
" Direktur Rumah Sakit Healthy, Mas !! Keren gak tuh ?? "
" Kamu tau dari mana Sayang ?? '' tanya Gabriel sedikit acuh tak acuh. Matanya kembali menatap berkas yang Dia pegang di tangannya. Dia sedikit meragukan perkataan Leni yang amat mustahil. Kecuali memang ada keajaiban. Al kan egonya tinggi.
" Dari Mas Clinton, Mas. Tadi Dia WhatsApp Aku. Mungkin Mereka sudah mau sampai. "
Setiap mendengar nama Clinton, membuat Gabriel memutar bola matanya, Dia malas dan kurang suka, Mengingat Dia tau jika dulu sampai sekarang hubungan Leni dan Clinton amat sangat dekat.
Meski Mereka selalu bilang hanya Teman, tapi apa ada hubungan Laki Laki dan Perempuan yang murni hanya Teman ???
Gabriel mengambil nafas sejenak, dan menutup map nya. Meletakkan kembali di atas meja kerjanya. Menatap Leni dengan serius.
" Kenapa sih, Clinton masih saja WhatsApp Kamu ?? Dia kan sudah tunangan dan Kamu sudah nikah. Menurutku kurang etis Sayang, mulai sekarang jaga jarak deh sama Teman Kamu yang satu itu. " ucap Gabriel memperingatkan.
Leni sedikit terkejut, Dia kira Suaminya akan senang saat tau Al menginjakkan kaki di Rumah Sakitnya, kenapa malah fokusnya jadi ke Clinton ???
" Ak --- " baru Leni mau menjawab perkataan Gabriel, tiba tiba ada telepon masuk dari Clinton. Leni langsung mengangkatnya.
" Dari siapa ??? " tanya Gabriel.
" Dari Clinton, Mas. " jawabnya dengan ragu ragu dan Dia memperlihatkan layar ponselnya ke arah Gabriel, Laki Laki itu langsung mengambil alih telepon.
" Len. " panggil Clinton.
" Ada apa nyariin Istri Saya ??? " tanya Gabriel tanpa sungkan.
Di seberang sana Clinton terkejut karena mendengar suara Gabriel yang menjawabnya.
" Saya tau, Kamu dulu memang tomboy, tapi gak harus mengubah suara seperti suara Laki Kamu keles. Saya gak suka, suaranya cempreng. " ledek Clinton dengan sengaja. Dia tau Gabriel akan murka, biarkan saja.
" Sialan Kamu !!! Sini kalau berani, Saya jadiin impoten Kamu !! Seenak mulut kalau ngehina Orang. Kamu pikir suara Kamu, Oke ??? " Gabriel bersungut marah, membuat Leni beralih posisi di samping Suaminya untuk menenangkannya.
" Mas, Sudahlah. Kenapa berantem melulu sih ?? " Leni meraih ponselnya, dan mendekatkan ke telinganya. Membuat Gabriel mencebikkan bibirnya.
" Sayang, Mas belum selesai ngomong. Pokoknya Mas gak mau Kamu dekat dekat sama si Clinton itu. " kata Gabriel lagi.
__ADS_1
Leni mendekatkan jari telunjuknya di bibir, meminta Gabriel untuk diam sejenak dan tenang sebentar.
" Ada apa Clin ?? " tanya Leni.
" Loh, udah ganti suaranya lagi ?? " sindir Clinton lagi dengan usil.
" Mas, Clinton, serius deh !! ada apa ??? Kalau gak ada yang penting Aku matiin nih !! " ancam Leni.
" Eh, tunggu. Ini Aku mau nanya Papa Hans di kamar nomor berapa ??? "
Leni lalu memberi tahu Clinton dimana Papanya Hans di rawat. Setelah menutup telepon Dia langsung mengajak Gabriel untuk menemui Mereka.
Sebelum itu, Leni sudah memberikan ciuman yang cukup lama di bibir Gabriel untuk mengontrol emosinya yang naik.
Gabriel tidak jauh berbeda dari Al yang sedikit sedikit cemburu dan bucin akut sama Istrinya.
*****
Sesampainya Mereka di Rumah Sakit Kasih milik Gabriel, Mereka langsung disambut hangat oleh Leni dan juga Gabriel yang ternyata sudah ada di sana lebih awal. Membuat Al yang moodnya naik turun, kini tambah berantakan dan runyam.
" Wah .... Ada tamu agung datang. Saya foto, ah ..... Lumayan buat dokumentasi. " Gabriel sudah mengeluarkan ponselnya dan bersiap memotret Al. Sebelum Al bergerak maju hendak memukul bahunya, Gabriel langsung menghindar.
Menuliskan di sana kalau ada tamu agung datang.
Al merasa malas berdebat dengan Gabriel, jadi Dia mengajak Yesline begitu juga dengan Clinton untuk langsung menuju kamar Papanya Hans di rawat. Gabriel dan Leni mengikuti dengan jarak yang agak jauh.
Setelah di kamar Papanya Hans, semua memasuki ruangan dengan sopan. Hans senang melihat Teman Temannya datang menjenguk Orang Tuanya.
" Assalamualaikum Om, Tante. " sapa Clinton basa basi.
Al juga ikut menyapa begitu juga Yesline. Melihat dan mengingat Yesline membuat Papanya Hans mengingat kesalahannya yang telah Dia lakukan kepada Yesline. Sudah lebih dari lima tahun berlalu, dan Dirinya sangat menyesal karena merendahkan Yesline waktu itu.
Yesline menyalami tangan Mamanya Hans dan berdiri tak jauh dari Wanita itu. Sementara Al, Clinton, Gabriel serta Hans duduk di sofa, Mereka mengobrol banyak hal.
Begitu juga Mamanya Hans dan Yesline yang setelah mengobrol basa basi, akhirnya Papanya Hans memberanikan dirinya untuk menanyakan sesuatu yang sudah lebih dari lima tahun lalu ingin Dia tanyakan.
__ADS_1
" Bagaimana keadaanmu, Yesline ??? " tanya Papa Hans memastikan kondisi Wanita yang selama ini di sukai Anaknya. Mungkin lebih tepatnya tidak ingin bertanya seperti itu.
Yesline tersenyum, matanya menunduk.
" Alhamdulillah baik, Pak. Kabar Bapak sendiri bagaimana ?? " tanya Yesline balik.
" Masih kurang baik. Nanti malam baru mau di operasi. Doakan lancar ya, Nak ?? "
Yesline menganggukkan kepalanya. Di sofa, sesekali Al memperhatikan Istrinya yang terlihat akrab dengan Orang Tua Hans si super caper itu. Membuatnya merasa sedikit kurang nyaman.
" Semoga Bapak cepat sembuh ya." Yesline menyahut dengan santai dan lembut.
Setelah mengambil beberapa tarikan nafas, Papa Hans kembali berucap.
" Maafkan Bapak dan Ibu yang dulu tidak merestui hubunganmu dengan Hans, Kami menyesal, Yes. Kami tau sebenarnya Kamu Wanita baik, tidak seperti yang para Tetangga katakan dulu. Gara gara Kami tidak merestui Hans dan Kamu dulu, Sekarang Hans jadi milih milih Cewek, Seperti tidak mau serius sama satu Wanita. " Papanya Hans mengeluhkan soal Hans, membuat Yesline bingung harus menanggapinya bagaimana. Dia hanya tersenyum simpul.
Al yang mendengar itu langsung nyeletuk dari tempat duduknya.
" Memang Mereka tidak berjodoh, Om. " matanya melirik ke arah Hans.
" Gak usah kenceng kenceng, Saya sudah dengar. Telinga Saya masih normal, gak tuli !!! " jawab Hans, kesal dengan Al yang tiba tiba berkata seperti itu.
Al tidak suka Orang Tuanya Hans yang mengungkit ungkit hubungan Yesline dan Hans di masa lalu, apa maksud Mereka sebenarnya ???
" Awas aja kalau sampai mau mempengaruhi Yesline, Saya bedah jantungnya si Hans, Saya kasih ke anjing !! Biar tau rasa !! " geram Al dalam hati.
Tatapan Al menginterupsi Orang Orang di dalam ruangan itu, Clinton mengenal betul sikap Al dan hanya menertawainya.
" Andai Kamu dulu jadi menantu Bapak dan Ibu, pasti sekarang Kami sudah punya Cucu. " Mamanya berbisik di telinga Yesline, membuat Yesline tersenyum.
Al tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Mamanya Hans, Dia sangat jengkel. Nanti deh Dia tanyakan ke Yesline.
Tiba tiba ponsel Yesline bunyi, Dia pamit keluar untuk mengangkat telepon itu.
" Iya, halo ??? "
__ADS_1
" Kok bisa ?? Tunggu ya, nanti Kami kesana. "
Yesline langsung menutup teleponnya dan menghampiri Al.