
Sesampainya Nicho di Jakarta, entah kenapa Dia kepikiran untuk mengecek rumah Mamanya Yesline. Dia hanya berpikir itu satu satunya tempat yang bisa Yesline tuju saat Dia tidak pulang ke rumah Al. Mobil sedan mewah itu berhenti di depan rumah sederhana itu.
Nicho keluar dari dalam mobil, Dia melepas kacamata yang Dia kenakan itu, menggantungnya diantara belahan kemejanya. Dengan melangkah perlahan Dea mendekati pintu, matanya mengecek semua sudut. Dia melihat kedalam jendela dan memicingkan matanya, sedikit samar. Dia hanya tau lampu rumah itu masih menyala. Apakah ada Yesline di dalam ??? Dia langsung berinisiatif untuk mengetuk pintu.
Tok .... Tok ..... Tok .....
" Yes .... " panggilnya.
" Ini, Aku. Nicho. "
Nicho mengetuk pintu semakin keras dan cepat tapi tak ada jawaban. Dia berjalan memutari rumah, berjalan ke sisi samping, mendekati ruangan yang dulu Dia ingat itu adalah kamar Yesline.
Dia mengintip dari jendela. benar, di dalam memang ada Yesline tapi Dia masih tidur atau apa Dia pingsan. Nicho tiba tiba panik, Dia langsung menggedor gedor jendela itu.
Perlahan Yesline menggeliat, salah satu tangannya masih memegang rasa nyeri yang timbul dari dalam perutnya. Dengan susah payah Dia mendekati jendela, membukanya dan memastikan siapa yang diluar sana.
" Nicho ????? " panggilnya tak percaya.
" Ngapain Kamu disini ??? " tanya Yesline lagi.
Pandangan Nicho fojus menatap lingkar hitam dibawah kelopak mata Yesline, matanya sembab dan bibirnya pucat. Dia sangat kasihan melihat kondisi Yesline saat ini.
" Bukain pintu, ya ??? " kata Nicho. Dia ingin segera memeluk Yesline, Tapi Dia yakin Yesline pasti akan menolaknya. Dia hanya ingin menatap Yesline lebih dekat.
" Iya. Tunggu sebentar. " jawab Yesline lalu berbalik arah, keluar dari kamarnya dan membukakan pintu.
Saat pintu dibuka, Nicho langsung berhambur masuk. Dia langsung menyentuh lengan Yesline.
" Yes ....Kamu pucat dan terlihat lemas sekali, Kamu belum makan ??? Kita makan ya ??? Atau mau jalan jalan ??? atau mau kemana ??? Aku temanin, Hm ??? " kata Nicho dengan mengajukan semua pertanyaan karena Dia sangat khawatir sama Yesline.
__ADS_1
Dia hanya ingin Yesline melupakan masalahnya sejenak. Nicho sangat tidak tega melihatnya yang seperti itu. Yesline tersenyum ramah, Laki Laki di depannya itu selalu begitu. Saat Dia susah, tiba tiba saja sudah berada di depannya. Menawarkan banyak hal. Padahal Dia juga tau, Saat Yesline sedih, Dia tidak bisa disogok dengan apapun.
" Aku tidak apa apa, Cho. " jawab Yesline lembut.
" Kamu tau dari mana Aku disini ??? Bukankah seharusnya Kamu di Singapura ??? "
" Iya. Seharusnya begitu. Tapi Aku dengar kabar kalau Kamu sedang tidak baik baik saja. Jadi Aku langsung kesini. " jawab Nicho menjelaskan. Dia duduk di kursi ruang tamu, lalu dengan gusar Dia bangkit lagi dan menghampiri Yesline yang masih berdiri tak jauh darinya.
" Eh, benaran loh .... Kamu harus makan. Bayimu kan butuh tenaga dan asupan juga. Sedih boleh, Tapi Kamu harus perhatian sama Bayimu juga. Kan sekarang Kamu tidak sendiri lagi. " kata Nicho.
Yesline terkekeh.
" Bicaramu seperti sudah punya Anak, Cho. " kata Yesline. Wajah pucatnya terlihat sedikit menghilang saat tertawa.
" Malah ketawa. Aku bantu beresin barang barang Kamu, ya ??? Kamu ikut ke Apartemenku saja dulu, biar tenang. Aku gak tega melihat Kamu seperti ini, Yes. Lebih baik Kamu judesin atau jutekin Aku daripada harus lemas seperti ini. "
Tanpa menunggu persetujuan Yesline, Nicho langsung nyelonong masuk ke kamar Yesline dan langsung membawa koper dan tasnya. Entah kenapa Yesline diam saja, Dia sadar yang dikatakan Nicho itu benar. Dia butuh ketenangan dan harus selalu sehat demi bayinya. Yesline mengikuti langkah Nicho yang lambat karena menyeimbangkan langkahnya.
Andai Dia bisa menjaga Wanita yang tidur disampingnya itu selamanya, Dia rela menukarnya dengan apapun itu.
*******
Apartemen Nicho adalah tempat yang paling aman buat Yesline. Tidak ada seorang pun yang pernah masuk ke Apartemennya termasuk Al dan Callista. Yesline yang pertama.
Saat mobil berhenti, Yesline masih tidur. Nicho tidak tega membangunkannya. Dia memberanikan diri untuk membopong tubuh itu. Terasa ringan, dalam gendongan Nicho. Koper Yesline dibawa oleh Satpam Apartemen itu.
Nicho membaringkan tubuh Yesline di ranjang sangat luas itu, menyelimutinya dan bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan Yesline sesuatu. Mungkin suop daging bisa membuatnya lebih segar dan bertenaga. Biasanya kalau sakit, makan soup daging akan membangkitkan semangat.
Nicho sudah terbiasa hidup jauh dari Keluarga, Dia cukup jago dalam memasak. Untuk pertama kali, Dia begitu bersemangat membuat sebuah menu masakan.
__ADS_1
" Tidur yang nyenyak ya ,Yes ... Nanti saat bangun, Kamu makan masakanku. Aku bikin ini khusus buat Kamu. "
Nicho sudah muali sibuk di dapur. Dia mulai mencuci daging dan bahan bahannya. Sembari menyiapkan bumbu, Dia masukkan dagingnya ke dalam panci presto. Sesekali Dia kembali ke kamarnya untuk mengecek apakah Yesline masih tidur atau sudah bangun. Dia melakukan itu berulang ulang. Takut saat Yesline bangun, Masakannya belum siap.
Dia sudah seperti Seorang Ayah yang sedang merawat Putrinya yang sedang sakit, Atau Seorang Suami yang mengkhawatirkan Istrinya yang sedang sakit. Entalah, Dia menikmati hari harinya bersama Yesline.
Wangi enak sudah tercium dari soup daging yang baru matang menganggu hidung Yesline, Dia terbangun dan berjalan ke dapur. Disana Dia terkejut saat melihat Nicho sedang menuangkan soup yang masih panas itu ke dalam mangkok.
" Kamu masak sendiri, Cho ??? " tanya Yesline yang melangkah mendekati kursi makan dan duduk disana.
" Iya. Kenapa ??? Kaget ??? Belum pernah dimasakin Al, ya ??? " ledeknya sembari manaruh mangkok yang berisi soup panas itu di depan Yesline, lengkap dengan nasi di piring dan buah buahan yang sudah disiapkan di meja makan dan tidak lupa jus alpukat kesukaan Yesline.
Kandungan alpukat juga baik buat bayi. Nicho masih sempat buat searching di geogle, jus yang bagus buat Ibu hamil.
" Hm .... Wanginya harum dan enak. " kata Yesline.
Nicho duduk di depan Yesline dan menatapnya yang langsung menyantap makanan itu dengan lahap.
" Enak, Cho. kenapa gak buka Restoran ajah ?? Kamu pintar masak loh ... " kata Yesline menatap Sejenak ke Nicho.
" Gak lah, malas. Kalau masakin Kamu tiap hari, Aku mau. " jawab Nicho mengedipkan matanya.
" Apaan sih .... Kumat deh Palyboynya .... Suka gombal !!!! Simpan buat Wanita lain saja. Aku sudah bersu.... " jawab Yesline tapi tidak melanjutkan kata katanya. Tiba tiba lidahnya kelu.
" Aku habisin ya ??? " kata Yesline mengalihkan pembicaraan.
" Iya. Masih banyak kok. Aku ambilin lagi, ya .... " kata Nicho dan beranjak mengambilkan lagi.
Yesline merasa nyaman berada disana. Pikirannya bisa tenang tanpa masalah. Sudah berjalan dua hari Dia menginap disana. Dua hari itu pula Dia belum mengaktifkan ponselnya. Bukannya Dia egois, Dia hanya ingin melepas beban mental yang menganggu pikirannya.
__ADS_1
" Cho, Tolong anterin Aku ke makam Mama, ya ??? Aku mau ziarah ... " katanya minta tolong ke Nicho.