
" Apa Wanita itu akan baik baik saja, Bro ??? " tanya Hans lalu disambut tawa dari sampingnya.
" Kamu naksir sama Dia ??? " kata Clinton meledeknya tanpa menoleh dan masih asyik dengan main game di ponselnya.
" Gak lah !!! Dia bukan tipe Saya !!! " bantah Hans sedikit berbisik dan sedikit gusar. Dia mengingat gaun yang dipilihkan Clinton untuk Callista sangat terbuka, mata Laki Laki tidak akan tahan melihatnya.
" Ah, Masa ??? " goda Clinton. Sebelah tangannya menyenggol lengan Hans dan menggoda Pengacara disampingnya itu.
" Ah, Sialan !!! " umpat Hans.
" Oh, Ya .... Aku lupa. Kan Laki Laki lugu seperti Kamu pasti tipenya seperti Emak Emak kan ... !!!! "
" Emak Emak pala Kamu peyang !!! " cetus Hans sambil menjitak kepala Clinton.
" Aduh !!!! "
Baru saja Clinton mau protes, tiba tiba terdengar suara keributan yang berasal dari arah kamar Callista. Seperti ada suara sesuatu yabg dilempar hingga jatuh. Mereka berdua saling menatap, pasti ada yang tidak beres ini.
Di depan ada banyak Pengawal Erwin sebenarnya, Tapi sudah diamankan oleh Mereka berdua. Saat Erwin masuk ke dalam kamar Callista, Hans dan Clinton menyamar sebagai kurir makana untuk mengantar pesanan makanan yang sudah dikasih obat tidur didalam makanan itu. Jadi saat ini Hans dan Clinton bisa masuk dengan aman.
Clinton berjalan di depan disusul oleh Hans, berlari dengan terburu buru ke kamar Callista. Untung saja pintu kamarnya tidak dikunci, Clinton membukanya perlahan.
Dia sangat kaget melihat tubuh polos Callista berdiri di dekat Erwin yang masih tak sadarkan diri, sebelah tangannya mencengkeram vas bunga yang dipenuhi darah, kepala Erwin juga penuh darah. Sepertinya terjadi sesuatu. Hans langsung mendahului Clinton, Dia meraih selimut dan menutupi tubuh Callista dengan itu.
Tanpa melihat ke arah siapa Laki Laki yang menutupi tubuhnya itu, Callista langsung menangis dalam pelukannya. Membuat Hans terdiam dibuatnya. Dia tidak tau apa yang terjadi tapi Dia bisa merasakan kesedihan Wanita itu.
Perlahan, Hans meraih vas bunga dari genggaman Callista dan menjatuhkannya. Dia membopong tubuh Callista yang masih meringkuk melingkari lehernya. Sementara Clinton dengan cepat dan susah payah memindahkan tubuh Erwin kedekat tangga, Setelah memakaian baju untuk Pria tua itu.
Karena obatnya hanya bertahan sebentar saja, maka Mereka harus cepat. Clinton ingin membuat seolah olah Erwin jatuh dari tangga. Dia juga sudah membersihkan kamar Callista.
" Wanita itu membuat semuanya jadi kacau !!!"
__ADS_1
Hans terus membopong tubuh Callista ke dalam mobil tanpa bertanya apa apa. Callista masih sesungukan, Menyembunyikan Wajahnya di bawah leher Hans. Clinton setengah berlari di belakang Hans, Dia langsung masuk ke mobil dan langsung membawanya pergi dari rumah besar itu.
" Apa yang sebenarnya terjadi ??? " gumam Clinton.
Dia menoleh sesaat menatap Hans yang terlihat begitu khawatir, Dia hanya memeluk Callista tanpa bertanya apa apa.
Didalam mobil, Clinton sempatkan untuk menelpon Al, Walau Dia tau pasti Al akan marah marah karena in sudah menunjukkan jam 2 dini hari.
" Ya, Hallo ???? " suara serak dan malas Al yang baru bangun terdengar serak dan sedikit mengerang.
Al memicingkan matanya melihat ke arah dinding jam yang ada disana. Dia mau marah marah saat Clinton tiba tiba langsung membicarakan sesuatu yang membuatnya terdiam.
" Ganggu bangat sih Kamu, Gak bisa nugg .... "
" Callista hilang kendali, Al. Dia melukai Om Erwin. Sekarang Aku dan Hans menuju rumah lama Kamu. " kata Clinton membuat mata Al langsung terbuka lebar.
" Oke oke , Besok pagi Aku akan ke Jakarta. "
Clinton langsung mematikan panggilannya.
*******
Yesline mengucek matanya perlahan saat cahaya matahari berpendar masuk menembus matanya. Dia menggeliat dan berguling guling, berharap menyentuh tubuh hangat Suaminya, tapi tidak ada siapa siapa disana. Yesline bangkit, duduk diranjangnya.
Dia melayangkan pandangannya ke segala arah dan menemukan sesuatu di atas meja samping tempat tidur. Yesline meraih kertas itu dan membacanya.
" Sayang, Maaf ya .... Aku pulang ke Jakarta dulu tanpa bangunin Kamu. Ada urusan mendadak yang tidak bisa ditunda. Untuk sementara, Kamu lanjut liburannya sama Mama dan Leni ya ...... Setelah urusanku selesai, Aku akan jemput Kalian. Love You. "
Yesline tertegun dan meremas kertas itu dengan emosi.
" Urusan penting apa sampai meninggalkanku ??? "
__ADS_1
*****
Hans membaringkan tubuh Callista diatas kasur dengan perlahan. Tubuh Callista masih terbelit selimut. Mata Callista sembab, Dia pun masih sesunggukan. Callista menekuk kedua lututnya, mendekapnya dan membenamkan kepalanya diatas lutut. Hans duduk ditepi kasur sambil menatap nanar Callista. Entah kenapa Dia mengasihani Wanita yang di depannya itu.
Terkadang jika Kita mau sedikit saja mengerti kenapa Seseorang bisa berubah jahat, maka Kita akan mengasihani hidup Mereka. Dibalik keputusan buruk yang pernah Dia ambil, diakibatkan oleh tekanan batin yang Dia rasakan, Ada sebab yang tidak diketahui Orang Orang. Mereka menyimpan luka sendiri.
Kejahatan yang Mereka lakukan tidak bisa dibenarkan, Tapi Kita bisa memberikan kesempatan kedua.
" Terimakasih. " kata Callista sedikit menganggkat wajahnya menatap Hans. Laki Laki itu tidak tau harus mengatakan apa apa, Mau mengatakan nasihat atau memberikan senyuman.
Wanita didepannya terlalu kalut, biasanya hanya butuh didengarkan tapi Callista sedari tadi belum menceritakan apapun dan Mereka enggan untuk bertanya. Dia sepertinya sangat terluka.
Akhirnya Hans bangkit dan mendekati lemari pakaian dan mencari sesuatu yang bisa dipakai Callista. Clinton yang berdiri diambang pintu menatap heran Hans dengan menyenderkan bahunya di samping pintu sambil menyilangkan kakinya.
" Katanya belum move on dari Yesline .... Tapi bisa luluh dengan hanya tangisan Callista !!! "
Tidak bisa dipungkiri bahwa Clinton pun sebenarnya merasa kasihan sama Callista.
" Anak Malang .... Otaknya sudah dicuci oleh Pamannya sendiri hingga membuat kehidupannya hancur. "
Clinton sudah mendengarkan rekaman yang diberikan Callista beberapa saat lalu saat Mereka baru sampai di rumah Al.
" Pakailah, Kamu bisa membersihkan dirimu agar Kamu bisa merasa sedikit lega. Kami akan menunggu di luar. " Tangan Hans mengulurkan kemeja putih milik Al karena di lemari itu sudah tidak ada pakaian Callista sama sekali. Al sudah membersihkannya.
Callista membenahi posisi duduknya, Dia duduk bersila. Menatap Hans dan menerima uluran baju dari Laki Laki itu. Callista sedikit memaksa bibirnya untuk tersenyum.
" Terima kasih Hans. '' kata Callista. Meski dengan tersenyum terpaksa, sudah bisa membuat Hans salah tingkah. Dengan sedikit kikuk, Hans bangkit dari duduknya. Pandangannya menunduk ke bawah. Entah kenapa Callista tiba tiba terlihat cantik di mata Hans.
Mungkin dulu kecantikannya yang tertutupi oleh kejahatannya dan kegelapan hatinya. Setelah Dia tau semuanya, Dia menangis dan menyesalinya. Membuat aura kecantikannya kembali bersinar.
" Sama sama. Mandilah, Kami tunggu di luar. " kata Hans sambil berlalu. Callista menatap kepergian Hans.
__ADS_1
" Dia ternyata Laki Laki baik. " gumam Callista sambil melihat kepergiaannya.
Hans merangkul Clinton dan mengajaknya keluar seraya menutup pintu kamar.