
Putri yang saat ini terlihat sangat shock dengan membulatkan mata karena melihat bahwa pria yang ada di hadapannya tersebut mengungkapkan kebenaran yang sangat menyakitkan.
Bagaimana tidak, ia bertemu dengan saudaranya dalam keadaan yang tidak baik dan membuatnya seperti tidak mempunyai muka karena aibnya telah diketahui oleh kakak tirinya tersebut.
Bahkan ia bisa melihat senyuman jahat menyeringai penuh kepuasan ketika menatapnya.
"Kamu adalah ...."
Putri tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh wanita yang terlihat bagaikan bumi dan langit dengannya karena ia hanyalah wanita miskin yang hina karena berselingkuh dengan pria lain saat masih menjadi seorang istri.
Sementara wanita yang merupakan saudara tirinya tersebut adalah seorang wanita berpendidikan, mempunyai pekerjaan bagus dan pastinya memiliki jenjang karir yang menjanjikan. Bahkan mungkin ia tidak akan bisa menghitung gaji satu bulan dari saudaranya tersebut.
Apalagi ia selama ini hanya hidup dengan uang pas-pasan dan cukup untuk makan dan biaya kebutuhan anak-anak saja.
Iri, mungkin hal itulah yang saat ini mewakili perasaan Putri saat ini melihat sosok wanita yang terlihat sempurna tanpa cela di hadapannya karena memiliki segalanya.
Menyadari akan hal itu, ia benar-benar sangat marah karena kehidupan saudaranya jauh lebih baik dibandingkan dirinya yang selalu hidup menderita.
Apalagi ia tidak pernah mendapatkan nafkah dari ayah kandungnya yang kabarnya masih hidup dan sehat sampai sekarang.
"Apa kamu saat ini ingin menghinaku dengan mengabarkan tentang hal ini? Kenapa tidak berhubungan dengan pengacara yang membantuku saja? Atau kamu memang sengaja ingin bertemu denganku untuk melihat bagaimana ekspresi wajahku saat ini?"
Meskipun sebenarnya ada banyak hal yang ingin diluapkannya pada saudara tirinya tersebut yang jelas-jelas mengibarkan bendera perang dengannya, tetapi Putri tidak ingin terlalu banyak memforsir tenaga dan pikirannya karena mengingat kandungannya masih pada tahap trimester pertama.
Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada kandungannya yang kemungkinan akan menjadi jalan untuknya merubah garis kemiskinan yang dirasakan dan membuatnya merasa sangat muak.
Hidup miskin yang selalu dijalani selama ini membuatnya ingin merubah takdir menjadi orang kaya karena sudah bosan.
__ADS_1
Berharap menikah dengan Arya bisa membuatnya keluar dari garis kemiskinan dah hidup bahagia dengan bergelimang harta. Itulah yang menjadi tujuan utama Putri saat ingin melakukan apapun agar bisa berstatus sebagai istri dari Arya.
Sementara itu, Amira yang saat ini masih terlihat sangat tenang dan sama sekali tidak terpancing emosi atas perkataan Putri, hanya terkekeh dengan sudut bibir melengkung ke atas.
"Sepertinya kau sangat pintar, Putri karena itu semua memang benar. Aku bukanlah orang munafik yang bersikap baik pada orang yang sangat kubenci. Ya, aku memang sangat membencimu karena merupakan putri dari wanita yang menggoda ayahku."
Tatapan mata tajam kini diarahkan oleh Amira Tan kali ini karena ia ingin meluapkan amarahnya yang selama ini disimpan rapat-rapat di dalam hati.
Jika dulu ia ingin marah pada wanita yang merusak kebahagiaan ibunya, kini yang menjadi sasaran adalah Putri karena hanya ada saudaranya tersebut yang tersisa.
"Kenapa? Apa kau ingin marah padaku karena menghinamu?"
Jika beberapa saat lalu Putri merasa sangat murka pada Amira Tan, tapi kali ini ia yang sudah bisa menahan diri, tidak terpancing emosi atas perkataan tersebut.
"Tidak, aku tidak akan pernah marah padamu karena memang itulah faktanya. Ya, ibuku memang merebut kebahagiaan ibumu, tetapi ibuku sudah menebusnya dengan hidup tanpa mendapatkan sebuah pertanggungjawaban."
"Apa itu masih belum cukup untuk menebusnya? Jika belum cukup, katakan pada Tuhan untuk menurunkan ibuku kembali ke dunia ini agar mendengar omelanmu itu."
Bahkan saat sudah tidak ada di dunia pun, banyak orang yang masih menghina jika itu merupakan balasan atas perbuatan di masa lalu.
Sebenarnya ia bisa mengerti perasaan sang ibu yang dulu berselingkuh karena merasakan hal yang sama, yaitu tidak bahagia dalam pernikahan. Tidak mungkin ia akan berselingkuh jika hidup bahagia bersama pasangan.
Bukan ia ingin membenarkan tentang perselingkuhan, tetapi perasannya pada Arya adalah cinta. Bukan berdasarkan materi karena itu hanyalah nilai plus di belakang cinta.
Ia bisa mengatakan hal itu karena mengetahui bahwa sang ibu hanya melakukannya satu kali. Itu adalah cinta dan menurutnya tidak ada yang salah pada cinta karena kalimat itu selalu tidak bisa diprediksi dan datang serta pergi sesuka hati.
Menurutnya, yang salah hanya tempatnya karena singgah pada tempat yang salah, seperti saat ini. Cinta singgah di antara rumah tangganya yang tidak bahagia dan membuatnya memilih kebahagiaan itu.
__ADS_1
"Kau benar-benar sangat luar biasa, Putri." Amira Tan kini bertepuk tangan saat mendengar Putri yang membahas tentang sang ibu yang telah meninggal.
"Kenapa tidak sekalian saja kamu menjadi penulis yang menciptakan tulisan fantasi, seperti reinkarnasi contohnya. Meskipun itu hanya dunia khayalan, tetapi bisa menghibur orang lain. Bukankah kamu tadi mengatakan agar Tuhan menurunkannya kembali ke dunia agar bisa dihina?"
"Hentikan perdebatan kalian!" sarkas Bagus Setiawan dengan suara yang lagi-lagi memecah ketegangan di antara saudara tiri tersebut.
Ia yang dari tadi melihat perdebatan antara Amira dan Putri, benar-benar ingin menghentikan aksi saling berebut benar seperti anak kecil tersebut.
"Kalian berdua bahkan bukan anak kecil lagi. Apa tidak bisa berbicara dengan kepala yang dingin? Bukankah berbicara tanpa emosi akan jauh lebih baik?"
"Kamu tidak perlu susah payah untuk melerai karena itu hanya buang-buang tenagamu, Bagus. Karena urusanku sudah selesai, aku harus pulang. Kalian urus saja masalah yang tak kunjung selesai ini. Aku tidak ingin ikut pusing memikirkannya." Amira yang kini menatap ke arah Bagus, beralih pada Putri.
"Akan kupastikan kalian tidak bisa bercerai!" Amira Tan tersenyum menyeringai dan melambaikan tangannya.
"Wanita sialan! Semoga kau kelak mencintai pria yang tidak pernah bisa didapatkan, agar mengerti apa yang disebut cinta!" Putri tak kalah berteriak untuk menanggapi ejekan dari wanita yang sudah berjalan keluar dari pintu rumahnya.
Meskipun ia melihat hanya lambaian tangan tanpa menoleh ke arah belakang untuk sekedar meliriknya. Hal itu membuat Putri semakin bertambah kesal karena wanita yang akan menghancurkannya adalah saudara tirinya sendiri.
"Aku sangat membenci wanita itu!" umpat Putri yang kini meluapkan kekesalannya dan beralih menatap netra dengan iris tajam di hadapannya. "Apa kau sengaja bekerja sama dengan wanita itu untuk membuatku hancur!"
Saat ini, Bagus hanya geleng-geleng kepala karena melihat respon dari sosok wanita yang terlihat memerah wajahnya. Menandakan dengan sangat jelas bahwa saat ini tengah digulung amarah.
Tidak ingin membuat sang istri semakin bertambah kesal, ia hanya berjalan masuk tanpa menjawab pertanyaan dari Putri.
'Aku memang dulu menyuruh Amira Tan untuk membantuku membatalkan gugatan cerai darimu, tapi hari ini, aku sama sekali tidak merasa senang saat keinginanku terwujud,' gumam Bagus yang sudah mengajak putranya ke kamar.
Sementara itu, Putri yang merasa sangat marah karena tidak diperdulikan, kini tidak berhenti berteriak.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Cepat katakan padaku! Apa kamu juga menjadi salah satu dari mereka yang ingin menghancurkanku?"
To be continued...