Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 165


__ADS_3

" Ish, mulai deh. Biar Leni dijajanin pake uang suaminya sendirilah, masak kamu yang jajanin! " protes Al disela sela kejahilan tangannya yang mulai meraba seluruh bagian tubuh Yesline, memainkan intinya.


Yesline menggeliat, geli campur nikmat. Dia tak sanggup lagi melanjutkan perdebatan dengan Al, bibirnya di ***** habis oleh Al. Dia hanya bisa melenguh dan mendesah sesekali.


Siang itu, gairah di Dokter terbangkitkan dan tersalurkan dengan baik. Hingga beberapa kali pelepasan.


***


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya Hans dan keluarganya sampai di jogja. Sementara mama dan papanya mengikuti pengajian wali santri, dia memilih untuk menunggu di dalam mobil. Sesungguhnya Hans juga bingung, kenapa dan mau apa dia ikut jauh jauh ke jogja. Beberapa menit kemudian dia teringat dengan nomor telepon Meriam yang tertera di CV. Perlahan dia memasukkan nomor itu ke dalam ponselnya.


Tangan Hans mulai gatal ingin menghubungi nomor itu saat dia sudah menyimpannya. Hans dengan ragu ragu mulai menulis pesan namun dengan cepat ia hapus lagi.


" Assalamualaikum, Meriam. Tidak usah bertanya siapa aku, Aku yakin kamu sudah bisa menebak siapa aku ini. Aku baru membaca CV mu hari ini. Ini kali pertama aku menulis pesan, tapi bolak balik aku hapus lagi. Karena saking gugupnya aku, gak tahu harus mengirim pesan apa kepada kamu. Sekarang pun aku gak tau kenapa bisa menyusul ke jogja, aku penasaran dengan kehidupanmu. Apa mumpung aku disini, aku katakan kepada papamu kalau aku menerima ajakan ta'arufmu, ya? "


Hans menulisnya dengan keringat dingin yang memenuhi jidatnya. Dengan seluruh keberanian yang berhasil ia kumpulkan, padahal biasanya tidak segugup ini. Di akhir pesan tidak lupa ia selipkan emoticon tertawa.


Hans mulai berharap kalau Meriam tahu maksud hatinya yang mulai ingin membuka hatinya. Namun, lagi lagi dia bimbang antara keinginan untuk mengirim dan menghapus pesan yang susah payah ia tulis.


" Tapi bagaimana kalau si Wisnu itu sudah melamarnya, dan dia sudah menerimanya? Bisa ditertawakan aku karena telat. "


" Arrghh !! " Hans mengacak acak rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


" Ah, hapus aja deh daripada malu maluin diri sendiri. "


Baru saja Hans hendak mau menghapusnya tapi malah yang di tekan tombol kirim karena tiba tiba ada suara yang menyapa dirinya dari arah samping kemudi.


" Astaga! Mampus aku! " umpatnya. Pesan yang mau dia hapus malah terkirim ke Meriam.


" Kamu beneran Hans? Ngapain disini? " tanyanya tanpa basa basi. Melihat wajah yang baru kemarin dilihatnya itu. Hans menoleh ke arah sumber suara.


" Aish! Kamu lagi. Kenapa kamu ada dimana mana, sih?! Persis kayak Meriam, yang dimana ada aku selalu ada dia, mungkin memang kita jodoh. " sindir Hans, sengaja ingin memanas manasinya.


" Aku seorang arsitek, Aku sedang ada proyek dari Pak Kiai untuk membantu mendesign dan merenovasi bangunan mesjid, Lah kamu sendiri ngapain disini? "


" Kepo kamu! Udah pergi sana, jauh jauh dari aku! " sentak Hans yang langsung menaikkan lagi kaca mobilnya. Membuat Wisnu kesal dan meninggalkan Hans.


Nanggung, karena sudah terlanjur, dia kini mulai penasaran apa balasan dari Meriam.


Hand tidak tahan menunggu balasan dari Meriam, hampir setiap menit mata Hans melihat layar ponselnya, namun tidak ada balasan juga. Hingga tidak terasa satu jam berlalu, baru pesan balasan itu diterima.


KLUNTING! TING! TING!


" Walaikum salam calon imam. Kamu ada di jogja? Kenapa gak bilang? Kita bisa langsung akad aja di sana. ''

__ADS_1


" Ngawur! Anak ini ngawur! Baru saja hendak berusaha membuka hati dan menerima ajakan taarufnya, Eh, malahan dianya langsung minta akad?! "


Hans geleng geleng kepala. Meski Meriam suka ngasal kalau bicara, tapi dia tetap merindukannya, jika gadis berjilbab itu bersikap biasa biasa saja padanya.


Hans baru saja hendak membalasnya, saat dari kejauhan terlihat orang tuanya bersama sang adik, juga pak Kiai berjalan menuju ndalem, entah mau membicarakan apa.


Hans buru buru turun dari mobil, Dia hanya memperhatikan tanpa berpikir ikut bersama mereka masuk ke ndalem. Hans masih asyik menatap layar ponselnya. Sekitar 30 menit Hans dia melihat orang tuanya keluar. Hans buru buru langsung masuk ke dalam mobilnya, Dia tidak mau ketahuan kalau sedang menguntit.


Di dalam mobil, Papa dan Mamanya terlihat tenang. Wajahnya lurus menatap depan dan sekelilingnya.


" Kakak! Kenapa gak ikut turun tadi? Gak kangen sama adiknya? Nanti, aku gak kasih restu loh, kalau kakak mau nikah sama dokter Meriam. " celoteh gadis berjilbab itu, sambil mencebikkan bibirnya dan sudah duduk di dalam mobil di samping Hans.


Hans hanya bisa tersenyum dan menautkan kedua alisnya menatap sang adik.


" Shinta, kamu tahu dari mana tentang dokter Meriam? " tanya Hans ke adiknya. Ia heran kenapa adiknya tiba tiba bertanya hal seperti itu.


Shinta hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah Mama dan Papanya. Pandangannya itu diikuti oleh Hans.


" Tadi kami sowan ke ndalem Kiai, kak. Lalu mengobrol dan menanyakan soal dokter Meriam, tapi katanya sudah ada yang melamarnya. Kalau kak Hans memang serius, sebaiknya kakak juga segera melamar Dokter Meriam, sebelum terlambat. Jadi, setidaknya Dokter Meriam bisa memilih, antara kakak atau pria yang lain itu. " jelas Shinta.


" Sudah jelas milih, Kakak. Dokter Meriam sendiri yang mengirim CV untuk taaruf kepada kakak, bahkan dia sudah menyukai kakak dari lima tahun lalu. " jawab Hans dengan percaya diri.

__ADS_1


" Tapi kalau kakak gerak lambat, iya tetap aja kecolongan. Ingat!! Udah ada dua wanita yang kakak suka, diambil cowok lain!! Semoga aja Dokter Meriam gak diambil orang juga!! " sahut Shinta.


Namun, kata kata Shinta mampu membuat Hans sedikit berpikir dan ketakutan, jika benar dokter Meriam akan menikah dengan pria lain.


__ADS_2