Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 298


__ADS_3

"Iya. Saya ingin mengatakan sesuatu,"


"Apa anda tahu kalo suami anda melakukan malapraktik sehingga mengakibatkan pasien meninggal?''


"Tidak, saya tidak tahu. Tapi saya yakin kalo suami saya tidak bersalah."


"Kenapa anda bisa seyakin itu? Padahal seperti yang anda ketahui yang diberitakan di televisi mengatakan semua bukti sudah terkumpul dan itu memberatkan suami anda, suami anda terbukti bersalah."


"Karena saya adalah istrinya, saya yang paling tahu suami saya."


Sejenak para orang orang haus haus dengan permintaan Yesline itu terdiam, mencoba mencerna kalimat Yesline.


"Apa saya boleh bicara dengan suami saya?" tanya Yesline tiba tiba, dia terinspirasi sebuah film aksi yang pernah dia tonton dengan Al, seharusnya ini akan bekerja, suaminya akan mengenali suaranya dan mendengarkan apa yang dia katakan.


"Silahkan," kata mereka.


Yesline memfokuskan pandangannya ke arah kamera.


Matanya yang indah mulai berkaca kaca. Entah baru beberapa jam dia tidak melihat Al, tapi rasa rindu itu menyiksanya. Menyesakkan dadanya.


"Mas, tadi aku ke penjara buat jenguk kamu, tapi kata petugasnya kamu menolak untuk bertemu denganku,"


Yesline berhenti sejenak, matanya basah, air matanya tak bisa ia bendung, meluruh begitu saja dari sudut matanya.


Kesedihannya membuncah, dia bahkan ingin memeluk suaminya dan mengadukan semuanya. Tapi tidak bisa. Bukankah rasanya begitu sakit? Ketika seseorang yang biasanya kau peluk saat tidur, yang tiap harinya bersamamu, tiba tiba pergi begitu saja membawa separuh hatimu?


Adakah yang lebih sakit dari rindu tapi tidak bisa bertemu?


Adakah yang lebih menyiksa daripada melihat orang yang dicintai menderita?


Al yang awalnya menyembunyikan wajahnya di balik selimut, mendengar suara Yesline dari televisi, perlahan membuka selimutnya dan melihat wajah sang istri tercinta yang sembab karena menangis.


Al tidak tega melihatnya, bagaimana dia bisa tahan melihat orang yang paling dicintainya itu sedih?


Tapi kali ini dia bahkan tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya bisa menunggu sampai Clinton atau Hans menemukan bukti lain yang bisa membantah semua bukti yang memberatkan tuduhannya.


"Mas, kamu harus kuat, kamu tidak sendiri, kamu tidak menghadapi ini sendirian, ingat! Kamu masih punya keluarga, kamu punya aku dan teman teman kita yang selalu mendukung kita. Kamu harus terus bertahan di sana, tunggu kami akan membebaskanmu."


Setelah mengatakan itu Yesline langsung berbalik badan dan masuk ke dalam rumahnya. Hans mengejarnya dari belakang.

__ADS_1


Al memperhatikan sampai Yesline masuk ke dalam rumah.


Yes, aku beruntung sekali memiliki kamu. Terima kasih sudah selalu percaya sama Mas.


**********


Callista menutup pintu rumah mertuanya dengan perlahan. Selama Nicho belum pulang, dia banyak pergi dan beraktifitas di luar rumah, jadi sementara waktu dia tinggal di rumah mertuanya karena Chloe ada yang menjaganya jika di sana.


Mama mertuanya yang baru saja dari dapur mengambil minum melihat Callista yang baru pulang selarut itu. Dia dan suaminya sudah melihat berita dan tentang Al tentang rumah sakit Gunawan.


Mama mertuanya itu ingin mengajak Callista mengobrol sebentar soal masalah itu. Sebenarnya dia dan suaminya sedang menunggu kepulangan Nicho untuk mengajaknya ke rumah Yesline untuk memberikan dukungan dan membicarakan semuanya.


"Call," panggilnya yang membuat Callista membalikkan badan saat kakinya baru menyentuh ujung tangga. Dia baru saja mau naik ke lantai dua.


"Iya, Ma?'' Callista membalikkan badannya dan langsung menghampiri mamanya yang duduk di ruang keluarga.


Tanpa diminta Callista langsung duduk di dekat mama mertuanya itu.


"Kamu yang mengurus semua masalah di rumah sakit semenjak Al di penjara?" tanyanya langsung pada topik.


"Iya, Ma. Dulu kan Callista pernah menjadi direktur, jadi Callista sedikit paham masalah rumah sakit."


"Iya, Ma. Callista masih sibuk ngurus ini dan itu. Sementara Callista belum bisa menghubungi Nicho setelah panggilan terakhirnya yang tiba tiba hilang sinyal itu. Callista sudah memberi tahu Leni kalo Callista belum bisa kesana dulu. Tadi juga ada penggeledahan di rumah sakit. Untuk sementara harus ada yang mengambil alih urusan ini di rumah sakit, Ma."


''Kamu cepatlah cari cara untuk minta Nicho pulang. Biar kamu tidak melewatinya sendirian. Bagaimanapun, tenaga laki laki dan perempuan itu berbeda, Call."


Callista mengangguk. Dan tidak menanggapi dengan kalimat apa apa. Mertuanya kemudian bangkit meninggalkan Callista dan kembali ke kamarnya.


Callista menatap kepergian wanita tua itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


**********


Setelah melewati banyak drama, menunggu mobilnya di ganti ban dan juga melewati jalanan yang begitu macet dan beberapa preman yang menghadangnya di jalan membuatnya harus berusaha ekstra hanya untuk ingin sampai ke Jakarta.


Kenapa seakan akan ada yang ingin Nicho tidak kembali ke Jakarta?


Nicho pun berpikir demikian. Dia pun sedang berusaha mencari informasi tentang Al Gunawan dan menemukan berita yang mengejutkan itu. Jadi cuma dia yang belum ada di rumah Al? Nicho yakin pasti teman temannya yang lain sudah berkumpul, berpikir bagaiman caranya untuk memecahkan masalah itu.


"Setelah Mami di penjara, siapa yang usil mengganggu Al dan Yesline?'' gumam Nicho sambil menyetir mobilnya.

__ADS_1


Tiba tiba Nicho dikagetkan oleh getaran ponselnya. Dengan sebelah tangannya yang bebas Nicho mengambil ponselnya dari saku baju dan menerima panggilan telepon itu.


Namun, saat Nicho melirik ke arah layar ponselnya, dia terkejut melihat nomor baru yang terpampang di layar ponselnya itu. Sebuah nomor yang terasa familiar. Tapi tidak tahu pasti siapa pemiliknya.


Mobilnya sudah memasuki pusat kota jakarta. Dia menepikan mobilnya sejenak, agar bisa leluasa menerima telepon.


"Halo!'' Nicho mengawali pembicaraan.


Diseberang terdengar suara seseorang tertawa.


Nicho mengeryitkan dahinya.


"Siapa ini?'' tanyanya.


Suara itu terus tertawa meremehkan ke Nicho. Sepertinya si penelpon sudah mengenal Nicho. Tapi anehnya dari mana dia tahu nomor baru Nicho?


Namun, buat sebagian orang yang berpengaruh, mencari nomor ponsel baru seseorang itu tidak sesuatu yang sulit, bukan?


Banyak situs situs web yang menyediakan jasa ini.


"Simpan nomorku, kamu akan butuh aku nanti,"


"Ma--'' suara Nicho tercekat. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia.


"Siapa kamu?'' tanya Nicho memastikan lagi.


"Simpan saja nomor itu."


Setelah mengatakannya, orang misterius itu langsung menutup teleponnya. Nicho kebingungan.


Seharusnya dia tidak mengenali suara wanita dari seberang tadi. Tapi entah kenapa hatinya berkata lain.


Bagaimana keadaan rumah sakit Healty dan keluarga Al ??? Apakah keluarganya berakhir dalam kebahagiaan??? Apakah teman temannya turut membantu atau malah angkat tangan setelah cukup setia membantu selama ini?????


Saksikan di Gairah Hot Sang Dokter II


Untuk kelanjutannya akan ada di season dua ya pemirsa....


Untuk novel ini akan author tamatin dulu dan lanjut di season keduanya...

__ADS_1


__ADS_2