Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
223. Klinik bersalin


__ADS_3

Selama di perjalanan, Arya tidak berhenti mengusap perut buncit Putri. Dengan niat perbuatannya itu bisa mengurangi rasa sakit yang dialami oleh sang istri yang sudah ada tanda-tanda melahirkan tersebut.


Sementara Putri sudah sedikit tenang karena tidak merasakan sakit lagi di perut, tangannya memegang erat tangan Arya, seolah perbuatannya itu bisa untuk menguatkan hatinya.


Karena sejujurnya benar-benar merasa sangat takut jika sampai terjadi sesuatu pada bayinya saat ia melahirkan.


"Sayang, tadi rasanya sangat sakit sekali. Meski sekarang sudah agak hilang rasa sakitnya."


Arya yang masih sibuk mengusap perut yang terlihat besar tersebut, mencoba menghibur agar merasa tenang.


"Kamu tidak perlu merasa takut karena aku ada di sini."


Putri dengan pandangan keraguan mulai merebahkan kepalanya di dada bidang suami yang terlihat sangat cemas saat menatapnya.


"Aku ingin melahirkan dengan ditunggui olehmu. Aku tidak ingin melahirkan sendiri. Bagaimana jika aku mati dan kamu tidak bisa melihatku untuk yang terakhir kalinya? Aku ingin kamu ada di sampingku."


Mendengar perkataan dari istri tercintanya, tentu saja membuat Arya membulatkan kedua matanya.


"Kenapa kamu bisa berbuat senekad ini? Jangan bicara hal yang buruk karena tidak akan pernah terjadi hal yang tidak diinginkan padamu dan anak kita."


"Maafkan aku.. Setiap kali melahirkan, aku selalu begini. Bagi seorang wanita, melahirkan itu sama saja antara hidup dan mati," lirih Putri dengan suara serak dan bulir air mata memenuhi bola mata.


"Aku bisa mengerti perasaanmu. Maafkan aku. Sekarang yang terpenting adalah kamu dan anak kita baik-baik saja dan kita akan segera tiba di rumah sakit. Akan ada banyak dokter yang membantumu."


Putri melakukan perintah dari pria yang masih memeluknya dengan erat. Namun, saat menghembuskan napas, ia mulai merasakan rasa sakit yang teramat sangat pada perutnya.


"Perutku kembali sakit sekali."


Putri meremas lengan kekar suaminya sambil memegangi perut yang semakin terasa sakit, tak lupa air mata sudah membasahi pipi saat menangis terisak.


Arya merasa sangat kebingungan, frustasi dan sangat kasihan melihat Putri sudah terlihat berkeringat dan sangat kesakitan serta menangis dan berteriak.

__ADS_1


"Coba tarik napas!"


"Kamu tarik napas dan mengeluarkan perlahan! Siapa tahu bisa kembali normal seperti biasa."


Arya beralih melihat ke arah depan dan berteriak dengan suara yang nyaring.


"Kenapa tidak sampai juga daritadi? Memangnya rumah sakitnya berada di mana? Dasar bodoh! Cari rumah sakit terdekat, karena istriku sepertinya sudah pembukaan sembilan dan sebentar lagi pembukaan sepuluh dan akan segera melahirkan!"


"Baik, Tuan," jawab sang supir yang sudah terlihat berkeringat karena ketakutan.


"Saya tahu rumah sakit bersalin biasa terdekat, tapi mungkin fasilitasnya tidak selengkap rumah sakit besar," jawab sang supir yang terlihat sangat gugup itu.


"Tidak apa-apa, yang penting ada dokter dan perawat yang membantu persalinan karena ini sudah sangat darurat!"


"Baik, Tuan."


Sang supir mulai menambah kecepatan dan beberapa menit kemudian taksi tersebut sudah sampai di sebuah klinik bersalin.


"Apa ini? Apa istriku akan melahirkan di klinik kecil ini? Apa mungkin aku membiarkan istriku melahirkan pewaris tahta di sebuah klinik kecil yang jauh dari kata pantas? Kau benar-benar sangat bodoh!"


Arya menatap tajam ke arah pria yang masih berada di kursi depan. Namun, pandangannya seketika beralih ketika mendengar suara teriakan istrinya yang kesakitan.


"Aku sudah tidak kuat! Rasanya sangat sakit. Sepertinya anak kita sudah mau keluar, aku sudah tidak tahan.'


Putri semakin mencengkeram lengan kekar suami dan wajahnya sudah berubah merah dan juga berkeringat. Ia tidak berhenti mengusap perut seraya berteriak kesakitan.


Begitu melihat wajah istrinya yang semakin pucat karena menahan kesakitan, buru-buru membuka pintu mobil.


"Baiklah karena tidak ada pilihan lain."


Secepat kilat Arya meraup tubuh mungil yang sudah penuh dengan keringat itu dan berjalan memasuki sebuah klinik bersalin dengan tidak berhenti berteriak.

__ADS_1


"Perawat ... dokter! Cepat keluar kalian semua! Istriku mau melahirkan! Aku akan menghancurkan klinik kecil ini jika kalian tidak cepat keluar!"


Sementara itu, para perawat yang tengah bersantai di ruangan, berhamburan keluar begitu mendengar teriakan dari seorang laki-laki yang tengah menggendong wanita yang terlihat kesakitan tersebut.


Mereka hanya geleng-geleng kepala dan beberapa perawat langsung membawa ranjang dorong untuk pasien yang baru datang


Sedangkan yang lain kembali masuk ke ruangannya masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Dasar bodoh! Kenapa lama sekali? Cepat bawa istriku ke ruang bersalin! Karena dia akan segera melahirkan! Dari tadi sudah sangat kesakitan. Mungkin sudah pembukaan sepuluh. Cepat, jangan buang-buang waktu!"


Dua perawat wanita tersebut sama-sama saling bersitatap dan merasa heran pada pria yang menurut mereka sangat sok tahu itu.


"Tuan tenang saja, kami akan memeriksa istri Anda dulu"


Dengan mata merah dan rahang yang mengeras, Arya mengarahkan tatapan membunuh ke arah dua perawat di depannya.


Karena tidak mau membuat keributan semakin berlarut-larut, salah satu perawat mulai pergi untuk memanggil dokter kandungan dan beberapa menit kemudian dokter wanita mulai datang menghampiri mereka.


"Selamat datang Tuan. Apakah Anda memanggil saya?"


"Jadi kamu mau dokter kandungan terbaik di rumah sakit ini? Aku memerintahkanmu untuk segera menangani istriku karena dia sudah mau melahirkan!"


Putri yang daritadi menahan sakit saat berada di ranjang dorong, mulai kembali berteriak-teriak seraya memegang tangan suaminya.


"Dokter tolong aku! Sepertinya bayinya sudah mau keluar. Aku sudah tidak tahan. Rasanya aku seperti mau mati saja karena perutku sangat sakit."


"Cepat bawa pasien ke ruang bersalin!" Sang dokter menatap tajam dua perawat yang masih terdiam tersebut.


Akhirnya dua perawat mulai mendorong ranjang tersebut dan memasuki ruangan bersalin yang berukuran sedang tersebut. Lalu sang dokter mulai memakai sarung tangan dan menyuruh perawat membantu pasien mengganti pakaian dan menyiapkan beberapa alat yang diperlukan.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2