
Putri yang saat ini merasa sangat kesal karena sang suami malah tidak memperdulikannya, mengikuti sampai ke kamar dan membuat ia ingin memastikan apakah yang dipikirkan benar.
Kejadian hari ini benar-benar membuat Airin merasa sangat shock karena banyak hal yang terjadi dan membuatnya seperti mendapatkan beban berat di pundak.
Seolah tengah mendapat batu besar di punggung dan tidak kuat untuk menahannya, sehingga memilih untuk melampiaskan pada sosok pria yang ada di hadapannya tersebut.
"Jangan diam saja! Cepat katakan!" teriak Putri yang saat ini tengah mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang terlihat tengah bermain dengan putranya di atas ranjang.
Tentu saja sikap sang suami saat ini semakin memantik api amarahnya dan membuatnya bertambah kesal.
Sementara itu, Bagus yang kali ini juga merasakan pusing pada kepalanya karena semenjak hamil, selalu marah-marah padanya. Meskipun ia sudah tahu jika itu karena perubahan hormon pada sang istri yang sedang hamil muda.
Ia yang sudah hafal karena memiliki anak dua dan mengetahui dulu penjelasan dari dokter saat Putri hamil anak pertama dan kedua.
Bahwa ibu hamil moody, mudah cemas, pemarah, atau sebaliknya ceria dan periang, semua itu terjadi karena perubahan hormon selama kehamilan terjadi.
Pengaruh perubahan hormon saat hamil, yang sering disebut Human Chorionic Gonadotropin. Merupakan hormon yang muncul dalam hitungan hari setelah sel telur dan sel ****** bersatu.
Keberadaan hormon itulah yang kemudian mengonfirmasi kehamilan saat mengetes kehamilan dengan alat tes kehamilan dan HCG muncul serta menunjukkan tanda positif.
Bagus saat ini berpikir bahwa hormon HCG Putri meningkat pesat dalam trimester pertama, sehingga mengalami morning sickness di pagi hari.
Tidak hanya itu, saat ia melihat Putri juga menjadi sering buang air kecil karena Hormon HCG menekan sistem imunitas agar tubuhnya lebih toleran pada kandungan. Akibatnya sang istri lebih mudah terkena penyakit flu.
__ADS_1
Hal itulah yang membuat ia membiarkan Putri berbuat sesukanya karena mengetahui bahwa itu karena perubahan kondisi di trimester pertama akibat hadirnya hormon yang sering membuat wanita itu terganggu.
Bahkan Putri jadi kesulitan menjalankan kegiatan sehari-hari di pagi hari karena mual dan muntah. Tidak hanya itu saja, tapi juga tidak bisa sembarang minum obat. Padahal lebih mudah terserang flu. Perubahan yang memusingkan para wanita hamil, termasuk istrinya.
Istri, kadang ia merasa bingung harus menyebut Putri apa karena wanita itu sudah tidak lagi menganggapnya suami dan bersikeras untuk bercerai meskipun menolak untuk menandatangani surat perceraian.
'Aku butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang telah kau torehkan ini. Namun, kamu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang saat ini kurasakan.'
'Bahwa hatiku saat ini benar-benar terluka atas perbuatanmu. Seandainya aku bisa membenci dan marah padamu, mungkin tidak akan sesakit ini,' gumam Bagus yang kini masih mengetahui bahwa Putri belum keluar dari ruangan kamar yang sudah dua minggu ini menjadi tempat tidurnya.
"Aku tahu mood kamu sedang buruk semenjak hamil, Putri, tapi jangan melampiaskan kekesalanmu padaku. Lampiaskan pada ayah dari bayimu itu. Biar tahu bagaimana rasanya menjadi calon ayah. Bukan hanya tahu membuat anak saja."
Bagus yang merasa sakit hati mengatakan hal vulgar yang sebenarnya sangat tidak pantas lolos dari bibirnya, tetapi ia tidak bisa menahan diri karena juga kesal pada wanita yang telah mengkhianati pernikahan.
"Banyak para pria lebih memilih harga diri dari pada yang lain. Memikirkan lebih baik membunuh dan tidak takut dipenjara dari pada harus melihat istri berselingkuh di depan mata.
Tentu saja Putri yang tadinya marah, kini bertambah murka karena ia kali ini merasa sedang diancam oleh pria yang masih berstatus sebagai suaminya. Meskipun ia sebenarnya merasa takut, tapi tidak bisa menahan diri untuk tidak marah."
"Oh ... jadi seperti itu? Kamu sekarang juga mau membunuhku karena berselingkuh di belakangmu? Bunuh saja aku sekarang!" teriak Putri yang saat ini memerah wajahnya karena dikuasai oleh amarah.
Jujur saja ia hanya membuat gertakan pada sang suami agar tidak dianggap sebagai seorang wanita lemah karena mengetahui bahwa pria yang merupakan ayah dari dua anaknya tersebut memiliki hati yang yang sangat lembut.
Bahwa ia merasa sangat yakin seorang Bagus Setiawan tidak akan pernah menyakitinya karena sangat mencintainya. Jika kali ini Putri menantang, itu karena ingin menyadarkan pria itu.
__ADS_1
Pria yang bahkan tidak tega untuk membunuh semut, tidak akan pernah berani membunuhnya. Apalagi ia telah melahirkan dua keturunan untuk Bagus.
Putri yang tadinya berjalan mendekat dan mendongak untuk menyerahkan lehernya pada Bagus, kini masih menunggu respon dari pria yang masih diam saja tersebut.
'Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Kenapa istriku jadi berubah segarang dan seliar ini? Bahkan ia sama sekali tidak menghormati aku sebagai pria yang lebih tua dan merupakan suaminya. Apa lebih baik aku melepaskannya dari pada bertambah besar membuatnya bergelimang dosa dan dilaknat Tuhan.'
Saat Bagus masih menoleh melihat ke arah sosok bocah laki-laki yang sibuk dengan mainannya, kemudian melihat wanita yang berada di hadapannya memberikan leher jenjang putih tersebut untuk dicekiknya dan membuat ia merasa telah menjadi seorang suami yang gagal mendidik istri.
Kini, ia turun dari ranjang dan membuatnya sudah berdiri di hadapan sosok wanita yang seolah memberikan nyawa padanya.
"Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu," ucap Bagus yang saat ini perlahan mengangkat kedua tangannya ke atas dan mengincar leher putih yang berada tepat di hadapannya.
Sementara itu, Putri yang saat ini langsung menelan ludah karena merasa sangat kesal pada sosok pria yang baru saja mengiyakan gertakannya.
'Sial! Apa ia benar-benar akan tega membunuhku? Tidak ... tidak mungkin Bagus membunuh ibu dari dua keturunannya meskipun aku sudah mengkhianatinya.'
Saat ini, Putri yang masih mengumpankan lehernya pada Bagus, merasakan degup jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal. Apalagi begitu merasakan tangan dengan buku-buku kuat itu mulai mendarat di lehernya.
Masih menahan rasa gugup teramat sangat yang dirasakan oleh Putri ketika dua jemari itu mendarat di lehernya. Ia hanya memejamkan mata seolah pasrah, tapi di dalam hati benar-benar sangat ketakutan jika tangan Bagus mencekiknya.
Sementara itu, Bagus yang kini sudah berhasil menguasai leher itu dengan tangannya, mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga Putri untuk menyadarkan sang istri.
To be continued...
__ADS_1