Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 163


__ADS_3

" Iya, Pa. Eh, keluarga Meriam itu ternyata punya pesantren loh. " terang Hans malah membuat papa dan mamanya terkekeh.


" Mamang iya. CV ini sudah lama Mama simpan dan kamu malah baru memintanya kemarin malam. " gerutu Mamanya.


" Maaf ya, Ma. Hans sedikit bingung dan bimbang. " Hans sedikit merasa bersalah.


" Tidak apa apa. Mama dan Papa hanya akan mengingatkanmu jangan lama menentukan jawabannya, Nak. Kalau kamu sampai kehilangan dia, kamu pasti akan menyesal. " imbuh Mamanya.


Dalam hatinya Hans tahu bahwa yang dikatakan mamanya benar.


" Yasudah, Mama sama Papa mau ke jogja dulu jemput adik kamu. "


Hans terkesiap. " Jogja? "


" Nama pesantrennya apa, Ma? "


Mendengar Hans menanyakan itu, lagi lagi mama dan papanya terkekeh.


" Assalam, Nak. "


Hans seperti pernah mendengar nama pesantren itu. Dia membuka lagi berkas CV Meriam dan melihat nama pesantren nama Papanya Meriam. Benar itu nama pesantrennya. Apa berarti itu milik Papanya Meriam?


" Hans, ikut ya Ma, Pa? " tanyanya sopan saat melihat papa dan mamanya sudah berjalan keluar rumah.


Hans tidak tahu kenapa dia ingin ikut, apa dia akan meminta Meriam sama Papanya langsung seperti yang Wisnu lakukan?

__ADS_1


****


Seorang Dokter keluar dari ruang operasi. Gabriel bangkit dan langsung menghampiri dokter itu, begitu juga dengan Leni.


" Bagaimana, Dok? " tanyanya tanpa basa basi.


" Alhamdulillah, Bayinya perempuan, Pak. * jawab Dokter itu.


Gabriel memeluk Leni, entah kenapa dia begitu bahagia. Dia mencium pucuk kepala Leni berkali kali. Dia adalah dokter kandungan, setiap melihat proses kelahiran bayi berjalan dengan lancar dia akan selalu bahagia.


" Kami permisi dulu, Pak. " pamit dokter itu yang langsung diangguki oleh Leni dan Gabriel.


" Mas, kamu terlihat senang sekali. Nanti kalau aku yang melahirkan kamu yang harus membantu persalinanku. Aku gak mau yang lain. " rengek Leni manja.


" Iya, sayang. Tentu. Ayo kita lihat keadaan bayi dan ibunya. Leni mengangguk dan melangkahkan kaki mengikuti langkah suaminya.


" Pak, anda yang membawa saya kesini? " tanyanya getir, dia tak tahu bagaimana harus membalas budi, sedang dirinya tidak memiliki uang sama sekali.


Gabriel mengangguk. Leni merapatkan tubuhnya ke suaminya.


" Terima kasih, Pak. Kalau gak ada Bapak, anak saya tidak akan lahir dengan selamat. " suaranya parau.


" Saya hanya kebetulan ada di sana, Bu. " Gabriel menjawabnya dengan asal.


Tiba tiba wanita itu terisak. Leni menghampirinya.

__ADS_1


" Kenapa Bu? "


" Saya bingung bagaimana cara saya membayar biaya persalinan disini, bahkan saya tidak punya uang sama sekali, Bu. "


" Bu, tenanglah. Semua biayanya sudah kami lunasi. " kata Leni menenangkan.


" Terima kasih, bu. " wanita itu terisak.


" Kalian seperti malaikat yang Tuhan kirim dalam kehidupan saya yang sengsara ini. "


Leni hanya menunduk merasa kasihan. Terkadang mengeluhkan hidup kita kurang ini dan itu, padahal di luar sana ada yang lebih menderita. Kita hanya lupa untuk selalu bersyukur.


****


Di dalam sebuah Mall, Yesline meminta Azka untuk berhenti berlarian. Dia takut putranya itu bisa terjatuh atau menabrak orang.


" Sayang! Please .... Jangan lari larian terus. Kita beli es krim aja, ya? " bujuk Yesline yang memegang dua sisi lengan Azka dan berlutut di depan putranya. Matanya memohon untuk dimengerti.


" Iya, Ma. Ayok. "


Akhirnya, Yesline merasa lega. Mereka berbelok ke sebuah stand penjual es krim dan langsung memesan dua box es krim dengan rasa yang berbeda, coklat dan strawberry.


Yesline mengajak Azka duduk di sebuah bangku. Menikmati es krim sembari berceloteh, menceritakan tentang apa saja yang ia sudah pelajari seharian di sekolah.


Dari arah lain, Ada seorang pemuda tampan yang memperhatikan gerak gerik Yesline dan putranya.

__ADS_1


" Dia cantik sekali. " gumamnya.


__ADS_2