Gairah Hot Sang Dokter

Gairah Hot Sang Dokter
Episode 268


__ADS_3

"Woy, Clinton? Ada apa? Tumben pagi pagi udah nelpon aja?'' tanya lelaki itu heran.


Tentu saja, Al menduga bahwa panggilan Clinton yang tiba tiba begini bukan tanpa tujuan.


"Sorry, Al. Siang nanti aku sama istri gak bisa ikut belanja sama mandi air hangat ya. Istri aku lagi sakit soalnya." ujar Clinton.


Sebagai seorang dokter, nalurinya tentu saja ikut panik. Sehingga spontan ia bertanya balik, ''Loh, soalnya sakit apa bini kamu?''


"Entah deh. Badannya lemes terus tadi muntah muntah. Mungkin kecapean atau masuk angin kali ya."


Berbagai spekulasi berputar di kepala Al mengenai apa yang di derita istri Clinton sebenarnya. Namun, Al memilih diam dan setuju. Dia tidak bisa asal menduga apa yang tengah terjadi kepada Clara begitu saja tanpa diagnosa yang jelas.


"Oke. Semoga lekas sembuh buat Clara."


"Yoi. Thanks."


Sesudah itu, Clinton mematikan panggilan lalu ikut berbaring di samping Clara seraya memeluk wanita itu. Mereka memang tidak langsung kembali tidur, melainkan mengobrol sambil menonton TV sampai mengantuk kembali.


***********


"Pagi suamiku, sarapan sudah siap." sapa Leni ceria seraya membawa nampan besar berisi nasi dan lauk.


Gabriel hanya menoleh sekilas lalu mendengus dengan kesal. Dia tahu, apa yang tengah Leni lakukan hanyalah untuk menghibur dirinya atas kejadian semalam. Selain itu, Leni juga pasti ingin membujuk dirinya agar memberi ijin berbelanja. Jadi, belum belum, Gabriel malah sudah kesal duluan.


"Sayang, dimakan dulu yuk sarapannya," tawar Leni dengan lembut.


Ya, terkadang istrinya terkadang lembut, tapi lebih seringnya bawel dan suka menang sendiri. Jadi, sudah pasti ada udang di balik bakwan. Eh, meski begitu, Gabriel tetap merasa lapar setelah kesal semalaman.

__ADS_1


"Sayang, nanti kita tetap ikut kan?'' tanya Leni lembut.


Tuh kan! Udangnya mulai kelihatan. Gabriel pengen penyek aja tuh udang agar tidak muncul lagi. Sayangnya, mana bisa dia melawan si paling judes disampingnya. Tentu saja Gabriel hanya bisa mengeluh kesal.


"Argh! Enggak ah. Masih kesal aku, semalam aku dipermalukan sendiri sedangkan yang lain masih normal aja pakai kaos. Malu tau, kalo ketemu mereka lagi!'' protes Gabriel.


Leni segera menyentuh dada bidang Gabriel. Perempuan itu sengaja melakukan gerakan sensual agar Gabriel gak bisa mengamuk padanya.


"Iya, Sayang. Aku tahu kalo kamu malu dan marah akan hal itu. Itu wajar kok. Tapi Mas tidak usah terlalu bersedih ya, itu semua kan hanya permainan. Lagian Mas Gabriel juga terlihat seksi kemarin. Jadi kenapa harus malu? Lagian pengunjung lain juga tidak ada yang mengenali Mas kan?" ujar Leni begitu optimis.


Memang ada benarnya juga ucapan Leni. Jadi, kekesalan Gabriel agak sedikit berkurang.


"Oke. Tapi kejadian semalam tidak mengurangi kejantanan Mas kan?" tanya Gabriel mulai gembira.


Leni mengangguk dengan sensual seraya menggerayangi leher Gabriel. "Ah, sama sekali tidak dong, Mas. Mas kan terjantan Leni punya," goda wanita itu.


Gabriel seketika bersemangat lagi. Persetan dengan para ulah kampret. Lagi pula, pasangan hidupnya saja tidak mengeluhkan dirinya sama sekali. Jadi, pagi itu, Gabriel setuju untuk pergi dengan syarat, Gabriel harus diperbolehkan untuk membuktikan kejantanannya kembali. Karena dia juga iri dengan Nicho yang berani meminta dengan terang terangan di depan banyak orang. Anggap saja itu sebagai salah satu upaya untuk menjaga kestabilan mood Leni.


***********


Sementara itu, hampir semua pasangan berpencar masing masing. Mereka sibuk memilih barang yang mereka inginkan. Mulai dari baju, makanan, buah, aksesoris hingga pernak pernik apapun yang membuat mereka tertarik akan mereka beli. Selain itu, tentu saja Nicho menepati janjinya untuk membelikan Callista vas dan gucci baru di korea. Soal harga, jangan ditanya. Karena dia pasti memilih barang yang memiliki harga fantastis dan yang paling baik kualitasnya.


Setelah semua keluarga puas dengan kegiatan belanja kali ini, Al mengajak geng kampret untuk menyempatkan diri makan siang bersama. Dan spot yang dipilih adalah restoran di sepanjang jalan mereka menuju pemandian air hangat.


"Oke. Jangan lupa ya guys kalo inti dari segala inti adalah makan.makan juga harus yabg teratur agar metabolisme tubuh kita terjaga," begitu ujar Al sok bijak.


"Dih, ceramah aja kerjaan kamu. Udah tau kali, enggak ngerocos aja," keluh Nicho menghentikan ucapan Al.

__ADS_1


Al terkekeh geli karena perilakunya dianggap berlebihan.Tapi tidak apalah. Lagi pula, dia tidak hanya modal lidah tapi juga duit karena hari ini dia punya niat mulia untuk menyenangkan teman temannya.


"Hahaha, iya deh iya. Tapi kalian tenang aja, teman kamu yang kaya, jenius, dan baik hati ini bakal bayar semua makanan kalian. Kalian para cowok cowok bokek, enggak usah pusing pusing mikir soal makan. Cukup pikirin aja tuh bini kalian, mau kalian kasih hadiah apa. Terutama kamu, Gabr. Udah gak usah riweh muluk jadi orang. Aku kagak bakal rela kalo kamu ngeluarin duit barang sepeserpun," ujar Al begitu bangga.


Tentu saja, sebagai satu satunya orang yang merasa paling kaya, Gabriel tidak menerima begitu saja. Paling tidak harus dihina sampai kena mental dulu baru deal. Hahaha!


"Halah! Sok sokan hedon mulu jadi orang! Paling entar waktu balik ke Indonesia malah nangis kejer kejer gara gara enggak punya tabungan lagi," sindir Gabriel.


Lelaki itu selalu punya hasrat berlebih untuk membuat Al naik darah. Untung saja masih ada orang waras di geng mereka.


"Udah, udah. Lagian Al juga niatnya baik kok. Deal ya, tapi siap siap aja nombok. Soalnya aku bakal pesan semua menu yang ada disini. Hahaha!''


"Ashiap! Bosmu siap menuntaskan laparmu," balas Al gembira.


Sesudah percecokan tidak jelas di restoran, serta menikmati lezatnya makanan di korea, mereka pun beralih menuju lokasi utama. Yaitu pemandian air hangat yang ada di lereng gunung. Perjalanan mereka hampir satu jam, sehingga rasanya cukup melelahkan. Dan obat yang paling mujarab untuk hal itu yakni mandi air hangat.


Jadi, baik para lelaki maupun perempuan, semua gembira sampai berlarian melihat apa yang ada di depan mata. Kepulan air alami menggoda mata mereka. Sementara, baru berwarna keputihan yang menjadi alas pemandian juga tak kalah menggoda karena unik sekaligus keren. Sekarang mereka sigap menenggelamkan diri dalam kenyamanan. Termasuk membagi posisi mereka antara lelaki dan perempuan.


"Eh, enak bangat asli! Rasanya badanku ada yang mijitin. Syaraf syaraf juga lega bangat," seru Hans puas.


Air hangat biasa saja sudah enak dibuat mandi. Apalagi air hangat alami seperti ini, duh dijamin nyaman bukan kepalang. Pendapat dirinya juga segera disetujui oleh Nicho yang tak kalah nyaman di dalam bak alami ini.


"Hahaha, betul kamu, Hans. Enak bangat. Sayang si Clinton gak bisa ikut." ujar lelaki itu agak sedih.


Oh ya. Mereka memang sudah tau kalo Clinton tidak bisa datang. Namun, mereka tidak sempat bertanya lebih lanjut apakah Clara sudah baikan agar bisa menyusul agar tidak melewatkan masa liburan ini. Padahal kebersamaan mereka juga sangat berharga. Orang paling peduli selanjutnya tentu saja Al sebagai sahabat yang terbilang paling klop dengan Clinton.


"Oh iya juga ya. Emangnya Clinton kenapa sih sampai gak bisa ikut? Heran sendiri aku!'' ujar lelaki itu.

__ADS_1


Nicho mulai menggosok lengan kekarnya dengan gerakan rileks, "Soalnya bininya lagi sakit, kan udah bilang juga. Muntah muntah katanya. Ya kasihan juga sih. Soalnya semalam si Clara kelihatan happy bangat diizinkan pergi," balas Nicho tenang.


"Haish, gitu ya. Kasihan banget,'' ujar Al penuh sesal.


__ADS_2