Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 187


__ADS_3

Di kediaman Gabriel, Leni sedang uring uringan karena melihat wajah sang suami. Bahkan ia meminta Gabriel untuk memakai masker. Setelah tadi pagi ia mengalami morning sickness, kondisi Leni sekarang agak baikan, hanya saja entah kenapa dia tidak ingin Gabriel pergi ke rumah sakit namun ia juga kesal melihat wajah Gabriel, sehingga membuatnya uring - uringan. Yang lebih kasihan lagi, Gabriel selain harus memakai masker di wajahnya ia juga harus menjaga jarak dari Leni sekitar satu meter.


"Ya ampun, sayang. Kok kamu tega bangat sih sama aku, kalau kamu gak mau lihat wajahku, biarin aku berangkat ke rumah sakit aja deh." ucap Gabriel kepada Leni.


"Kok kamu jahat sih, Mas? Kamu udah gak sayang lagi sama aku ya?" jawab Leni sambil terisak. Sontak Gabriel yang melihat Leni menangis maju mendekati Leni. Namun, baru maju dua langkah Leni sudah menghardiknya.


"Jangan dekat dekat!! Aku gak mau didekatin sama, Mas!!" hardik Leni.


"Astaga, sayang! Aku kaget, ya udah kalau aku gak boleh dekatin kamu, kamu jangan nangis dong." pinta Gabriel yang tidak tega melihat istrinya menangis.


"Aku juga nangis gara gara kamu!!" sentak Leni. Mendengar hal itu Gabriel hanya mengelus dadanya.


Nasih nasih kalau suami takut istri begini, dibentak dikit langsung ciut jantung saya!! Kayaknya saya harus benar benar belajar sama Nicho nih masalah KDRT. Gabriel mengeluh dalam hatinya.


Gabriel mengacak rambutnya dengan kasar. Membuat rambutnya yang basah terlihat semakin acak acakan. Dia dalam kebingungan yang nyata. Sang istri sedang menangis entah kenapa, dia tidak tahan ingin mendekat dan menghiburnya, tapi Leni melarang Gabriel untuk berada di dekatnya. Entah apa yang membuatnya tidak bisa berdekatan dengan suaminya sendiri.


Efek kehamilannya, mungkin.


"Sayang, jangan menyiksaku seperti ini, tolonglah...... Biarkan aku menghiburmu. Aku peluk ya? biar gak nangis lagi." Gabriel masih berusaha membujuk Leni, dia perlahan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Leni, tapi baru juga dua langkah dia melangkahkan kakinya, Leni sudah kembali berteriak histeris. Membuat laki laki itu tersentak, kaget. Menarik kembali kakinya menjauh.


"Ya, ampun sayang? Kenapa sih?!"


"Stop. Kamu disitu aja sayang. Jangan mendekat. Aku tiba tiba pengen teh anget, bisa tolong buatin? campur susu putih dan lemon ya." kata Leni.


Gabriel mencoba mencerna permintaan Leni. "Apa kamu serius? Apa kamu sudah pernah meminumnya, sayang?" tanya Gabriel merasa heran, dia merasa istrinya sedang asal bicara saja.


Tapi dengan mantap Leni menggeleng. Matanya masih sembab karena terlalu lama menangis. Antara pergi ke dapur menuruti Leni atau berdiam diri di dalam kamar, Gabriel ragu ragu melangkahkan kakinya.


"Sayang, buruan."


Huek


Huek


Leni tiba tiba ingin memuntahkan isi perutnya yang bahkan belum terisi apapun sejak pagi. Dia sedang tidak ingin makan apa apa. Dia segera berlari ke dalam kamar mandi, dia tidak mau muntah di depan suaminya. Gabriel merasa kasihan dengan kondisi Leni.

__ADS_1


Gabriel tidak jadi ke dapur, dia mengekor di belakang Leni. Dari luar pintu kamar mandi, Gabriel bisa mendengar berapa kali mengeluarkan suara muntahan yang membuatnya semakin merasa kasihan.


"Ternyata sesusah itu perjuangan seorang wanita menjalani kehamilannya. Ini baru berapa minggu. Huaaa! Masih sembilan bulan lagi, semoga otak saya tidak mendadak stres, menghadapi keanehan Leni." keluh Gabriel dalam hati.


Tangannya mengetuk pintu kamar mandi pelan.


"Sayang, kamu kenapa? Aku masuk ya." tanya Gabriel dengan suara parau, hatinya benar benar tak karuan melihat sang istri menderita.


"Gak usah, Mas. Buatkan aku minum aja, ya? Mulutku pahit." kata Leni sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.


"Oke, tunggu sebentar ya?'' Gabriel menyahut, lalu ia membalikkan badan dan menuju ke dapur.


Di dapur, Gabriel menuruti Leni. Dia membuka kulkas dan mencari susu segar juga teh alami dan lemon. Pikirannya tidak lagi menimbang nimbang apakah minuman itu enak jika diminum atau tidak. Dia memotong lemon dan memeras airnya.


Saat itulah Gabriel mengingat Yesline, dia berpikir mungkin Yesline bisa sedikit membantunya. Gabriel mencuci tangannya lalu meraih ponsel dan menghubungi Yesline.


Panggilan tersambung, beberapa menit kemudian baru telepon diangkat.


"Halo, Yesline? Kamu dimana? Lagi apa? Gak sibuk kan?" celetuk Gabriel tanpa menunggu orang diseberang sana mengeluarkan suaranya.


Sedangkan di sebrang sana yang menerima telepon adalah Al bukan Yesline. Istri Al itu masih di dalam kamar mandi.


"Ish! Niat hati mau bicara sama permaisuri yang baik hati, ini malah yang muncul suami posesifnya yang malu maluin!!!" cibir Gabriel.


"Apa kamu bilang? Berani ya kamu ngatain saya?! Awas aja kamu Gabriel kutu kupret!!! Sialan!!" maki Al tak kalah emosi.


Tut... tut.... tut...


Namun, diseberang sambungan telepon sudah terputus.


Al membanting ponsel Yesline ke lantai hingga pecah saking kesalnya.


*****


"Saya pamit dulu, Yah." ucap Hans kepada laki laki paruh baya yang sedang duduk membaca kitab kuning. Dengan kacamata yang sedikit dikebawahkan.

__ADS_1


Ayah Meriam menoleh ke arah sumber suara Hans. Hans yang mendekat dengan tubuh sedikit condongkan ke depan sebagai penghormatan kepada kyai.


"Mau pulang, Nak? Padahal ayah mau menyuruh santri putra untuk menyiapkan tempat untuk kamu menginap."


"Tidak apa apa, Yah. Ada pekerjaan yang harus Hans selesaikan di jakarta. Kebetulan tidak bisa ditunda atau diwakilkan." Hans memberitahu. Pria paruh baya berjenggot putih itu hanya mengangguk angguk mengerti.


"Baiklah, Nak. Hati hati."


Hans mencium punggung tangan itu dengan takzim. Sementara Meriam menunggu didepan ndalem ayahnya.


Hans sudah keluar dan langsung memakai sepatunya kembali.


"Beneran mau pulang? Gak nyesel?" sindir Meriam.


Hans terkekeh pelan. Dia tersenyum lalu menatap dokter Meriam, calon istrinya.


"Abang pulang dulu ya, Neng. Buat melakukan persiapan untuk halalin kamu. Abang janji, setelah Neng jadi istri abang, Abang pastikan Neng akan selalu bahagia." Hans mengatakannya dengan intonasi sempurna. Tidak lambat, juga tidak cepat. Sempurna, dalam tempo sesingkat singkatnya.


"Abang? Neng?''


Sesaat Meriam benar benar tersipu dengan panggilan itu. Dia menatap Hans dengan penuh haru.


"Calon Imam. ini buat kamu, di baca nanti saja kalau sudah sampai di rumah, kalau mau tidur. Biar bahagianya sampai ke bawa mimpi. Bye bye, dadahh....." tutur Meriam sembari menyodorkan sebuah amplop berwarna pink dengan motif bunga. Hans menerimanya, dengan sejuta tanya, tapi masih dia jaga.


Hans memasukkan amplop itu ke dalam saku kemejanya. Kemudian dengan berat hati ia harus meninggalkan wanita itu yang sudah tak lama lagi akan menjadi istrinya.


Namun baru beberapa langkah, tiba tiba Hans berhenti dan menoleh menghadap Meriam lagi.


"Tolong jangan terima Wisnu. Dan tunggu aku kembali. Aku sudah memasukkanmu ke dalam hatiku yang sempat kosong. Jangan biarkan itu tak bertuan. Neng.... Rembulan bersinar di malam hari, dia indah di dalam malam yang gelap. Tapi itu bukan kamu Neng. Kamu lebih indah dari itu, melebihi purnama. Izinkan abang memilikimu."


Biasanya wanita itu begitu cerewet, banyak bicara. Dan biasanya laki laki itu begitu pendiam dan irit bicara. Namun, semuanya berbalik 180 derajat.


Meriam hanya menunduk, dan menganggukkan kepala dengan malu.


Hans meremas udara dengan kedua tangannya, dia gemes ingin. Mencubit wajah Meriam.

__ADS_1


Namun, ia segera berbalik dan pergi, sebelum hatinya terkotori pikiran kotor.


Meriam tersenyum kecil melihat tingkah Hans dengan melambaikan tangan.


__ADS_2