Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 150


__ADS_3

Pagi baru saja menyingsing, mungkin baru setombak. Cahaya subuh bahkan baru beranjak, tanda aktifitas baru di mulai.


Seharusnya pagi seperti ini paling enak duduk bersantai atau bercinta dengan Istrinya.


Tapi Nicho tidak bisa berbuat banyak selain harus bangkit dan segera mendekati Istrinya. Ditatapnya wajah cantik yang masih hanyut dalam mimpi. Sepertinya Perempuan itu lelah sekali setelah melayaninya sepanjang malam.


" Muach. "


Nicho melayangkan ciuman lembut di kening Callista. Menyentuh perlahan lahan kepala dan rambut Istrinya yang sedikit berantakan. Nicho tidak masalah jika membiarkan Istrinya tertidur pulas dan tidak menuntut Callista melayaninya seperti kebanyakan Istri pada umumnya. Tapi Nicho tak menyangka, sentuhan lembut darinya bisa membuat Istrinya menggeliat setengah sadar hingga terbangun.


Dalam posisi wajah ngantuk seperti itu, Callista seperti ingin memberikan respon balik. Namun karena rasa ngantuk yang berlebih, Callista pun jadinya hanya tersenyum manja.


" Istirahat dulu aja, Sayang. Mas mau nyicil kerjaan dulu. "


Callista mengangguk ringan. Segera Nicho bangkit dan mengambil berkas yang ada disisi ranjang. Tak lupa, Dia juga membuka tab yang biasa Dia gunakan saat bekerja untuk mencatat beberapa point penting.


Selain itu, Dia juga melihat lihat catatan keuangan dan bisnis Kakek Gunawan hang harus Dia perbaiki. Jika tidak, kecatatan dalam proses pendataan akan berakibat fatal pada pendanaan.


Ah, andai saja Al mau membantunya lebih banyak, pasti Dia tidak sesibuk ini di pagi hari. Saking fokusnya mencatat dan mengamati semua data, Dia sampai tidak sadar jika Istrinya sudah selesai mandi dan hanya keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya.


Ah, seksi sekali. Begitu pikir Nicho saat melihat kemolekan istrinya dari balik handuk. Dia masih ingat betul betapa bagusnya tubuh istri yang hampir setiap malam menemaninya itu. Membuatnya merasa candu dan rindu sepanjang waktu.


" Mas, kelihatan seksi deh, kalau pagi pagi udah sibuk aja sama kerjaan, hehehe. " tegur istrinya dengan nada menggoda sambil mendekati ke arah Nicho yang masih sibuk memegang berkas.


Wanita itu menatapnya dalam. Lalu di detik berikutnya, wajah Wanita itu mendekat dan mencium ujung bibirnya. Ya, hanya ujung. Callista memang sangat ahli memainkan gairah dan perasaanya. Segera Nicho melepaskan ipad dan data lalu menarik Callista hingga terduduk di depannya.


" Ah, dasar si cantik. Bisa aja bikin Mas kelimpungan. " ucap Nicho frustasi lalu dengan segera menyambar bibir Istrinya.


Mereka cukup lama beradu mulut hingga gak terasa gairah jiwa semakin menggebu dalam dada. Saat Nicho sedang semangat semangatnya hendak menarik handuk Callista, tiba tiba terdengar ketukan dari balik pintu dan mungkin suara Cloe. Anaknya sudah bangun ???


" Mama ??? " teriaknya dari balik pintu sambil menangis entah sejak kapan karena Mama dan Papanya malah sibuk hendak bercinta.

__ADS_1


Segera Callista merapatkan handuk kembali lalu menjawabnya.


" Ah, iya, sayang. sebentar. Mama ganti baju dulu. "


Nicho malah tertawa melihat kegugupan istrinya itu. Sebenarnya kasian, Istrinya juga pasti ingin bermanja manja lebih lama namun terganggu karena Anaknya yang masih bergantung padanya. Istrinya segera memakai blouse dan jeans, lalu membuka pintu dan menampilkan ekspresi Anaknya sudah sebal di balik di pintu.


" Ih, Mama lama ih. " raut wajah Cloe yang tidak kalah menggemaskan.


" Iya, maaf ya, sayang. "


Segera Callista dan Cloe menghilang dari pandangan. Berganti senyap yang nyaman, Dia siap kembali bekerja. Satu dua menit berlalu. Dia tidak sadar berapa lama Dia terpaku dengan kerjaannya. Untung Dia terbiasa memasang alarm 15 sebelum harus berangkat kerja.


Sisa waktu tersebut Dia manfaatkan untuk mandi, berganti pakaian dan makan jika sempat. Seperti sekarang pun Dia baru sadar waktu alarm berbunyi. Dengan segera Dia merapikan semua berkas lalu meluncur ke kamar mandi. Mandi tidak perlu lama, yang penting wangi dan bersih. Berdandan pun tidak terlalu lama karena Dia laki laki.


Jadi yang Dia butuhkan yang penting pakaian kerja sudah siap dalam keadaan rapih. Setelah dirasa semua sudah okey, Dia segera menuruni anak tangga dan mendapati Istrinya yang sedang mempersiapkan beberapa makanan di dapur sedangkan Cloe sudah sibuk memberantaki rumah dengan mainan dan boneka bonekanya. Ah, ternyata Dia hanya punya sisa dua menit saja sebelum berangkat.


" Sayang, Aku sarapan di kantor aja ya. Ini udah mau telat nih. Masih banyak kerjaan yang harus Mas lakukan. " jelas Nicho setengah berteriak sambil menuruni anak tangga.


" Ya udah, Mas. Tapi sarapan masakanku aja ya. Udah aku buatin makanan kesukaan Mas. " ujar Callista segera menyusul Nicho untuk menyodorkan tas berisi bekal makanan.


Nicho tentu saja menerima dengan senang hati dan mengecup istrinya dengan penuh kasih sayang.


" Iya. Makasih sayang. " Nicho segera beralih ke Putrinya yang sedang sibuk bermain. Di Sana Dia tidak lupa tersenyum agar anaknya tidak canggung kepadanya.


" Halo, tuan putri. Papa kerja dulu ya. Jangan nakal ya, Temanin Mama ya, Papa kerja dulu. Dadahhh ... "


Cloe membalas ucapannya, begitu juga Istrinya.


****


Clinton menghela nafas singkat. Energinya sedikit terkuras setelah menjenguk Papa Hans. Selain itu, jujur saja Dia cemburu melihat pasangan suami istri yang tampak begitu harmonis di tengah tengah dirinya yang belum beristri.

__ADS_1


Sial, ingin sekali Dia menikah dengan Clara secepatnya. Clinton segera menekan pedal mobil menuju kantor Clara. Setelah tiba di sana, dua menit kemudian Clara keluar. Menampilkan. Menampilkan mimik wajah yang agak kelelahan.


" Halo Sayang ... " sapa Clinton ceria namun Perempuan itu malah tidak semangat untuk menjawabnya.


" Hai. "


Hanya begitu. Clara tidak terlihat bahagia saat melihatnya. Padahal jauh dalam lubuk hati Clinton, Dia sangat bahagia bisa melihat wajah cantik Clara di depan mata.


Mungkin Perempuan itu benar benar capek atau ada masalah di kantor? pikir Clinton mencoba memaklumi.


" Sayang, capek ya? " Wanita itu hanya mengangguk lemah.


" Ya udah biar capeknya berkurang, gimana kalau Kita makan di restoran kesukaanmu saja?? "


Clara sempat tersenyum sebentar lalu kembali cemberut.


" Yah, restoran favorit Clara kan mewah. Malu ah kesana pake baju kerja doang. Mana udah keringat lagi. " kata Clara mengungkapkan kesedihannya.


Haduh, sepertinya mood Perempuan ini benar benar sedang tidak bagus. Clinton harus mencari cara agar Perempuan itu kembali ceria.


" Gimana kalau Kita ke butik dulu? pilih gaun yang Kamu suka biar Kamu makin cantik dan anggun lagi. Nanti sekalian Mas mintain perawatan kilat buat Kamu, Sayang. " tawar Clinton memberi semangat.


Mendengar hal itu Clara mengangguk seperti anak kecil. Bahkan Dia mencebikkan bibir di saat Dia setuju dengan tawaran Clinton.


" Ya ampun, menghadapi Perempuan ini kadang butuh kesabaran ekstra." batin Clinton menggerutu.


Setelah Mereka sampai di butik, Clara terlihat mulai ceria memandangi deretan baju mewah yang berjajar rapih. Tidak segan Clara memilih beberapa gaun yang tampak menarik dan meminta pelayan butik untuk membawakan semuanya agar bisa di coba satu per satu. Clinton menggeleng ringan.


Ya ampun, Perempuan itu lucu sekali. Tadi saja katanya lelah sehabis kerja. Sekarang Dia sudah bersemangat saja melihat deretan baju yang terpajang rapih. Setelah Clara memilih satu baju yang cocok di tubuhnya, Clara menerima perawatan kilat dari pihak butik untuk mempercantik dirinya yang belum mandi itu sebelum Mereka ke restoran.


Meski di bilang kilat, tetap saja sudah hampir satu jam belum selesai sejak Mereka sampai di butik itu. Saat selesai memang tidak mengecewakan. Clara terlihat elegan, cantik dan terlihat segar dengan beberapa sentuhan di wajah setelah seharian bekerja.

__ADS_1


" Are You ready, Sayang?? "


__ADS_2