Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 223


__ADS_3

"Kamu siapa? Di mana suami saya?" bentak Leni dengan tenang, meski air matanya sudah meluruh begitu saja tanpa bisa ia bendung lagi. Dia bukan lemah, dia kuat, dan menghadapai terpaan badai seperti ini, membuatnya lebih kuat lagi. Dia tahu Gabriel tidak mungkin sehina dan senaif itu. Dia tahu Gabriel yang dingin dulunya sampai jadi Gabriel yang sekarang, tidak pernah bermain serong.


Terdengar suara tawa pelan dari seberang telepon. Dia mengubah panggilan suara menjadi panggilan vidio.


"Berani sekali dia," geram Leni, tapi untuk menerima panggilan vidio itu entah kenapa tangannya gemetar.


Apa dia sanggup?


Apa hatinya sekuat baja?


Wanita dalam telepon itu ingin memperlihatkan apa kepadanya?


Dengan mengucap bismillah puluhan kali, Leni menerima panggilan vidio itu.


Seorang wanita tersenyum terlihat penuh kemenangan, memperlihatkan laki laki yang memeluknya dan dalam keadaan masih tertidur pulas.


Mata Leni sesaat memanas, lalu dipenuhi genangan air mata yang merembes melewati pipinya.


"Mas," lirihnya parau, suaranya serak.


"Kamu kalah, Leni. Aku yang menang." kata perempuan itu sambil membelai rambut Ganriel.


Perempuan laknat! Mati kamu ditanganku.


Leni menghapus air matanya, Dia melotot tajam ke arah wanita jahanam itu.


"Dimana kamu?'' tanya Leni garang. Dia kumpulkan segala kekuatannya. Dia sudah tidak sabar ingin mematahkan tangan yang berani menyentuh suaminya.


"Dimana kamu?!" hardik Leni lagi, lebih garang. Matanya merah penuh dengan amarah.


Wanita itu gemetaran, dia ketakutan, tanpa menjawab Leni dia langsung memutus sambungan teleponnya.


Sialan!


Tadi Mas Gabriel bilang mau ke Klub Alexiz, Aku harus kesana sekarang! Aku akan buktikan sendiri sebenarnya kamu laku laki seperti apa, Mas!

__ADS_1


Leni mengepalkan tangannya dan meninju dinding. Punggung tangannya sampai berdarah. Jiwa berantemnya kembali membara. Sudah lama dia tidak menghajar orang.


########


Callista, masih menatap layar ponselnya begitu lama, ada gejolak panas yang menekan jantungnya, rasanya seperti terbakar. Dia sudah hampir menangis, sampai suara Chloe mengagetkannya. Callista buru buru menyeka air matanya yang basah.


"Mama," kata Chloe yang tiba tiba menyandarkan kepalanya di pangkuan Callista.


Wanita cantik itu tersenyum, mengelus rambut Chloe.


"Kenapa bangun, sayang?" tanya Callista. Saat itu baru pukul 11 malam, dan putrinya yang baru tertidur jam 9 tadi tiba tiba terbangun begitu saja dan bermanja manja dengannya meski kedua mata Chloe masih enggan terbuka.


"Mau tidur sama Papa," ucapnya dengan suara kantuknya yang terdengar lucu.


"Papa belum pulang, sayang. Mungkin sebentar lagi, Chloe sama mama dulu ya? Mau mama bacakan cerita?'' bujuk Callista, susahnya seorang wanita adalah..... Ketika bahkan hatimu menjerit kesakitan, Tetap peran sebagai ibu memaksamu untuk senantiasa tersenyum.


Tak ada alasan, tak ada nanti, kamu harus bisa menguasai emosimu saat ini juga. Jika tidak ingin hati malaikat kecilmu ikut merasakan apa yang kau rasakan.


Callista bangkit dari posisi duduknya, sementara Chloe langsung merentangkan kedua tangannya, minta digendong.


Dalam hati Callista masih penasaran, apa itu sungguhan atau settingan? Meski hanya sekedar settingan foto itu sudah cukup membuatnya patah hati.


#######


Clara membanting ponselnya ke dinding. Dari kelima istri geng kampret, emosi Clara lebih mirip dengan Yesline. Melihat foto Clinton dengan wanita lain diusia pernikahannya yang masih seumur jagung, membuatnya tidak bisa menahan emosi. Clara meringkuk memeluk lututnya, dia menangis sejadi jadinya di sana.


Iya, aku tahu, karena aku belum mau punya anak, dan kita belum leluasa melakukan hubungan suami istri. Apa itu membuatmu melakukan ini semua, Clinton?


Lebih baik kau bunuh aku saja, dan tinggalkan aku jika nafsumu tak bisa lagi kau tahan, jangan siksa aku dalam keadaan hidup hidup seperti ini, Kumohon.


Jangan bawa aku ke dalam neraka ini, Clinton. Kamu menikahiku, menjadikan surga bukan neraka.


Clara terus saja menangis, dia tidak tahu sudah habis berapa lembar tissue. Di dalam kamarnya penuh dengan serakan tissue yang habis dipakai langsung dibuang ke sembarang arah.


#####

__ADS_1


Tawa lebar wanita yang kini sedang bersulang menggunakan botol bir dengan seorang laki laki membahana, bertabrakan dengan suara musik DJ dalam sebuah klub malam yang terkenal seantero.


Tidak ada lagi pengunjung malam itu, hanya ada mereka berdua menikmati setiap tegukannya hingga habis. Merayakan sebuah keberhasilan yang baru saja mereka capai.


"Ide kamu cemerlang, Jarot. Pasti akan jadi huru hara tingkat dewa. Biar mereka tahu rasa," maki Mami kepada kaki tangannya. Setelah dia mengatakan itu, dia tertawa lagi. Suaranya sumbang.


Sementara di dalam sebuah kamar, Al terbangun, dia mengucek matanya, saat melihat ada seorang wanita asing tidur di sebelahnya, sontak membuatnya terperanjat kaget, dia sampai melompat turun dari kasur.


Al melihat ke bawah bagian badannya yang masih mengenakan celana.


Aman.


Al bingung tapi juga kesal, dia melempar sebuah tas kepada wanita itu. Tentu saja, membuat wanita yang ketiduran itu langsung terbangun.


"Kamu ngapain disini? Apa yang terjadi? Cepat, katakan!" bentak Al penuh emosi.


Wanita itu gelagapan, dia meraih bajunya dan kembali mengenakan pakaiannya.


"Maaf, Pak. kita udah....."


"Udah apa?! Gak mungkin, kamu bohongin saya. Saya bunuh kamu sekarang juga!" ancam Al, bukan ancaman, ini sungguhan. Dia melihat ke segala arah, melihat tidak ada apapun kecuali vas bunga. Al mengambil vas bunga itu dan memukulnya ke sisi ranjang, hingga ujungnya yang tumpul berubah jadi runcing. Al mendekati wanita yang ketakutan itu, menjambak rambutnya dan mendekatkan ujung vas bunga tepat ke lehernya, Al sudah siap menekannya. Dia sungguh akan membunuh wanita itu jika, wanita ****** itu tidak mau bicara yang sesungguhnya.


"Katakan apa yang terjadi, dan siapa yang menyuruh kamu? saya gak akan segan segan untuk membunuh kamu sekarang juga kalo kamu bohong. Tidak akan ada yang menolongmu, apa kamu pikir, orang yang membayar kamu akan menampung kamu lagi? Yang ada mereka akan membunuh kamu seperti yang lainnya." Al tersenyum sinis, dia semakin menekan ujung vas itu ke kulit wanita itu yabg mulai menangis ketakutan.


"Maaf, Pak. Maafkan saya, dia minta saya untuk diam aja. Saya hiks..." isaknya.


"Tapi kita tidak melakukan hal itu kan?" desak Al khawatir. Jika sampai itu terjadi, dia akan benar benar merasa terhina.


"Tidak, Pak. Kita hanya seperti ini agar yang melihat kita mengira kita sudah melakukannya malam ini." suara wanita itu berubah berat. Dia sesekali melirik ke arah vas bunga yang dipegang Al, yang sekali noleh akan menusuk lehernya, Wanita itu bergidik ngeri.


"Apa?!! Emang buat apa?!" sentak Al emosi.


"Bu---"


"Buat apa?!'' gertak Al lagi, yang membuatnya tidak sengaja menggores sedikit sebuah luka di leher wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2