Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 91


__ADS_3

Dua hari sebelum Al menemukan Yesline


Yesline yang basah kuyup, berlari menjauh dari rumah Al, Menenteng kopernya. Berjalan terseok seok menelusuri jalanan malam yang begitu sepi. Kakinya berdenyut sakit karena sudah berjalan jauh. Dia lupa tidak membawa uang sama sekali. Biasanya dirumah Mama Mertuanya maupun di apartemen, semua kebutuhannya sudah terpenuhi, sehingga Dia tidak pernah membawa uang cash.


Al pernah memberinya black card, tapi karena tidak pernah terpakai, Yesline meninggalkannya di laci lemari di Apartemen begitu saja. Semua biaya kepulangannya dari Bangka pun, Leni yang mengurusnya. Dia memang ceroboh. Bagaimana nasibnya kini karena tidak memegang uang sama sekali ???


Terluntang luntang dengan perut yang suda besar. Sesekali saat kakinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya, Yesline istirahat dan duduk di trotoar, tepi jalan. Jika dalam kondisi normal, Dia pasti akan takut berjalan malam malam begini. Namun, kini situasinya berbeda. Hatinya sudah mengalahkan akal sehatnya.


Yesline menatap kesana kemari berharap ada kendaraan yang lewat dan bisa menumpang sampai ke rumah Mamanya. Yesline memijit kakinya yang linu, menahan dingin yang menggigil diseluruh tubuhnya.


Setiap ada mobil yang lewat, Yesline selalu berdiri dan memberanikan dirinya untuk melambaikan tangannya agar mobil itu berhenti. Tapi beberapa mobil yang lewat selalu mengabaikannya.


Mungkin karena takut, malam malam begini ada Wanita hamil bawa bawa koper dan basah kuyup di tepi jalan, Mungkin Mereka mengira bahwa Wanita itu sedang diusir dari rumahnya sehingga Mereka tidak mau terlibat dan ikut campur. Bukan salah Mereka juga jika berpikir seperti itu.


Keadaan Yesline terlalu mengenaskan. Bajunya yang mahal tidak akan terlihat karena keadaan basah seperti itu. Siapa juga yang tahu bahwa Dia menantu Keluarga Gunawan. Pemilik RS terbesar dikotanya, salah satu Orang terkaya disini.


Mereka hanya tau, Wanita lusuh itu sedang dalam masalah dan Mereka yang lewat tidak mau terlibat. Jika ada, Mereka pasti yang berhati malaikat.


Wajah cantik Yesline pun tertutupi dengan rambutnya yang basah dan sedikit berantakan. Saat Dia bekerja di Club, keadaannya tidak pernah seburuk ini meskipun kehidupannya juga kekurangan uang.


Yesline pasrah, Dia kembali duduk dan memegang kedua lututnya. Masih berharap ada yang memberikan tumpangan. Gak lama berselang saat mata Yesline hampir saja tertutup, ada mobil berhenti tepat di depannya. Lampu mobil menyala terlalu terang, Membuatnya menyipitkan matanya.


Seseorang keluar dari mobil, Seorang Bapak supir taksi yang baik hati.

__ADS_1


Bapak itu mendekatinya dan tersenyum ramah sambil menanyakan nama Yesline dan sedikit bertanya kenapa Dia berada di daerah sepi malam malam begini.


Yesline menceritakan bahwa Dia kehabisan ongkos saat mau pulang ke rumah Mamanya. Hingga akhirnya Bapak itu menawarkan tumpangan.


" Tapi Pak, Saya tidak punya uang. Saya tidak bisa membayar tagihan taksi Bapak. " kata Yesline pelan.


Dia memang benar benar tidak membawa uang. Jarak dari sini kerumahnya masih lumayan jauh. Lagi lagi Bapak itu hanya tersenyum ramah.


" Tidak apa apa Neng, Kamu mengingatkan Bapak sama Putri Saya yang lagi hamil. Persis kayak Kamu sekarang. Tapi Dia sudah tidak ada. Karena pada saat pulang dari rumah Suaminya, Dia kehabisan ongkos dan menunggi di tepi jalan. Tapi, Nasibnya yang kurang baik, Beberapa Preman mempermainkannya dan membunuhnya. Bapak sangat menyesal karena tidak bisa menolongnya. Melihat Kamu, Bapak jadi teringat Putri Bapak. " kata Laki Laki paruh baya itu dengan sedih. Yesline jadi merasa bersalah.


" Maaf, ya Pak. Saya tidak bermaksud membuat Bapak sedih. Semoga Putri Bapak bahagia disana. Dan pasti Dia tidak menyalahkan Bapak. Terkadang takdir mempermainkan Manusia dengan sedikit kejam, Pak. Kita memang tidak punya pilihan lain selain menjalaninya dengan penuh rasa sabar dan rasa syukur. Saya juga sedang menagalaminya saat ini. " kata Yesline sambil mengusap pelupuk matanya yang berurai air mata.


" Tapi Saya yakin badai pasti akan berlalu. Sehabis hujan ada pelangi. Kita hanya perlu kuat sampai pelangi itu muncul lagi. " kata Yesline dengan tersenyum.


" Alhamdulillah .... Selalu ada Orang baik yang membantu. " gumam Yesline bersyukur.


Selama perjalanan, Supir taksi itu mengajak Yesline mengobrol banyak hal, termasuk Istrinya yang begitu baik dan cantik. Mereka hanya tinggal berdua saja, Satu Anaknya sudah meninggal dan Dua anaknya yang lain sudab berkeluarga dan tinggal dengan keluarga masing masing.


Diusianya yang sudah mendekati pensiun, masih harus bekerja sampai larut malam begini, membuat Yesline terenyuh. Tidak terasa mobil sudah berhenti di depan rumah Mamanya Yesline karena tadi Yesline sudah memberi tau alamat rumahnya.


Yesline turun, disusul Supir taksi itu. Sebelum masuk ke rumah, Yesline sedikit membungkukkan badannya untuk mengucapkan banyak terima kasih.


" Sama sama, Neng .... "

__ADS_1


Melihat rumah Yesline yang sepi seperti sudah lama tidak dihuni membuat Bapak itu hendak menanyakan sesuatu tapi Dia urungkan. Dia segera pamit untuk pulang karena sudah larut malam.


Mobil taksi itu pergi meninggalkan gang sempit itu. Yesline berusaha mengingat ingat dimana Dia menaruh kunci rumahnya. Dibawah pot bunga tidak ada, Di depan juga tidak ada. Dia berusaha mengingat bahwa Dia menaruhnya dibawah keset kaki.


Yesline langsung membuka pintu rumahnya dan terdengar suara pintu berderit membuatnya sedikit bergidik. Di dalam rumah itu gelap, Yesline mencari saklar lampu dan menyalakannya.


Setelah menutup pintu, Yesline membuka kain penutup kursi dan ranjangnya. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu beristirahat. Tubuh dan hatinya terlalu lelah. Mungkin besok Dia harus mencari pekerjaan untuk makan.


Al tidak tau jika Dia sudah pulang dan Yesline tidak berniat untuk memberitahunya. Al sibuk dengan mantannya. Sudah jadi mantan tapi masih menganggu. Yesline merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia merindukan Mamanya.


Yesline mengeluarkan ponselnya dari tas. Dari kemarin, Dia sengaja mematikan ponselnya. Dia penasaran apakah Al mencarinya atau tidak. Tapi jika mengingat kejadian tadi mana mungkin Suaminya itu mengingatnya.


Yesline kembali meletakkan ponsel itu disampingnya. Dia belum bisa tidur, Perasaannya menyiksa sekujur tubuhnya.


Mendadak perutnya keram, seperti terlilit sesuatu. Yesline lupa, Dia belum makan apapun dari tadi semenjak sampai di Jakarta. Dia meringkuk memegang perutnya.


" Sayang .... Kamu harus kuat ya .... Bantu Mama, ya ...." gumam Yesline menggigit bibirnya menahan sakit.


Dia berusaha mengatur nafas agar sakitnya berkurang sedikit.


" Mas ..... " bibirnya bergetar memanggil Suaminya itu.


" Anak Kita butuh Kamu ..... " rintihnya menangis.

__ADS_1


Ini sudah tengah malam, Yesline masih terjaga rasa sakit yang kian mendera. Kepalanya sudah mulai pusing dan pandangannya sudah mulai berkunang kunang. Dia berusaha memejamkan matanya, berharap kala tidur rasa sakitnya sudah tidak ada atau minimal berkurang.


__ADS_2