
Rani yang awalnya merasa sangat marah sekaligus kesal pada sosok wanita yang sangat ia benci tersebut, refleks sangat khawatir jika apa yang dikatakan hari ini akan disampaikan pada putranya.
Apalagi ia melihat Putri bangkit dari ranjang dan mendekati Arya. Hal itu membuat degup jantungnya berdetak kencang karena berpikir jika sampai itu terjadi, hanya kegagalan yang didapatkan saat ini melakukan tes DNA.
'Tidak! Itu tidak boleh terjadi karena rencanaku harus berjalan lancar untuk menyingkirkan wanita ular ini. Ia sama tidak pantas mendapatkan putraku dan hanya Calista yang kuinginkan untuk menjadi menantu.'
'Hanya dia yang bisa menjadi menantu idaman dan tidak mempermalukan jika diperkenalkan pada rekan bisnis serta teman sosialitaku. Apalagi Calista sudah berhasil untuk mendapatkan kepercayaan dari Arya karena mereka saat ini berteman baik.'
'Jika nanti putraku mengetahui bahwa hasil tes DNA adalah negatif, pasti akan membenci Putri dan hubungan dengan Calista semakin dekat. Tidak masalah jika putraku menjadikan Calista sebagai pelarian dan pelampiasan, pasti lama-lama akan timbul benih-benih cinta diantara mereka.'
'Jadi, rencanaku ini tidak boleh gagal hanya gara-gara wanita murahan yang tidak tahu diri ini,' umpat Rani dengan perasaan berkecamuk dan membuncah yang dipenuhi oleh angkara murka saat mereka sosok wanita di hadapan.
Rani buru-buru membuka suara untuk menghentikan aksi Putri agar tidak mengungkapkan semua hal yang tadi ia katakan.
"Apa aku boleh menggendong cucuku? Rasanya seperti apa saat memiliki seorang cucu?"
Bahkan Rani langsung berjalan mendekati putranya di sebelah kanan dan mengulurkan tangannya untuk bisa meminta bayi yang berada di gendongan putranya.
"Cucuku, ikut nenek, ya?" Rani benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuan untuk berakting agar Arya tidak mendengarkan perkataan dari Putri yang berada di sebelah kiri putranya.
Hingga ia langsung bersorak kegirangan ketika putranya tidak mempedulikan perkataan dari Putri yang belum selesai karena dipotong olehnya.
"Tentu saja, Ma. Pasti putraku akan sangat senang karena pertama kali digendong oleh neneknya." Wajah Arya terlihat berbinar kala mendengar apa yang diungkapkan oleh sang ibu.
__ADS_1
Bahkan ia yang awalnya merasa penasaran dengan perkataan dari sang istri, seolah langsung melupakan dan membuatnya beralih memberikan bayi di gendongannya ke tangan sang ibu.
"Putraku tadi langsung tertidur setelah dimandikan oleh perawat, Ma. Lihatlah, ia bahkan tidak membuka mata saat kupindahkan ke tangan Mama."
Arya merasa bahagia karena sang ibu akhirnya mau menggendong putranya. Seorang nenek yang mau berbesar hati dengan menerima cucu meskipun hasil tes DNA belum keluar.
Saat ini, ia berpikir jika sang ibu sudah berubah pikiran setelah melihat putranya yang sangat menggemaskan.
'Mama pasti lama kelamaan akan menyayangi cucunya dan melupakan kebencian pada Putri. Semoga saja sebentar lagi apa yang kuharapkan akan terjadi setelah hasil tes DNA keluar yang menyatakan bahwa bayi ini benar-benar darah dagingku.'
Arya bahkan tidak berkedip menatap sang ibu yang saat ini terlihat sedang berbicara dengan putranya. Sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa sangat bahagia dengan pemandangan indah yang memperlihatkan antara seorang nenek dan cucu.
Kemudian ia beralih menatap ke arah sang istri yang berada di sebelah kirinya. "Oh ya, Sayang. Tadi kamu mau berbicara apa? Apa yang dikatakan oleh mama? Mama pasti mengatakan akan menerima putra kita dengan tangan terbuka, kan?"
'Dasar wanita tua yang sangat munafik. Dia bagaikan rubah betina yang sangat berbahaya. Namun, aku tidak bisa melakukan apa-apa.
'Arya mana mungkin percaya jika aku mengatakan bahwa wanita tua itu tadi baru saja menghinaku habis-habisan dan juga tidak akan pernah menerima putraku sebagai cucunya. Sial! Harus dengan cara apa aku mengungkapkan kebohongan wanita rubah ini?'
Putri yang tidak bisa menemukan ide di kepala untuk menghancurkan wanita paruh baya tersebut, akhirnya memilih berakting dengan cara tersenyum.
"Iya, kamu memang benar, Sayang. Tadi, saat kamu keluar, mama berbicara padaku dengan mengatakan bahwa akan menerima putra kita sebagai cucu. Aku sangat bahagia dan merasa terharu karena mama telah berubah pikiran dan juga mengajakku untuk pulang ke rumah keluarga besarmu."
Putri tersenyum menyeringai karena tiba-tiba mendapatkan ide di kepala pada detik-detik terakhir. Ia bahkan beralih menatap wajah wanita paruh baya yang pastinya sudah sangat ingin mengumpatnya.
__ADS_1
"Bukankah begitu, Ma? Mama tadi tidak sedang mengigau saat mengajakku untuk pulang ke istana keluarga besar Mahesa, bukan? Mama tadi bilang jika itu adalah hadiah karena aku telah melahirkan keturunan Arya."
"Aku telah meneruskan garis keturunan keluarga Mahesa dan pastinya suatu saat nanti, putraku akan sangat membanggakan."
Rani yang awalnya fokus menggendong bayi di tangan dan merasa ada sesuatu yang dirasakan oleh hatinya, tetapi ia melupakan hal itu begitu mendengar kalimat Putri yang seperti memanfaatkan situasi dengan cara masuk ke keluarga Mahesa.
Ia yang dari tadi menundukkan pandangan karena melihat bayi mungil di tangan, seketika mengangkat tatapan dan berakting menyunggingkan senyuman. Padahal di dalam hati ingin sekali mengumpat sosok wanita yang berdiri tak jauh dari putranya.
"Benarkah itu, Ma?" tanya Arya yang merasa sangat senang setelah mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh sang istri dengan wajah berbinar.
"Iya, istrimu benar, Putraku. Tentu saja kalian bisa kembali ke rumah, setelah pulang dari sini. Cucuku harus mendapat kehidupan yang layak dengan segala kemewahan yang dimiliki oleh keluarga Mahesa."
"Mana mungkin aku akan membiarkannya hidup dalam kesengsaraan saat tinggal di kontrakan kalian yang sangat sempit itu?"
Rani berbicara dengan menahan perasaan yang membuncah ketika amarah menyeruak saat menatap sosok wanita yang jelas-jelas terlihat tersenyum menyeringai padanya.
'Sialan! Aku terlalu meremehkan wanita ini. Dia adalah ular kepala dua yang harus diwaspadai karena tidak sebodoh yang kupikirkan. Putri adalah seorang wanita yang sangat licik dan perlu diwaspadai,' gumam Rani yang saat ini mencoba untuk mengulas senyuman palsu agar putranya percaya pada apa yang baru saja diungkapkan.
Sementara itu, Putri seketika bersorak kegirangan di dalam hati karena merasa telah menang dalam melawan mertuanya yang dianggap sangat jahat dan licik.
'Ingin sekali aku berteriak untuk meluapkan kebahagiaan ini. Aku harus merayakan kemenangan ini karena telah berhasil mengalahkan wanita tua yang tidak pernah mau menerimaku,' gumam Putri yang kini masih tersenyum lebar begitu melihat sang suami berbinar wajahnya karena senang dengan kebohongannya.
To be continued...
__ADS_1