Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 297


__ADS_3

"Woi, bangun!!!'' sentak sebuah suara disertai sebuah tindakan menyiram Al dengan seember air agar laki laki itu terbangun dari pingsannya.


Al tersentak, seperti baru saja bangun dari kematian. Dia mengambil nafas dan mengaturnya. Dadanya masih terasa sesak dan bagian belakang kepalanya masih terasa sakit. Berdenyut denyut nyeri. Seketika itu juga alam bawa sadarnya mengantarkan memori kejadian beberapa menit lalu yang sudah ia lalui ke dalam otaknya.


Al mengingat kenapa dia bisa berada di penjara, kenapa kondisinya begitu menyedihkan juga kenapa dia diperlakukan dengan buruk. Memori itu juga mengingatkan dia untuk kembali kuat dan tegar.


Karena dia yakin dia tidak bersalah.


Mata Al terbuka sempurna, tetesan air menetes dari rambutnya, matanya tajam menatap ke depan, seseorang dengan setelan jas itu menatap remeh ke arah Al. Laki laki itu duduk di tepi meja, dengan memegang sebuah alat, laki laki itu berjalan ke arah Al dan memasang alat itu di tubuhnya.


Al tau, itu sebuah alat pendeteksi kejujuran. Kedua netra Al mengedar ke sekeliling.


Al didudukkan pada sebuah kursi dalam ruangan yang cukup sempit. Hanya ada meja sedikit dengan dua kursi dan lampu yang cukup terang.


Tepatnya di sebelah kanan Al, ada dinding kaca tebal, sepertinya kaca itu anti peluru dan Al tidak bisa melihat siapa saja yang berada di balik dinding kaca itu.


"Kamu sudah bisa menjawab semua pertanyaan saya?" gertak laki laki itu yang membuat Al menggerakkan kepalanya untuk menghadap ke depan.


Al diam saja, dia tidak berniat menjawab.


Laki laki itu menyeringai, dia menampakkan wajah mengerikan, tapi Ak tidak takut, apa yang paling dia takuti bukan keselamatan dirinya sendiri, melainkan keselamatan Yesline dan Azka.


Di sini, hal terburuk yang bisa saja terjadi pada tubuhnya hanya sebatas siksaan yang bertubi tubi, dia masih bisa menahan itu.


Al membalas tatapan itu.


"Jawab pertanyaan ku jika kamu ingin selamat."


Al tersenyum smirk.


"Memangnya kamu bisa apa? Andai aku mengatakan kebenaran, tetap saja kalian tidak akan bantu aku keluar dari sini. Jadi buat apa aku jawab. Dasar anjing penjilat!!''


PLAKK!


BUGH!


BUGH!


Tamparan dan pukulan melayang begitu saja ke muka Al, wajah tampannya kini sudah penuh lebam.

__ADS_1


Dengan darah yang sedang kini merembes dari sudut bibirnya, Al tersenyum sinis.


Dia mengelap mulutnya dengan lengannya.


"Aku tahu kamu kaya, tapi disini kamu hanya tahanan hina yang sedang menjalani hukuman. Jadi jangan sombong."


"Aku tidak sombong, aku hanya tidak mau tunduk pada kalian. Siapa nama kamu?'' mata Al terbuka lebar dan menatap ke arah name tag yang terpasang pada jas orang itu.


"Farhan Baskoro." Al mengeja hurufnya dengan lambat, dia sengaja memberikan efek ngeri.


"Aku akan ingat nama kamu dan akan kasih kejutan saat aku bebas nanti," ancam Al.


"Cih! Kalo kamu bisa keluar dari sini, kamu belum tahu kejamnya di dalam penjara, kamu bisa saja mati di dalam sana sebelum sidang," remehnya.


Al tertawa lebar hingga rahangnya terbuka.


"Aku tidak akan mati semudah itu."


Orang berjas itu menyibak jasnya dan kembali duduk, matanya menatap sebuah layar monitor, dan sesekali melirik jam tangannya.


"Waktu kita tidak banyak, cepat jawab pertanyaanku!''


"Tidak," jawab Al dengan malas.


Tapi saat Farhan menatap layar monitor itu lagi, alat itu menunjukkan yang dikatakan Al benar.


Dia melanjutkan pertanyaannya.


"Apa benar kamu telah salah meresepkan obat pada salah satu pasien yang kamu tangani?''


Lagi lagi Al menjawab tidak. Karena memang dia tidak melakukan apa apa.


"Pada jenazah korban telah dilakukan otopsi, dan yang mereka tuduhkan dan bukti yang mereka punya semua menjurus pada pernyataan bahwa kamu memang salah. Kamulah pelaku utamanya."


"Aku difitnah, aku bukan penjahat seperti yang mereka tuduhkan," geram Al. Dia mulai emosi, ingin mencabut kabel kabel yang dipasang di tubuhnya. Tapi dihentikan oleh Farhan.


"Jika grafik kejujuran ini bergeser sedikit saja, kamu akan rugi."


"Tapi, apa gunanya ini? Kalian hanya mendesak aku untuk mengakui sesuatu yang tidak pernah aku lakukan."

__ADS_1


"Saya hanya menjalankan prosedur yang ada, tapi saran saya lebih baik kamu terus terang mengakui semuanya daripada terus berontak. Kamu kaya, kamu bisa membayar denda, menjalani hukuman selama sepuluh bulan. Setelah itu kamu bisa membangun rumah sakit baru lagi."


Tidak semudah itu, nama baik Al dipertaruhkan, nama baiknya pada putranya dipertaruhkan, nama baik itu tidak bisa dibeli dan didapat bukan dengan cara yang mudah.


Lalu Al kenapa harus menanggung hidup di penjara selama sepuluh bulan jika dia tidak bersalah?


Setelah dari ruangan itu, dua polisi membawa Al kembali masuk ke selnya. Dia didorong hingga tersungkur. Dalam ruangan itu ada sekitar empat orang, mereka menatap ke arah Al. Sepertinya anggota tahanan di sana lumayan baik karena ada yang membantu Al berdiri.dslam sel ini lebih baik daripada di dalam ruang isolasi atau biasa disebut sebagai sel tikus. Sebuah ruangan sempit yang hanya cukup buat dua orang saja. Di dalam sel itu tidak ada kasur atau peralatan lainnya. Hanya ada kloset untuk buang air besar saja dan air dari keran. Sudah bisa dibayangkan betapa dingin, kotor dan pengapnya berada di dalam sana.


Al meringkuk di pojok ruangan, menutupi tubuhnya dengan selimut. Tidak menghiraukan napi lainnya yang sedang duduk santai menonton televisi.


Dalam benaknya, dia berjanji akan membalas semua ketidak adilan ini.


**********


Hans menghentikan mobilnya di depan rumah Yesline dan Al. Mereka berdiam diri di dalam mobil sambil memperhatikan situasi sekitar. Sudah banyak reporter atau wartawan yang berdiri di sana. Juga ada beberapa bodyguard yang menghalau kerumunan itu.


"Apa aman kalo kita turun?" tanya Yesline. Dia hanya tidak ingin salah dalam bertindak, dia takut itu mempengaruhi Al.


Hans menjawab tanpa melihat ke arah Yesline. "Sepertinya aku perlu telepon Gabriel dulu. Takutnya mereka anarkis. Kamu tunggu sebentar."


Saat Hans mengambil ponsel dan menghubungi Gabriel, Yesline bertanya kepada Hans perihal lain yang membuat Hans sedikit terkejut.


"Mungkin kita perlu turun dan membiarkan mereka menanyakan banyak hal, aku ingin mengklarifikasi bahwa suamiku tidak bersalah, aku ingin bisa berbicara dengan Mas Al. Apa di dalam penjara ada sebuah televisi, Hans?"


Hand menoleh, dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Gabriel.


Hans mengangguk. "Iya, seharusnya para tahanan pun bisa melihat kita jika mereka menayangkan acara ini."


"Baguslah, kita turun sekarang,"


Yesline membuka pintu mobil dan langsung turun. Disusul Hans yang berjalan di belakangnya.


Dengan mengucap bismillah dan memantapkan hatinya berkali kali, Yesline berjalan dengan yakin menghampiri kerumunan itu.


Sesuai yang dipikirkan Yesline, begitu melihat kedatangannya, mereka langsung berlari menghampiri Yesline dengan mikrofon di tangan mereka.


"Bu Yesline, apakah anda ingin mengatakan sesuatu?'' tanya salah satu dari mereka setelah Yesline menerima satu mikrofon yang mereka sodorkan.


"Iya. Saya ingin mengatakan sesuatu,"

__ADS_1


__ADS_2