
Pukul 05.00 pagi.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Yesline, wanita itu baru keluar dari kamar mandi saat mengetahui ponselnya bergetar. Al, suaminya masih tertidur pulas. Semalam dia baru pulang jam 03.00 pagi, karena ada beberapa operasi dadakan. Yesline mengelap mukanya dengan handuk kecil, begitu juga denngan kedua lengannya yang masih basah. Baru dia mengambil ponselnya, ada pesan masuk dari Hans. Yesline mengambil segelas air putih dan meneguknya sambil mulai membaca pesan itu.
"Assalamualaikum, Aku mau nikah jam 7 nanti, Kalian pada dateng ya? Langsung kesini sekarang ke Jogja. Nanti aku share lokasi. Awas aja kalau gak datang, aku bawa kalian semua ke meja hijau dengan kasus penipuan. Katanya teman akan selalu ada di saat temannya sedih juga saat bahagia. Pokoknya kalian harus datang! Titik, gak ada koma!"
Isi pesan itu membuat Yesline terkejut. Reflek, dia menyemburkan kembali air dari dalam mulutnya, yang langsung mengenai muka Al, membuat laki laki itu bangun seketika. Al terkejut, dia kira atap rumahnya bocor, masa iya, bocor?
Al mengucek matanya, dan mendapati Yesline yang masih melongo dengan tangan memegangi gekas kosong, mimik wajahnya masih terkejut melihat ke arah layar ponselnya.
"Kamu apa apaan sih, sayang? Kamu nyembur, Mas?!'' sergah Al yang langsung melepas piyamanya.
Yesline mengelap mulutbya dengan lengannya. Sesaat dia melirik pada jam ponselnya, sekarang sudah pukul 5. Sekejap, dia tersadar dari keterkejutannya, mereka harus segera berangkat ke Jogja.
"Buruan mandi, Mas. Aku mau ururs Azka dulu. Kita berangkat ke Jogja 20 menit lagi, Hans mau nikah!'' teriak Yesline, dia melempar ponselnya ke arah kasur, dan langsung berlari keluar kamar menuju kamar Azka.
"Apa?! Busyeett, kenapa mendadak sekali, sih!'' gerutu Al setelah membaca pesan dari Hans. Dia masih ngantuk sekali.
Tapi, tiba tiba bibirnya menerbitkan senyum kelegaan yang mendalam. Al terkekeh pelan.
"Akhirnya, kamu sold out juga, Hans! Sekarang sudah bukan Hans si tukang caper lagi, Tapi Adam KW! Adam untuk Meriam, Hahaha.'' Al tertawa.
"Mas, cepatan!!" teriak Yesline yang sudah berdiri di ambang pintu. Al nyengir, dia meletakkan ponsel Yesline di kasur dan langsung melompat turun, bergegas ke kamar mandi. Sementara Yesline menyiapkan beberapa pakaian yang akan ia bawa.
Dalam hati Yesline, dia sangat bersyukur, Hans benar benar mendapatkan wanita yang tepat. Laki laki yang dulu begitu tulus mencintainya, sekarang sudah memiliki wanita baru dalam hatinya.
Meriam, kamu wanita beruntung, dia adalah laki laki yang benar benar memulyakan wanita, dia tidak akan mengecewakanmu, menyakitimu, bahkan melukaimu, dia akan menjadikanmu ratu dalam hati dan hidupnya. Dia.... ah, dia begitu istimewa. Dan mungkin Hans juga beruntung, karena kamulah yang menjadi takdirnya.
************
Nisa tergopoh-gopoh, dia gugup karena baru saja Meriam mengiriminya pesan bahwa dia akan menikah jam 7 pagi nanti. Dia adalah sahabat baik Meriam, Dia harus datang tepat waktu, bukan?
Nisa keluar dari Apartemennya dengan menarik koper. Dia celingukan ke sana ke mari, mencari kendaraan di jam 5 pagi, dia berharap ada yang bisa mengantarnya ke Bandara. Nisa, tidak bisa naik mobil maupun sepeda motor.
Nisa memutuskan memesan tumpangan pada aplikasi hijau. Nisa, harsu segera sampai di Jogja. Kendaraan yang Nisa pesan sudah datang, Nisa segera naik ke atas motor dan memakai helm. Nisa mendekap kopernya. Di tegah tengah perjalanan, tiba tiba sepeda motor yang ia naiki berhenti, tidak mau distater, setelah dicek ternyata bensinnya habis.
"Maaf ya, Mbak. Saya lupa isi bensin,'' kata tukang gojek itu. Meski belum sampai tujuan, Nisa tetap membayar upah tukang ojek itu dengan biaya full.
"Gak apa apa, Pak. Terima kasih ya, Pak,"
Nisa turun dari motor itu, dia melihat ke segala arah. Untungnya dari arah kanan ada taksi yang mendekat, Nisa langsung melambaikan tangannya dan taksi itu pun berhenti.
"Ke Bandara ya, Pak?'' pinta Nisa yang langsung membuka pintu dan masuk ke dalam taksi. Sopir itu terlihat menganggukkan kepalanya. Dia langsung saja melajukan mobilnya menuju tempat yang Nisa tuju.
"Ini demi kamu, Mer. Aku rela pagi pagi keluar apartemen dan bergugup gugup ria untuk bisa hadir di acara sakralmu. Bahagia ya, Bestikuuu.....'' ujar Nisa di dalam hatinya.
Karena gugup, Nisa tidak sempat membawa hadiah, yang penting datang dulu lah. Di tengah perjalanan, Nisa melihat seorang laki laki sedang berdiri dengan kesal, dia mamaki mobilnya, mungkin mobilnya mogok atau kehabisan bensin. Lagi - Lagi karena mendadak harus pergi, jadi tidak ada yang dipersiapkan. Nisa memicingkan matanya, dia seperti mengenali laki laki itu.
__ADS_1
Nisa menurunkan kaca mobil, dia berbicara dengan sopir untuk berhenti sejenak.
"Pak, tunggu sebentar, itu sepertinya teman saya yang mobilnya mogok.''
Taksi menepi ke pinggir jalan. Nisa melonggokkan kepalanya ke luar jendela. Dai berteriak memanggil laki laki yang memakai jaket dan celana jeans itu. Nampak keren dan gaul.
"Hei! Jutek! Mogok, ya? Mau ke Jogja kan? Sini bareng aja!"
Yang dipanggil menoleh, bukan berarti dia merasa dirinya memang jutek, tapi sepertinya panggilan itu tidak asing, dan laki laki itu tau siapa wanita yang sering memanggilnya seperti itu. Dia menatap malas ke arah Nisa.
"Ayo buruan, Nanti telat. Keburu gak lihat Meriam nikah, loh. Oh, atau lebih baik kamu gak usah datang aja kali, ya? Takut nanti tiba tiba malah kamu gagalin tuh pernikahannya, kamu kan dulu suka sama Meriam.'' Nisa, si cerewet namun laki laki itu suka.
"Rizky, woy!!" teriak Nisa, membuat Rizky jengah. Batinnya, dia tahu waktunya sudah terlalu mepet. Karena itu, terima saja lah. Biar beres. Nanti jauhan dikit duduknya, gak apa apa kali ya, kalau tas dan koper di taruh di tengah tengah.
Nisa membuka pintu taksi saat melihat Rizky berlari ke arahnya. Hatinya berbunga bunga, jantungnya tidak karuan, berdebar debar.
"Minggir kamu, geser sana, jangan dekat dekat.'' Rizky mendorong tubuh Nisa sedikit menjauh. Nisa sedikit menjauh. Tapi wanita itu hanya terkekeh, matanya masih menatap Rizky dengan penuh takjub.
"Boleh gak sih, aku menyebut namamu dalam doaku, seperti Meriam yang meminta Hans langsung pada Tuhannya?'' celetuk Nisa tiba tiba, yang membuat Rizky terperanjat kaget. Dia terbatuk batuk untuk meminimalisir kecanggungannya. Pak sopir hanya tersenyum dan geleng geleng kepala melihat tingkah anak muda jaman sekarang ini.
********
Nicho yang baru saja terbangun, masih bergelayut manja dan mesra di dalam perlukan Callista, laki laki itu meringkuk dengan sangat nyaman di bawah ketiak istrinya. Namun, suaran dering ponsel menganggu kenyamanannya. Itu masih pagi, dan siapa yang menelpon pagi pagi buta seperti itu? Kurang kerjaan aja!
Nicho masih enggan mengangkatnya, dia engga melepaskan diri dari tubuh Callista yang tanpa busana. Mereka baru saja mau melanjutkan ronde ke limanya.
Ponselnya kembali berdering, puluhan kali sampai ponselnya bergetar dan terjatuh dari nakas. Baru Nicho mendesis kesal. Dia tidak bisa konsen! Nico berguling ke samping dan mengomel.
"Sialan! Ganggu aja, sih!!'' umpatnya kesal. Callista hanya terkekeh, merenggangkan pelukan Nicho dan berjongkok mengambil ponsel Nicho.
Callista melihat pada layar ponselnya, dan melihat nama Hans telah melakukan panggilan beberapa kali, dan juga mengirimkan pesan berkali kali. Callista membuka pesannya dan membacanya.
"Mas, dari Hans, nih. Katanya dia mau nikah nanti jam 7 pagi, kita sudah harus sampai Jogja sebelum jam 7,'' kata Callista, dia membalikkan badan dan menatap Nicho.
"Apa?! Seriusan?! Jam berapa sekarang?'' Nicho merebut ponsel yang digenggam Callista, menggulir layar ke bawah untuk melihat jam berapa sekarang.
"Wah, sudah jam 5, ayo bangun siap siap. Kita gak boleh telat ikut menyaksikan jomblo ting ting melepas keperjakaannya. Ayo sayang, kita lanjut permainan kita nanti aja di hotel.'' Nico cekikikan, dan langsung turun dari ranjangnya, menarik tubuh Callista untuk masuk ke dalam kamar mandi juga.
"Kenapa hans terburu buru sekali, ya? Bukannya kemarin kemarin seperti belum yakin mau menikah kapan?'' heran Callista, yang mengguyur tubuhnya di bawah shower.
"Mungkin dia baru dapat wangsit dari malaikat jibril, sayang.'' celetuk Nicho sekenanya.
"Hush, kamu kira dapat wahyu?'' tegur Callista yang memukul lengan Nicho pelan.
Nicho tertawa.
************
__ADS_1
"Sayang!!!!!!!!!!!!" teriak Leni yang saat itu sedang berada di dapur, keadaannya sudah mulai stabil hari itu, jadi ia memutuskan untuk membuat sarapan untuk Gabriel. Setelah beberapa hari mereka hanya memesan makanan jadi. Namun, saat Leni sedang memegang ponselnya untuk melihat resep masakan, tiba tiba ponsel itu berdering. Leni mengangkatnya karena tau itu dari Hans. Dari pada beberapa temanmya yang lain, Dia yang paling gercep mengangkat telepon dari Hans.
"Walaikumsalam, Hans. Iya, Hans. Apa?! Benaran? Gak lagi ngeprank aku kan? jangan ngadi ngadi, Hans. Masih pagi ini, jantungan aku!'' cecar Leni yang masih memegangi dadanya.
Matanya memburam karena bahagia.
"Hans mau nikah?''
"Duh, Hans, Bokap aku pasti meleleh ini kalau tahu kamu mau nikah, dulu beliau yang paling semangat buat aku nikah sama kamu, ternyata jodoh kamu cantik bangat, dan baik bangat, huaaaa, gak ada apa apanya aku, hiks.'' Leni menangis haru.
Dia mematikan sambungan teleponnya dan berteriak lagi memanggil suaminya.
"Mas!!!" suara Leni meninggi beberapa oktaf, saking bahagianya. Dirinya dan sang suami lah yang paling getol menjodohkan mereka berdua. Gabriel masih setengah sadar saat menghampiri Leni di dapur.
"Ada apa sih, sayang? Kamu ngagetin Mas, Masih ngantuk ini?!'' protes Leni.
"Hans, mau nikah mas, jam 7 pagi nanti, Kita harus mengejar penerbangan ke Jogja sekarang juga. Kamu punya hutang sama Hans!''
"Hutang apa?!'' mata Gabriel langsung terbuka lebar, dia merasa terhina dikatakan punya hutang, dia kan milyader. Masa istrinya sendiri lupa. Uang dibuang buang tiap hari aja gak habis habis.
"Kamu teganya memfitnah suamimu ini sayang, mana mungkin mas punya hutang!''
"Nah, kan lupa. Mas sendiri yang bilang kalau Hans mau nikah, Mas yang akan mengcover seluruh biaya pernikahannya, hayooooo,'' ledek Leni.
Gabriel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia baru ingat yang dikatakan Leni adalah benar.
"Kamu pintar bangat sih, sayang. Bisa ingat gitu, padahal aku lupa loh." Gabriel menghampiri Leni dan menarik pergelangan tangannya.
"Ayo mandi kalau gitu, nanti aku minta sekretarisku mengurus semuanya. Lagian si Hans ngebet banget, ya? Mendadak gitu nagsih kabarnya. Kemarin kemarin aja kayak gak mau nikah, kan? Sekarang langsung sat set, bat bet,'' ujar Gabriel.
Leni tidak tertawa, lagi lagi dia menagis haru..
"Aku mau ngasih tahu Papa dulu, Mas. Kamu mandi lah dulu, papa akan sangat senang jika tahu Hans akan menikah.''
Tiba tiba Hans tersenyum kecut, dia tahu, Papa Leni memang lebih setuju Leni menikah dengan Hans waktu dulu, sampai dirinya diabaikan waktu melakukan lamaran. Tapi, Hans memang berbeda. Dari kesekian laki laki abstrak seperti Al, Clinton, Nicho, Dia yang paling benar dan tulus.
"Selamat, Hans. Bentar lagi kamu ngerasin un boxing.''
********
Clara langsung memeluk Clinton saat suaminya itu memberi tahunya jika Hans akan menikah nanti jam 7 pagi. Clara sampai menangis sesunggukan, dia merasa sangat bahagia.
"Meriam, wanita yanng baik, dia sangat cocok untuk Hans, ya, Clinton?'' lirihnya.
Clinton mengangguk.
"Aku lega sekarang, dulu sempat merasa bersalah karena kita menikah, dan dia terluka. Sekarang hatinya sudah terisi. Aku benar benar ikut bahagia.''
__ADS_1
Cinta datang tanpa kau minta, Ia pergi pun tanpa disuruh. Dia sesuatu yang mistis, yang membuatmu kadang bahagia, kadang sedih. Bersykurlah, jika dia datang di waktu dan keadaan yang tepat, karena tidak jarang juga dia datang pada saat yang salah.