
" Dia Laki Laki ??? " gumamnya sedikit kecewa tapi tidak membuatnya marah. Mamanya memang sudah terlanjur membayangkan punya cucu perempuan, karena di Keluarga Gunawan belum ada Anak Perempuan.
Berawal dari mimpinya yang bertemu dengan dengan cucu Perempuan. Tapi bukan salah siapa siapa jika yang lahir adalah Bayi Laki Laki. Bukan salah Yesline atau mimpinya. Semuanya sudah takdir dari yang Diatas.
Mamanya mengerti, baik itu Laki Laki maupun Perempuan, Dia tetap cucu kesayangannya. Mamanya tersenyum, Dia meminta ijin ke Perawat untuk menggendong bayi mungil itu sebentar sebelum dipindahkan ke kamar khusus bayi. Al dan Yesline saling menatap, melihat Mamanya yang begitu bahagia dengan kehadiran Putra Mereka.
" Halo, Jagoan Nenek. Selamat datang, Kami sudah lama menunggumu. Kami akan mencintaimu, Nak. Nenek sangat senang atas kelahiranmu. "
Mamanya mendekatkan hidungnya dengan hidung bayi mungil itu. Wangi aroma khas bayi menelusup memasuki rongga hidungnya. Wanginya sangat menenangkan. Aroma bayi yang wangi membuat Mamanya semakin nyaman. Dia tidak ingin berhenti menyesap aroma itu, Menimang bayi itu dengan penuh cinta.
Perawat itu datang menghampiri Mamanya Al dan meminta bayinya, dan dengan berat hati, Mamanya Al memberikan cucunya yang ganteng itu. Perawat itu membawa bayi mungil itu ke kamar khusus bayi. Sementara Mamanya kembali mengajak Yesline ngobrol.
Al masih berada di posisinya, Sesekali memberikan Yesline minum dan menyuapi bubur ke mulut Yesline. Al benar benar menjadi suami siaga.
" Terima kasih, Mas. " kata Yesline dan Al langsung mengangguk.
Pukul 7 malam, Papa dan Mamanya Nicho datang. Mamanya Al menyambut Mereka dengan ramah. Mereka mengobrol banyak hal kecuali perihal Nicho yang meminta restu Mereka untuk menikah.
Dan Mamanya Nicho pikir, Al dan Keluarganya belum tahu soal rencana pernikahan Nicho dan juga kehamilan Callista. Mama dan Papanya Nicho memilih menutupnya rapat rapat. Memikirkannya saja malu, Mereka tidak mungkin dengan sengaja menceritakannya pada Al maupun Mamanya.
Satu jam lebih Mereka berada di Rumah Sakit, dan akhirnya Mereka pamit untuk pulang. Disusul oleh kedatangan Hans, Leni, Clinton dan Clara.
" Hai, Mama muda. Bagaimana keadaanmu ??? " kata Leni sambil duduk disamping Yesline begitu juga dengan Clara. Sedangkan Clinton dan yang lainnya duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjangnya Yesline.
" Alhamdulillah, Sudah agak mendingan. Kamu hari ini dari mana ajah ??? Katanya tadi pagi sudah mau kerja lagi ?? " tanya Yesline. Kedua alisnya terangkat karena penasaran. Dengan ragu ragu, Leni hendak menjawab.
" Motorku mogok, Yes. Seharian ini Aku nungguin di bengkel. Iya kan Hans ??? " kata Leni sambil melihat Hans.
" Yoi. Leni parah. Motornya mogok karena nabrak mobil Orang. Tahu siapa yang di tabrak ???? " kata Hans membuat semua menatapnya.
" Benaran Len ??? " tanya Yesline panik.
__ADS_1
" Kamu tidak kenapa napa kan ??? "
" Aku baik baik saja kok. " jawab Leni senyum.
" Emang siapa ??? " tanya Al ikut penasaran.
" Dokter Ga Bri El !!! " jawab Hans sambil menjeda perkataannya saat mengatakan nama itu.
" Gabriel ??? " tanya Al lagi memastikan dan langsung dijawab Hans dengan anggukan.
" Dia pasti marah bangat tuh. " sambung Clinton menebak.
" Matanya sampai mau keluar. " sambung Leni.
" Ya. Wajar. Apalagi Dokter genit itu Orangnya songong. " kata Al.
" Kalau Aku yang nabrak, langsung Aku penyokin sekalian tuh mobil sampai ke tiang lampu merah. " kata Al berseloroh.
Disambut ketawa dari para Sahabatnya, termasuk Clara yang sedari tadi hanya diam. Dia tidak tau apa yang Mereka bicarakan, membuatnya merasa sedikit canggung untuk ikut nimbrung. Meski begitu, Dia tetap memberikan respon seperti anggukan kepala dan senyuman dan juga gelak tawa yang sama.
Tiba tiba Nicho datang bersama Callista. Mereka terlihat berjalan beriringan tanpa memperlihatkan kemesraan yang biasanya Mereka umbar saat di Singapura. Sekali lagi Callista masih menunggu waktu yang pas untuk menunggu memberitahu semuanya.
" Callista, " pekik Yesline terkejut saat melihat Callista datang bersama Nicho.
Callista tersenyum, Dia bahagia melihat Yesline sudah melahirkan. Dia berjalan mendekati Yesline dan langsung memeluknya.
" Selamat ya, Yes .... "
Yesline membalas pelukan Callista.
" Selamat, Yes ... " dari belakang tubuh Callista, Nicho ikut berteriak. Yesline menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Dia merasa heran kenapa Nicho bisa bertemu dengan Callista. Yesline mau menanyakan perihal itu kepada Callista, Tapi sudah didahului oleh Hans.
" Dia menjemputku di Amerika. " jawab Callista tersipu.
Semua mata menatap Nicho dan Callista. Dengan tatapan terkejut, Mereka membelalakkan mata syok dan melongo.
" Kalian pacaran ??? " selidik Al, kedua alisnya tertaut.
Sebenarnya Callista tidak ingin mengatakannya, Tapi mungkin ini waktu yang tepat untuk memberi tahu semuanya jika Callista sudah menemukan Orang yang tepat yang bisa menerima dan mencintainya apa adanya.
Dia dengan mantap mengangguk. Menatap penuh cinta ke Nicho. Saag ditatap oleh Al, Nicho hanya nyengir. Sebelah tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Iya. Kalian benar. Kami sudah menjalin hubungan dan rencananya akan menikah dalam waktu dekat ini. ''
Mendengar itu, Hans dan Clinton merangkul Nicho dan mengacak acak rambutnya. Mereka turut bahagia. Menghujani Nicho dengan kejailan kejailan yang menimbulkan gelak tawa kecuali Al. Entah apa yang Dia rasakan.
Nicho akan menikah dengan mantan Istrinya. Al tau, Mereka sudah menjalin hubungan sejak Callista masih menjadi Istrinya. Seharusnya tidak terlalu mengejutkan jika akhirnya Nicho menikahi Callista, bukan ???
Mungkin yang membuatnya merasa tidak nyaman, Dia mengingat kembali perselingkuhan Mereka. Dia masih terdiam, sampai akhirnya berusaha mengulas senyum dan mengucapkan selamat kepada Nicho.
" Kamu tega ninggalin Kita, Hah ??? " kata Clinton.
" Kelamaan kalau nunggu Kalian. Terlalu banyak drama. Selamat jadi jomblo ngenes !!! " ledek Nicho dengan nada super rese.
Hans menegakkan badannya, Dia melirik ke arah Dua Wanita yang berada di samping Yesline, selain Callista. Hans harap ada salah satu dari Mereka yang akan jadi Istrinya. Dia tidak boleh yang paling akhir. Clinton akan menertawakannya habis habisan.
Yesline merenguh tangan Callista dan menatapnya dengan lembut.
" Selamat ya, Cal. Aku turut bahagia. Semoga kelak Kamu selalu dikelilingi kebahagiaan dimana pun Kamu berada. " kata Yesline dengan tulus.
Mata Callista berkaca kaca. Sungguh hidup damai seperti ini lebih membahagiakan. Banyak yang menyayangi dan mendukungnya. Dia tidak lagi merasa berjuang sendirian. Callista menyeka air matanya yang hampir jatuh dan memeluk Yesline.
__ADS_1
Leni dan Clara ikut memberikan selamat.
Mereka para jomblo sedang berdoa dalam hati masing masing. Semoga dslam waktu dekat, juga akan segera menikah. Dua Laki Laki jomblo itu sedang menatap Bidadari Mereka masing masing.