
Malam ini Meriam terlihat sangat gugup tidak sama dengan malam malam yang lain, entah itu suasananya, rasanya, juga ketegangannya. Tangan Meriam sampai keluar keringat dingin, padahal dia sudah menanti malam ini, sudah ikhlas dan siap. Nyatanya itu semua tak juga mampu membuatnya untuk tidak gemetar.
"Hai, tubuhku, kumohon. Bekerja samalah, bantu aku melewati malam ini dengan baik dan lancar."
Meriam mendelik, Sepertinya dia salah berdoa, baik dan lancar? Apakah dia akan melakukan ujian sekolah? Atau interview kerja? Padahal seharusnya bukan itu.
Meriam terkekeh pelan.
Meriam menggigit bibirnya, dia malu mau mengatakannya. Dia hanya ingin bisa melewati malam ini sesuai yang memang harus ia lakukan, tanpa rasa malu atau risih ketika akan ada laki laki yang menyentuhnya, yang menciumnya, bahkan menikmati setiap jengkal tubuhnya.
Wanita itu memejamkan matanya kembali, dan mengatupkan kedua tangannya. Menegadahkan kepala ke atas, Dia baru saja melakukan sholat hajad dua rakaat, dan hendak berdoa, tapi sepertinya malam itu, dia kikuk, tiba tiba berat untuk mengucapkan kata kata yang bahkan setiap hari mengalir begitu saja, karena biasanya banyak yang ia minta.
__ADS_1
Tapi malam ini seperti ada yang mengiktat ujung lidahnya, keram dan kaku.
Meski Tuhan yang paling tahu isi hati hambanya, tetap sebagai hamba yang tak memiliki kuasa apapun, sudah sewajarnya ia yang memohon atas apa yang ia perlukan.
Kenapa sulit sekali sih?
Suara dalam dirinya kembali berteriak. Meneriaki dirinya yang lain, yang tak kunjung mengucap doa, lalu bangkit dan bersiap menyambut seseorang yang mulai hari ini akan menjadi penguasa kamar ini, juga atas hati dan dirinya. Untungnya, penguasa yang akan datang, adalah penguasa yang baik, jujur, bertanggung jawab, lembut, ganteng, dan ramah juga tulus. Pokoknya semua sifat baik ada dalam dirinya. Itulah Hans, Laki laki yang Meriam minta langsung kepada Rabb-NYA.
Ya Allah, kumohon berkahilah pernikahan ini, ridhohilah pernikahan ini, dan bimbinglah aku untuk menjadi istri yang baik dan sholehah untuk suamiku. Jadikanlah ia menjadi suami yang amanah dengan janji yang telah ia mabil hari itu atas namaMu. Amiinn.
"Siapa yang menaruhnya di dalam kamar ini? Apa milik para perias yang ketinggalan ya?" Meriam berbicara sendiri menggunakan hatinya. Dia berjalan mengambil koper itu, menariknya hingga mendekati ranjang.
__ADS_1
"Apa sih isinya? Panasaran. Meriam buka gak apa apa, ya? Kalau bukan punya Meriam nanti Merian tutup lagi.'' kata Meriam sambil nyengir.
"Astaghfirullah!!'' pekiknya histeris, Meriam sampai membekap mulutnya agar suara teriakannya tidak sampai keluar dari pintu kamar itu. Matanya membeliak, apa yang dia lihat dari dala koper itu sungguh membuatnya bergidik ngeri.
"Siapa yang membawa itu kesini?'' bisiknya sedikit ketakutan.
Meriam mendorong koper itu menjauhi dirinya, tapi koper itu malah menabrak tembok dan terbuka hingga beberapa isinya keluar. Kain kain tipis dengan potongan pendek dan seksi, lingerie-lingerie itu berserakan di lantai. Meriam mendelik. Apa dia harus memakai itu?
Lebih mudah baginya untuk membiarkan Hans melepaskan bajunya satu persatu secara langsung daripada dirinya harus memakai lingerie itu dan menggoda Hans. Namun, tiba tiba mata Meriam dialihkan oleh lipatan kertas berwarna putih, yang ada diantara Lingerie- lingerie itu.
Sebuah surat.
__ADS_1
Meriam meraih lembaran itu lalu membacanya.
Assalamualaikum------