
Dengan tetap dalam posisi bibir mereka saling berpangutan, Clinton mengangkat tubuh Clara untuk memasuki klub. Dalam lingkungan seperti itu, apa yang mereka lakukan sudah menjadi hal biasa. Tidak ada yang akan tiba tiba akan meminta mereka untuk berhenti.
Clara melingkarkan kedua tangannya di leher Clinton. Dia menikmati setiap ciuman mereka. Sampai di depan sebuah sofa panjang, Clinton merebahkan tubuh Clara di sana dan melepaskan ciumannya.
Dia menjentikkan jari memanggil pelayan untuk mengirim minuman beralkohol untuk mereka. Petugas yang datang menghampiri Clinton dan menulis pesanannya, lalu pergi untuk menyiapkan minumannya.
Clinton mengangkat tubuh Clara kembali, membawa Clara ke dalam ruangannya. Di sana lebih tertutup, Clinton menurunkan tubuh Clara.
" Aku melakukan tugasku dulu. Kemarin aku membelikan mu gaun, apa kamu mau memakainya malam ini? " tanya Clinton berbisik di dekat telinga Clara.
Suasana malam itu sudah seperti malam pengantin yang begitu mendebarkan hati kedua insan di dalam ruangan itu. Dengan sedikit tersipu, Clara mengangguk, Dia menerima papar bag dari Clinton dan melihat isinya, sebuah gaun berwarna merah dengan potongan leher yang sangat rendah. Gaun ini pendek beberapa centi di atas lutut. Clara menelan salivanya.
" Mas, kamu serius aku pakai ini malam ini? Yakin gak akan tergoda? Ini terbuka sekali loh. " Clara menenteng gaun itu dan menempelkannya di tubuhnya.
Clinton terlihat menepuk jidatnya.
" Maaf sayang, atau kita beli lagi saja kalau kamu gak suka. " Sepertinya kata kata itu membuat Clara merasa tidak enak hati, Clinton sudah berniat membelikannya gaun tapi dia menolaknya, Toh dia pernah memakai gaun yang lebih pendek dan terbuka dari ini. Jadi apa salahnya dia memakainya di depan Clinton.
Ada suara ketukan pintu, Clinton mendekat dan menerima minuman yang dikirimkan oleh Petugas. Lalu dia menutup pintu itu kembali. Dan meletakkan minumannya di atas meja.
Sekilas Clinton menatap terkejut ke arah Clara yang langsung melepas begitu saja bajunya di depan Clinton.
__ADS_1
" Hei, kenapa ganti disini? " protesnya atau lebih tepatnya dia suka tapi ingin berbasa basi saja.
Matanya syok membelalak lebar, menatap pemandangan indah di depannya. Sepertinya malam ini tidak perlu obat perangsang, sudah akan terlaksana.
" Mas, kan sudah pernah melihatnya dan Mas selalu mencoba menjagaku. Jadi gak apa apa sebentar saja, aku ganti baju. "
Clinton melangkahkan kakinya maju beberapa langkah, mengikis jarak dirinya dengan Clara. Merengkuh tubuh Clara mendekat, menempel dengan tubuhnya. Tangannya menekan pinggang Clara. Mata mereka saling beradu. Clara belum memakai gaun itu, tubuhnya hanya tertutupi segitiga tipis berenda dan penutup dadanya saja. Tubuh sintalnya membuat Clinton tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup bibir Clara lagi dan lagi.
" Kamu benar benar menyiksaku, Clar. Aku mana tahan kalau kamu dengan sengaja menggodaku seperti ini, hm? Bolehkah Mas miliki kamu malam ini? " tanyanya dengan suara parau. Jemari Clinton meraba pipi Clara dengan gerakan lambat.
" Sebentar, Mas. Aku minum dulu. " Clara melepaskan dirinya, Dia berusaha menepis kegugupan di dalam dadanya dengan minum. Dia berbalik dan langsung mengambil botol beralkohol itu lalu meneguknya dengan cepat.
" Sayang, jangan minum. " larang Clinton, namun sudah telat. Laki laki itu menggaruk tengkuknya yang bahkan tidak gatal.
Clinton tidak tega melakukan itu ke Clara, Dia segera mengambil pakaian Clara lagi dan membantu Clara memakainya. Namun tangan Clara menepisnya, Dia seperti sudah mabuk dan berada di bawah kontrol obat itu.
" Gak usah, Mas. Aku kepanasan. tiba tiba gerah. " Clara semakin menjadi, Dia tidak bisa menahan gejolak panas yang membakar tubuhnya. Dengan cepat dia segera melepas semua kain yang menutupi tubuhnya dan merebahkan tubuhnya di sofa.
Clinton membalikkan badan, dia tau malam ini dia tidak akan kuat menahan gairahnya lagi. Dia hendak mengambil Clara selimut dan menutupi tubuhnya. Tapi lagi lagi suara Clara menahan tubuhnya.
" Mas, Aku benar benar gerah, Kamu bisa tolong turunin suhu AC nya? Atau kamu tahu gimana caranya biar aku gak kepanasan, Mas? Sini bantu kipasin aku. " desah Clara. Suaranya memabukkan. Clinton menelan saliva nya, Dia tidak berani membalikkan badannya. Dia takut rencana Al benar benar terjadi.
__ADS_1
Namun, sedetik kemudian Clara sudah melingkar di perutnya, Memeluk tubuhnya dari belakang. Dan mulai menyerang Clinton dengan serangan yang begitu ganas, membuat laki laki itu mau tidak mau membalas setiap serangannya.
Malam itu, pertahanan Clara akhirnya jebol dan Clinton sudah tak perjaka lagi. Dia masih memeluk tubuh Clara yang masih menindih tubuhnya dalam keadaan masih polos.
Clinton menikmati malam indahnya itu. Dia hanya tidak tau apa yang akan dia katakan jika Clara bangun besok. Meski tadi yang memulai duluan adalah Clara. Dia mengutuk dirinya sendiri karena termakan sama rencana Al yang seakan menolongnya.
*****
Wanita itu menggeliat, matanya masih terpejam. Tapi tangannya meraba ke sekeliling. Dia merasa aneh karena merasa ada tangan dan kaki yang memeluknya. Matanya mengerjap erjap, samar dia melihat sosok Clinton ada di depannya. Wanita itu menguap dan menutup matanya lagi.
" Ngapain sih aku mimpiin Mas Clinton pagi buta begini, kayaknya otaknya ini lagi gak beres. " gerutunya pada diri sendiri.
Wanita itu hendak melanjutkan tidurnya. Kepalanya juga masih sedikit pusing. Clara menggeliat, dia memutar tubuhnya. Namun lagi lagi dia merasa sesuatu ada yang menindihnya. Sebuah kaki. Mata Clara langsung terbuka, kedua tangannya memegang kaki itu dan melemparnya kesamping karena kaget. Dia bangun dan duduk. Wajahnya menoleh kesamping, dia menjerit histeris saat melihat Clinton yang hanya mengenakan boxer masih terlelap disampingnya.
" AAAAAA!!! Mas Clinton, kamu ngapain?? " teriaknya histeris.
Laki laki itu masih mendengkur, tidak bergeming sama sekali. Clara semakin kesal. Dia mengambil guling dan memukul punggung Clinton berkali kali.
" Bangun Mas, bangun! Kamu apain aku semalam? " tanya Clara panik, Dia baru sadar tubuhnya polos tanpa memakai sehelai kain pun. Hanya tertutupi selimut. Mendengar suara Clara yang menangis histeris dan terus memukulinya, Clinton langsung bangun dan duduk di samping Clara.
" Sayang, Kamu kenapa? " tanyanya bingung, dia baru bangun tidur, belum sadar sepenuhnya. Tangannya masih mengucek matanya. Sampai Clara kembali memukul lengan Clinton dengan guling membuatnya langsung terkesiap dan membelalakkan matanya melihat Clara yang memegangi selimut untuk menutupi dadanya yang terbuka. Otak Clinton memutar memori semalam, Dia ingat. Karena pengaruh obat perangsang itu membuat Clara dan dirinya tak bisa menahan nafsu mereka untuk saling menikmati satu sama lain.
__ADS_1
Pandangan Clinton langsung tertunduk, merasa bersalah sama wanita di depannya yang masih sesenggukan. Dia tahu ekspresi akan sesedih itu. Padahal semalam dia yang menciumi duluan, Clinton mendengus pelan.
Meski di dalam hatinya sedang bersorak ria karena rencananya yang nyuruh petugas mencampurkan obat perangsang ke minuman mereka berhasil dilakukan, cuma karena ekspresi Clara yang tiba tiba membuat Clinton merasa bersalah.