata katanya.


"Aku mencintaimu, rasa cinta ini bertumbuh semakin besar setiap harinya,'' kata Hans, dia merengkuh Meriam ke dalam pelukannya.


"Aku juga mencintaimu, Mas.''


########


Yesline berusaha menutupi rasa sedihnya tapi percuma, Al bisa melihat itu semua, karena Yesline tuh gak bisa bermuka dua, dia itu apa adanya.


Yesline yang sebelumnya jarang mengurus bunga, kini sedang menanam bunga mawar dan menyiram kebun bunga mereka di sore hari yang adem ini. Al memperhatikan Yesline dari belakang punggungnya, sembari melihat Azka bermain sepeda.


Tiba tiba sebuah mobil masuk ke halaman rumah mereka, Yesline mematikan keran air, dan menatap ke arah Al.


"Siapa yang datang, Mas?''


Al mengedikkan bahunya. Dia berjalan mengikuti Yesline yang langsung menghampiri mobil itu. Yesline tidak pernah melihat mobil itu.

__ADS_1


Siapa, ya??


__ADS_2