
Nicho turun ke bawah menemui Callista yang sedang sibuk membersihkan ruangan sisa pesat malam itu. Sebelum itu, Nicho sudah berganti pakaian dan menghapus riasan badutnya.
Callista sedang berdiri, berjinjit di atas kursi, dia sedang berusaha mengambil balon balon juga kertas yang bergelantungan di dinding ruang tamu mereka. Callista nampak sedikit kesusahan menjangkau balon terakhir. Callista terlalu berusaha megambil balon itu, kakinya berjinjit dan mencondongkan badannya sedikit lebih miring, membuat kursi pijakannya bergoyang goyang dan Callista terjatuh, untungnya Nicho bisa berlari dengan cepat untuk menangkap tubuh Callista.
Mata mereka saling berpandangan, di ruangan dengan cahaya redup dari lampu kerlap kerlip itu, dalam keadaan saling bertatapan, kedua insan ini jantungnya berdegup tidak karuan. Callista terpaku dalam gendongan Nicho. Hidung Callista bisa mencium dengan jelas, aroma tubuh Nicho yang sangat ia sukai. Deru nafasnya yang membelai wajah Callista membuat tubuhnya meremang.
Nicho.... semoga kamu tidak mendengar suara jantungku yang aneh. Kamu begitu tampan, entah sudah kali ke berapa dan aku selalu jatuh cinta kepadamu, lagi dan lagi setiap kita berdekatan. Semoga kamu tidak menyadarinya.
Wajah itu, mata itu dan bibir itu. Callista sudah terlalu mengaguminya. Perhatian Nicho dan sikap manisnya membuat Callista selalu tak berkutik. Dia tahu Nicho nya memang seperti itu. Sebenarnya meski sakit setelah melihat foto itu, tapi marah Callista hanya sebatas tidak menatap Nicho. Dia tidak mampu melakukan hal yang jauh lebih lagi, misal meninggalkannya?
No! Big No!
Callista sangat tidak bisa.
Callista hanya mencintai Nicho, bahkan dia yakin rasa cintanya kepada Nicho lebih besar daripada rasa cintanya kepada Al dulu.
"Call, kamu sangat cantik. Mana mungkin aku bisa bersama wanita lain dan mengabaikanmu.... Kamu sudah mengambil seluruh hatiku. Percayalah Call, jangan ingat foto itu lagi, Mami hanya menjebak kami. Aku mencintaimu, semenjak kutahu kamu mengandung anakku hati itu, aku sudah memberikan seluruh hati, jiwa dan ragaku hanya untukmu. Tidak ada yang lain. Kamu tahu? Aku tidak tahan ingin melahapmu malam ini. Sudah mau aku sentuh kan?''
Callista terpana. Dia diam saja, seperti terbius omongan Nicho. Saat laki laki itu mendekatkan wajahnya, dalam hitungan detik bibir Nicho sudah melingkupi bibirnya dengan intens. Padahal tadi niatnya mau marah minimal tiga hari, ini belum ada sehari sudah kalah duluan.
Callista menertawakan dirinya sendiri.
Nicho membawanya ke dalam kamar. Dalam gendongan Nicho, Callista merangkul manja suaminya, sambil bibirnya terus saling berpagutan dengan bibir Nicho.
Sampai gairah keduanya memuncak.
Dia sudah melupakan rasa cemburu dan sakitnya. Entahlah, bukan pondasi hatinya yang terlalu lemah, hanya mungkin memang hatinya memang juga merasakan kalo Nicho tidak berbohong. Kalo cinta Nicho tulus dan tidak sedang berkhianat.
#######
Clara sedari tadi menangis di dalam kamarnya, Dia kecewa dengan Clinton, padahal setelah dari pernikahan Hans, Clara mulai memutuskan untuk mau anak, tanpa menunda nunda lama lama, ini malah si Clinton bikin ulah.
Bagaimana dia bisa punya anak banyak kalo kelakuan Clinton tiba tiba mengecewakannya.
__ADS_1
Clara yang masih terisak, sampai tissue habis berdus dus, kaget karena tiba tiba lampu apartemennya padam. Dia usap ujung matanya yang basah, lalu meraba raba permukaan kasur, mencari ponselnya. Kamarnya benar benar gelap.
Di saat seperti ini, Clara kembali menggerutu menyalahkan Clinton. Seharusnya dia sudah di rumah, tapi malah di klub. Clara jengkel dan semakin marah.
Setelah menemukan ponselnya, baru saja Clara mau menyalakan senter dari ponselnya, tiba tiba dia merasa ada yang membopong tubuhnya dan membawanya keluar dari kamar.
"Siapa kamu?'' sentak Clara kebingungan. Dia meronta ingin melepaskan diri.
"Ini aku sayang, suamimu." jawab Clinton dengan suara sedikit berat.
"Clinton! Turunin aku! Kamu lancang sekali, ya! Aku lagi marah sama kamu, jangan sentuh! Jijik aku!'' omel Clara yang hampir saja menangis, matanya sudah berair.
"Enggak, enggak bakal aku turunin. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat. Aku punya hadiah buat kamu, sayang. Sebenarnya mau aku kasih tau nanti aja di ulang tahun kamu, tapi kayaknya momen yang pas sekarang. Siapa tahu kamu bisa luluh, maafin aku atas kesalahpahaman ini."
"Aku bukan tipe yang bisa disogok, Clinton," Clara memalingkan mukanya, sudah tidak lagi berontak dan memukul dada Clinton saat Clinton memasukkannya ke dalam mobil.
Clara hanya menyilangkan tangannya dan membuang muka dari menatap Clinton. Dia berharap apapun hadiah yang Clinton kasih, dia tidak akan luluh begitu saja. Clara kamu harus kuat. Biar Clinton tau dan lain kali harus lebih berhati hati lagi.
Clinton masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Dia melajukan mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat. Clara sampai berpegangan pada pegangan mobil. Matanya melirik ke arah Clinton berada, dia merasa aneh dengan sikap Clinton yang barbar malam ini.
Mobil berhenti di dekat sebuah rumah bergaya eropa, rumah besar dan luas dengan halaman yang luas pula. Clinton turun dari mobil dan membukakan Clara pintu. Clara turun dan tak berhenti mengagumi rumah itu.
Rumah ini sepertinya sudah lama tidak dihuni, tapi masih terawat dan bersih.
Clara berjalan mendekati bangunan itu, mata Clara tak berkedip. Dari kecil dia suka gaya rumah rumah berdesain eropa. Entah darimana Clinton tahu, tapi sekarang setelah puas menikmati detail design bangunan itu dari luar, Clara mulai penasaran, rumah siapa itu sebenarnya? Kenapa tiba tiba Clinton membawanya kesini?
Clinton merasa puas melihat ekspresi Clara yang nampak antusias. Dia tahu Clara akan menyukai hadiahnya.
"Clint, rumah siapa ini? Kenapa kamu mengajakku kesini?" Clara menghampiri Clinton yang berdiri di dekat mobil mereka.
"Ini hadiah yang aku bilang. Kamu suka?'' jawab Clinton.
Clara mengerutkan alis, menatap Clinton meminta jawaban. Dia masih tidak mengerti.
__ADS_1
"Maksudnya hadiah untukku? Maksudnya apa?''
"Ini rumah baru untuk kamu dan kita, kamu suka?" balas Clinton yang langsung membuat Clara melongo menutup mulut saking terkejutnya.
Rumah ini? Untuknya? Clara hampir tidak percaya. Harga rumah ini pasti sangat mahal. Bangunan ini seperti asli bangunan orang eropa, semua bahan bangunan sepertinya asli dikirim dari Eropa.
Clara masih tidak bisa menguasai dirinya.
"Ini sungguhan? Untukku? Darimana kamu tahu kalo aku suka design rumah bergaya Eropa, Clin?" Clara berlari berhambur memeluk Clinton.
Persetan dengan rasa marah dan kecewanya.
Nyatanya Clinton mewujudkan mimpi yang dia anggap hampir mustahil untuk digapai.
Kini ada di depan matanya.
Clinton terkejut saat Clara memeluknya erat dan kuat.
''Terima kasih, Clinton!''
Cup.
Clara mengecup setiap sudut wajah Clinton. Membuat Clinton kelabakan, dia langsung membopong tubuh Clara
"Aku bawa kamu melihat bagaimana dalamnya. Kamu akan lebih suka. Kamu design ulang rumah ini sesuka kamu." kata Clinton sambil terus berjalan memasuki rumah.
Clara dengan cepat menggeleng.
"Enggak, aku suka keaslian rumah ini," tolak Clara dengan mata berbinar.
"Baiklah."
Clinton tersenyum senang.
__ADS_1
Akhirnya, memang senyum Clara lebih mahal harganya daripada senyumnya sendiri. Dia akan melakukan apapun demi senyum itu tidak hilang dari bibir istrinya.