
Putri yang baru saja mencerca banyak pertanyaan pada sosok pria yang sangat dicintai karena merasa curiga baru saja berbicara dengan wanita lain dan berselingkuh darinya, semakin merasa sangat kesal begitu tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Arya.
Karena saat ini, hanya keheningan yang melanda dan membuatnya memeriksa ponsel miliknya untuk memastikan apakah masih tersambung atau tidak. Hingga saat melihat detik waktu masih berjalan pada panggilannya, Putri semakin bertambah kesal.
"Kenapa hanya diam saja? Jadi, benar apa yang kutuduhkan padamu? Bahwa tadi yang menelponmu adalah seorang wanita!"
Begitu ia menutup mulut dan menunggu hingga pria yang sangat dicintai menjawab pertanyaannya, Putri masih sibuk menenangkan perasaannya yang benar-benar sangat kacau hari ini gara-gara sang suami tidak mau menceraikannya.
Menyadari bahwa ia saat ini tengah melampiaskan amarahnya pada pria yang sangat dicintai, membuatnya merasa sangat menyesal begitu mendengar suara Arya.
"Diam bukan berarti membenarkan semua tuduhan konyolmu itu. Astaga! Jika kamu sekarang ada di hadapanku, mungkin aku akan membuatmu menyesal karena menuduhku berselingkuh."
Putri yang masih belum puas dengan jawaban Arya karena tidak mau menyebutkan dengan siapa tadi lama menelpon.
"Masalah itu, aku tidak takut karena tahu apa yang akan kamu lakukan padaku. Aku sudah sangat hafal dengan isi dari kepalamu itu, tapi jawab dulu pertanyaanku tadi. Kamu tadi berbicara dengan siapa di telepon? Wanita atau pria?"
Merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa tenang sebelum mengetahui jawaban atas pertanyaannya karena sangat takut jika Arya benar-benar berselingkuh dan meninggalkannya.
"Aku berbicara dengan pengacara yang membantumu untuk menggugat cerai pria itu, Sayang. Astaga, kecemburuanmu benar-benar berlebihan," ujar Arya yang kini mencoba untuk menguraikan kesalahpahaman agar tidak semakin membuat hubungannya dengan sang kekasih buruk.
"Apa sekarang kamu puas, Sayang?"
Putri yang kini merasa sangat lega karena pikirannya salah, kini sudah menyunggingkan senyuman.
"Maafkan aku. Aku benar-benar sangat mencintaimu. Jadi, aku bisa segila ini karena selalu berpikir pria setampan dirimu banyak wanita yang memuja. Aku akan menebus kesalahanku saat nanti kita bertemu. Kamu mau gaya apapun, aku tidak keberatan."
Putri yang merasa sangat nakal, kini terkekeh geli dan semakin tertawa begitu mendengar jawaban dari seberang telpon yang tak kalah nakal.
__ADS_1
"Rasanya aku ingin langsung datang ke sana dan menggigit telingamu, Sayang. Oh ya, ada sesuatu yang ingin kukatakan."
Putri yang menyadari tentang kebodohannya karena melupakan tujuannya menelpon Arya untuk menyampaikan tentang tanggapan dari Bagus pada surat gugatan cerai tadi.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu hal penting padamu. Memangnya kamu mau bertanya tentang apa?"
"Kamu saja duluan yang mengatakannya, Sayang."
Putri yang kini menganggukkan kepala, tidak membuang waktu dan mulai menjelaskan semuanya mengenai surat gugatan cerai dari pengadilan yang tadi diberikan pada Bagus dan mendapatkan tanggapan tidak sesuai dengan harapannya.
Berharap Arya akan membantunya lagi untuk menyelesaikan masalahnya hingga tuntas dan baru saja ia menutup mulut, jawaban dari Arya yang malah balik bertanya, benar-benar membuatnya merasa sangat shock dan tidak pernah menyangka bahwa pria yang sangat dicintai tersebut mengetahui tentang seseorang yang masih ada hubungan darah dengannya.
"Aku sudah mengetahui semuanya, Sayang, tapi sepertinya kamu harus menceritakan padaku tentang saudara tirimu. Aku benar-benar tidak tahu apapun tentang keluargamu dan benar-benar terkejut begitu mengetahui dari orang lain bahwa kamu memiliki saudara perempuan beda ibu yang berprofesi sebagai seorang pengacara."
Degup jantung Putri yang seketika berdetak sangat kencang saat ini dan ia merasa sangat khawatir jika Arya akan ilfil padanya, saat mengetahui bahwa ia hanyalah seorang anak hasil hubungan terlarang.
Tidak ingin dibebani beragam pertanyaan yang tidak mungkin bisa dijawabnya sendiri, kini Putri memilih untuk menguatkan hati untuk bertanya.
"Dari mana kamu tahu tentang itu? Bahkan aku saja belum pernah bertemu dengan saudara tiriku itu. Apa kamu bertemu dengannya?"
"Tidak. Aku hanya mengetahuinya dari pengacara tadi yang menelponku, Sayang. Dia tadi menceritakan bahwa pria itu menolak menceraikanmu dan meminta bantuan saudaramu untuk menggagalkan perceraian. Kamu mempunyai satu penjelasan padaku dan ceritakan semuanya nanti saat bertemu, oke."
Saat Putri kembali merasa sangat terkejut atas pengakuan Arya dan benar-benar sangat marah pada Bagus yang malah meminta bantuan dari saudara yang belum pernah sama sekali ditemuinya.
'Pria tua itu benar-benar sangat keterlaluan. Dia malah berbuat seenaknya sendiri tanpa sepengetahuanku dengan menemui wanita itu. Saudara yang belum tentu menganggapku adalah saudaranya.'
'Aku yakin dia sangat membenciku dan tidak akan pernah mau menemuiku karena merupakan anak hasil perselingkuhan ayahnya,' gumam Putri yang saat ini hanya bisa mengumpat di dalam hati.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, ia kini memilih untuk membuka suara dan menjawab pertanyaan dari Arya.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu setelah kita menikah, Arya karena aku tidak ingin kamu ilfil padaku setelah mendengar semua hal mengenai keluargaku. Lebih baik kita bahas tentang ulah pria tua tidak berguna itu. Apa yang harus kita lakukan sekarang jika dia tetap tidak mau menceraikanku?"
Selama beberapa saat, hanya keheningan yang melanda. Seolah sosok pria yang berada di seberang telepon tengah memikirkan jawaban.
Sementara Putri yang sibuk dengan pikirannya tentang saudara tirinya. Apakah akan mau membantu atau tidak.
'Apa yang akan dilakukan oleh wanita itu? Dia tidak akan membantu Bagus, kan? Jika ia membenciku, bukankah akan membuatku bercerai?'
'Aah ... sepertinya begitu. Lebih baik aku tenang karena wanita itu pasti tidak akan membantu pria miskin yang tidak bisa membayarnya,' gumam Putri yang mencoba untuk menenangkan diri sendiri agar tidak berpikiran negatif.
Sementara itu, beberapa saat kemudian sudah terdengar jawaban dari seberang telepon yang tidak lain adalah Arya.
"Jika dia tidak mau menceraikanmu, kita tidak bisa menikah, Sayang.
"Aku hanya ingin bercerai dan menikah denganmu. Jadi, cari cara untuk memenuhi impianku," lirih Putri yang kini benar-benar sangat lemas begitu mendengar jawaban dari pria yang membuatnya menggantungkan harapan.
"Sepertinya jalan satu-satunya adalah bertemu dengan pria itu dan aku mengatakan telah berhubungan denganmu cukup lama."
Saat Putri hendak menanggapi, ia merasakan sensasi luar biasa pada perutnya dan di saat bersamaan ingin muntah dan langsung menaruh ponsel miliknya di meja.
Kemudian berlari menuju ke arah kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Putri yang berjongkok di depan closet, kini sudah memenuhi ruangan kamar mandi dengan suara ia muntah-muntah dan pikirannya kini benar-benar sangat kacau saat menduga terjadi sesuatu padanya.
Sementara itu, suara Arya masih terdengar di telpon. "Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu masih di sana?"
To be continued...
__ADS_1