Karma Istri Durhaka

Karma Istri Durhaka
266. Semoga bisa bahagia


__ADS_3

Arya mengerjapkan mata saat merasakan silau cahaya yang menganggu. Perlahan ia membuka mata, merasakan pusing di kepalanya yang masih terasa.


Ia mengangkat punggungnya dan bersandar di punggung ranjang, memijat kepalanya perlahan.


“Sudah bangun?”


Tiba-tiba saja ia mendengar suara seorang wanita yang sudah tidak asing lagi di telinganya.


“Calista?” Arya mengerutkan kening saat menatap wanita yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


“Sarapan dulu. Setelah itu, kamu minum obatnya.” Calista duduk di sisi tempat tidur di samping Arya.


Wanita itu menyodorkan semangkuk bubur yang masih mengepulkan uapnya. “Pelan-pelan, masih panas,” imbuhnya.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Arya singkat. Ia menerima mangkuk berisi bubur yang disodorkan oleh Calista.


“Mau merawatmulah! Memangnya apa lagi?" jawab Calista begitu frontal.


“Merawatku?”


“Iya. Tadi pagi presdir mengatakan kalau kamu hari ini tidak bisa datang ke kantor karena sakit. Tiba-tiba saja aku ingat kalau kamu sedang bertengkar dengan istrimu. Jadi, aku berinisiatif untuk datang ke sini, merawatmu."


"Ya, siapa tahu, aku bisa mengambil hatimu,” jawab Calista dengan terkekeh.


“Calista!” panggil Arya dengan cukup keras.


Hal itu membuat Calista yang sedang menyiapkan obat untuk Arya seketika menoleh ke arah pria itu.


"Kenapa jawabanmu begitu santai?”


“Memangnya kenapa? Aku tidak suka basa basi. Memang benar kedatanganku ke sini untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan merawatmu. Memangnya ada yang salah?” Calista balik bertanya.


“Terserah kamu saja.” Arya mulai memasukan satu sendok bubur yang sudah ia tiup sebelumnya ke dalam mulut.


Ia sedang malas berdebat dengan Calista yang selalu saja memiliki beribu jawaban. Apalagi kepalanya masih sangat pusing untuk berdebat dengan wanita itu.


“Mau aku suapi?” Calista menawarkan diri dan mendapat gelengan dari Arya. “Biar lebih romantis,” ucap Calista lagi.


“Tanganku tidak sakit, Calista. Masih kuat kalau hanya untuk menyendok bubur saja,” balas Arya.


“Habiskan buburnya, lalu minum obatnya dan setelah itu, kamu tidur lagi. Jadi, saat bangun nanti, tubuhmu sudah bugar kembali,” cerocos Calista.

__ADS_1


“Kenapa kamu jadi seperti ibu-ibu saat sedang mengurus anaknya yang sedang sakit,” protes Arya yang kembali menyuapkan buburnya.


“Aku lagi latihan untuk menjadi seorang istri yang baik. Sudah! Kamu tidak usah cerewet. Pokoknya kamu harus sembuh dan menemani aku nanti malam.”


“Pantas saja kamu mau merawatku karena ada maunya.” Arya berdecak malas.


“Aku ikhlas. Astaga” Calista membela diri. “Aku kan memang harus memastikan kalau kamu itu sehat terus."


"Kalau kamu sakit, terus tidak ke kantor, pasti aku juga akan kesepian dan rindu dengan sikapmu yang ketus itu.”


"Astaga!” Arya melengos malas.


“Oh, iya. Aku sudah mendengar perkembangan kondisi mamamu. Selamat, ya. Akhirnya mamamu sudah menunjukkan perkembangan yang baik.” Calista berucap tulus. Kali ini wajahnya berubah serius.


"Terima kasih,” balas Arya.


Calista menemani Arya hingga menghabiskan buburnya dan memastikan jika meminum obatnya.


Calista juga meminta agar Arya tidur kembali. Ia mengatakan tidak perlu khawatir dengan klien yang akan pria itu temui hari ini karena akan menggantikan untuk mengantarkan melihat bangunan yang akan ditawarkan.


Kebetulan Calista juga mengenal orang tersebut.


Sekali lagi Arya mengucapkan terima kasih pada Calista dan pria itu kembali tidur setelah meminum obat.


Sementara itu di tempat lain, di rumah kontrakan Putri. Wanita itu tidak menyangka jika ia akan kedatangan tamu yang tidak lain adalah Bagus. Padahal semalam pergi dengan keadaan kesal.


Pagi itu, Putri sedang mengajak bayinya berjemur di depan rumah.


Tiba-tiba saja ia melihat sebuah motor berhenti di depan rumahnya dan seorang pria yang ia kenal turun dari sana.


Bagus menghampiri Putri dan menyapa.


Sementara itu, Putri menyipitkan matanya menatap pria yang sudah berdiri di sampingnya. "Apa ada yang ingin kamu sampaikan karena semalam terlupa?"


“Aku sengaja mampir tanpa Putra. Bukankah semalam aku belum sempat mengucapkan selamat?"


"Aku hanya ingin berkunjung untuk melihat keadaanmu dan bayimu. Sekalian aku juga ingin memberikan ucapan selamat atas kelahiran bayi ini.”


“Kenapa kamu harus membuat sakit hati sendiri dengan sengaja datang ke sini? Bagaimana mungkin kamu bisa mengucapkan selamat padaku yang telah melahirkan anak dengan pria lain?” Putriku tidak habis pikir dengan Bagus yang ia ketahui masih sangat mencintainya.


Apalagi setelah semalam ia melihat ada fotonya di dalam dompet Bagus. Ia ingin pria itu melupakannya, sehingga memilih bersikap ketus.

__ADS_1


"Suamiku sedang tidak ada di rumah. Aku tidak mau nanti mejadi gunjingan tetangga karena menerima tamu seorang pria. Jika ada Putra, mungkin masih bisa dimaklumi. Namun, berbeda saat kamu datang sendiri."


“Kamu tenang saja. Aku tidak akan memintamu untuk menyuruhku masuk. Cukup seperti ini saja. Kenapa kamu terlihat lebih kurus? Apa Arya memperlakukanmu dengan baik?” tanya Bagus yang merasa kasihan melihat sosok wanita yang terlihat sangat kurus kering.


Bagus menatap Putri dari ujung kepala sampai ujung kaki. Istrinya itu terlihat lebih kurus dan kusam.


“Jaga ucapanmu! Arya memperlakukan aku dengan sangat baik," ucap Putri membela Arya. "Bukankah kamu sudah mengajukan surat gugatan cerai ke pengadilan? Jadi, kita bisa bertemu di sana. Aku harap kamu tidak mempersulit proses perceraian kita.”


“Putri, aku hanya takut, Arya akan menyakitimu. Kalian sangat berbeda.”


“Cukup!" Putri menatap tajam pria yang semalam menalaknya. Ia tidak suka degan ucapan pria itu karena makin menyakitinya.


"Arya tidak mungkin menyakitiku. Ada Xander yang akan selalu membuat kami terikat satu sama lain. Dari awal, ia juga tidak pernah mempermasalahkan tentang siapa diriku karena menerimaku apa adanya.”


“Bagaimana dengan keluarganya? Aku khawatir kamu akan disakiti oleh mereka." Bagus berucap dengan khawatir.


“Bukan urusanmu. Arya bisa menjaga dan melindungiku dan putra kami. Aku harap kamu bisa mengerti."


Seharusnya setiap kalimat yang Putri lontarkan sudah cukup membuat Bagus sakit hati. Namun, pria yang memiliki hati sangat baik itu, sama sekali tidak merasa sakit hati.


Rasa ingin melindungi masih sangat besar. Mungkin juga itu karena perbedaan usia yang cukup jauh di antara mereka, sehingga layaknya seorang kakak yang ingin selalu melindungi adiknya.


“Baiklah. Sebelum aku pergi, kamu harus janji satu hal padaku. Kamu akan selau bahagia bersama dengan putramu. Walaupun kita sudah berpisah nanti, kamu bisa menghubungiku kapan pun. Aku adalah orang yang akan berada di barisan paling depan saat Arya dan keluarganya kelak menyakitimu."


"Jika memang kita tidak bisa bersama sebagai sepasang suami istri, setidaknya masih bisa bersama sebagai saudara antara kakak dan adik.”


Hati Putri seperti diremas mendengar ucapan Bagus. Entah terbuat dari apa hati pria itu. Luka yang ia berikan untuk pria itu bukanlah hal kecil.


Bahkan itu adalah luka yang sangat dalam dan akan meninggalkan bekas sampai kapan pun. Namun, pria itu begitu mudahnya memaafkannya.


“Terimalah hadiah dariku. Aku memberikan hadiah ini tidak ada maksud apapun. Aku turut bahagia dengan kelahiran buah hati yang sangat kamu inginkan itu.” Bagus berucap dengan tulus. Kemudian ia menatap Xander yang berada dalam gendongan.


“Dia sangat tampan. Wajahnya perpaduan antara kamu dan Arya.”


Kalimat terakhir Bagus membuat Putri membeku di tempatnya.


Apakah pria itu tidak sakit hati sama sekali dengan ucapannya sendiri?


Bagus tidak ingin berlama-lama di sana dan membuat Putri tidak nyaman. Walaupun ia masih sangat merindukan istrinya itu, tetapi para tetangga di sana hanya tahu jika suaminya adalah Arya, bukan dirinya.


Putri menatap Bagus yang pergi meninggalkan rumahnya. "Maafkan aku. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan lagi, tapi itu bukan bersamaku."

__ADS_1


Putri berucap lirih. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


To be continued...


__ADS_2