Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 264


__ADS_3

Dret


Dret


Dret


Amukan Al seketika terinterupsi akan sebuah panggilan masuk yang tak lain dari Clinton.


Pria itu mesti juga tak kalah jijik karena harus berpenampilan demikian.


"Halo!'' sapa Al dengan nada meninggi.


Dia sudah kesulitan menyalurkan kemarahan kepada istrinya, jadi mungkin sahabatnya saja yang bisa dia jadikan tempat sampah sementara.


"Woi, Al. Kamu gak jijik apa, harus memakai dress bikini begituan?" semprot Clinton balik.


Benar kan? Clinton pasti juga mengalami momen yang sama mengesalkan. Al segera memicingkan mata lebih kesal lagi. Mungkin ini momen bagi para lelaki untuk membuang sampah dari otak karena tidak mungkin juga menyalurkannya kepada para istri yang hobi mengambek.


"Gila kamu, ya? Jijik lah? Sampai pengen muntah aku!'' semprot Al.


Clinton malah tertawa diseberang. Pria itu ternyata gila. Katanya jijik, malah masih sempat sempatnya tertawa ketika mendengar keluhan Al.


"Hahaha, santai aja, Bro. Makanya, aku nelpon kamu kayak gini guna menjadi malaikat penyelamat harga diri kamu," balas lelaki itu terdengar begitu menyakinkan.


"Cih, sok sok an mau jadi malaikat penolong aku. Kamu aja gak sanggup nolong diri kamu sendiri!''


Al mengatakan itu dengan ketus karena masih belum bisa percaya ucapan Clinton. Namun, biasanya kalo Clinton sudah berkata demikian, lelaki itu selalu datang dengan ide gila. Oleh sebab itu, Al dengan diam diam menaruh harapan lebih kepada sosok Clinton.


"Gini, kita enggak usah ngelakuin tantangan memalukan ini. Tapi kita ganti aja sama tantangan lain. Mau gimana pun, si Hans itu diam diam juga matre, kali! Kita kasih aja sesuatu yang menggiurkan. Tapi, si kolot Gabriel gak usah diajak! Masih kesal aku. Udah di malu maluin, nantangin ginian pula!"

__ADS_1


Lelaki itu terpaku. Dia sungguh terkejut akan ide cemerlang yang diberikan oleh Clinton. Ya, dia juga suka dong, kalo disuruh balas dendam kepada Gabriel.


"Oke," balas Al menggedor.


Tak ada lagi nada kemarahan kepada Clinton yang notabenenya tidak salah apa apa. Dia bahkan cenderung gembira.


"Sip! Bagus, deh. Aku udah kasih tau Nicho juga tadi. Nanti kita keluarnya tetap pakai kimono. Tapi, dalemannya pake kaos oblong aja udah, sama celana pendek," jawab Clinton lebih bersemangat.


Senyum nakal terkembang di wajahnya. Kepalanya mulai merangkai adegan dramatis yang akan mereka lakukan serta bagaimana nantinya mereka akan menatap Gabriel sebagai satu satunya pria yang memalukan.


"Oke, deh. Berarti nanti kita pura pura sedih dan malu gitu ya, waktu keluar. Biar si Gabriel gak curiga. Siap siap dengan sambutan plot twist untuk si tua bangka itu. Hahaha," balas Al mulai merasa puas.


Sementara panggilan terakhir, Yesline merasa kesal karena suaminya tidak jadi memakai bikini miliknya. Padahal, dia sudah penasaran setengah mati, terutama janin di dalam kandungannya juga meronta ronta menginginkan hal yang sama. Awas aja ya, kalo nanti anaknya ileran gara gara Al tidak jadi pakai gaun ini!


Kembali ke laptop......


Jadi, begitulah rencana mereka tadi. Wajah sedih ketiga lelaki itu sukses menyakinkan Hans dan Gabriel bahwa mereka tengah menahan malu setengah mati. Biar seolah olah mereka terlihat pakai bikini dan malu dan menutupi dengan bathrobe.


"Hahaha, selamat, Gabriel. Kamu jadi satu satunya pria yang bisa dipegang sportifitasnya sebagai lelaki," puji Al gembira.


Jika biasanya dia selalu bertengkar dengan si tua bangka itu, kali ini dia tidak segan memuji lelaki baik nan patuh itu. Mereka cukup sadar bahwa Gabriel memang luar biasa karena tetap mau menjalankan hukuman meskipun memalukan. Alhasil, tentu saja Gabriel berhasil menjadi bahan tertawaan.


Leni mulai terlihat berang, "Hei, kalian keterlaluan amat! Bisa bisanya kalian curang pake kaos begitu sementara membiarkan suamiku pakai baju begini? Jahat kalian!'' amuk Leni.


Sayangnya, wajah Al terlanjur terlihat bebal. Lelaki itu menggeleng dengan bangga.


"Hei, Len. Kami gak curang kok. Kami hanya mengganti tantangan ini dengan tantangan lain. Jadi tenanglah." ujar lelaki itu. Wajah Leni mengeras tanda tak terima. Sehingga Al mengimbuhi, "Sebagai gantinya, Aku akan membuatkan klinik kesehatan yang bagus buat praktek Meriam sendiri. Daripada terus terusan kerja sama Gabriel!''


Kali ini sungguh sungguh ajang balas dendam karena Al berani membuat dokter terbaik di rumah sakit Gabriel hengkang. Biar saja si tua bangka yang sok sok an itu tau rasanya kehilangan permata dan harga diri. Biar enggak sombong mulu! Apalagi bisa mereka lihat, binar mata Meriam yang sangat bahagia mendengar hal itu.

__ADS_1


"Wah, beneran, Kak Al? Aku memang tengah menabung karena ingin membuka klinik kesehatan dengan fasilitas lengkap. Apalagi kalo ini memang gratis. Tapi semua itu tergantung kepada Mas Hans," ungkap perempuan itu tak mampu menahan kegembiraannya.


Hans memandang kagum kepada raut wajah sang istri. Dia ikut bahagia menatap kebahagiaan istrinya sampai tak punya alasan untuk menerima tantangan lain dari Al. Alhasil, Hans setuju.


"Oke. Tantangan pengganti diterima. Kalo kamu apa, Clinton? Nicho juga. Jangan modal ketek kamu gede gedein ya!" ancam Hans.


Clinton tersenyum dengan bangga, "Wih, tenang, Bro. Al kan nanti yang beli tanah yang luas buat kalian. Nah, nanti aku bantu buat urusin perijinannya sampai ACC, beli bahan material berkualitas tinggi, bayar kuli bangunannya deh," imbuh Clinton.


Tentu saja, agar rencana mereka berhasil, mereka sudah menyeragamkan ide. Termasuk Nicho juga.


"Nah, kalo aku, semua fasilitas klinik. Mau itu AC, Ranjang, meja kek, sampai semua kebutuhan medis dan obat aku siap melengkapi, Bos. Jadi tenang aja deh, kalian berdua tinggal terima jadi." jelas Nicho.


Gabriel yang merasa dirinya konglomerat tidak terima. Bisa bisanya orang sok kaya itu main uang demi alih tantangan. Ia tentu saja ingin mengganti tantangan juga dong!


"Kalo gitu, aku juga bantu ngelengkapi fasilitasnya," sela Gabriel tanpa diminta.


Clinton tertawa remeh, "Sori, Gabr. Udah kagak bisa. Soalnya, semua udah lebih dari cukup. Kamu tinggal mutar resort sekali, udah cukup kok. Enggak usah ngeluarin budget apa apa. Iya enggak?''


Ungkapan Clinton segera disambut hangat oleh orang orang kampret kurang ajar itu. Hanya Gabriel sendiri yang kesal setengah mati. Sekarang rasanya seakan senjata makan tuan, apalagi akan kehilangan dokter hebat seperti Meriam.


Al menimpali dengan sok sopan, "Nah, karena udah deal, silahkan dilaksanakan ya Pak tantangannya."


Gabriel pun terpaksa berkeliling resort dengan bikini. Gabriel mulai membuka kimononya dan berjalan menyusuri area resort dengan wajah merah padam. Belum lagi, Leni yang tadi kesal karena suaminya dikerjain, malah ikutan tertawa melihat betapa konyolnya Gabriel dalam balutan bikininya yang seksi. Duh, menggoda iman, Bestie!


"Duh, seksinya. Merah menggoda. Bikin aku jadi pengen RAWRR.... Sekarang juga," goda Nicho terlihat sangat puas.


Clinton tertawa terbahak bahak, "Hahaha, awas oleng ke batangan, Cho. Kasian entar malam bini kamu mau makan siapa kalo kamu jadi kaum belokan?'' sindir Clinton tak kalah puas.


Melihat sang istri yang ikut tertawa akan godaan Clinton dan Nicho, Gabriel tidak bisa menampil diri untuk tidak mengamuk, "Istri laknat! Punya istri bukan kasih semangat malah ikutan tertawa! Untung aku cinta!!"

__ADS_1


Jadi, judul dari kegilaan mereka kali ini adalah kekesalan di bayar kontan! Hahaha....


__ADS_2