
Arya sudah siap untuk perjalanan bisnisnya bersama Calista. Ia yang kini masih di rumah, tengah menikmati sarapan yang sudah dimasak Putri. Di ruang tamu sudah terlihat tas koper kecil milik Arya yang siap untuk dibawa.
Di meja makan, Putri masih tenang melihat suaminya menikmati sarapan. Hanya saja, tidak dengan hatinya. Bagaimanapun, ini adalah perjalanan bisnis pertama Arya setelah berbulan-bulan mereka tinggal bersama.
Jika biasanya Arya akan pulang malam saat lembur, tidak kali ini. Ia benar-benar akan berada di luar kota selama tiga hari.
Arya menjelaskan pada Putri mengenai perjalanan bisnis itu. Hanya saja, ada hal yang ditutupi pria itu. Ya, Arya tidak mengatakan pada Putri tentang Calista. Wanita yang akan menjadi teman perjalanan bisnisnya.
“Sayang, tiga hari ke depan jika aku tidak membalas atau menerima telponmu, kamu tidak usah khawatir. Aku bekerja dengan cepat agar bisa segera pulang. Tidak ingin mendapatkan gangguan, aku akan mematikan ponsel selama bekerja, dan mengaktifkannya saat beristirahat.”
“Baiklah, aku akan setia menunggu.”
“Jika kamu merasa kesepian, kenapa tidak menyuruh Bagus untuk membawa Putra kemari? Aku yakin anak itu pasti sangat menginginkannya.”
“Akan aku lakukan. Aku juga merindukannya. Bagus pasti akan dengan senang hati mengizinkannya.”
Kegiatan di meja makan selesai. Arya sudah siap di depan pintu rumah untuk segera berangkat menuju bandara. Ya, ia dan Calista sudah membuat janji untuk bertemu di bandara.
Semua itu dilakukan agar tidak membuat curiga orang kantor dan juga Putri. Dengan menggunakan jasa taksi online, akhirnya Arya berangkat.
Selama dalam perjalanan, Arya menikmati pemandangan di luar jendela. Beberapa kali ia menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan dari wanita itu. Di sana Calista menyebutkan sudah menunggu di pintu masuk bandara.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir satu jam, akhirnya Arya tiba di bandara. Kedua matanya mengedar ke seluruh penjuru pintu masuk, lalu sekilas pandangannya berhenti pada sosok wanita yang berdiri denganelambaikan tangan seperti memanggil dirinya. Arya tersenyum, lalu mendekati Calista.
"Apa kamu sudah menunggu lama di sini?"
"Tidak, Aku baru saja menunggu sekitar sepuluh menit. Lagi pula gate pesawat kita belum dibuka. Bagaimana jika kita ke cafe yang ada di sana? Bersantai sembari menunggu waktu, kita bisa berbincang-bincang mengenai jadwal apa saja yang akan kita lakukan di kota itu nanti."
Mereka berjalan beriringan menuju cafe yang ada di sudut tempat itu. Setelah memesan, keduanya duduk bersama di salah satu meja yang ada di sana.
Keduanya saling bertukar cerita mengenai kegiatan pagi ini.
Tiga puluh menit setelah itu, pintu masuk menuju pesawat pun terbuka, mereka yang merasa bahwa maskapainya sudah siap, kini berjalan untuk memasuki pesawat.
__ADS_1
Perjalanan menuju kota tujuan mereka menempuh waktu kurang lebih satu jam menggunakan pesawat. Selama berada dalam pesawat, hanya mengobrol ringan dan membahas sedikit tentang pekerjaan.
Hingga akhirnya pesawat mendarat dengan baik di kota tujuan mereka. Keduanya langsung dijemput oleh orang suruhan perusahaan.
Seperti sedang berlibur, Arya tidak menjadikan pekerjaan itu sebagai beban.
Mereka menginap di sebuah hotel mewah yang ada di kota itu. Dengan fasilitas lengkap yang mereka dapatkan, tidak ada yang perlu keduanya khawatirkan akomodasi semua telah ditanggung oleh perusahaan.
Itulah mengapa Arya tidak mengkhawatirkan isi dompetnya saat ini.
"Baiklah, untuk hari ini sepertinya kita tidak akan melakukan apapun. Jadi, jika kamu tidak lelah. Maukah kamu menemaniku berkeliling kota?"
Calista sungguh berusaha untuk bisa selalu dekat dengan Arya, ini semua karena mereka berada di kamar yang berbeda. Entah mengapa ada rasa kecewa yang muncul di hati Calista. Sepertinya ia mengharapkan sesuatu dari perjalanan bisnis itu.
"Tentu saja, seperti yang kamu mau. Aku akan menemani setiap perjalanan yang sudah kamu rencanakan." Arya menjawab dengan santai tanpa ada rasa keberatan.
Mendengar jawaban Arya yang bersemangat, Calista pun segera meletakkan koper-kopernya di kamar, lalu ia pun kembali menemui Arya yang ada di kamar sebelah.
Di sana Arya sudah siap untuk pergi. Mereka seperti pasangan yang sedang berlibur dan tampak serasi.
Kota itu kini menjadi salah satu tempat yang disukai oleh Calista. Mereka begitu menikmati perjalanan menggunakan mobil dengan supir pribadi.
“Kamu tadi lihat tatapan orang-orang? Mereka seperti melihat kita itu sebagai pasangan. Aku merasa tidak enak hati kalau benar itu yang mereka pikirkan,” ujar Calista dalam perjalanan mereka.
"Tidak masalah. Itu hanya pemikiran orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang kita. Apa yang mereka lihat memang seperti apa yang ada di pikiran pada umumnya.”
“Kamu tidak merasa … tidak nyaman?”
“Tidak, aku menikmati perjalanan ini. Asalkan tidak ada yang mengganggu secara langsung.”
Mobil tiba-tiba saja menepi, lalu Arya yang tidak tahu arah tujuan saat ini bertanya memastikan tempat apa yang sedang mereka datangi saat ini?
“Tempat apa ini, Pak?” tanya Arya memastikan.
__ADS_1
“Ini area kuliner. Kalian bisa berkeliling dengan berjalan kaki karena setiap sisi adalah tempat makan yang bisa langsung kalian cicipi.
"Aku akan mengantarkan kalian berkeliling. Jadi, kalian bisa tahu makanan apa saja yang akan mereka hidangkan.”
“Wah, terima kasih.”
Calista dan Arya berjalan menyusuri jalanan yang memiliki pemandangan rumah makan dengan tema seperti makan di rumah. Tidak hanya makanan berat, di sana juga ada café dan toko oleh-oleh.
“Selain tempat ini, apakah ada tempat lainnya?” tanya Arya.
“Masih banyak, nanti saya antarkan ke sana.”
Calista tertarik dengan satu makanan yang dijual di salah satu rumah makan. Karena makanan itu tidak pernah ia coba sebelumnya.
“Sepertinya ini enak. Kamu mau menemaniku makan ini?”
“Baiklah.”
Calista memesan makanan di sana. Tidak lupa juga untuk Arya dan supir yang kini menjadi pemandu tur mereka. Di sana ada banyak pengunjung yang ikut menikmati hidangan khas kota tersebut.
“Ini pesanan kalian. Oh ya, apa kalian ini pengantin baru? Wajah kalian sangat mirip dan cocok sekali menjadi sepasang kekasih atau suami istri.”
Calista tersenyum dan merasa tidak enak pada Arya. Baru saja ia akan menjawab, tetapi Arya justru mendahuluinya.
“Terima kasih atas pujiannya.”
Calista tertegun, apa yang baru saja dikatakan Arya sangat ambigu dan bingung. Tidak ingin ketahuan kebingungan, memilih untuk menikmati hidangan yang sudah siap masuk ke perutnya. Sungguh pemandangan yang damai.
Sementara di sisi lain, ada seseorang yang tengah melamun dan merenungi kesendirian di rumah.
Wanita yang kini hamil besar dan tinggal menunggu waktunya saja untuk melahirkan, yaitu Putri. Seorang diri duduk di depan televisi dengan camilan yang tersedia di meja.
“Apa ia langsung bekerja setelah sampai di sana? Arya sungguh tidak menghidupkan ponselnya selama berada di sana. Ini membuatku khawatir.”
__ADS_1
Putri terus saja bergumam dan tidak sabar mendengar dering ponsel dari sang suami yang mengabarkan telah tiba di tempat tujuan dengan selamat.
To be continued...