Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 174


__ADS_3

Clinton mulai terbangun dari tidur yang sedikit panjang dan lama karena diakibatkan oleh obat bius. Perlahan tapi pasti, akhirnya Clinton mulai membuka matanya.


Gelap.


Ia sama sekali tidak bisa melihat objek apapun. Clinton juga merasakan keanehan pada dirinya. Seperti tangan dan kakinya terikat.


" Sialan! Siapa yang melakukan ini sama saya! cari mati, kayaknya!! " teriak Clinton murka.


Clinton meronta ronta agar ikatan di tubuhnya bisa terlepas. Tidak salah lagi, dia saat ini sedang di culik.


" Woi, lepaskan! Atau saya habisi kalian satu satu! " jerit Clinton.


Ia sungguh tidak habis pikir, kenapa dirinya bisa di culik seperti ini. Jika saja pelakunya tertangkap, Clinton pasti akan memberikan pelajaran yang setimpal. Begini begini, dirinya adalah calon pengantin atau sebutan populernya darah manis.


Pernikahannya dengan Clara hanya tinggal menghitung hari saja. Jangan sampai ia mati konyol di tangan penculik ketika belum menikah.


" Woi!! Lepaskan, Brengsek kalian!!" Clinton tak henti hentinya berteriak. Ia tak peduli jika pita suaranya putus karena kebanyakan berteriak. Yang terpenting adalah dirinya harus bisa segera pergi dari sini.


Di luar.


Terlihat dua orang pria tengah menahan tawa setelah mendengar teriakan Clinton yang begitu menggelegar.


" Hahaha .... Lihat, Dia sudah seperti orang kesetanan saja! " ujar pria yang terlihat paling puas mengerjai sahabat mereka sendiri. Siapa lagi kalau bukan Al.


" Kamu benar bangat, Bro. Ide istri kamu memang cemerlang. " sahut Gabriel yang merasa puas karena telah mengerjai seorang Clinton yang sok cool.


" Lihatlah, sekarang Clinton seperti anak kecil yang meraung raung meminta uang jajan pada ibunya. "


Setelahnya, tak lama datanglah Hans. Hans tidak seorang diri melainkan bersama Yesline.


" Sayang, akhirnya kamu sampai juga. Aku rindu. " seketika Al langsung memeluk tubuh Yesline, sang istri tercinta. Tak hanya memeluk, tapi juga mengecup bibir Yesline pelan. Al memang gak peduli dengan dua sosok yang memandanginya dengan tatapan jengah dan bosan.


Dasar si kampret bucin. Itulah yang tengah Gabriel ucapkan dalam hati. Melihat seorang Al yang seperti itu bukanlah hal tabu bagi keduanya.


" Ih, Mas. jangan seperti itu. Gak enak dilihatin sama mereka. " ujar Yesline melirik ke arah Gabriel dan Hans.


" Iya, iya. " Al mengalah. Pria itu mulai sedikit menjaga jarak dengan sang istri tercinta. Apakah ia kesal? Tentu saja.


Namun, apa boleh buat. Jika dirinya tidak mengalah, bisa bisa Yesline ngambek dan lebih parahnya lagi, ia tidak mendapatkan jatah. Wah! mana bisa dibiarin.

__ADS_1


Yesline merasa geli melihat wajah sang suami yang tampak sedikit kesal. Benar benar suaminya itu adalah jelmaan bayi besar saja.


" Bagaimana? Clinton nya udah disini, kan? " tanya Yesline kepada mereka bertiga.


Ketiganya kompak mengangguk.


Kedua sudut bibir Yesline langsung tertarik ke atas. Akhirnya rencananya berhasil juga.


" Bagus. Dimana dia sekarang? " tanya Yesline terlihat bersemangat.


" Dia ada di dalam. Kami sudah mengikat tangan dan kakinya. Tak lupa untuk menutup matanya. " jelas Al dengan bangga. Tangannya menunjuk ke arah ruangan yang diyakini adalah sebuah kamar.


" Apa?! " pekik Yesline kaget.


" Kenapa sayang? Bukankah kamu yang menyuruh kami untuk menculiknya? " tanya Al yang nampak kebingungan.


Yesline memijit kepalanya pelan. Astaga!


" Siapa yang menyarankan ude untuk mengikat Clinton begitu? " Yesline memandangi ketiganya.


" Al. " kata Gabriel dan Hans bersamaan.


Sebenarnya, Hans tidak ingin terlibat dalam rencana penculikan konyol ini. Namun, dirinya tidak bisa menolak permintaan Yesline. Bagaimanapun, sosok Yesline memiliki tempat khusus di hatinya. Ia menyukai wanita itu sejak duduk di bangku SMA. Sayangnya, Yesline bukanlah jodohnya. Tapi, ya sudahlah.


Yeseline sekarang adalah istri sahabatnya. Tidak mungkin, ia merebut Yesline begitu saja.


" Mas! Kamu ini ya. Kita memang mau menculik Clinton, tapi jangan diperlakukan seperti diculik beneran, dong! " Yesline terlihat sedikit kesal.


Clinton yang diculik seperti itu karena akan diadakan sebuah pesta kejutan untuk Clinton.


" Sana! Cepat lepasin Clinton. Sebentar lagi Clara datang. Dia pasti syok berat melihat kekasihnya dalam keadaan begitu. " titah Yesline kepada ketiganya.


" Iya. " jawab mereka bertiga serempak.


Yesline menghembuskan nafas kasar. Ada ada saja tingkah para pria yang sudah tidak muda itu lagi.


******


Di kamar, Penthouse milik Gabriel yang tidak ditempati oleh Dia dan Leni.

__ADS_1


Hans menyalakan lampu kamar, Clinton tampaknya sudah lelah. Terbukti pria itu hanya diam saja tanpa bergerak sedikitpun. Al, Hans dan Gabriel agak tertegun melihatnya.


" Clinton! Bangun! " akhirnya Al membuka suara.


Hans dan Gabriel mulai membuka ikatan tali yang ada pada kaki dan tangan Clinton. Tak lupa membuka tutup mata.


" Brengsek, Kalian semua! " umpat Clinton yang ternyata tidak tidur seperti yang mereka pikirkan.


" Hehehe.... Sorry. Kita cuma bercanda, bro! " Al tersenyum kikuk. Terlihat jelas kalau Clinton tengah marah. Kilat matanya begitu tajam, Bak pedang yang siap menghunus lawan.


" Apa maksud kalian semua giniin saya, hah?! Kalian semua cari mati?!" Clinton sedikit berteriak meski tenggorokannya terasa begitu sakit. Bagaimana tidak sakit coba, kalau hampir sejam lamanya dia terus berteriak seperti orang gila minta dilepaskan.


Clinton tidak pernah menduga kalau ia diculik oleh para sahabatnya sendiri. Dasar! Sahabat Laknat!


" Kami minta maaf. Ya, sudah kamu jangan marah marah lagi, ya. " kata Gabriel mencoba menenangkan. Pria duduk di samping ranjang dengan menepuk nepuk pelan punggung Clinton.


" Benar, Bro. Sebaiknya kamu ganti baju aja deh, Kamu harus kelihatan ganteng dan segar pake bangat. Clara sebentar lagi juga akan tiba. " jelas Hans.


Mendengarnya, tentu saja Clinton merasa kebingungan. Apa maksud semua itu? Harus terlihat lebih tampan? Clara akan datang?


Sungguh. Otaknya ini sudah buntu untuk digunakan berpikir. Semua itu disebabkan olehnya yang sudah dulu over thinking karena di culik begini.


" Maksud kalian semua apa? Saya gak ngerti sama sekali. " Clinton terlihat frustasi dan kesal.


Ekhem!


Al berdehem lumayan keras. Ingin menjelaskan takut Yesline akan marah. Mengingat ini semua adalah kejutan. Sebuah pesta kejutan untuk Clinton yang sudah diatur sedemikian rupa.


" Udah deh! Kamu nurut aja! " kata Al.


" Iya, Bro. Kamu pasti bakal seneng, nantinya. " kata Gabriel menimpali.


Hanya Hans yang diam saja. Otomatis, Clinton pun langsung menatap Hans lekat. Menurut Clinton, dari ketiganya hanya Hans yang sedikit agak waras.


" Hans, benar kalau saya bakal senang? "


" Iya. " akhirnya Hans menjawab.


Helaan nafas kasar lolos begitu saja dari bibit Clinton. " Baiklah, saya bakal nurut sama kalian semua. " ucap Clinton pasrah.

__ADS_1


__ADS_2