
Para massa yang sebelumnya berkerumunan di depan ruangan Al, kini sudah dibubarkan dengan jaminan Al akan melakukan konferensi pers setelah dia melakukan rapat emergency kedua dengan para pekerjanya. Al minta dua hari untuk menyelidiki kasus itu, dia juga memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi atau sebagai uang jaminan kepada orang orang yang melakukan protes di depan ruangannya. Hanya dua hari. Al akan melakukan banyak hal untuk mengetahui akar dari masalah ini.
Al duduk di dalam ruangannya, dia menghubungi Hans untuk segera datang ke ruangannya, mengingat Hans masih menjadi pengacara pribadi keluarga Al.
"Oke. Aku akan kesana. Dan membawa informasi tentang apa yang kamu minta. Aku sudah melihat beritanya, Al. Sepertinya musuh kamu kini bukan orang sembarangan. Dia beda dari Erwin, meski mereka sama sama orang yang berkuasa, atau lebih berkuasa," tutur Hans daru seberang telepon.
Hans yang sedang berada di kantornya berbicara lewat telepon dengan Al sambil melihat berita televisi yang menayangkan kondisi rumah sakit Al yang dikerubungi oleh wartawan.
Berita isu terjadinya malapraktik dan kekurangpuasan atas pelayanan rumah sakit terbesar juga terbaik di kota itu jelas akan menjadi topik berita yang trending topik. Hans masih mengerutkan keningnya, siapa gerangan musuh Al kali ini?
"Kamu urus aja, Hans. Aku tahu, tapi aku belum bisa berpikir siapa yang sengaja membuat masalah kali ini. Aku belum ada pandangan apa apa," sahut Al dengan suara lemah.
"Baiklah, kamu tenang aja, semoga semuanya segera terpecahkan."
Sambungan terputus, Hans segera bergegas menjalankan tugasnya. Setelah berlibur dua minggu, dia langsung dihadapkan dengan masalah berat.
Begitulah hidup, masalah kadang datang tanpa permisi.
Tak lupa Hans menelpon Meriam terlebih dahulu, dia punya janji mengajak Meriam makan siang, karena sepertinya rencana itu akan gagal. Mengingat waktu dia yang begitu sempit untuk menemukan apa yang Al minta tadi di telepon.
Tak butuh waktu lama, sambungan telepon ke nomor Meriam pun tersambung.
Meriam yang baru saja keluar dari ruangan operasi dengan melihat berita di televisi, dia sangat stok, karena sejauh dia kenal Al tidak mungkin hal yang dituduhkan oleh seorang pelapor benar benar terjadi.
Selain itu, di ruangannya Meriam mengetahui ponselnya berdering dan langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Sayang." sapa Meriam setelah tahu jika telepon itu dari suaminya.
"Walaikumsalam, Istriku yang cantik, baik dan sholehah." Hans menjawab dengan semanis mungkin.
Di seberang, Meriam tersipu dengan pujian dan panggilan sayang dari suaminya.
"Ada apa, Sayangku?" Meriam ikut membalas dengan panggilan sayang juga.
__ADS_1
"Sebelum Mengatakannya Mas mau kamu tau dulu kalo kamu itu yang paling penting di hidup Mas, jadi jangan kecewa, marah atau tersinggung ya, Sayang." ucap Hans sangat hati hati.
Sepertinya menangkap dari apa yang Hans katakan, Meriam tau kemana arah pembicaraan itu. Al sahabat sang suami sedang dalam masalah, Meriam menebak mungkin Hans akan mengurus banyak hal demi membantu Al.
"Iya, Sayang. Apa ini soal masalah yang baru saja terjadi yang menyeret nama kak Al?" tebak Meriam.
"Iya. Kasihan dia sayang. Aku harus membantunya, selain dia sahabatku, aku juga masih bekerja menjadi pengacara pribadi keluarga Gunawan. Jadi, ini sudah tanggung jawabku. Aku yakin dia tidak bersalah sayang, meski Al suka emosian dan cemburuan juga kadang grasa grusu, tapi sejauh yang aku tahu soal dia, dia bukan seorang dokter yang teledor, dia selalu tepat dan jeli dalam melakukan tugasnya, terbukti kualitas rumah sakit yang selalu menjadi rumah sakit terbaik dalam beberapa tahun terakhir ini selama dia menjabat. Ini murni hanya ada kongkalikong antar seseorang yang memiliki kuasa. Mas akan mencari tahu semuanya. Doakan, Mas ya? Untuk makan siangnya, kita jadwal di lain waktu ya, Sayang?''
Meriam mengerti. Dia akan mendukung suaminya, juga Al yang di matanya memanglah orang baik, sangat baik, Meriam langsung kepikiran ke Yesline. Dia akan mengunjungi temannya itu nanti sepulang kerja.
"Iya, Mas. Doa dan restuku selalu menyertai langkahmu,"
Setelah Hans mengucap salam begitu juga Meriam yang menjawab salam dari Hans, mereka langsung memutus sambungan telepon dan melakukan tugas mereka masing masing.
#########
Tak lama setelah Al menutup teleponnya, Clinton masuk ke ruangannya.
Laki laki itu sudah tahu sepanik apa keadaannya kini. Dia sudah menonton beritanya tadi.
"Aku siap menerima tugas, Al. Setelah sekian lama fakum dari tugas detektif detektifkan kini akhirnya ada musuh lagi," gurau Clinton yang langsung dilirik Al dengan tajam.
"Hehehe, meski bukan berarti maksudnya aku senang kalo kamu ada masalah, cuma senang aja gajiku double lagi," Clinton menimpali membela dirinya sambil nyengir kuda.
Al menyerahkan satu map kepada Clinton.
"Cari orang itu. Dia mengaku adalah orang tua pasien yang mengeluh dengan pelayanan rumah sakit ini yang dirasanya sangat tidak kompeten padahal setelah aku cek rekam medisnya juga dokter yang menangani, hasilnya baik dan sudah sesuai dengan prosedur. Di catatan rumah sakit pun, dia dikabarkan sudah pulang dan sehat."
Clinton menerima map itu dan melihat isinya, setelah itu dia langsung berdiri dan mengangkat tangannya dengan sikap hormat dan merapatkan kedua kakinya dengan sikap siaga.
"Aku juga lihat para korban dan keluarga korban yang dilaporkan tidak ada dalam barisan pendemo, sependek pemahaman aku yang ikut demo hanya orang yang diminta memperkeruh keadaan disini."
Clinton langsung teringat sesuatu. Al pasti menjitak kepalanya karena tidak memberitahunya dari awal.
__ADS_1
"Al?'' panggilnya dengan sedikit ragu.
Al menatap lurus Clinton sambil menurunkan kaca mata bacanya guna melihat jelas raut wajah Clinton.
"Iya, ada apa? Aku lagi gak mood bercanda, Clinton."
"Bukan, ini bukan bercanda. Ini serius. Aku melihat Yesline berlari masuk ke dalam rumah sakit ini, apa Azka sakit? Atau apa Yesline tadi menemui kamu? Di depan rumah sakit juga ada laki laki yang ada di pernikahanku, yang agak bule itu."
Al berpikir sejenak, ngapain dia ada di rumah sakit ini. Tapi pikirannya langsung ke Yesline. Setau dia Azka tidak sakit.
Al langsung ke luar dari ruangannya. Dia akan menemui Yesline, sementara Clinton pergi untuk melaksanakan tugasnya.
Al menemui Yesline sedang menunggu di depan sebuah ruangan, Yesline menangis sesenggukan, dan di sana tidak ada Azka.
"Sayang," panggil Al kepada Yesline saat dia sudah berdiri tepat di depan Yesline. Wanita itu bangkit dan langsung memeluk Al setelah tahu yang memanggilnya adalah suaminya.
"Mas!''
Al membalas pelukan Yesline yang terisak. Al tahu, kondisinya memang sedang tidak baik.
"Dimana Azka sayang?''
"Di dalam, Mas, sedang di periksa dokter," Yesline berusaha menjawab ditengah tengah isak tangisnya.
"Azka sakit apa sayang?'' tanya Al lagi.
"Belum tahu, Mas. Tadi Azka kejang dan badannya panas. Aku takut, Mas."
Yesline semakin menangis dan Al menenangkannya dengan mendekap Yesline dan mengelus elus punggungnya.
"Aku berjanji akan menyelesaikan kesalahpahaman ini, Sayang. Bersabarlah," janji Al.
Yeline hanya mengangguk. Dia berusaha tegar.
__ADS_1
"Kita akan melewatinya bersama sama, Mas."